Kamis, 26 Juni 2014

Falastri, Pemudi Pelestari Tarian di Lenek



 

 

Falastri (paling kanan) bersama teman-temannya/fathul

 

USIANYA masih relatif muda untuk ukuran seorang “seniman muda”, 20 tahun. Tapi, semua seniman di Desa  Lenek Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur mengakui Ayuni Aristia Falastri adalah salah satu penerus tradisi berkesenian, khususnya tarian di desa yang dikenal dengan sebutan desa kesenian itu. Hampir semua jenis tarian yang ada dan berkembang di Lenek, bisa dibawakan Falastri. Tak heran jika para seniman senior di desa itu khawatir kalau Falastri akan cepat mengakhiri masa lajangnya. Pengalaman di Lenek, beberapa seniman tari perempuan, banyak tidak meneruskan aktivitas berksenian lantaran ikut suami.


=================


SUATU sore sehabis hujan membasahi Lenek, belasan anak-anak usia sekolah dasar (SD) berkumpul di Rumah Budaya Paer Lenek. Di panggung pementasan berukuran 10X9 meter itu, anak-anak itu meregangkan badan mereka. Tangan digerakkan ke kiri, kanan, atas, bawah, layaknya orang senam. Kaki-kaki mungil mereka, tanpa alas kaki berjalan pelan, kadang cepat di panggung itu. Acara pemanasan sebelum berlatih tari wajib untuk mengendurkan otot-otot.

Sebelum musik diputar, anak-anak yang masih duduk  dibangku kelas 2 – kelas 5 SD itu mencoba beberapa gerakan tangan. Lutut ditekuk, jari-jari tangan bergerak lincah, mata mereka liar menoleh kiri-kanan, tak ada raut senyum pada bibir mereka, walaupun beberapa teman mereka, laki-laki yang datang menonton sesekali membuat keributan.

“Agak turun sedikit, matanya ikuti arah gerakan leher,’’ kata remaja berambut panjang, Falastri, memberikan arahan sambil memegan tanga penari cilik itu dari belakang punggung penari cilik itu.

Ketika ada gerakan kepala dan gerakan mata yang dilihat Falastri kurang lentik, dia akan mendatangi penari cilik itu seraya memberikan contoh. Berdiri tegak, lalu lutut ditekuk, pinggul diserongkan ke arah kanan, kepala, mata dan tangan digerak-gerakkan. Posisi seperti itu harus diikuti para penari cilik.
Setelah badan para penari cilik itu mulai lentur, barulah latihan tari dengan iringan musik gending para penabuh dari Lenek dilakukan. Sore sehabis hujan itu, para penari cilik itu sedang memerdalam tarian dara ngindang.

“Mau pentas di Lingsar nanti,’’ kata Falastri.

Usai mendampingi para penari cilik itu, giliran Falastri menari bersama rekan-rekan seusianya. Mereka akan latihan tarian gagak mandi. Mengenakan baju kaos dan celana ¾, para penari remaja itu langsung memutar musik dari handphone mereka. Tak ada yang mengawasi. Tapi begitu berhenti latihan, Falastri memperagakan gerakan, tepatnya kadar kelentikan jari, arah gerakan mata. Pada kelompok penari remaja itu, Falastri sekaligus menjadi instruktur.

Sore itu adalah salah satu dari begitu banyak aktivitas menari Falastri. Di hari ini, pada malam hari, Falastri juga aktif menari, sekaligus melatih para penari belia di sanggar bebadosan. Mereka latihan tiga kali seminggu, sehabis pulang mengaji, biasanya antara jam 20.00 Wita hingga 22.00 Wita. Jika akan ada pentas di luar desa, latihan diintensifkan pada hari libur sekolah. Maklum saja, di sanggar itu hampir semua penari masih berstatus pelajar SMP dan SMA. Falastri sendiri baru dua tahun ini menamatkan sekolah di SMAN 2 Aikmel, tak jauh dari rumahnya.

Tarian gagak mandi, salah satu karya maestro tari Amaq Raya, boleh dibilang Falastri adalah penerusnya. Para seniman senior Lenek melihat dari seni Amaq Raya, yang merupakan paman dari ibunya Falastri, mengalir ke darah Falastri. Dia begitu apik membawakan tarian yang diciptakan Amaq Raya ketika masih muda itu. Dalam sebuah pementasan yang disaksikan wartawan koran ini, sangat terlihat perbedaan kemampuan Falastri dengan teman-temannya. Gerakan tangan, kaki, pinggang, jari-jari, bahkan gerakan bola mata, sangat terlihat jika Falastri masuk dalam kelompok mahir.

Dalam setiap pementasan ke luar Lenek, Falastri selalu diajak. Bukan hanya oleh Sanggar Bebadosan, tempatnya rutin latihan, tapi sanggar-sanggar lainnya juga kerap mengajak Falastri. Apalagi jika pentas diadakan Rumah Budaya Paer Lenek, nama Falastri masuk dalam daftar paling atas.

Dalam sebuah pementasan, para penonton kerap meminta penari untuk tampil lagi. Di sinilah letak keberuntungan membawa Falastri. Jika kembali tampil di atas panggung, dia tidak sekadar membawakan tari gagak mandi dan dara ngindang. Semua tari yang diciptakan, dikembangkan, digubah para seniman tari Lenek bisa dibawakan Falastri.

Falastri juga bisa membawakan tari asmarandana, gandrung, tari tangis, anggada duta, dan tarian sasak lainnya. Dia juga mahir membawakan beberapa tarian Bali seperti seperti tari panji semirang, marga pati, tari wiranata, tari bintang Lombok dan tarian Bali lainnya. Pada sebuah pementasan, Falastri pernah duet dengan para dosen tari di jurusan seni STKIP Hamzanwadi Pancor. Para dosen yang notabene kuliah khusus tari dan mengajar tari itu tak pelit memuji Falastri. Seorang remaja yang belajar otodidak, bisa membawakan tari-tarian yang sulit dengan begitu mudahnya. Bahkan Falastri juga bisa menjadi sosok laki-laki dalam tarian yang semestinya dibawakan para lelaki.

“Saya belajar tari dari ibu saya,’’ kata Falastri tentang penguasaan beberapa jenis tarian Lombok dan Bali itu.

Tidak sekadar menjadi penari, semua jenis tarian yang dikuasainya itu diajarkan pula pada penari cilik dan penari remaja di desanya. Falastri pun terkenal sebagai guru tari. Di sekolah yang dekat dengan rumahnya, Falastri menjadi pelatih rutin. Di SMP dan SMA tempatnya menamatkan sekolah, Falastri diundang menjadi guru tari.


“Ketakutan kami, kalau dia cepat menikah tidak ada lagi yang mengajar anak-anak muda di sini menari,’’ kata Gunaria, Ketua Rumah Budaya Paer Lenek.

Alasan Gunaria beralasan, dalam pengamatan koran ini, dalam beberapa kali pementasan dan latihan tari di Lenek, Falastri selalu berada di posisi ganda. Menjadi pelatih sekaligus penari. Dia juga sibuk melihat, mengevaluasi gerakan-gerakan temannya. Itulah sebabnya, dalam urusan merias pakaian yang akan dikenakan, Falastri selalu paling akhir. Dia harus memastikan kostum yang dikenakan para rekannya sudah sesuai dan memudahkan mereka menari.

 
 

Palastri saat pentas Tari Gagak Mandi


Menari Untuk Hidup

KELUARGA Falastri adalah keluarga seniman, khususnya tari. Falastri sendiri belajar menari langsung dari ibunya Kamiwati, kini 57 tahun. Di usia mudanya, Kamiwati adalah satu idola penari di Desa Lenek. Tidak hanya menari di kampung halaman saja, tapi dia telah berkeliling NTB, bahkan beberapa kali pentas ke luar NTB. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Kamiwati masih tetap bisa menari dan membimbing anak-anak remaja di desanya. Semangat ibunya inilah yang membuat Falastri tetap semangat menekuni tari.

Falastri mulai serius berlatih menari sejak kelas 2 SD. Sepulang sekolah dia langsung digembleng ibunya. Bahkan kadang Falastri merasa masa-masa kecilnya bermain bersama teman sebaya direnggut. Tiada hari tanpa menari. Untungnya dalam latihan menari kadang ada teman sebaya yang ikut. Jadilah aktivitas Falastri, pagi – siang sekolah, sore-malam latihan tari. Di usia yang masih belia saat itu, Falastri pun sudah kerap tampil di depan umum.

Falastri sempat berpikir, untuk apa menari. Bukankah lebih enak bermain bersama teman-teman sebaya. Jalan-jalan menikmati alam persawahan Lenek yang masih hijau.Tapi sang ibu tetap memaksa Falastri latihan menari.

Falastri beranjang SMP, dia menganggap ibunya semakin gila. Tiada hari tanpa menari. Falastri pun menari setiap hari. Seminggu dia bisa menguasai satu tarian baru. Cukup dengan mendengar awal musik pengiring, dia sudah tahu tarian apa yang dia bawakan.

Falastri mulai jenuh, dia ingin berontak, mau berhenti menari. Dia bosan juga melihat ibunya menari. Keluar rumah, keluar desa menjadi penari. Hingga suatu saat Falastri mendapatkan jawaban langsung dari ibunya : hanya lewat menari keluarga mereka mendapatkan uang untuk makan.

Falastri juga tidak tahu, jika selama ini dia makan, minta uang belanja didapat dari hasil menari ibunya, dan kakaknya Eliarisanti. Kakaknya juga membantu sang ibu memenuhi hidup keluarga. Itu pula yang membuat kakaknya memutuskan berhenti kuliah. Uang hasil menari tidak cukup dibagi untuk kebutuhan sehari-hari, biaya kuliah, dan transportasi ke kampus.

“Keluarga saya tidak punya sawah atau modal untuk usaha. Jadi kami, kakak saya, dan ibu saya menari untuk bisa hidup,’’ katanya.

Di usia ibunya saat ini, Falastri lah yang mencari nafkah. Honornya menjadi penari dan pelatih tari cukup untuk biaya kebutuhan sehari-hari. Mereka tidak memiliki usaha lain atau hasil kebun untuk dijual lantaran tidak memiliki sepetak tanah, kecuali tanah tempat rumah sederhana mereka berdiri. Sementara sang ibu, di usianya 57 tahun, sudah tidak sekuat dulu lagi. Dia tidak bisa berpergian jauh, gerakannya tidak segemulai dulu. Falastrilah pundak keluarga ini, hidup dari menari.





Palastri saat latihan menari


Cita-Cita Menjadi Guru Kandas di Tengah Jalan


JIKA ditanya apa cita-cita Falastri, dia akan menjawab : menjadi guru. Jawaban itu sejak kecil tidak berubah hingga sekarang. Pernah dia mulai menapak kaki menuju cita-cita itu, tapi pada akhirnya kandas lantaran biaya. Falastri memutuskan berhenti kuliah. Dia tidak sanggup untuk membiayai transportasi ke kampus, setiap hari.

“Kalau SPP mungkin bisa dikumpul dari honor, tapi tidak bisa saya setiap hari keluar uang. Mau sewa kos juga kan mahal, belum lagi makan,’’ kata Falastri yang pernah terdaftar di IAIH Anjani ini.

Sang ibu juga mendorong Falastri untuk bisa kuliah, di jurusan keguruan. Harapannya, kelak Falastri setelah tamat bisa menjadi guru. Guru bidang studi apapun. Dalam benaknya juga sudah terbayang, selain mengajar bidang studi sesuai keilmuannya, dia akan mengajar tari di sekolah itu.

Ketika kuliah dulu, Falastri tetap menari, kecuali kalau kebetulan bertabrakan dengan jadwal kuliah. Dia lebih memilih kuliah. Ibunya juga melarang dia menari keluar daerah jika ada perkuliahan.

Mengandalkan hidup dan biaya kuliah dari honor menari tidak bisa selamanya. Suatu saat, ada masa ketika ibunya, termasuk Falastri agak jarang dimintai jasanya menari. Tabungan ibunya pun jebol untuk membiayai kuliah Falastri. Sejak saat itulah Falastri memutuskan berhenti kuliah.

“Ibu saya menangis, karena saat itu kami tidak punya uang dan saya memutuskan berhenti kuliah. Saya rasa ibu saya menangis karena keputusan saya berhenti,’’ kata Falastri yang masih menyimpan cita-cita bisa kuliah kembali.

Hampir pupus harapannya untuk kuliah. Tapi kedatangan para mahasiswa yang pernah berkunjung ke Lenek, termasuk belajar menari dan teater membuat Falastri ingin kembali kuliah. Dia cemburu melihat para mahasiswa itu, yang seumuran dengannya belajar menari dari dasar. Sementara dia, menguasai belasan tari. Dia juga melatih para mahasiswa itu menari.

“Jadi ingin kuliah jurusan tari, saya baru tahu ada kuliiah jurusan tari di Lombok (STKIP Hamzanwadi Pancor, red),’’ kata Falastri saat ditanya tentang keinginannya kuliah kembali. (*)















2 komentar: