Rabu, 27 Februari 2019

Sanggar Kariro, Pelestari Kesenian Gantao







Modernitas tak menghilangkan kecintaan Abdul Hamid AR pada tradisi warisan leluhur : gantao. Seni beladiri silat tradisional yang dipadu dengan musik ini sudah mengalir di darahnya. Dia mewarisi itu sejak zaman nenek moyangnya.


*************

Hamid makin bergairah ketika warga yang menonton pertunjukannya memberi hadiah tepuk tangan. Pimpinan Sanggar Kariro ini, dengan tenaga sekuatnya, dia memukul gendang kecil itu. Sambil terus memukul gendang, dia beranjak dari tempat duduknya. Gendang tetap ditabuh. Hamid berdiri, lalu meliuk-liukkan badannya. Dia tiba-tiba duduk dengan posisi kaki terangkat. Dia berbaring, dengan posisi gendang masih terangkat dan dipukul. Dia mengangkat tinggi gendang itu, tangan kiri memegang, tangan kanan memukul. Tak ada perubahan nada dan kekuatan pada pukulannya. Walaupun posisinya ketika memukul gendang cukup sulit. Sore itu Hamid menjadi bintang lapangan.

Tabuhan gendang memang cukup dominan pada kelompok kesenian gantao, sebuah seni yang menggabungkan kemampuan beladiri dan musik. Musik yang dimainkan Hamid adalah pengiring dua orang pesilat.






 Kelompok kesenian gantao memang sederhana. Dua orang pemukul gendang, satu orang peniup sarone (suling), gong, dan katongga (gong kecil). Kelompok musik terdiri dari lima orang, pemain gantao dua orang. Tujuh orang ini, sepanjang sore menghibur warga Kota Bima yang memenuhi lapangan Museum Asi Mbojo pada sebuah pertunjukan beberapa waktu lalu.

Hamid lebih memilih menyebut gantao sebagai seni silat, bukan olahraga silat. Sebab, dalam permainan silat gantao saat ini lebih mementingkan keindahan gerakan. Setiap gerakan tangan, kaki, pukulan, tendangan, mengikuti irama musik. Bukan sekadar memukul lawan.

“Kalau dulu memang gantao ini bertarung benaran,’’ kata Hamid.

Penari gantao tidak bisa sembarangan memukul atau menendang lawan. Mereka bermain strategi. Kapan lawan lengah, barulah melancarkan pukulan. Tapi ketika melakukan pukulan, lawan lebih dulu membaca, pemain itu harus menahan pukulannya. Tidak memaksakan benturan pukulan dan tangkisan tangan lawan. Dalam kondisi seperti ini, kerap penonton kaget melihat akan ada benturan keras. Tapi pemain gantao akan menahan pukulan dan tangkisan.

Bagi pemain gantao, keindahan gerak tangan, kaki, badan, dan sorot mata mereka adalah pertarungan itu. Mereka adalah penghibur. Semakin bagus gerakan mereka ketika bermain gantao, penonton akan terhibur. Tapi jika hanya menonjolkan kekerasan silat, tak ada bedanya dengan menyaksikan sebuah olahraga beladiri silat.

“Gantao ini tentang keindahan seni gerak,’’ kata Hamid.

Bagi para pesilat, kesenian gantao ini juga sebagai ajang bagi mereka menunjukkan kebolehan bela diri. Tapi gantao juga sebagai ajang melatih kesabaran. Sebagai sebuah pertunjukan, pesilat bukan dinilai dari kemampuan memukul atau menjatuhkan lawan, tapi bagimana gerakan silat mereka itu indah ditonton. Mereka juga diwanti-wanti tidak menyalahgunakan kemampuan silat mereka untuk kegiatan negatif. Tawuran misalnya.


********



SANGGAR KARIRO adalah salah satu sanggar yang masih aktif melestarikan kesenian gantao. Hamid sendiri sejak kecil sudah ikut kelompok kesenian gantao. Dia memang lebih banyak memegang alat musik gendang.

Begitu juga dengan para pemain musik dan pesilat, mereka bermain gantao sejak kecil. Rata-rata pemain gantao ini mewarisi kesenian ini dari orang tua mereka. Hamid menuturkan, kesenian gantao ini sudah ada sejak zaman nenek moyangnya. Dia tidak tahu sejak kapan keluarganya bermain gantao.

“Kalau tidak ada yang menjaga punah kesenian ini,’’ ujar pria yang tinggal di RT 18/RW 06 Kelurahan Raba Dompu Timur, Kota Bima ini.

Di tengah kemajuan zaman, Hamid merasa, anak-anak muda mulai melupakan tradisi. Bahkan bisa saja, banyak generasi sekarang yang tidak mengenal gantao. Jumlah kelompok kesenian gantao yang masih eksis juga bisa dihitung dengan jari. Sanggar Kariro adalah satu diantara kelompok yang masih eksis.

Di sanggar ini, Hamid juga melatih anak-anak muda berkesenian gantao. Mereka latihan rutin tiap pekan. Melalui latihan itu, Hamid ingin mengenalkan pada generasi muda warisan leluhur mereka. Kesenian gantao harus dikenalkan sejak dini.

“ Tapi harus ada dukungan masyarakat dan pemerintah,’’ katanya.

Bentuk dukungan masyarakat itu bisa dilihat dari undangan mereka pada kelompok kesenian gantao. Jika si empunya hajatan mengundang kesenian gantao, maka dia telah berkontribusi bagi keberlangsungan kesenian gantao. Sebab jika tidak ada lagi masyarakat yang mengundang, pemain gantao akan kehilangan panggung. Dan lambat laun akan mulai dilupakan.

“Pemerintah juga kerap mengundang dalam berbagai acara. Dengan cara ini kesenian gantao tetap eksis,’’ kata Hamid.(*)




Selasa, 04 September 2018

Haryanto, Pemuda yang Menyulap Limbah Jadi Duit





pemuda lombok, pariwisata lombok, pemuda kreatif, industri kreatif

Batok kelapa yang hanya dimanfaatkan untuk bahan bakar bernilai ekonomis tinggi di tangan Haryanto. Bersama para pemuda di desanya, dia menyulap batok kelapa dan serabut kelapa menjadi kerajinan tangan. Dihajatkan sebagai cenderamata saat booming pariwisata.


****
Sore itu, ketika kami mengunjungi sekretariat PINBID Desa Timbanuh, Kecamatan Prianggasela, Lombok Timur, Haryanto, 29 tahun, melinting tali yang dikeluarkan dari kantong bekas bungkus sandal. Dengan telaten dia membersihkan, merapikan, lalu melinting menjadi tali sepanjang 25-30 cm. Dia harus ekstra hati-hati karena bahan tali itu, serabut kelapa, sangat rapuh. Terlalu kuat ditarik bisa putus. Terlalu keras dibersihkan bisa-bisa rontok dan tidak bisa dilinting.

Usai melinting tali dari serabut kelapa itu, Haryanto melanjutkan dengan memasukkan ujung tali di lubang miniatur sandal jepit. Hanya butuh waktu 5 menit, sandal mini yang terbuat dari batok kelapa itu sudah menjadi sandal jepit. Proses akhir sebelum diberikan gantungan, Haryanto menyemportkan dengan cat pilox clear. Tujuannya agar tulisan di sandal mini itu tidak terhapus. Sandal mini yang kini sudah menjadi gantungan kunci itu terlihat lebih mengilap.

Gantungan kunci sebesar dua jari orang dewasa itu dijual Rp 5.000. Jika memesan lebih banyak harganya lebih murah, Rp 4.000. Tapi jika memesan model khusus yang lebih rumit pembuatannya, Haryanto mematok harga lebih tinggi.

“Model sandal ini banyak peminatnya,’’ kata Haryanto.

Gantungan kunci yang dibuat Haryanto umumnya pesanan khusus. Ada permintaan menuliskan nama pemilik. Berapa pun pesanan Haryanto akan melayani. Sebiji pun dia akan tetap membuatkan khusus, tapi tentu saja tidak meminta desain yang rumit. Haryanto harus memperhitungkan waktu dan harga. Jika terlalu rumit dan hanya memesan satu biji, Haryanto rugi waktu. Sementara harga jual tidak bisa terlalu tinggi. Selama ini dia tidak pernah menjual lebih dari Rp 10.000 per biji. Harga Rp 5.000 per biji adalah harga umum yang dipatok.

Pesanan gantungan kunci ini biasanya dipesan oleh para pecinta alam, pramuka, dan organisasi kepemudaan lainnya. Anggota pramuka biasanya memesan gantungan kunci dengan model tunas kelapa, lambang pramuka. Anggota pramuka perempuan memesan bros. Sementara organisasi kepemudaan, pecinta alam memesan model umum seperti sandal. Tapi ada juga yang meminta pesanan model lain.

“Sekitar 10 model sudah kami bikin,’’ ujarnya.

Gantungan kunci seukuran dua jari itu dikerjakan oleh 7 orang anggota kelompok “Bumi Genem”. Mereka bekerjasama untuk menyelesaikan satu model. Ada yang membuat model kasar, menghaluskan, dan merangkai menjadi gantungan kunci. Proses paling lama adalah membentuk model kasar. Kelompok yang berdiri Oktober 2016 ini masih menggunakan alat manual.

Batok kelapa yang sudah kering dipisahkan dari daging kelapa menggunakan parang. Kemudian dipecah menjadi lebih kecil. Proses membuat model kasar dari batok kelapa yang sudah dipotong kecil itu membutuhkan waktu paling lama.Harus menggunakan pisau tajam  dan ekstra hati-hati. Salah sedikit, tangan bisa teriris. Seluruh anggota kelompok ini belajar otodidak. Melihat contoh di internet, lalu mencoba membuat pola. Setelah merasa hasil bagus barulah mereka menjualnya.

“Sudah ratusan biji terjual,’’ kata Haryanto.


pemuda lombok, pariwisata lombok, pemuda kreatif, industri kreatif

Haryanto yang menjadi motor penggerak usaha kerajinan gantungan kunci ini awalnya iseng. Menjadi kebiasaan pemuda di desa, saat ada warga menggelar hajatan mereka datang membantu. Biasanya mengupas kelapa. Haryanto saat itu mengupas kelapa kering. Memisahkan daging kelapa dari batoknya.

Saat memisahkan daging kelapa dari batoknya itu, batok kelapa pecah menjadi kecil. Salah satu pecahannya itu mirip dengan sandal. Tiba-tiba saat itu muncul ide Haryanto. Membuat kerajinan tangan dari batok kelapa. Model sandal itulah yang kali pertama dibuat. Haryanto mencoba sendiri, setelah jadi dia menunjukkan ke teman-temannya. Model pertama gantungan kunci berupa miniatur sandal jepit dari  batok kelapa itu dipuji teman-temannya.

Tali yang dipakai untuk membuat tali sandal awalnya memanfaaatkan bahan tali dari batang pisang yang dikeringkan. Tidak terlalu kuat. Salah seorang pembeli menyarankan menggunakan sabut kelapa. Haryanto mencoba sabut kepala, hasilnya lebih bagus. Tali dari serabut kelapa juga terlihat lebih bagus. Sejak saat itulah Haryanto serius membuat gantungan kunci dari batok kelapa. Dia mengajak rekan-rekannya, dan enam orang ikut bergabung.

Haryanto menjual dari mulut ke mulut. Ada pembeli yang bercerita ke calon pembeli berikutnya. Dia juga memanfaatkan media sosial. Termasuk promosi melalui grup aplikasi Whatsapp. Pesanan juga dilakukan lewat Whatsapp. Pemesan tinggal memilih model yang sudah ada, atau meminta model khusus. Tulisan di gantungan juga dipesan lewat Whatsapp.

Kehadiran komunitas travelling yang piknik ke air terjun Semporonan, di kampung halaman Haryanto juga menambah promosi. Merekalah yang mengenalkan kerajinan gantungan kunci itu ke sesama anggota. Termasuk juga mengenalkan ke komunitas lainnya.

“Kami memang terbantu dengan pariwisata,’’ kata Haryanto.

Ketua Pusat Inkubator Bisnis Desa (PINBID) Timbanuh, Dahri mengatakan, saat ini mereka sedang melobi pemilik lahan tempat parkir menuju air terjun Semporonan. Di lahan parkir itu rencananya PINBIB akan membangun lapak jualan. Salah satu isi jualan itu adalah gantungan kunci produksi Haryanto. Selain itu, lapak itu akan diisi dengan aneka kue buatan para pemuda pemudi Desa Timbanuh.
“Kami ingin ada cenderamata khas Timbanuh,’’ kata Dahri.

Selain gantungan kunci, para pemuda di Timbanuh juga membuat aneka kue kering dan kue basah. Saat ini, kelompok usaha “Semporonan Mulya” yang beranggotan para perempuan membuat keripik pegagan.  Pegagan dalam bahasa Lombok disebut bebele. Selama ini hanya dijadikan makanan ternak. Di sekitar air terjun Semporonan banyak tumbuh liar, termasuk juga di kebun-kebun milik warga.

“Anak-anak suka dengan keripik pegagan ini,’’ kata Dahri.

pemuda lombok, pariwisata lombok, pemuda kreatif, industri kreatif


Bahan-bahan pembuatan gantungan kunci dan keripik  buatan pemuda pemudi Timbanuh itu tersedia di Timbanuh. Gratis. Batok kelapa bisa diminta di warga yang memiliki hajatan pesta. Pegagan bisa dipetik bebas di kebun dan sekitar air terjun. Biaya yang dikeluarkan relatif kecil, sementara keuntungan cukup untuk mengisi dompet mereka.

“Dibandingkan honor, lebih banyak dapat jualan gantungan kunci,’’ kata Haryanto yang sehari-hari menjadi guru honorer di SD-SMP Satu Atap 3 Pringgasela.

Sebagai guru honor olahraga, Haryanto mendapat honor sekali tiga bulan. Jumlahnya Rp 360.000, atau dalam sebulan honornya Rp 120.000. Habis untuk membeli bensin motor perjalanan dari rumah ke sekolah.
“Usaha kreatif ini yang kita harapkan ada dukungan untuk menambah penghasilan warga,’’ timpal Dahri.

Selain mengandalkan keramaian air terjun Semporonan, sebenarnya para pemuda Timbanuh ingin sekali memanfaatkan Pesanggrahan. Pesanggrahan itu adalah kompleks rumah peninggalan zaman Belanda di Timbanuh. Rumah kuno peninggalan Belanda itu memiliki kolam renang. Banyak tumbuhan raksasa menaungi menambah sejuk kawasan itu. Awalnya tempat itu dikelola Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Lombok Timur. Belakangan diambil alih Bagian Umum Setda Lombok Timur dan dijadikan peristirahatan bupati.

“Kalau diberikan mengelola ke desa kami siap kelola,’’ kata Dahri.

Dahri yakin jika pariwisata Timbanuh didukung pemerintah dan diberikan pengelolaan ke anak muda, masyarakat akan merasakan manfaat ekonomis. Kehadiran wisatawan berarti ada retribusi yang masuk melalui parkir, tiket, termasuk jualan makanan dan kerajinan. Tapi sayang, pemerintah Lombok Timur sepertinya lebih senang membiarkan Pesanggrahan itu mubazir. Ratusan juta duit untuk memperbaiki kolam renang dan membuat tembok keliling justru menegaskan bahwa liburan ke tempat indah hanya boleh dinikmati pejabat. (*)


Selasa, 17 Juli 2018

Menggadai Sawah Memburu Ringgit : Sejarah Migrasi Orang Lombok



buruh migran, sejarah migrasi, TKI, TKW


Mimpi mendapatkan uang besar di negeri rantau, sejumlah pria rela menggadai satu-satunya sumber nafkah mereka. Menjual tanah, menggadai sawah, menjual sapi, tak malu memimjam kas masjid, dan tak sedikit terjerat rentenir. Inilah kisah orang-orang yang membuka jalur migrasi ke Malaysia.



******

Sihun masih ingat, kali pertama berangkat ke Malaysia berharap bisa mengubah kehidupannya. Tinggal di kampung dengan lapangan pekerjaan terbatas, menjadi buruh migran adalah pilihannya. Ditambah dengan urusan asmara yang tak kunjung didapatkan, Sihun mantap berangkat ke Malaysia.  Ongko ke Malaysia saat itu Rp. 100.000. Dia menjual satu ekor induk sapi seharga Rp 150.000.

Dia lupa tahun berapa kali pertama ke Malaysia. Dia mereka-reka sekitar tahun 1980. Dia berangkat bersama dua orang temanya, Mahsun dan Mahnan dari  Dasan Baru, Desa Lendang Nangka. Tanpa mengenyam bangku pendidikan, Sihun menjadi buruh kasar di Negeri Jiran. Selama di Malaysia, Sihun sangat jarang menghubungi keluarga. Saat itu belum ada teknologi HP seperti saaat ini. Sihun hanya ingat, dia kali pertama pulang ke Lombok setelah 12 kali puasa di Malaysia. Artinya dia merantau selama 12 tahun. Waktu yang tidak sedikit. Waktu yang terbuang percuma. Pasalnya, 12 kali puasa merantau ke Malaysia, Sihun tak membawa hasil.

Dua bulan tinggal di rumah, Sihun kembali ke Malaysia. Kali ini dia tidak lama berangkat. Kembali ke Lombok, pulang dengan modal seadanya. Habis untuk dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Hasil Malaysia tak kunjung dapat ditabung. Penghasilan di Malaysia, habis juga untuk kebutuhan selama di Malaysia.

Sihun merasa kecanduan ke Malaysia. Hingga tahun 2000, Sihun mengingat dia sudah tujuh kali ke Malaysia. Pada keberangkatan ketujuh ini Sihun mampu membangun rumah. Rumah sederhana, tanpa perabot mewah.

Karena tak ada tabungan,dan  bingung hendak mengerjakan apa di kampung, dia kembali lagi ke Malaysia. Sihun terakhir  kali pulang tahun 2010, dan saat itu dia menghitung sudah 11 kali ke Malaysia. Dia masih ada keinginan untuk mengadu nasib ke Malaysia, tapi tenaga sudah tidak sekuat dulu lagi. Kini, di usia 66 tahun, Sihun yang hidup sendiri, tak berumah tangga tinggal di Dusun Benteng Selatan, Desa Lendang Nangka Utara. Dia bersyukur di usia senja ada rumah tempat berlindung dari panas dan hujan.

Di Desa Perian, desa nan subur dengan air berlimpah, Mahsun hidup sederhana. Dia menggarap tanah warisan orang tua.Sawah yang terjamin air dan tanah yang subur menjamin para petani di Desa Perian bisa menanam padi sepanjang tahun. Hasil padi memang tak membuat petani kaya, tapi bisa mencukupi kehidupan sehari-hari. Kebutuhan lauk pauk tak perlu dibeli. Mereka menanam aneka sayuran di pematang sawah. Di selokan mereka bisa menangkan ikan dengan mudah.

Hasil sawah itu sebenarnya cukup bagi Mahsun. Tapi Mahsun ingin memiliki rumah yang lebih bagus. Beberapa tetangga yang ekonominya lebih baik mampu membangun rumah batu. Mahsun iri. Tapi dengan hasil sawah, dia tak yakin akan mampu memperbaiki rumah. Hingga suatu hari Mahsun mendapat informasi jika dia bisa mencari penghidupan lebih baik ke Malaysia. Dia mendapat kabar ada seorang tekong (calo) yang mampu memberangkatkan ke Malaysia.

Mahsun tak memiliki uang tabungan. Biaya yang harus disetor ke tekong saat itu Rp 60.000. Karena mimpi mendapatkan ringgit di Malaysia, Mahsun berani melepas satu-satunya harta : sawah. Dia menggadai sawah warisan itu dengan harga Rp 100.000. Saat itu sekitar tahun 1983, uang Rp 100.000 masih sangat berharga.

Karena berangkat tanpa dokumen resmi, proses keberangkatan Mahsun tidak mudah. Rute keberangkatan Mahsun dimulai dari rumah menuju Surabaya. Dari Surabaya Mahsun diberangkatkan ke Bengkalis dengan jarak tempuh kurang lebih tujuh hari delapan malam. Di perbatasan ini, Mahsun ditampung selama hampir 20 hari sebelum diselundupkan ke Malaysia menggunakanperahu pompong atau tongkang menuju Malaysia Barat. 

Di Malaysia,Mahsun bekerja di perkebunan kelapa sawit. Selama di perkebunan, Mahsun tak pernah melihat kota di Malaysia. Selama kurang lebih dua tahun bekerja di Malaysia. Mahsun tidak lupa mengirimkan gaji yang diperolehnya ke keluarganya di Perian untuk membayar utang membayar gadai tanah. Termasuk juga membiayai hidup keluarganya.

Pada tahun 1986, Mahsun kembali ke Indonesia.Selama di kampung halaman, Mahsun hanya menghabiskan uang untuk keperluan hidup sehari-hari.

Hasil sawah yang diharapkan sebagai pemenuhan kebutuhan hidup terasa tidak cukup.Tidak jarang Mahsun meminjam tetangga sebagai biaya penggarapan sawah. Sementara hasil sawah hanya cukup buat makan sehari-hari saja. Setelah 8 bulan sejak kepulangannya,Mahsun kembali masuk Malaysia dengan satu keinginan : memiliki rumah yang lebih layak dan perekonomian yang lebih baik.

Pada tahun 1987, Mahsun kembali mengadu peruntungan ke Malaysia. Dia bekerja di perkebunan kelapa sawit. Keberangkatan kedua ini,  Mahsun belajar dari kegagalan yang pertama. Dia rajin bekerja dan berhemat untuk bisa segera mengumpulkan uang yang banyak. Dia ingin memayar utang dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya. Termasuk cita-cita terbesarnya memangun rumah.

Setelah kurang lebih dua tahun di Malaysia, Mahsun pulang tahun 1989. Kali ini dia punya sedikit tabungan untuk memperbaiki rumah. Namun seperti kepulangan pertamanya, selama di kampung halamannya hanya makan minum dan sesekali keluar-masuk ke ladangnya untuk bercocok tanam.Dengan pendapatan yang tidak jelas, Mahsun tidak betah dan kembali memutuskan untuk kembali ke Malaysia. Begitulah siklus yang dilakoni Mahsun terus menerus sampai akhirnya Mahsun memutuskan pensiun setelah berumur 45 tahun.Tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk mengangkat beratnya buah kelapa sawit. Kini di usia 65 tahun, Mahsun menghabiskan sisa usianya dengan bertani dengan ditemani dua istrinya dan sembari berharap bantuan dari kiriman anak-anaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya selain dari hasil bertani.


buruh migran, sejarah migrasi, TKI, TKW



Desa Pesanggrahan sebelum dimekarkan masih bergabung dengan Desa Montong Betok. Desa ini dikenal karena Otok Kokok Joben, pemandian alami dari kaki Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Desa ini berlimpah air, dan daerah yang subur. Air tak pernah kering sepanjang tahun. Pertanian sambil memelihara ternak adalah pekerjaan utama warga. Seperti Sihun dan Sahnun, Ashabul Husna, salah seorang petani di Desa Pesanggarahan juga ingin memperbaiki perekonomian keluarganya. Dia memutuskan berangkat ke Malaysia. Dari beberapa cerita yang dia dengar, Malaysia menjanjikan ringgit yang berlimpah.Cukup bekerja setahun sudah mampu membangun rumah. Ashabul Husna pun tergoda. Karena tidak punya modal, dia menjual sapi peliharaannya. Hasil penjualan sapi dan pinjaman di kerabat dipakai untuk membiayai keberangkatan dengan biaya Rp 250.000. Di Malaysia dia bekerja di perkebunan kelapa sawit. Karena dia meninggalkan keluarga di rumah, dia mengirim uang hasil bekerja di Malaysia. Bukan melalui bank, tapi dititip di teman atau tekong yang akan pulang kampung.

Sejarah migrasi di desa Jenggik Utara berawal pada tahun 1983. Muhammad Zaenudin dari Embung Jago saat itu baru beranjak 16 tahun, tepatnya setelah tamat madrasyah tsanawiyah. Didorong cita-cita ingin melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, Zaenudin mengutarakan niat. Dia tidak ingin sekolahnya membebani keluarga. Dia ingin mandiri. Karena itu dia ingin membantu ibu dengan berangkat ke Malaysia. Dengan ongkos dari hasil menjual padi yang siap panen di sawah seharga 125.000 berangkatlah Zaenudin bersama seorang teman dari desa tetangga. Melalui perjalanan darat naik bus menuju Surabaya.Dari Surabaya berangkat menuju Bawean. 

Di Bawean mereka sempat ditampung selama 17 hari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Tanjung Pinang. Di Tanjung Pinang mereka ditampung selama kurang lebih 1 bulan. Dari Tanjung Pinang ini kemudian mereka di berangkatkan menuju Malaysia Barat, tepatnya di Johor Baru. Mereka ke Johor Baru memakai perahu kecil yang lazim di sebut pompong atau tongkang. Perjalanan yang panjang dan melelahkan untuk buruh migran tanpa dokumen.

Di Malaysia Zaenudin  bekerja di perkebunan kelapa sawit. Setelah cukup lama di rantuan, kurang lebih 17 tahun, tahun 2010 Zaenudin memutuskan pulang kampung. Dari uang hasil bekerja selama 17 tahun tersebut Zaenudin mampu membeli sebidang tanah dan mampu membangun rumah. 4 bulan di rumah, Zaenudin kembali masuk ke Malaysia dengan niat ingin mencari modal usaha dan tentu untuk membiayai kebutuhan keluarga. Kali ini zaenudin memilih kerja di sektor konstruksi. Setelah merasa cukup tabungan, Zaenudin pulang pada tahun 2013. 

Tapi, setelah sampai di rumah, Zaenudin malah bingung mau membuka usaha apa. Selama dalam proses menunggu,mengamati jenis usaha apa yang akan di geluti, Zaenudin justru banyak menghabiskan uang simpanan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Setelah modal yang mau di pakai usaha  itu sudah habis, bahkan Zaenudin sudah kembali berutang,maka setelah satu tahun di rumah, Zaenudin pun memutuskan kembali masuk pada tahun 2014.Dia pulang pada tahun 2016 setelah berhasil membayar utang dan mampu membeli sepeda motor. Zaenuddin berangkat ke Malaysia menjual hasil panen dan berutang, kembali ke rumah berutang, ke Malaysia untuk melunasi utang. Zaenuddin gali utang tutup utang. Siklus yang juga dilakoni banyak buruh migran lainnya.

Suaidi (39) dari Embung Jago Desa Peria berangkat ke Malaysia tahun 1996.Waktu itu baru berusia 19 tahun. Dia menyelesaikan sekolah menengah atas, bahkan sempat duduk di bangku kuliah selama 1 tahun. Memilih menjadi buruh migran karena terdorong oleh cerita teman dan terdorong keberhasilan teman yang mantan buruh migran membuat Suadi memutuskan berhenti kuliah. Dia ingin memiliki sepeda motor dan ingin membangun rumah sendiri.

Suaidi meberanikan diri berutang seekor sapi ke tetangga sebagai ongkos. Sapi itu dijual dengan harga Rp. 650.000 ribu. Suaidi meyerahkan ongkos sebesar Rp 350.000 ribu, sisanya diberikan ke keluarga yang di tinggalkan.Suaidi berangkat dari rumah menuju Surabaya. Di Surabaya ditampung selama 7 hari, kemudian dari Surabaya diberangkatkan menuju Pekan Baru. Di Pekan Baru ditampung lagi selama kurang lebih 7 hari, baru diberangkatkan lagi menuju Bengkalis. Di Bengkalis, Suaidi ditampung selama 15 hari. Dari Bengkalis dia diberangkatkan menuju Malaysia menuju wilayah Muar (Johor Bahru) memakai tongkang/pompong.

Sesampai di Malaysia Suaidi bekerja di ladang pertanian (kebun sayur).Selama satu tahun itu, Suaidi rajin bekerja dan sangat hidup ekonomis. Dia berhasil membayar utang, dapat beli motor, dapat membiayai diri menikah.

Setelah 2 tahun di rumah, tepatnya tahun 2000, Suaidi kembali  masuk dengan cita-cita mencari modal usaha dan untuk keperluan hidup. Setelah berhasil membangun tempat usaha,Suaidi pulang tahun 2001. Tahun 2008 (setelah 7 tahun di rumah) Suaidi kembali masuk dan kali ini untuk mengumpulkan uang untuk biaya sekolah anak.Kali ini Suaidi tidak lama, hanya 8 bulan.

Pada tahun 2012 Suaidi kembali masuk, tapi kali ini wilayah yg dituju adalah wilayah Malaysia bagian timur, tepatnya bagian Serawak. Dia bekerja di sektor kostruksi. Pada akhir 2013 Suaidi balik, lalu masuk kembali pada awal 2014, pulang pertengahan 2015. Dari hasil kerja dari tahun 2012 tersebut Suaidi mampu membeli mobil pick-up baru dan bisa membeli tanah.






buruh migran, sejarah migrasi, TKI, TKW




Gali Lubang Tutup Utang


Seperti pepatah : gali lubang tutup lubang, seperti itulah kehidupan para buruh migran. Kisah Sihun, Mahsun, Ashabul Husna, Zaenuddin semuanya sama. Mereka adalah para generasi pertama buruh migran ke Malaysia yang berangkat tahun 1980-an dengan mimpi memperbaiki keadaan ekonomi. Mereka sebenarnya bukan keluarga yang sangat miskin, sebab mereka memiliki alat produksi berupa sawah dan ternak. Kehidupan mereka pada umumnya sederhana. Kebutuhan makan diperoleh dari sawah, dan uang hasil panen akan berputar sampai musim panen berikutnya. Hasil panen hari ini, akan habis sampai panen berikutnya. Begitulah siklus.

Dengan pengetahuan dan pengalaman terbatas mengolah sawah, mereka berkeinginan memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Mereka melihat tetangga yang memiliki rumah lebih bagus. Mungkin tetangga mereka itu adalah pedagang, guru, pegawai, atau petani yang lebih sukses. Mereka juga ingin seperti tetangga, memiliki rumah yang lebih bagus. 

Pada saat itu kesuksesan diukur dari rumah. Jika memiliki rumah batu, maka seseorang akan dianggap sukses. Walaupun memiliki sawah luas dan ternak, jika masih rumah bambu belum dianggap sukses. Kesuksesan diukur dari rumah batu, walaupun si empunya rumah batu belum tentu memiliki aset tanah atau ternak. Atau bisa jadi rumah batu, tanpa memiliki barang berharga di dalamnya. Keinginan memiliki rumah adalah cita-cita mereka. Dengan harapan lainnya, ada uang lebih yang bisa ditabung.

Masalahnya, para buruh migran generasi pertama ini tidak terbiasa menyimpan uang. Seluruh hasil panen akan habis. Maka pilihan pertama mereka adalah berutang. Selain berutang mereka juga menjual ternak dan menggadai sawah. Menggadai sawah ini sama saja artinya berutang. Akhirnya, mereka berangkat ke Malaysia membawa dua misi : mencari uang untuk membayar utang dan modal membangun rumah.

Tak selamanya misi itu berhasil. Seperti kisah Sihun yang 11 kali ke Malaysia, dia berhasil mengumpulkan uang membangun rumah setelah keberangkatan ketujuh. Belasan tahun di Malaysia, waktu habis untuk mencari uang membayar utang di kampung, dan biaya hidup sehari-hari. Misi utama membangun rumah permanen terwujud setelah belasan tahun bekerja. 

Hujan emas di negeri tetangga tak seperti impian ketika kali pertama berangkat. Mereka belum siap mengelola uang ketika mendapatkan gaji tetap. Tidak sedikit uang habis untuk makan sehari-hari. Ketika masih kerja di sawah yang penghasilan tidak tetap, mereka berhemat, tapi ketika memperoleh gaji rutin, mereka sudah berhitung agar tidak minus sebelum gaji habis. Tapi dampaknya, mereka membelanjakan gaji untuk kebutuhan konsumtif.


buruh migran, sejarah migrasi, TKI, TKW


Para buruh migran yang dikisahkan di atas memiliki pola yang sama. Gaji habis untuk belanja kebutuhan sehari-hari keluarga yang ditinggalkan, termasuk juga kebutuhan mereka. Istri di rumah tidak bekerja, hanya mengandalkan uang kiriman. Bagi yang sudah memiliki anak, uang kiriman juga habis untuk belanja sehari-hari. Misi utama bekerja di Malaysia agar memiliki uang lebih lalu membangun rumah tak terwujud dengan cepat. Apalagi setelah kembali ke kampung halaman dengan uang lebih, muncul keinginan untuk menunjukkan mereka “beruang”. Menjadi cerita masyarakat jika para buruh migran yang baru pulang dari Malaysia membeli barang-barang mewah : TV, kulkas, pakaian bagus, jam tangan, sepatu, dan barang lainnya. Sayangnya barang itu hanya berumur bulanan. Dijual satu persatu untuk kebutuhan makan. Dan setelah habis kembali lagi berutang untuk modal ke Malaysia. Mereka tidak siap pulang kampung.

Generasi kedua lain lagi kisah mereka. Mereka adalah generasi yang melihat dengan mata kepala sendiri keberhasilan para mantan buruh migran. Keberhasilan itu dilihat dari dua hal : rumah permanen dan sepeda motor. Tapi mereka lupa, rumah dan kendaraan itu bisa diperoleh setelah belasan tahun bekerja di Malaysia. Itu pun, motor cicilan, justru dibayar dengan hasil sawah dan buruh di kampung halaman sendiri. Tapi bagi generasi kedua buruh migran ini,cerita hujan ringgit di negeri tetangga melenakan mereka. 

Jika generasi pertama memiliki misi berangkat ke Malaysia agar bisa mempercepat membangun rumah permanen, generasi kedua dan selanjutnya memiliki misi tambahan : membeli sepeda motor. Motor adalah kategori baru jika seseorang diangap sukses. Memiliki rumah permanen tanpa memiliki motor rasanya tidak lengkap. Dan tentu saja misi utama agar perbaikan taraf ekonomi keluarga tetap menjadi alasan utama.

Siklus generasi pertama berulang, generasi kedua ini juga berangkat dengan beban tambahan : melunasi utang. Mereka berangkat dengan utang, meninggalkan utang bagi keluarga di kampung halaman. Kiriman habis untuk makan sehari-hari dan melunasi utang. Tapi, bagi yang bisa berhemat, seperti kisah Suaidi, mereka meraih kesuksesan dalam waktu tidak terlalu lama. Tak perlu gali lubang tutup utang.(*)


Catatan : Tulisan ini merupakan hasil diskusi, catatan lapangan dari kawan-kawan Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) Lombok Timur yang saya dampingi dalam program yang dibiayai MCAI.




Kamis, 14 September 2017

Bank Rontok : Menyelesaikan Masalah dengan Masalah

rudat, kesenian tradisionl, rudat lombok
Permaisuri sedang dirias


Praktik rentenir yang dikenal dengan istilah bank rontok marak terjadi di desa-desa. Untuk melawan gerakan bank rontok itu, perbankan yang teregulasi (resmi) harus turun ke kantong-kantong operasi bank rontok itu. Sebagai langkah sosialisasi, teater tradisional Rudat dipilih sebagai sarana menyadarkan masyarakat bahanya bank rontok. 


*********
Alkisah di sebuah tempat bernama Kerajaan Bunut Jengkang hidup sepasang suami istri dengan putri tunggal mereka. Sang suami Amaq Kelor adalah petani miskin yang mengandalkan hidup keluarganya dari hasil sawah yang tak seberapa luasnya. Sementara istrinya, Inaq Kelor hanya mengurus rumah tangga.Tak memiliki pekerjaan sampingan untuk membantu ekonomi keluarga. Putri mereka si Kelor adalah gadis yang baru beranjak remaja. Hidup keluarganya yang miskin, berbanding dengan gaya hidup Kelor. Perangkat gadget  terbaru selalu di tangannya. Hingga suatu sore dia merengek ingin dibelikan sepeda motor.

Kegagalan panen tahun itu, dan keinginan memenuhi kebutuhan sang buah hati membuat Amaq Kelor memutuskan menjadi buruh migran. Malaysia adalah pilihan utama bagi pria kampung yang tak mengenyam bangku pendidikan.

Masalah baru muncul. Sebelum berangkat Amaq Kelor membutuhkan uang. Sebagai petani miskin dia tidak memiliki tabungan. Malahan untuk makan sehari-hari saja kesusahan.

Amaq Kelor tidak tahu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan modal berangkat ke Malaysia, Inaq Kelor meminjam di rentenir. Pria yang selalu berpenampilan necis masuk kampung itu membuat Inaq Kelor yakin untuk meminjam uang. Apalagi syaratnya mudah : setuju dengan bunga yang dipasang rentenir. Tidak ada jaminan. Hanya modal kepercayaan.

Uang yang dipinjam di rentenir itu rupanya bertumpuk. Bunganya membengkak. Nyaris dua kali lipat dari jumlah pinjaman asli. Karena Inaq Kelor tidak mampu melunasi, dan Amaq Kelor juga harus segera ke Malaysia, mereka pun menerima persyaratan si rentenir, rumah mereka menjadi jaminan. Amaq Kelor berangkat ke Malaysia dengan beban bertumpuk utang di rentenir.

“Bagaimana saya mau minjam di bank, saya tidak punya jaminan,’’ keluh Inaq Kelor ke Jongos saat ditanyakan kenapa dia tidak meminjam di bank.

rudat, kesenian tradisionl, rudat lombok
Inaq Kelor, Amaq Kelor, dan rentenir

Potret keluarga Amaq Kelor adalah potret sehari-hari masyarakat di desa. Melalui peran yang dibawakan Jongos, dia panjang lebar berbicara tentang operasi bank rontok. Bank rontok beroperasi di pasar.Beroperasi di kampung-kampung terpencil. Beroperasi di sawah, dan datang door to door ke rumah warga. Keluarga buruh migran adalah sasaran berikutnya bank rontok.

Kisah hidup keluarga Amaq Kelor ini merupakan cerita inti dari naskah drama “Kepeng Benang Bunut Jengkang” yang dipentaskan Sabtu malam (8/4) di Penyonggok, Desa Tetebatu Selatan, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur. Desa Tetebatu Selatan adalah salah satu kantong buruh migran di Lombok. Termasuk juga, kantong banyaknya kasus pernikahan usia dini dan bertebaran “janda muda”. Belum ada data resmi, tapi menjadi cerita umum di masyarakat, Tetebatu yang kemudian mekar menjadi Tetebatu Selatan terkenal tingginya kasus kawin-cerai di usia muda.
Drama yang dipentaskan oleh kelompok Rudat, teater tradisonal Sasak malam itu ingin mengingatkan masyarakat tentang bahaya meminjam uang di bank rontok. Termasuk juga menitipkan pesan agar masyarakat meminjam uang di bank yang sudah dijamin.

Kisah keluarga Amaq Kelor bukanlah cerita rekaan. Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) Lombok Timur yang intens mendampingi buruh migran sering mendapati kasus seperti keluarga Amaq Kelor. Keluarga terlilit utang rentenir, suami menjadi buruh migran ke Malaysia, istri menjadi buruh migran ke Timur Tengah untuk melunasi utang.  Harapan bisa memperbaiki ekonomi keluarga hanya menjadi mimpi. Uang hasil bekerja habis untuk membayar utang, uang kiriman (remitance) habis untuk membeli kebutuhan yang sebenarnya tidak penting. Saya beberapa kali terlibat di program ADBMI Lombok Timur. Temuan di lapangan, cerita Amaq Kelor itu benar adanya.

Ini seperti lingkaran setan. Keluarga petani miskin dan buruh migran berutang di bank rontok untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak mampu membayar utang berangkat menjadi buruh migran, yang untuk menambah ongkos menjadi buruh migran kembali meminjam di bank rontok. Kiriman uang habis untuk membayar bunga utang bank rontok. Keluarga petani miskin dan buruh migran terjebak dalam sistem yang dibangun bank rontok.

“Bank rontok itu sudah berpuluh-puluh tahun praktiknya. Memangkas itu butuh pendekatan lama dan tepat,’’ kata Habib, aktivis ADBMI Lotim yang ikut menyusun naskah drama yang dipentaskan. Lulus dari Universitas Hamzanwadi, saya mengenal Habib sejak mahasiswa aktif dalam advokasi dan komunitas sastra.

rudat, kesenian tradisionl, rudat lombok
Raja dan Permaisuri diperankan para pemuda Tetebatu Selatan

Rudat dipilih karena kesenian ini paling dekat dengan masyarakat. Peran yang dimainkan Jongos dan Khadam mampu mengocak perut penonton. Selain itu, raja dan permaisuri ibaratnya pemerintah yang memimpin. Dialog-dialog mereka berisi percakapan para pejabat pemerintah tentang solusi mengatasi bank rontok. Rapat-rapat para pejabat itu sayangnya sering hanya berputar di lingkaran kantor dan ruang rapat hotel. Sementara di tengah masyarakat, para operator bank rontok masih dengan gagahnya meyakinkan calon klien mereka. Di akhir kisah keluarga Amaq Kelor, ternyata Inaq Kelor tidak berutang di satu bank rontok. Dia juga berutang di tokoh masyarakat kampungnya, yang juga tertarik usaha membiakkan uang dengan sistem bank rontok.


******

Sabrun, 26 tahun, tersenyum melihat riasan wajahnya dari balik cermin. Bibir jewer layaknya tokoh Joker dalam film Batman. Bedanya, jika riasan Joker tampak seram, riasan Sabrun membuat wajahnya tampak lucu. Kain dililitkan di kepala seperti surban, bertelanjang dana,mengenakan sarung yang di pinggangnya terselip handphone. Menari lincah dan memainkan wajahnya yang dioles bedak tebal membuat penonton terpingkal. Baru naik panggung saja, warga yang menyaksikan langsung tertawa. Anak-anak memanggil namanya.  Sabrun, warga Penyonggok, Desa Tetebatu Selatan, Kecamatan Sikur tempat pentas berlangsung mampu menghibur penonton.

Celetukan-celetukan dari tokoh yang dimainkannya, Khadam, terlihat mengalir alami. Saat dialog bersama Jongos, Khadam berbicara soal bebalu (janda), bicara soal buruh migran, gosip tetangga di kampung dan ucapan-ucapan yang bisa nyerempet “ngeres” pun dibawakan seperti biasa.

rudat, kesenian tradisionl, rudat lombok
Sabrun, buruh tani yang jadi pemain sebagai Khadam

Sabrun,yang sehari-hari buruh tani itu mampu membawakan naskah itu dengan baik. Sabrun yang bukan pemain teater, bukan anggota sanggar seni, tetapi buruh tani yang menggarap tanah milik tuan tanah di kampungnya membawakan naskah dengan serius.  Ketika dia membaca naskah, dia merasa naskah itu hidup. Naskah Kepeng Benang Bunut Jengkang itu tak jauh dari kehidupan sebenarnya masyarakat Desa Tetebatu Selatan. Kisah sebenarnya dari Sabrun.

“Saya sudah dua kali jadi TKI, dan gagal,’’ kata Sabrun bercerita.

Sabrun, pemuda yang menamatkan pendidikannya di sebuah madrasah aliyah swasta di kampungnya tidak punya pilihan lain. Tidak ingin menganggur lama, Sabrun memilih menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Sebenarnya tidak ada niat awal menjadi buruh migran. Tapi para pemuda di kampungnya sudah banyak yang menjadi buruh migran. Sebagian berhasil membangun rumah dari hasil menjadi buruh migran. Sabrun tertarik melihat keberhasilan orang-orang kampungnya yang lebih dulu menjadi buruh migran. Sabrun memang tahu ada juga cerita pilu, tapi terbayang uang yang akan dibawa pulang, Sabrun muda berangkat ke Malaysia.

Dia bekerja di perkebunan kelapa sawit. Dia cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja. Saat gajian tiba menjadi hari paling bahagia. Sebagian gaji itu dipakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari, sebagian dikirim ke kampung halaman untuk ditabung.Sebagian dipakai untuk melunasi utang keluarga. Tentu saja saat berangkat ke Malaysia, keluarga Sabrun harus menalangi ongkos. Ongkos itulah yang harus dicicil. Sudah lumrah di para buruh migran di kampung halamannya.

rudat, kesenian tradisionl, rudat lombok
Jongos yang kocak
Karena bosan dan merasa gaji tidak membaik, Sabrun pulang kampung. Tabungan selama menjadi buruh migran tidak banyak.Tapi setidaknya dia punya pegangan. Sabrun menikah. Uang selama menjadi buruh migran dipakai membiayai pernikahan itu, dan biaya hidup keluarga baru itu.
Sebagai keluarga baru, kebutuhan hidup bertambah. Sabrun memutuskan kembali ke Malaysia. Kali ini dia ditawarkan bekerja di perusahaan lapangan golf. Sabrun awalnya berat hati, istrinya sedang hamil tua. Tapi bayangan kebutuhan melahirkan dan membesarkan anak, Sabrun akhirnya berangkat melalui seorang tekong yang masih kerabatnya.

Sesampai di Malaysia barulah Sabrun sadar. Dia menjadi korban perdagangan orang. Dia memang bekerja di perusahaan lapangan golf, tapi bukan lapangan golf yang mentereng seperti bayangan awalnya. Bosnya di Malaysia baru berencana membuka lapangan golf. Pekerjaan Sabrun membuka hutan, membabat semak untuk lapangan golf. Gajinya hanya 300 ringgit Malaysia. Paspornya ditahan. Dari mulut bosnya dia tahu jika tekong yang memberangkatkannya mendapatkan uang jauh lebih besar dari gajinya. Sabrun yang menamatkan pendidikan di madrasah aliyah sadar jika dia ditipu. Dia sadar menjadi korban perdagangan manusia.

“Saya mengancam makanya bisa dapat paspor saya dan langsung pulang,’’ tuturnya.

Sabrun pulang dengan tangan hampa. Di kampung halaman, dia disambut istri dan anaknya. Sabrun menjadi bapak. Kini Sabrun bekerja sebagai buruh tani. Dia mengelola sawah milik seorang petani di kampungnya. Dari hasil buruh tani itulah Sabrun menghidupi keluarganya.

Sabrun sebenarnya ingin bekerja sendiri. Memiliki lahan dan menggarap sawah milik sendiri. Apa daya tak cukup uang untuk menggapai mimpi itu. Cabai yang dia tanam pada musim tanam baru-baru ini pun tak banyak memberikan keuntungan. Saat harga cabai melambung, angin besar dan hujan merusak tanaman itu.

“Untung saja tidak rugi,’’ katanya.

rudat, kesenian tradisionl, rudat lombok
penonton, sebagian pernah jadi buruh migran
Kisah hidup Sabrun mirip dengan naskah yang dia pentaskan malam itu. Saya mengenal Sabrun sejak dia masuk duduk di bangku SMP. Ketika dia duduk di bangku aliyah, dia sering terlibat dalam beberapa kegiatan komunitas yang saya dirikan bersama kawan di Tetebatu. Tapi karena pekerjaan, saya agak jarang berkomunikasi dengan Sabrun dan kawan-kawan di komunitas itu. Bertahun-tahun tidak bertemu, saya bertemu Sabrun di pentas malam itu.

Kisah yang dipentaskan malam itu kisah orang-orang di Tetebatu. Bedanya, kisah Amaq Kelor yang di dalam naskah Kepeng Benang Bunut Jengkang itu dikisahkan gagal panen lalu berangkat ke Malaysia. Ketika menggarap tanahnya, biaya pupuk, bibit dan kebutuhan sehari-hari didapatkan dari pinjaman. Pinjaman dari rentenir itulah yang harus dia lunasi. Sementara Sabrun karena gagal di Malaysia kemudian kembali ke kampung halaman bertani. Karena pengalaman pahit menjadi korban penipuan/perdagangan manusia jua yang membuat Sabrun berpikir berkali-kali untuk kembali ke Malaysia.

Petani miskin yang modal pas-pasan dan para buruh migran adalah dua kelompok sasaran empuk rentenir. Para buruh migran yang akan berangkat ke Malaysia umumnya tidak menyiapkan diri jauh sebelumnya. Mereka berangkat mendadak ketika terdesak kebutuhan rumah tangga. Karena tidak menyiapkan jauh hari sebelumnya, ketika berangkat mereka tidak memiliki modal cukup.Apalagi tabungan untuk bekal hidup anak istri di rumah. Meminjam uang di kerabat adalah solusinya. Paling apes jika meminjam di bank rontok. Siap-siap harus membayar bunga yang mencekik. Tapi para petani miskin dan buruh migran itu tidak punya pilihan. Seperti penuturan Inaq Kelor, jika meminjam di bank apa yang harus dia jaminkan. Sementara di bank rontok cukup modal kepercayaan. Apakah perbankan bisa melakukan seperti itu ?

rudat, kesenian tradisionl, rudat lombok
menonton dari jendela rumah
Sayangnya dalam naskah yang dipentaskan itu tidak ada solusi untuk menjawab kegelisan Inaq Kelor. Jika dia meminjam di bank apakah bisa tanpa jaminan seperti meminjam di bank rontok. Walaupun belakangan bank rontok bertindak kejam dengan menyita rumah mereka.

Daya jelajah perbankan memang tidak setangguh para pekerja lapangan bank rontok. Mereka door to door. Seperti bahasa Jongos :  di tengah sawah, di saluran irigasi bank rontok itu ada. Mereka mencari petani-petani miskin yang butuh duit cepat. Bank rontok menyelesaikan masalah. Tapi bank rontok menimbulkan masalah baru.

Di dalam naskah itu, berusaha ditampilkan bahwa menabung di bank lebih aman jika dibandingkan menyimpan uang di rumah. Pesan itu memang dimasukkan dalam cerita agar para keluarga buruh migran mau menyimpan uang mereka di bank. Selama ini uang kiriman hanya lewat di bank, diambil semua, kemudian disimpan di dalam rumah. Selain rawan hilang dan pencurian, jika memegang uang cash godaan untuk belanja cukup besar.

Jika dikelola dengan baik, uang kiriman (remitance) itu sebenarnya bisa menjadi modal usaha. Baik modal bagi istri yang tinggal di rumah. Dan kelak ketika suami kembali di Malaysia ada hasil yang dilihat, baik berupa uang tabungan maupun usaha. Saat ini ADBMI Lotim mengadvokasi para keluarga buruh migran dan eks buruh migran di desa-desa yang berbatasan dengan hutan. Saya kembali terlibat dalam kegiatan ini.  Ada kekhawatiran kami, eks buruh migran bisa menjadi pelaku illegal logging. Karena itulah ADBMI Lotim mendampingi agar mereka memiliki usaha produktif. Apakah Anda mau mendampingi mereka ?


Sabtu, 15 Juli 2017

Ketimbang Momot, Ara’an Merariq




pernikahan dini, pernikahan anak, merariq,merarik, lombok
SN, remaja yang menikah di usia dini.

Belum sempat menyiapkan lebaran topat, Kepala Desa Sekotong Timur H Achmad sibuk mendamaikan warga yang berseteru. Pemicunya, ada warganya yang menikah. Pernikahan ini menjadi masalah lantaran mempelai perempuan belum sempat mendaftar di bangku sekolah menengah pertama (SMP) setelah menamatkan sekolah dasar (SD) tahun ini.


******

Calon mempelai perempuan itu baru berumur 13 tahun. Usai libur lebaran dia akan mendaftar di salah satu SMP. Pada libur panjang lebaran, saat malam takbiran dia berkenalan dengan seorang pria. Masih satu desa. Pria yang pernah menikah dua kali itu baru saja pulang dari Malaysia. Pertemuan malam itu dilanjutkan lewat komunikasi handphone.

Belum seminggu Idul Fitri, tiba-tiba lelaki itu mengajak gadis 13 tahun itu merariq. Si gadis setuju. Tanpa pertimbangan matang, remaja itu mau dibawa merariq oleh si lelaki. Merariq adalah “kawin lari” dalam tradisi masyarakat Lombok.

Keluarga perempuan keberatan. Mereka tidak ingin putri mereka yang akan mendaftar SMP dibawa merariq. Memanggil pulang putri mereka bukan perkara mudah. Tradisi di Lombok, jika seorang perempuan sudah dibawa merariq, pantang dibatalkan. Akhirnya keluarga perempuan melapor ke staf desa, termasuk ke kepala desa. Pihak keluarga berharap desa bisa membantu menyelesaikan peliknya persoalan itu. Keluarga remaja itu ingin “blas”. Blas diartikan sebagai upaya membatalkan perkawinan. Dulu, di masyarakat Lombok sangat tabu pernikahan beda kasta. Perempuan dari golongan bangsawan harus menikah dengan lelaki bangsawan. Jika perempuan bangsawan itu menikah dengan lelaki biasa (jajarkarang), keluarganya bisa saja mengusir, tidak mengakui lagi sebagai bagian keluarga. Nah, untuk membatalkan pernikahan beda kasta itulah dilakukan “blas”. Kini blas dilakukan untuk membatalkan pernikahah dibawah umur.


pernikahan dini, pernikahan anak, merariq,merarik, lombok
Jalan menuju empat dusun di Desa Sekotong Timur
H Achmad tahu jika membatalkan sebuah pernikahan itu sangat berat. Bisa-bisa terjadi ketersinggungan keluarga mempelai. Tapi dalam kasus di desanya, keluarga perempuan keberatan. Selain itu  H Achmad juga tahu jika remaja putri itu masih terlalu belia. Secara hukum, pernikahan itu melanggar undang-undang. Si lelaki bisa dipidana. Tapi H Achmad ingin menyelesaikan dengan cara kekeluargaan. Dia tidak ingin menambah runyam masalah itu. Baru menjabat lima bulan sudah disibukkan dengan keributan. Di beberapa desa di Lombok, kerap terjadi keributan bahkan perang antarkampung gara-gara sebuah pernikahan. Tidak sedikit jatuh korban jiwa.

Pada hari itu, keluarga perempuan didampingi staf desa dan para aktivis yang berjuang untuk mencegah pernikahan anak menemui keluarga mempelai laki-laki. Jawaban yang didapatkan sudah diperkirakan. Selain itu, remaja perempuan itu juga tidak ingin membatalkan pernikahan. Menangis hingga pingsan. Tim ini menduga jika remaja putri ini kena pelet (guna-guna). Lewat negosiasi yang alot, akhirnya remaja putri itu berhasil diselamatkan. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, remaja putri itu diinapkan di rumah H Achmad.

“Kami berjaga dengan para pemuda untuk mecegah hal-hal yang tidak diinginkan,’’ kata Ahmad mengenang peristiwa sebelum lebaran topat itu. Belasan pemuda yang siaga dengan senjata selalu berjaga-jaga di sekitar rumah H Achmad. Menjaga perempuan yang “diblas” sama seperti menjaga emas berkarung-karung.

Kini remaja putri itu sudah siap masuk sekolah. Dia mau melanjutkan ke salah satu pondok pesantren (Ponpes). H Achmad berharap, kasus itu adalah kasus terakhir di desanya.

****

pernikahan dini, pernikahan anak, merariq,merarik, lombok
tim advokasi menelusuri kampung kantong pernikahan dini

Desa Sekotong Timur adalah salah satu kantong pernikahan dini atau pernikahan anak. Tidak ada angka pasti karena pernikahan dini tidak pernah tercatat. Mereka dinikahkan “dibawah tangan”. Menikah dini, jika mengacu pada UU Perkawinan, berusia 16 tahun kebawah. Sementara di UU Perlindungan Anak, usia 18 tahun ke bawah masih tergolong anak-anak. Atau bisa dikatakan, usia mereka masih bersekolah.

Saya berkenalan dengan remaja itu saat menemani sahabat dari aktivis perempuan yang mendampingi program pendewasaan usia perkawinan. Namanya SN. SN masih tergolonga anak-anak ketika menikah setahun silam. Dia mengaku usianya 16 tahun ketika menikah. Jika dihitung antara jarak dia menikah dengan tamat SD, SN, ketika menikah duduk di bangku kelas 3 SMP. Dia tidak melanjutkan sekolah. Tamat SD, dia dilarang melanjutkan sekolah oleh orang tuanya. Tidak ada yang membantu di ladang dan tidak ada yang menjaga adik bungsunya. Ketika orang tuanya ke ladang, dia bertugas mengasuh adiknya. Dia juga ikut membantu ke ladang ketika panen.

Dari raut wajah dan tingkahnya, SN memang seperti kebanyakan remaja lainnya. Masih senang bermain, dan senang mengutak-atik handphone. Gaya bicaranya juga seperti remaja lainnya yang belum berumah tangga. Dia begitu akrab dengan iparnya yang masih sebaya dirinya.

Nasi sudah menjadi bubur. Di usianya yang masih remaja, SN menjalankan bahtera rumah tangga sebagai seorang istri.  Ada keinginannya untuk melanjutkan sekolah. Tapi SN tidak tahu, apakah remaja yang sudah menikah bisa melanjutkan pendidikan. Ketika saya menginformasikan bahwa ada program Paket B, dan bisa lanjut ke program Paket C, mata SN berbinar. Dia tersenyum dan menanyakan bagaimana caranya mendaftar.

“Sebenarnya ada teman saya yang lain yang ingin juga sekolah,’’ kata SN. Setelah mendapat kabar baik bahwa dia masih bisa melanjutkan sekolah, SN pun makin terbuka dan menceritakan banyak kasus serupa di desanya.

Dari penuturan SN terungkap jika dia bukan satu-satunya remaja yang menikah muda. Dari seluruh teman SD nya, SN menyebutkan tiga orang sudah menikah. Dirinya, FH dan RA. SN mengaku lebih beruntung jika dibandingka dua rekannya itu.

“ Mereka sudah janda,’’ kata SN.

SN  menuturkan proses pernikahan sahabatnya itu. Mereka merariq  di usia 15 atau 16 tahun, dan tidak ada pilihan selain harus dinikahkan.  SN pernah bertemu mereka. Sambil curhat, terlontarlah keinginan mereka untuk melanjutkan sekolah.

“FH malahan lagi sekolah dibawa merarik,’’ kata SN.

Bersama aktivis perempuan Baiq Zulhiatina kami menggelar diskusi dengan para remaja dan tokoh masyarakat di empat dusun terpencil di Sekotong Timur mengatakan. Kasus pernikahan dini di Sekotong Timur memang mengkhawatirkan. Kasus yang ditemukan timnya hanya sebagian kecil. Ketika proses menelusuri kasus pernikahan dini, banyak yang mengaku usianya mereka sudah dewasa. Tapi ketika ditelusuri lebih dalam, mereka sebenarnya masih berusia anak-anak. Mereka tidak melanjutkan SMP, atau mereka sedang sekolah di SMP, diajak merariq, mereka mengiyakan. Sayangnya orang tua juga menyetujui.

pernikahan dini, pernikahan anak, merariq,merarik, lombok
diskusi bersama para tokoh masyarakat tentang pernikahan dini

“Kami bertemu dengan salah seorang orang tua yang anaknya menikah muda. Hanya tiga bulan merariq lalu diceraikan. Orang tua itu bilang, lelaki itu hanya mencicipi putri mereka,’’ kata Zulhiatina menyebutkan kampung tempat perempuan yang menjadi korban merariq itu.

Aktivis perempuan ini menyebut mereka sebagai korban lantaran sering kali para perempuan tidak memiliki pilihan. Budaya merariq, ketika seorang perempuan dibawa ke rumah keluarga laki-laki, maka harus dinikahkan. Tidak peduli berapa usia perempuan itu. Sering kali perempuan yang dibawa merariq dibawah tekanan.

Faktor kemiskinan juga menjadi salah satu faktor pemicu pernikahan dini. Zulhiatina menyebutkan salah satu korban. Gadis itu masih berusia 14 tahun. Masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Dia diajak merariq oleh pemuda yang usianya terpaut jauh. Pemuda itu pengangguran. Zulhiatina sempat mendampingi dan bisa mencegah remaja itu merariq. Tapi belakangan dia mendengar kabar, remaja itu sudah merariq kembali.

“Orang tua miskin , tidak punya pilihan dan menganggap dengan putri mereka menikah maka beban ekonomi berkurang,’’ katanya.

Pada pertemuan dengan para tokoh masyarakat Sabtu malam (8/7) dan Minggu pagi (9/7), para orang tua dalam diskusi itu mengatakan jika para perempuan sudah wajar menikah muda. Mereka tidak ada kegiatan di rumah.Apalagi yang tidak bersekolah, dan belum tentu bisa membantu orang tua di ladang. Akhirnya menikah menjadi pilihan. Menurut salah satu tokoh masyarakat, usia 15 tahun sudah termasuk dewasa. Apalagi jika melihat SN yang sudah bongsor. Kerap kali, layak tidak layaknya perempuan dinikahkan dilihat dari ukuran fisik. Bukan melihat usia, apalagi kesiapan psikis mereka.

“Ketimbang momot, ara’an merariq (ketimbang menganggur, lebih baik menikah),’’ kata salah seorang tokoh masyarakat.

Budaya merariq yang masih bertahan, keluarga miskin, dan pandangan yang keliru tentang pernikahan memicu angka pernikahan dini. Selain harus mengintervensi para remaja, para tokoh masyarakat dan orang tua perlu diberikan pemamahan tentang pernikahan itu. Kini Zulhiatina dengan beberapa remaja perempuan, sebagian mahasiswi, lewat program Yes I Do, mendorong untuk pencegahan pernikahan dini. Dia sadar proses ini tidak mudah membalik telapak tangan.

“Sebagai perempuan sakit hati mendengar seorang remaja hanya dicicipi beberapa bulan lalu ditinggalkan begitu saja,’’ katanya. (*)


pernikahan dini, pernikahan anak, merariq,merarik, lombok
SN mengenang masa SD nya. Jika sekolah saat ini dia akan naik kelas 2 SMA


Jumat, 07 Juli 2017

Berangkat Tanpa Paspor, Pulang Tanpa Kaki



buruh migran, cacat,tki,tenaga kerja indonesia

Jon Mariyono harus menerima kenyataan pahit. Kaki kanannya diamputasi hingga paha. Kecelakaan kerja di Malaysia tahun 2000 silam mengubah jalan hidupnya. Dia berharap kaki palsu.Dia yakin jika memakai kaki palsu, bisa mengubah kondisi ekonomi keluarganya.


Potongan rambut model terbaru, yang diwarnai coklat disisir rapi. Kaos obolong yang sudah berlubang di bagian leher, berpadu dengan sarung ungu tua motif bunga. Tak lupa kalung rantai perak yang warnanya pudar, seperti warna kaos putih yang tak lagi putih. Senin pagi (1/5), Jon Mariyono siap berangkat kerja.

Tidak ada hari libur bagi pria 35 tahun tersebut. Walaupun 1 Mei diperingati sebagai hari buruh, libur nasional, Jon tetap bekerja. Justru saat hari libur dia sering mendapat rezeki lebih.

Bunyi meteran listrik tit..tit..tit..tit nyaring terdengar hingga halaman rumah.  Jon memeriksa angka di meteran listrik itu. Lampu yang terpasang sehemat mungkin sepertinya bukan penyelamat bunyi meteran listrik itu. TV tua, satu-satunya benda berharga di dalam rumah itu, sangat jarang dinyalakan. Bunyi meteran listrik itu meminta diisi.

“Nanti saya isikan, mudahan hari ini ada rezeki lebih,’’kata Jon pada perempuan tua yang duduk di halaman rumah. Perempuan itu, Sonah, adalah ibu Jon. Perempuan yang tidak tahu usianya itu hanya berharap Jon pulang membawa angka-angka token listrik. Dia tidak ingin malam-malam selanjutnya tidur dalam gelap.

“Saya juga sudah tidak jelas melihat,’’ kata perempuan itu menunjukkan mata kirinya. Sementara mata kanannya buta. Karena usia tua dan tidak jelas melihat itulah yang membuat Sonah tidak bisa jauh kemana-mana.Apalagi mencari kerja.

Jon adalah  tulang punggung keluarga sehari-hari. Sekali dua bulan, atau kadang sekali tiga bulan, kakaknya mengirim uang dari Malaysia.  Di rumah berukuran 4,5 meter X 7 meter itu, Jon tinggal bersama ibunya dan keponakannya Marsya, yang kini duduk ke bangku kelas IV SD. Marsya adalah putri kakak Jon yang kini bekerja di Malaysia. Orang tua Marsya bercerai, dan kini tinggal bersama Jon.

Di rumah batako yang belum diplester itu, belasan tahun Jon menjalani hidup dalam penantian panjang. Sejak tahun 2000, Jon berharap memiliki kaki palsu. Kaki kanannya putus saat bekerja di Malaysia. Sejak tahun 2000 itulah hidup Jon berubah.  Jon hanya bisa menjadi tukang cukur, bekerja untuk orang lain, dan penghasilannya dibagi dua. Membuka usaha cukur di kampung, Desa Bungtiang, Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur, penghasilannya tidak menentu. Kadang sehari hanya membawa pulang uang Rp 10.000.  Angka Rp 25.000 adalah jumlah yang besar.

“Kalau sehari dapat satu orang cukur, hasilnya dibagi dua sama pemilik tempat. Sama-sama Rp 5.000,’’ kata Jon.

buruh migran, cacat,tki,tenaga kerja indonesia

Mencukur adalah salah satu keahlian Jon. Keahlian yang dia pelajari secara otodidak setelah kehilangan kaki kanan. Sebelum itu, Jon adalah pemuda kekar. Buruh pekerja keras. Sisa-sisa kerja kerasnya bisa dilihat dari ototnya. Empat kali dia masuk Malaysia, empat kali dipulangkan paksa. Pulang yang keempat mengubah 180 derajat hidupnya.

Jon adalah saksi hidup carut marutnya buruh migran di Lombok, dan di seluruh Indonesia. Empat kali menjadi buruh migran, empat kali itu juga Jon berangkat secara ilegal. Tak main-main, dia berangkat ke Malaysia tanpa paspor. Masuk melalui jalur tikus, menjadi korban perdagangan orang. Jon tidak menyadari dia dijual sejak usia belia.

Jon hanya tamat Sekolah Dasar (SD). Karena kemiskinan dan tidak ada pilihan pekerjaan, Jon berangkat ke Malaysia. Saat temannya mendaftar masuk SMP, Jon berangkat ke Malaysia. Sesampai di Malaysia, entah karena kasihan terlalu kecil atau mandor takut ditangkap karena mempekerjakan anak kecil, Jon sementara waktu hanya mengamati orang-orang bekerja. Diberangkatkan oleh tekong, Jon “dijual” ke proyek bangunan. Hingga suatau hari, sang mandor merasa Jon sudah siap bekerja.
Tangan mungil Jon mengaduk semen, mengangkut besi, mengangkat bata. Apapun yang disuruh oleh mandor dan pekerja dewasa lainnya, Jon selalu ikuti. Bagi Jon dia harus bekerja keras dan pulang membawa uang. Uang yang diharapkan bisa membantu ekonomi keluarganya.

Hingga suatu hari, Polisi Diraja Malaysia merazia tempat-tempat kerja. Jon ditangkap. Mungkin karena wajahnya yang masih polos dan ditahu usianya masih belia, dia tidak disiksa seperti buruh migran lainnya. Sudah banyak kasus para buruh migran dewasa yang ditangkap karena ilegal, lalu dijebloskan ke penjara. Disiksa, pulang penuh luka, sebagian pulang dengan depresi. Gila.

Pulang ke rumah, Jon menjadi pengangguran. Tak tahan menganggur Jon kembali ke Malaysia. Sama seperti pemberangkatan pertama, tanpa paspor. Seluruh biaya ditanggung tekong, yang sebenarnya biaya tanggungan tekong itu “uang muka” atas praktek human trafficking . Jon hanya tahu dia diberangkatkan gratis dan bekerja di kelapa sawit.

Sehari-hari Jon bergaul dengan para pekerja kelapa sawit. Masa remaja di tengah hutan kepala sawit, jauh dari kota. Di dalam pergaulan itulah Jon mulai ingin menunjukkan eksistensi remajanya. Ketika Slank menjadi idola para remaja, Jon rela leher kirinya dicap logo band yang digandrungi anak muda itu. Logo Slank itu tidak sempurna, kurang huruf N, tapi Jon remaja tetap bangga dengan tato itu. Dia juga membubuhkan tato di lengan kiri, dada, dan lengan kanan. Yang unik di lengan kanannya, Jon membubuhkan tato tulisan Allahu Akbar.

“Sudah saya hilangkan sebagian,’’ kata Jon menunjukkan lengan kiri. Kulit yang terbakar, bekas tato yang disetrika. Belakangan Jon sadar tato itu tidak baik. Dia berjanji pada dirinya akan menghilangkan tato itu satu demi satu.

Polisi Diraja Malaysia kembali melancarkan razia. Masuk ke perkebunan sawit. Jon terjaring operasi. Setelah diinterogasi, petugas tahu usia Jon masih remaja. Dia dipulangkan.

Dua kali ditangkap tidak membuat Jon kapok. Dia kembali berangkat ke Malaysia. Ototnya semakin kuat. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya yang masih remaja. Pada berangkat yang ketiga itu Jon kembali masuk Negeri Jiran itu melalui jalur tikus. Lagi-lagi tanpa paspor. Pengalaman dua kali masuk tanpa selembar dokumen sudah pernah dilakoninya. Jon tidak khawatir berangkat tanpa dokumen. Tapi Jon tidak sadar, jika jaringan yang memberangkatkannya ke Malaysia itu adalah sindikat perdagangan orang. Memberangkatkan buruh migran secara ilegal, dan tidak sedikit yang diberangkatkan masih berusia belia.

Masuk ketiga di Malaysia Jon kembali bekerja sebagai buruh sawit. Dia sudah hafal cara-cara kerja di kebun kelapa sawit. Dia juga hafal jika sewaktu-waktu ada operasi pekerja ilegal dari Polisi Diraja Malaysia. Tapi, tak selamanya Jon bisa bersembunyi. Dia kembali ditangkap. Dipulangkan paksa ke Indonesia.

Kapok ?

Tidak. Jon kembali dia ingin mengadu nasib ke Malaysia. Sudah ada tekong yang siap memberangkatkan. Tanpa selembar dokumen. Jon berangkat ke Malaysia dan akan bekerja di sebuah perusahaan pengolahan sampah. Jon tidak tahu apakah tempatnya bekerja itu perusahaan swasta atau milik pemerintah, seperti Dinas Kebersihan. Jon hanya tahu setiap hari dia mengangkut sampah dari tempat penampungan sementara (TPS) untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Suatu hari bersama para buruh lainnya Jon menjalani rutinitas. Menaikkan sampah di atas truk yang sudah terpasang mesin untuk memadatkan, seperti mesin untuk memadatkan tembakau. Tapi mesin yang terpasang di truk itu bekerja semi otomatis. Begitu sampah dinaikkan ke atas truk, selanjutnya di dalam bak itu ada kotak baja yang akan memadatkan sampah. Nantinya sampah itu sudah dalam bentuk kotak.

Saat proses itulah Jon kecelakaan. Dia terjatuh di dalam bak pemadatan sampah itu. Naas, kaki kananya terperosok. Hanya dalam hitungan detik, kaki kanannya itu hancur, menggumpal bersama tumpukan sampah.

buruh migran, cacat,tki,tenaga kerja indonesia



****************

Ketika siuman Jon sudah berada di rumah sakit. Sendiri. Hanya perawat yang mengganti infus, memberikan obat, dan mengantarkan makanan yang pernah masuk ke ruangan itu. Tak ada sesama pekerja yang datang menjenguk, tak ada bos tempat bekerja yang melihat kondisinya. Mungkin mereka sadar, Jon masuk ke Malaysia tanpa selembar dokumen. Takut jika berurusan dengan polisi.
Jon tidak merasakan kaki kanannya. Tapi dia melihat hanya tinggal tulang, dagingnya hancur. Setiap hari kondisi kaki itu semakin buruk, hingga akhirnya pada suatu malam dokter di rumah sakit memintanya untuk menandantangani berkas : persetujuan amputasi.

“Jam dua malam saya tanda tangan, saya pasrah saat itu,’’ kenang Jon. Ketika siuman dan sadar dari bius operasi, Jon pasrah dengan kaki satu.

Pemulangan Jon ke Indonesia tidak segampang ketika dipulangkan paksa saat ditangkap Polisi Diraja Malaysia. Seorang pemuda dengan kaki buntung dan belum sembuh tentu saja menyulitkan pemulangan.  Jon dibuatkan paspor untuk kepulangan. Itu kali pertama Jon memegang paspor.
Isak tangis pecah ketika Jon sampai di rumahnya. Sonah tak henti-hentinya menangisi kondisi putranya itu. Dia tidak menyangka, putranya itu pulang dalam kondisi kaki teramputasi. Setiap kali dia melihat perban di kaki kanan yang terpotong itu, Sonah tak bisa menahan perasaan sedihnya. Berminggu-minggu, berbulan-bulan. Hingga akhirnya dia sudah terbiasa dengan kondisi putranya itu. Selama masa penyembuhan Jon hanya dirawat di rumah sederhananya. Tidak ada biaya membawa ke rumah sakit.

“Dulu dikasi Rp 3 juta saat dibawa pulang ke rumah,’’ kata Sonah menyebutkan satu-satunya bantuan yang pernah diterima Jon.

Jon tidak mau larut dalam kesedihan. Tuntutan ekonomi keluarga memaksaknya harus bekerja. Dengan kaki buntung, Jon merantau ke Batam. Di Batam dia menjadi tukang cukur. Dia sempat menikah, hingga kemudian cerai. Jon kembali ke kampung halamannya menjadi tukang cukur.
Jon pernah dibawa ke Selong, ibukota Kabupaten Lombok Timur. Jon tidak ingat dia masuk ke kantor apa. Dia hanya ingat saat itu dia didata untuk diberikan bantuan. Bantuan yang tidak kunjung tiba.

“Tongkat ini saja pemberian dari Malaysia, sudah beberapa kali saya ganti alasnya. Sudah rusak,’’ kata Jon menunjukkan tongkat penyangga tubuhnya.

Jon tidak tahu harus kemana meminta bantuan. Dia tidak minta uang. Jon hanya ingin meminta bantuan kaki palsu. Dengan kaki palsu setidaknya Jon bisa melakukan pekerjaan yang lain. Dia ingin merantau ke Batam. Ingin bekerja di restoran, sekadar menjadi tukang cuci piring. Setidaknya dengan kaki palsu, dia bisa lebih gesit berjalan,walaupun akan tetap memakai tongkat penyangga.
“Saya tidak tahu kemana harus minta bantuan, tapi Kadus dan Kades tahu kalau kaki saya buntung. Setiap hari mereka melihat saya jalan,’’ kata Jon.

Dengan kaki buntung, Jon berangkat menyusuri lorong rumah tetangganya. Jalan di jalur utama desa menuju tempatnya bekerja. Hari itu dia berharap ada warga yang memotong rambutnya. Jon ingin pulang membawa 20 angka, kombinasi pulsa listrik. Dia tidak ingin tidur dengan suara tit..tit...tit...titttttttttttt. (*)

x