Rabu, 25 Juni 2014

CUPAK GERANTANG, Dari Dongeng Tidur Hingga Pentas Jalanan…..





Tjoepak bebeling : ‘’ Adi’ Gerantang, tain apa ? / meni bele’ penoempoekna mara’ gili ? / ‘’ Ia mene’ tain Limandaroeng ‘’ / Lo’ Tjoepak gigit perangenna / peno’ sedo’ gigi ngerejot soegoel daoer / ‘’ Doeh mas mirah adi’ Gerantang, ente pada oele’ malik ‘’

=============

Sebait syair di atas merupakan penggalan cerita Cupak – Gerantang yang sering di dongengkan para ibu-ibu pada anaknya sebelum tidur. Dalam dialog di atas, si Cupak bertanya pada adiknya Gerantang. Cupak menanyakan kotoran apa yang besarnya seperti gili (pulau kecil). Gerantang lalu menjawab itu kotoran Limandaroeng (raksasa, Red). Mendengar jawaban sang adik, Cupak pun langsung kecut hatinya, takut dan meminta untuk kembali.

Sebait syair itu adalah cerita paling terkenal dan menggambarkan sosok Cupak yang penakut, ketika dua bersaudara ini diutur raja untuk mencari putri raja yang diculik oleh raksasa. Pada akhir cerita putri raja ditemukan, namun berkat akal liciknya raja percaya kalau yang berjasa adalah Cupak. Namun dalam proses perjalannya, akal bulus Cupak diketahui. Terakhir dia bertarung dengan adiknya Gerantang. Cerita pun berakhir dengan bahagia. Gerantang menang. Kebaikan selalu menang melawan kejahatan.

Itu adalah dongeng yang paling terkenal dalam cerita Cupak – Gerantang. Wartawan koran ini yang menikmati masa kecil di kampung masih sering mendengar cerita Cupak Gerantang itu. dituturkan dari mulut ke mulut, menjadi dongeng sebelum tidur dan kadang kala menjadi hiburan pada acara-acara tertentu. Paling sering acara kawinan, sebelum digusur oleh musik modern.

Sebait dialog di atas adalah petikan dari naskah Cupak dalam Tembang Pangkoer ( Kedua ) syair 42. Dialog diatas merupakan petikan dari Lelampan Cupak No 10090 yang ditemukan di Dasan Reban – Suralaga ( Lombok Timur) pada tanggal 21 Oktober 1940. Kemudian cerita itu ditulis oleh L Muhammad Arifin pada tanggal 10 Juni 1941.

‘’Arifin saat itu sebagai pembantu dari DR C Hooykaas, yang menemukan naskah Cupak,’’ kata Ahma YD, salah seorang budayawan Lombok pada koran ini di kediamannya di Majeluk.

Cerita Cupak memang sudah begitu merakyat di masyarakat Lombok (Sasak), sampai-sampai cerita Cupak ini dianggap sebagai ‘’orisinil’’ dari cerita Sasak. Padahal Lelampan Cupak ini merupakan sebuah improvisasi pada Lakon Panji yang terkenal di Jawa, khususnya Jawa Timur. Dalam proses improvisasi itu, cerita Cupak ini kemudian mengakar kuat di masyarakat Sasak.

‘’Tidak usah risau dengan adanya improvisasi itu, dalam perkembangannya juga banyak cerita Cupak itu yang mengalami improvisasi, bahkan ada tokoh-tokoh lain yang dimunculkan,’’ kata Ahmad.

Dituturkan Ahmad, proses ‘’penemuan’’ Lelampan (Lakon) Cupak ini cukup panjang. Berawal dari invasi kerajaan Bali ke Lombok pada tahun 1800 an, saat itu para penguasa dari Bali mengumpulkan harta ‘’kebudayaan/kesenian’’ milik orang Sasak dari berbagai daerah. Ada yang mengumpulkan keris, prasasti, informasi-informasi sosial, piagam, dan salah satunya adalah naskah-naskah dari cerita rakyat. Seluruh barang yang diambil itu lalu dikumpulkan di Puri Cakra.

Pada tahun 1879, ahli sastra Jawa berkebangsaan Belanda HN Vander Tuuk yang tinggal di Bali berkunjung ke Lombok. Saat itu, kata Ahmad, dia melihat naskah-naskah yang terkumpul itu.

‘’Ada ribuan naskah yang ada di Puri Cakra,’’ kata Ahmad.

Lima tahun kemudian setelah kedatangan Bander Tuuk itu, Belanda menduduki Lombok. Saat kedatangan Belanda inilah yang kemudian turut menyebarluaskan naskah-naskah Sasak. Naskah-naskah itu juga disimpan oleh Belanda, hinga sekarang.

‘’Harus kita akui peran Belanda dalam menyebarluaskan informasi tentang naskah-naskah Lombok, termasuk mereka juga berperan dalam menjaganya,’’ kata Ahmad.

Selain disimpan di lembaga Kirtya (tempat penyimpanan naskah yang ada di Singaraja, Bali), beberapa naskah itu menjadi koleksi pribadi para perwira, sarjana sastra, pejabat Belanda. Beberapa orang diantaranya adalah Engelenbergh AJN, LC Heyting, Brandes, dan Scherer.

Naskah Cupak sendiri ‘’ditemukan’’ oleh DR C Hooykaas pada tahun 1937 yang melakukan kajian potensi kesusastraan Lombok. Dalam melakukan kajian itu, sastra lisan yang berkembang di Lombok kemudian ditulis ulang. Naskah Cupak adalah salah satunya yang kini tersimpan di Le Meyur, Bali.

‘’Di Leiden Belanda juga ada naskah Cupak itu,’’ ujarnya.

Dikatakan Ahmad, asal muasal cerita Cupak itu memang banyak tidak diketahui oleh masyarakat. Masyarakat hanya tahu bahwa cerita Cupak, yang kemudian populer dengan nama cerita Cupak – Gerantang adalah cerita tentang kebaikan melawan keburukan yang pada akhirnya kebaikan selalu menang.

Cerita  Cupak – Gerantang adalah cerita hitam – putih yang melekat dari dua bersaudara Cupak (kakak) dan Gerantang (adik). Cupak menyimbolkan sosok curang, jahat, serakah dan segala macam kejahatan. Berbeda dengan Gerantang yang kebalikannya. Itulah sebabnya dalam visualisasi dalam bentuk teater, Cupak secara pisik ditunjukkan seorang yang kuat makan (rakus), perut buncit, tampang jelek. Berkebalikan dengan Gerantang yang gagah dan baik.

‘’Cupak sebagai tradisi kesenian teater telah diversikan Sasak kan dari cerita Panji yang berkembang di Jawa Timur, dan itu berhasil,’’ kata Ahmad.


------------------------------------------------------


CUPAK adalah sebuah pertunjukan rakyat. Drama yang dipentaskan di setiap momen besar di masyarakat, di saat hari-hari besar, dan yang paling sering ketika ada hajatan. Pertunjukan Cupak menghibur para tamu pengantin yang datang, pertunjukan Cupak menghibur anak-anak yang akan disunat pada keesokan paginya. Pertunjukan Cupak menjadi pertunjukan favorit saat peringatan HUT RI setiap tanggal 17 Agustus.

‘’Kalau ada orah rowah (pesta) kami selalu diundang untuk menghibur,’’ kata Raden Aryadi, salah seorang pemeran Cupak dalam kelompok teater – kesenian Cupak dari desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Dalam kelompok teater – kesenian Cupak Gerantang, ada dua tokoh sebagai pemain, Cupak dan Gerantang. Selain itu adalah kelompok musik pengiring. Cerit Cupak dan Gerantang memang sudah baku, perjalanan untuk mencari putri cantik jelita yang diculik oleh raksasa jahat. Semua orang sudah menebak jalan ceritanya.

‘’Tapi orang tetap suka,’’ katanya. Dituturkan Aryadi, setiap kali pentas penonton selalu berjubel bahkan tak sedikit para orang tua harus menggendong anaknya di pundak agar bisa nonton.

Sebagai sebuah seni pertunjukan, Cupak telah melahirkan kelompok musik yang pada gilirannya akan menghidupkan industri penyedia alat-alat musim pertunjukan Cupak. Pertunjukan ini juga melahirkan tradisi topeng.

‘’Yang paling khas adalah adanya kalender pertunjukan Cupak yang dimiliki masyarakat Lombok. Ini berbeda dengan kalender pengambangan cerita Panji di Jawa, Banyuwangi, Bali, Banjarmasin dan lain-lainnya di Indonesia,’’ kata Ahmad YD, budayawan Lombok.

Sebagai sebuah pertunjukan, kelompok Cupak – Gerantang ini juga memiliki komponen seperti di kelompok teater modern. Ada produser, penata panggung, penata musik. Hanya sutradara lah yang tidak nampak, para pemain langsung menjadi sutradara. Pada era ketenarannya pertunjukan Cupak menjadi sebuah industri hiburan yang cukup besar dan dikenal masyarakat.

‘’Sampai-sampai selesai main kami dikenal sebagai Cupak atau Gerantang, tokoh yang kami perankan,’’ kata Raden Deranto, pemeran Gerantang. (fathul)

2 komentar: