Kamis, 26 Juni 2014

Perempuan Mencari Nafkah, Suami Kawin Lagi








Posko pengaduan TKI mulai dibuka di beberapa desa yang menjadi lumbung TKI/fathul



11 tahun melakukan pendampingan tenaga kerja ke luar negeri, Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) Lombok Timur menemukan berbagai persoalan di lapangan. Salah satu persoalan yang cukup menguras tenaga dan emosi adalah para “lelaki parasit”. Mengeruk uang dari istri mereka yang menjadi TKW, lalu uang kiriman dipakai berpoya-poya. Berikut adalah sepenggal kisah dari pendampingan para sahabat saya di ADBMI.
-----------------------------------
MENJADI tenaga kerja di luar negeri masih menjadi pilihan favorit sebagian warga di Lombok Timur. Di beberapa desa yang menjadi kantong TKI, bisa saja setengah penduduk dewasanya pernah menjadi TKI. Tak terkecuali bagi tenaga kerja wanita (TKW). Terbatasnya lapangan pekerjaan membuat mereka berani mengadu nasib ke luar negeri.
Desakan ekonomi pula yang membuat IR (inisial) untuk berangkat ke Saudi Arabia. Ibu dua anak ini makin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Sawah beberapa petak yang dimiliki suaminya tidak mampu menghidupi kebutuhan anak-anak mereka yang beranjak besar.
IR yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD) akhirnya luluh hatinya berangkat ke negeri jauh itu. Berangkat melalui jalur resmi, dia beruntung mendapatkan majikan yang baik. Gajinya sebagai pembantu rumah tangga cukup untuk menghidupi keluarga di rumah. Dalam perencanaannya, uang hasil kiriman itu juga akan dipakai untuk membangun rumah, yang selama ini mereka idam-idamkan.
Suaminya, HMD, mulai menikmati hasil jerih payah istrinya itu. Rencana mereka untuk membangun rumah, dibicarakan ke sang istri, melalui telepon. Sang istri mulai menyisihkan gajinya untuk ditabung, sebelum dikirim ke kampung halamanan, Desa Suragala, Kecamatan Suralaga, Lombok Timur.
Kiriman pertama, dia langsung mentransfer Rp 30 juta. Uang itu untuk membeli material, dan bayar tukang. Maklum rumah yang akan mereka bangun tidak besar. Sederhana, seperti rencana semula mereka.
Di luar uang itu, dia juga mengirim rutin uang belanja bulanan, secukupnya. IR memang sengaja menyisihkan gajinya agar kiriman lebih besar.
Berikutnya IR mengirim Rp 19 juta. Uang itu dipesan untuk tambahan rumah. Dengan Rp 49 juta, dia merasa cukup untuk rumah sederhana.
Saban hari, selain mengirim uang untuk rumah itu, IR masih tetap mengirim belanja harian. Walaupun suaminya bekerja serabutan dan memiliki sawah, tidak cukup banyak untuk hidup bertiga, sang suami dan dua anaknya.
Hingga suatu hari, masa kontraknya segera berakhir. IR pun diizinkan pulang oleh majikannya. Membawa sedikit oleh-oleh. Terbanyang di benak IR rumah mungil mereka, dua anak, dan suami yang akan menjemput.
IR mulai merasa tidak nyaman ketika sampai di rumah. Ketika dijemput keluarganya, dia justru langsung dibawa ke rumah orang tuanya. Padahal hari itu, hari pertama dia melihat kampung halaman, ingin melihat rumah hasil jerih payah selama di Arab Saudi.
Ibarat disambar petir di siang bolong. Bukan kebahagiaan didapatkan IR ketika pulang kampung. Dari keluarganya, IR mendengar langsung : suaminya tidak pernah membangun rumah. Uang kiriman selama ini dipakai suaminya untuk hidup bersama istri barunya. Ya, uang membangun rumah itu, digunakan sang suami untuk menikah lagi.Sementara dua anaknya,lama dititip di kakek-nenek mereka.
“Sebagai sesama perempuan tentu sangat terpukul hati saya ketika dia (IR) melaporkan kasus itu,’’ tutur Rauhul Nurin, pendamping TKI/TKW di Suragala.
 Hati Rauhul tergerak untuk membantu IR. Melalui suaminya yang juga kepala dusun (kadus), dia meminta agar kasus IR dan suaminya ini harus diselesaikan secara adat. Akhirnya dalam proses perjalanannya, para tokoh masyarakat mendesak HMD mengembalikan uang kiriman untuk membangun rumah. HMD pun menjual tanah sawahnya. IR bisa mendapatkan sebagian uang yang pernah dikirim. Tapi sakit hatinya tidak terbayarkan.
Lelaki seperti HMD itu, kata Rauhul, bukan satu-satunya. Masih di desa yang sama, dampingan Rauhul juga mengalami nasib yang sama. Dia diminta sang suami untuk berangkat menjadi TKW ke Arab Saudi. Rutin mengirim uang untuk suami, dengan alasan belanja anak dan membangun rumah. Tapi rupanya sang suami memakai uang itu untuk berpoya-poya lagi.
“Ya uang kiriman dari istrinya dipakai kawin lagi, kiriman rutin dipakai untuk hidup bersama istri muda,’’ kata Rauhul.
Di desa binaan ADBMI, para “lelaki parasit” ini menjadi persoalan pelik. Pasalnya, masalah itu masuk dalam ranah pribadi rumah tangga. Kadang sulit untuk mengadvokasi. Pihak keluarga beralasan, tidak ada salahnya lelaki menikah lagi. Ketika kasus ini mencuat, solusi yang diambil, lelaki itu menceraikan istri tua yang selama ini memberikan mereka makan.
“Pengorbanan istri bertahun-tahun lenyap, tidak dapat apa-apa. Dan banyak yang kembali jadi TKW untuk mencari nafkah lagi karena anak-anak pasti ikut ibunya, sekaligus mengobati sakit hati,’’ ujarnya.
Direktur ADBMI Roma Hidayat mengatakan, lembaga yang dipimpinnya secara khusus menangani kasus “lelaki parasit” ini. Tantangannya begitu besar, lantaran sistem sosial di Lombok, patrilineal. Kekuasaan ada di tangan lelaki.
Kasus yang paling parah, kata Roma, ada lelaki yang memiliki tiga istri. Dia rutin mengirim dua orang istrinya ke luar negeri untuk mencari nafkah. Sementara satu istri diam di rumah, khusus untuk melayani kebutuhan biologisnya. Ketika salah seorang istri akan kembali ke Lombok, maka dia menyiapkan istri yang selama ini menemani tidur untuk menggantikannya menjadi TKW. Dia menjaga ritme, dua istri mencari uang ke luar negeri, satu istri memenuhi hasrat biologisnya.
“Dia sekaligus bertindak sebagai tekong bagi dua orang istrinya. Dia dapat uang juga dari perusahaan dari hasil memberangktkan istrinya itu,’’ tutur Roma. (*)


0 komentar:

Posting Komentar