Minggu, 29 Juni 2014

Menggantungkan Nyawa di Ujung Selang Kompresor


Foto Reji diambil dua tahun lalu dalam kondisi lumpuh


 

Demi sesuap nasi, para pria perkasa itu bertarung dengan maut. Dengan peralatan seadanya, mereka menyelam di kedalaman yang tak wajar. Mati adalah taruhan. Cacat seumur hidup adalah konsekuensinya. Para pria perkasa ini adalah penyelam tradisional.


------------------

Siang itu, bulan Februari 2011, seperti biasa Reji, warga dusun Serewe desa Pemongkong kecamatan Jerowaru kabupaten Lombok Timur ini melakoni kesehariannya. Menjadi seorang penyelam. Bersama rekannya yang lain, pria yang tidak memiliki anak ini menyiapkan perlengkapan. Selang sepanjang kurang lebih 60 meter, masker, dakor (sejenis masker, sebutan lokal) dan peralatan utama mesin kompresor dinaikkan ke atas perahu. Mesin perahu dihidupkan.

Sekitar 30 menit perjalanan dari arah pesisir pantai Serewe berpasir putih itu, sampailah rombongan penyelam ini ke tempat yang dituju. Sebuah titik di dekat deretan gili (pulau) kecil yang masuk di daerah Jerowaru. Sebagai penyelam yang dikenal jagoan, Reji kebagian sebagai penyelam utama. Satu orang rekannya menjadi operator kompresor. Rekannya yang lain ikut membantu, menyiapkan peralatan penyelaman.

Sebagai orang pantai, Reji sudah mengenal laut ketika usianya masih belia. Ketika seumuran anak SD kelas 1 dia sudah bisa berenang ratusan meter dan mampu menyelam. Hitungan menit di dalam air sudah biasa baginya. Ketika berajak remaja, dia sudah mulai ikut kelompok penyelam ‘’profesional’’ dalam ukuran orang kampungna. Kelompok penyelam yang menggunakan kompresor. Dengan menghirup udara dari kompresor, para penyelam ini mampu menyelam di kedalaman hingga 50 meter, selama 30 menit.

Semua perlengkapan disiapkan. Jaring tempat menaruh ikan, tombak kecil. Kadang ketika cuaca agak gelap, kadang juga penyelaman malam hari, sebuah senter anti air disiapkan.

Byur…….Beji terjun ke dasar laut. Dia tidak ingat berapa lama di dasar laut. Kedalamannya sekitar 40 meter. Mungkin 25 menit. Setelah dirasa cukup buruannya, Beji pun naik ke permukaan.

Sesampai di atas perahu, menu utama rokok sudah disiapkan oleh rekannya. Menyelam tanpa baju pelindung tentu membuat badan dingin, apalagi sampai berpuluh menit. Rokok dinyalakan, Reji sangat menikmati hisapan rokok itu.

‘’Hanya dua isap saja,’’ kata Reji mengingat.

Setelah dua hisapan itu, tiba-tiba dunia seperti berputar. Kepala Reji pusing. Dia terjatuh di sampan. Reji pun langsung dibawa pulang ke rumah. Ketika sampai di pesisir dia masih bisa berjalan pulang ke rumah. Namun terasa sangat sakit di bagian pinggang dan kakinya. Dia memaksakan diri, hingga sampai ke rumah. Tidur sebentar, dan ketika sadar kakinya sudah tidak bisa lagi digerakkan.

‘’Saya terkena air keram,’’ kata Reji menyebut istilah warga Serewe bagi penyelam yang menyelam di kedalaman tertentu.

Menurut penuturan para penyelam air keram itu terasa dingin, seperti es. Itulah yang menjadi penyebab penyelam yang terkena air keram ini menjadi lumpuh, pinggang hingga ujung kaki rasanya seperti kesemutan. Lalu akhirnya lumpuh. Beberapa orang yang lain masih beruntung. Ajaib bisa sembuh. Tidak lumpuh total. Mereka bisa berjalan, walau dengan tertatih-tatih, seperti orang yang terkena polio.

‘’Keras rasanya,’’ kata Nurman, salah seorang penyelam yang selamat dari kelumpuhan total.

Setelah kelumpuhan total yang dialami Reji sejak empat bulan silam hidupnya berubah 180 derajat. Dia tidak bisa lagi bekerja. Menyelam. Uang untuk menyalakan api dapurnya hanya mengandalkan upah memburuh istrinya yang setia menemani. Jangankan bisa bekerja yang lain, sekadar mengurus diri  sendiri saja susah. Bahkan akibat kelumpuhan itu, Reji tidak bisa mengontrol air kencingnya. Seperti anak kecil. Begitu ada rasa ingin kencing, langsung keluar kencing.

Kisah Reji merupakan hal yang biasa bagi masyakarat Serewe. Maklum saja bukan Reji saya yang mengalami penyakit ini. Sudah ada belasan lainnya yang mengalami nasib sama. Bahkan lebih parah, rekannya sesama penyelam sudah meninggal beberapa tahun lalu. Meninggal tidak lama setelah kelumpuhan menyerang mereka. Selain karena penyakit lumpuh itu, stres berat akibat kelumpuhan juga menjadi salah satu faktor pemicu.

Reji contohnya, menutur cerita tetangganya, dia dulunya seorang yang ceria. Setelah kelumpuhannya itu hidupnya berubah total. Menjadi orang yang sangat pemurung, dan sering terlihat melamun. Tatapan matanya kosong, dan tidak ada semangat untuk berbicara. Reji masih shock dengan kondisinya saat ini. Harta simpanannya selama ini ludes untuk biaya pengobatan. Dokter, dukun, dan pengobatan lainnya tidak mempan. Reji masih terkapar.

Saban hari Reji terlihat menjemur kakinya di bawah sinar matahari. Dia berharap panas matahari bisa mengobatinya. Loginya sederhana : kakinya lumpuh lantaran terkena air keram yang dingin. Sehingga kalau dihangatkan kemungkinan bisa sembuh. Harapan itu ada mengingat rekannya yang lain ada yang tidak lumpuh total, bisa berjalan dengan tertatih-tatih.

Seperti Nurman contohnya. Pria 28 tahun ini juga pernah terkena ‘’air keram’’. Dia terkena air ini ketika menyelam 12 tahun silam. Sama seperti Reji, Nurman merasakan sakit pada pinganggangnya hingga ke bawah. Beruntung tidak sampai lumpuh total. Dia masih bisa berjalan dengan sulit.

‘’Tidak bisa menyelam lagi,’’ kata Nurman yang jalannya seperti orang polio.

Tapi bukan tidak berani. Kalau sudah sembuh kaki saya, saya mau menyelam lagi,’’ katanya menambahkan.

Kisah Reji dan Nurman bukanlah sesuatu yang aneh bagi masyarakat Serewe. Kelumpuhan akibat penyelaman ini dianggap hal biasa. Konsekuensi dari profesi yang mereka jalani. Bahkan ketika rekan-rekan mereka meninggal, tidak ada kata takut bagi mereka.

Dari data yang saya dapatkan di lapangan, dalam beberapa tahun terakhir ini ada 8 penyelam yang tewas. Mereka pada umumnya mengalami kelumpuhan total. Meninggal tidak lama setelah kelumpuhan itu.

‘’Mereka pada umumnya masih usia produktif,’’ kata Haeruni, pekerja sosial di desa Pemongkong yang menemani saya ke Serewe.

Mereka yang sudah tewas itu adalah Jumasih (30 tahun), Aman Gonda  45 tahun), Sahram (20 -an tahun), Bandi (28 tahun), Dadi (20-an tahun), Munawir ( 20-an tahun), Kero ( 30-an tahun), dan Burhanudin yang masih berusia belasan tahun. Sementara itu penyelam yang masih selamat adalah Reji alias amaq Sunti ( 30-an tahun), Reji alias amaq Zaenal Abidin ( 50-an tahun), Majmu ( 40-an tahun), Halil, Nurman, Saidi.

Istri mereka menjadi janda, kemiskinan pun bertambah,’’ kata perempuan yang juga seorang petani rumput laut ini.

Kemiskinan pula yang membuat para pria perkasa ini memilih profesi menyelam. Tidak butuh ijazah. Hanya butuh keberanian.

‘’Kalau soal bisa semua orang laut bisa menyelam, tapi tidak semua berani,’’ kata Nurman.


   

Zaenal menunjukkan salah satu alat menyelam tradisional


Menyelam menjadi pilihan hidup para nelayan miskin di Serewe. Mereka pada umumnya tidak memiliki perahu dan perlengkapan menangkap ikan lainnya. Mereka akhirnya membentuk kelompok. Yang memiliki modal lebih menyiapkan perlengkapan menyelam. Yang tidak punya modal mengandalkan tenaga dan keberanian menyelam.

Jenis buruan para penyelam ini mulai dari kerang mutiara, lobster, siput, teripang dan berbagi jenis ikan lainnya. Isi laut ini bisa didapatkan dengan mudah dengan menyelam di kedalaman tertentu, mulai dari 10 meter hingga 50 meter lebih. Hasil menyelam ini memang cukup menggiurkan, sekali menyelam bisa mendapatkan Rp 500 ribu lebih. Namun setelah dibagi dengan jumlah anggota kelompok dan biaya operasional, satu penyelam kadang mendapatkan bersih Rp 30 ribu per hari, kadang Rp 50 ribu. Ketika beruntung bisa mendapatkan Rp 150 ribu sehari. Tapi itu sangat jarang terjadi.

Ada tempat-tempat khusus banyak isinya,’’ kata Nurman.

Tidak ada data pasti jumlah penyelam tradisional ini. Menurut perkiraan Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Lombok Timur Amin Abdullah, dipekirakan jumlah nelayan/penyelam tradisional ini lebih dari 50 orang. Paling banyak tersebar di dusun Serewe Desa Pemongkong (sekarang sudah mekar menjadi Desa Maringkik), pulau Maringkik Desa Tanjung Luar (sekarang sudah menjadi Desa Maringkik) Kecaman Keruak, desa Sugian kecamatan Pringgabaya.

Kami belum pernah menghitung berapa total yang lumpuh atau tewas, tapi bisa diperkirakan sudah mencapai puluhan orang dalam 10 tahun terakhir,’’ katanya.

Menurut Amin, para penyelam tradisonal ini melakoni profesi ini karena tidak ada pilihan. Para penyelam ini pada umumnya tidak berpendidikan bagus dan merupakan nelayan miskin. Tidak memiliki perahu, alat menangkap ikan sendiri dan modal.

‘’Menyelam paling mudah, tidak butuh modal,’’ katanya.

Bukannya tidak tahu risiko penyelaman ini, namun tuntutan akan perut tetap menjadi nomor satu. Risiko kelumpuhan atau pun tewas sudah dianggap biasa. Bagi para nelayan, ketika siap menyelam berarti siap menggantungkan hidup mereka di ujung selang kompresor.

Saya menduga setelah munculnya kompresor ini baru banyak terjadi kasus kelumpuhan dan kematian. Dulu ketika masih sangat tradisional, tanpa menggunakan kompresor paling dalam menyelam 10 meter. Sekarang bisa mencapai 50 meter, dan kena air keram,’’ papar aktivis nelayan yang tinggal di Tanjung Luar ini.

Sepengetahuan saya, para penyelam tradisonal maupun penyelam profesional memiliki risiko terkena ‘’penyakit’’ ini. Pada penyelam profesional (menggunakan tabung) penyakit ini terjadi akibat terlalu terburu-buru naik ke atas permukaan. Itulah sebabnya para penyelam dianjurkan untuk selalu naik perlahan.

Pada penyelam tradisional yang memanfaatkan kompresor memliki risiko keracunan nitrogen  (decompression sickness) maupun nitrogen narcosis yakni penyakit dekompresi pada penyelam akibat terlalu lama berada di air pada kedalaman tertentu. Otot terasa nyeri seperti kesemutan adalah gejalanya, kelumpuhan adalah efek yang bisa dilihat. Pengalam Reji dan Nurman mengalami decompression sickness.

‘’Ditambah lagi dengan standar pengaman baju yang seadanya, bahkan mereka menyelam tanpa baju. Padahal suhu air air dalam lebih dingin dan tekanan lebih keras,’’ kata Amin.


 

Kompresor dan selang yang dipakai menyelam


Kapok ?

‘’Kalau kami tidak menyelam, siapa yang memberikan anak istri kami makan,’’ kata Reji alias amaq Zaenal Abidin, penyelam yang lumpuh sejak tahun 1989.

Reji senior ini (untuk membedakan dengan Reji alias amaq Sunti yang berusia lebih muda) mengatakan, tidak ada istilah kapok bagi para penyelam tradisonal ini. Sekalipun kaki mereka sudah lumpuh total, selalu ada harapan sembuh dan bisa kembali menyelam.

Bagi generasi penerus penyelam tradisional ini, kelumpuhan dan tewasnya para senior mereka tidak menyuturkan niat. Zaenal, 30 tahun, misalnya. Ayahnya sendiri Reji sudah lumpuh total. Bukannya melarang sang anak untuk menjadi penyelam, Reji bahkan mengajarkan anaknya menyelam sejak kecil. Kini Zaenal adalah salah seorang penyelam yang sudah memiliki jam terbang tinggi.

‘’Ini adalah pilihan hidup kami,’’ kata Zaenal.

Bagi Reji senior yang sudah memiliki anak dewasa, ada tempatnya mengandalkan hidupnya. Setelah kelumpuhannya, dapur rumah tangga menjadi beban istri dan anak-anaknya. Warisan menyelam dari ayahnya membuat Zaenal turut membantu asap dapur terus mengepul.

‘’Kami sebenarnya ingin bertani rumput laut, tapi dengan kondisi kami seperti ini tidak bisa. Jangkan berenang, jalan saja kami tidak bisa,’’ kata Reji ketika koran ini menanyakan program budidaya rumput laut di Serewe.

Serewe dan Ekas merupakan sentra rumput laut andalan di Lombok Timur. Dalam peta potensi pengembangan rumput laut yang dikenal dengan program PIJAR (Sapi Jagung Rumput Laut) di Pemprov NTB, Serewe masuk dalam peta itu. Sayangnya, program itu hanya sebatas bagus di atas kertas, rakyat belum menikmati. (fr)

1 komentar: