Senin, 14 Juli 2014

Gule Gending : Gula Jawa Rasa Sasak


Gule gending ini sebenarnya hasil tiruan orang Lombok pada jualan gula orang-orang Jawa yang merantau ke Lombok. Mereka menjual manisan yang cara mengambilnya ditarik, lalu dijuluki gula tarik. Gula ini kemudian berbentuk gule gaet di masyarakat Lombok.

“Sebelum merdeka sudah ada gula ini,’’ kata Lalu Satrun, salah seorang penjual gule gending dari Aikmel Lombok Timur.

Lalu Satrun, yang kini berusia 68 tahun, ketika masih kecil sudah mengenal gule gending. Para perintis gule gending ini adalah bapak Sahendap, bapak Sinasip, dan bapak Dijah. Dulu jumlah kantong rombong hanya tiga buah. Belakangan bertambah menjadi enam kantong.

“Bapak Dijah yang mulai enam kantong,’’ ujarnya.

gule puter, warna lebih menarik
Gula yan dijual pun awalnya gule gaet, seperti gula tarik. Bentuknya menggumpal. Belakangan barulah bisa membuat gula serat, yang bisa juga disebut gula tirus. Hingga kini, gula serat inilah yang dijajakan penjual gule gending.

“Kalau dulu pakai gula tarik itu,’’  kata Lalu Satrun.

Peneliti kesenian Lombok Salman Faris mengatakan, gula serat yang dibuat penjual gule gending belajar dari orang China. Awalnya ketika gule gaet, kurang praktis. Lalu orang-orang Lombok melihat manisan yang dibuat orang China. Bentuknya lebih menarik, praktis, dan tidak terlalu lengket.

“Sampai sekarang gula serat ini yang dipakai dan paling cocok dengan rombongnya,’’ katanya.

Dalam perjalanannya, para penjual gule gending ini akhirnya menemukan komposisi yang pas hingga menghasilkan gula seperti saat ini. Disamping itu, mereka juga membuat aturan dalam berjualan.

“Coba perhatikan tidak pernah kita lihat ada dua atau tiga orang penjual gule gending yang jalan bersamaan,’’ kata Salman.

“Karena mereka memang berbagi wilayah kerja,’’ sambungnya.

pedagang gule gending menunggu pembeli
Masing-masing penjual memiliki lokasi jualan berbeda. Misalnya si A hari ini jualan di Pagutan, si B di Pagesangan. Keesokan harinya mereka bisa bertukaran tempat jualan. Itulah sebabnya, para penjual gule gending ini tinggal ngekos berkelompok, lebih mudah mengatur tempat jualan.

Selain itu, mereka juga pantang naik kendaraan ketika jualan. Mereka harus jalan kaki menelusuri kampung, sambil memainkan gending. Jalan kaki dan memainkan gending itu sebagai tanda bahwa manisan yang mereka jual masih ada.

“Kalau sudah naik mobil atau ojek, itu berarti mereka sudah pulang,’’ katanya. (*)


Gule Gending : Manisan yang Menghibur

gule gending, gule gending lombok, gula sasak
Masih ingkatkah anda dengan manisan gule gending ? Manisan yang berbentuk serat itu, dijual oleh para lelaki yang memainkan gending. Saat melintas di kampung-kampung, si penjual memainkan gendingnya. Telinga anak-anak, hingga orang dewasa yang mengenali sontak memanggil : gule gending. Tak banyak pula yang tahu, gule gending ini berasal dari sebuah dusun kecil, Dusun Kembang Kerang Daye, Desa Kembang Kerang Daye, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur.


GENDING ATAU GENDANG, itu sebenarnya sebutan untuk tempat menyimpan gula. Berbentuk setengah lingkaran, melingkar di pinggang sebelah kanan, terdapat enam buah kantong. Kantong-kantong itulah yang dipukul oleh si penjual. Tidak sekadar memukul, tapi memainkan jenis irama tertentu. Asyik untuk didengar. Apalagi ketika anak-anak banyak berbelanja, si penjual seolah-olah bertemu fans. Lalu, dia akan memainkan kembali gendingnya. Anak-anak yang awalnya membeli sejumput gula pun rela untuk merogoh kocek kembali untuk membeli, dan mendengar irama gending itu.

Saat acara hajatan di kampung, penjual gule gending pasti akan datang. Dia turut memeriahkan acara dengan irama gendingnya. Anak-anak adalah pembeli setia mereka. Di depan sekolah, penjual gule gending setia menunggu jam pulang sekolah atau keluar istirahat. Selebihnya dia akan keliling keluar masuk kampung, memainkan gendingnya.

Gule gending selama ini memang lebih dikenal lantaran bunyi gendingnya itu. Sementara manisannya, tidak terlalu khas. Belakangan anak-anak lebih suka manisan yang disebut gule puter. Gula-gula yang menggumpal dengan warna merah muda yang memikat mata, dibentuk dengan cara memutar loyangnya. Dari segi bentuk, gule puter ini lebih menarik.
gule gending, gule gending lombok, gula sasak
nostalgia masa kecil menikmati gule gending
Namun ketenaran gule gending tidak pernah kalah oleh berbagai jenis manisan baru itu. Ini bisa dilihat dari para lelaki penjual gending. Setiap tahun, jumlah mereka bertambah. Ini menandakan usaha ini tidak gulung tikar. Bukan lagi berjualan di kampung-kampung di Lombok, atau Sumbawa. Para penjual gule gending menyeberangi lautan. Mereka berjualan hingga ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Batam. Mengikuti diaspora orang-orang Lombok. Mereka juga telah mengenalkan identitas baru pada orang-orang luar : gule gending adalah sasak.

“Kalau sekarang sepi, semua masih keluar. Nanti maulid dan lebaran pulang,’’ tutur Lalu Satrun, salah seorang penjual gule gending saat ditemui di rumahnnya, di Dusun Kembang Kerang Daye, Desa Kembang Kerang Daye, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur.

Selain penjual gula gending, Satrun adalah seniman pembuat gending itu. Di kampung itu, boleh dikatakan dia adalah maestro pembuat gending. Di kampung itu, hanya ada empat orang yang bisa membuat gending, yaitu Lalu Satrun, Abdul Kadir alias bapak Fahmi, bapak Jaerani, dan bapak Sukri. Dari empat orang ini, Lalu Satrun lah yang cukup memiliki nama hingga ke luar daerah.

Para penjual gule gending adalah perantau tangguh. Mereka berjualan hingga setahun di kampung halaman orang. Pulang membawa pundi-pundi rupiah ketika hajatan terbesar umat Islam, Idul Fitri. Bagi penjual gule gending yang masih beroperasi di sekitar Lombok, mereka bisa pulang juga pada saat maulid. Sejauh-jauh merantau, mereka akan pulang di dua momen penting itu. Lalu Satrun sendiri, sudah 13 kali pulang pergi ke Kalimantan. Berjualan gule gending.

Mereka ketat dalam menabung. Menghitung setiap rupiah yang masuk. Mengatur pengeluaran untuk membuat bahan manisan, membelanjakan untuk makan sehari-hari, dan menyewa rumah kos. Tak heran, para penjual gule gending dari Kembang Kerang ini cukup sukses. Setidaknya, rumah-rumah mereka menjadi bukti. 

Lalu Satrun, yang hanya lulus Sekolah Rakyat (SR), memiliki rumah cukup besar. Kira-kira 12 X 9 meter, dengan tembok yang kokoh, bentuk modern. Dari menjual gule gending pula, dia bisa menyekolahkan empat orang anaknya. Tiga orang diantaranya mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Satu orang diantaranya, sekarang sudah menjadi guru  di Sumbawa.
“Alhamdulillah hasilnya cukup kalau ditabung,’’ kata pria 68 tahun ini.

Dalam sehari, Lalu Satrun bisa mengantongi Rp 400 ribu. Modal untuk membuat manisan itu, tidak pernah lebih dari Rp 100 ribu. Di usianya yang sudah tua, Lalu Satrun hanya berjualan di sekitar Lombok Timur. Kadang dia jualan di Gili Trawangan Lombok Utara. Harga sejumput gule gending di kawasan wisata itu bisa dua kali lipat. Bahkan para turis-turis asing yang terpukau dengan permainan gending itu bisa memberikan Rp 10.000 untuk sejumput gula yang biasa dijual Rp 1.000.  Bahkan kadang si turis asing itu memborong semua manisan yang dijual.

“Dulu ada turis Belanda sampai rombong (gending, tempat menyimpan gula) yang dibeli,’’ katanya tersenyum.
gule gending, gule gending lombok, gula sasak
Lalu Satrun mencoba nada gule gending saat memperbaiki rombong gending
Pernah juga turis asing memesan khusus tempat penyimpnan gula itu. Dia tertarik setelah melihat permainan Lalu Satrun saat berjualan. Hari itu juga dia meminta dibuatkan rombong itu.
“Membuat rombong ini penghasilan saya lainnya,’’ katanya.

Satu rombong gule gending itu dijual Rp 1 juta untuk bahan dari seng, dan Rp 1,5 juta bahan stainless. Dari pembuatan gending yang biasanya 3 hari ini, Lalu Satrun bisa memperoleh 80 persen dari penjualan. Bahan-bahannya sederhana dan murah. Rombong made in Satrun ini juga melintasi Lombok. Dia memastikan rombong yang dipakai di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi adalah buatan tangannya.

Tidak semua penjual gule gending memang bisa membuat rombong. Letak tersulit membuat rombong itu ada pada pembuatan nada-nada. Enam buah kantong yang ada di depan rombong itu memiliki bunyi berbeda. Di sana lah letak tersulitnya. Sementara membuat kerangkanya, bisa dalam hitungan jam.

Enam buah kantong itu ukurannya sama. Namun bisa berbeda bunyinya. Rahasianya ada di guratan tipis di sisi dan tengah kantong itu. Tekanan pada garis itu sedikit mengubah rongga, hasilnya bunyi berbeda. Butuh kejelian untuk membuat bunyi keenam kantong itu cocok satu sama lain. Jika semuanya memiliki bunyi sama, tidak akan terdengar merdu. Seperti senar gitar, masing-masing senar memiliki bunyi khas masing-masing.

“ Ini ditekan pakai kayu sampai bunyinya pas,’’ kata Satrun saat memperbaiki sebuah rombong. Rombong yang diperbaiki itu milik penjual yang pernah ke Batam. Di Batam dia kecelakaan, lalu pulang kampung untuk dirawat, termasuk merawat rombongnya yang rusak.

Seorang penjual gule gending juga harus mahir memainkan nada keenam kantong itu. Jika nada yang dihasilkan jelek, mereka kurang percaya diri berjualan. Mereka harus berlatih terus menerus. Selain itu, mereka juga harus tahu lagu-lagu yang populer di kalangan anak-anak (kampung).

“Yang paling sering dimainkan adalah lagu kadal nongak,’’ kata peneliti kesenian Lombok, Salman Faris ditemui di Mataram.

gule gending, gule gending lombok, gula sasak
Lalu Satrun, maestro gule gending
 Lagu ini memang terkenal di kalangan anak-anak di desa. Belakangan lagu ini kalah pamor oleh maraknya berbagai lagu pop, dangdut, atau cilokak. Namun, pakem di gule gending, lagu kadal nongak itu semacam “wajib”. Itulah sebabnya, menurut Salman, gule gending ini juga sebenarnya menjadi media penyampai pesan-pesan sosial di masyarakat. Lagu yang dimainkan adalah lagu yang mengandung pesan-pesan kebaikan.

Gule gending ini juga sebagai bentuk pembeda kelas. Gule gending identik dengan masyarakat kecil. Mereka tidak bisa menikmati coklat, manisan-manisan mahal yang dijual di toko. Itulah sebabnya, gule gending ini begitu populer di kalangan anak-anak di desa.

“Pola pemasarannya pun jalan kaki dari kampung ke kampung,’’ kata kandidat doktor di bidang kebudayaan ini.

Menurut Salman, eksistensi gule gending ini akan tetap hidup. Anak-anak di kampung tetap menikmati gule gending ini. Namun, pemerintah pun harus mulai memikirkan pengembangan gule gending ini sebagai sebuah bentuk kesenian. Permainan gending para penjual itu, bisa menjadi bentuk musik baru, dan menjadi ciri khas Lombok.

“Yang pasti penjual gule gending itu pasti orang Sasak,’’ kata Salman yang menulis disertasi tentang Cilokaq Ale-Ale.

Sabtu, 12 Juli 2014

Lalu Supardi, Pelopor PLTMH Swadaya


PLTMH, Aikmel, Pemuda Pelopor, Lalu Supardi, Swadaya

Daripada menyalahkan kegelapan, lebih baik menyalakan sebuah lilin untuk pelita. Kata-kata bijak ini tepat untuk menggambarkan sosok Lalu Supardi. Saat 9 kecamatan di Lombok Timur mengalami gelap total setelah perusakan KLP Sinar Rinjani, Supardi datang memberikan solusi. Dia memberikan cahaya pada kampung halamannya, Dusun Karang Petak Desa Aikmel Utara, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur.

********

Tahun 2007 adalah tahun kegelapan panjang bagi 9 kecamatan di Lombok Timur. Setelah krisis di KLP Sinar Rinjani yang berujung perusakan, koperasi yang menyalurkan listrik ke-9 kecamatan di Lotim itu berhenti beroperasi. Hingga saat ini.

Pasca perusakan itu, Kecamatan Sukamulia,Aikmel,Wanasaba,Suela,Sembalun, Sambelia, Pringgasela, Suralaga, dan Pringgabaya. Menjelang perusakan itu, berbagai selebaran tertempel di desa-desa, berisi kekecewaan pelayanan listrik yang lebih banyak padam ketimbang menyala. Namun saat tagihan datang, biayanya sangat besar.

Demo besar-besaran pun terjadi yang berujung perusakan. Aliran listrik di 9 kecamatan tersebut putus total. Tidak ada lagi sumber, selain genset, yang tentu saja tidak terjangkau bagi masyarakat miskin. Melewati 9 kecamatan tersebut usai matahari tenggelam, seperti melewati kota mati.
Pilihan saat itu : menggunakan genset yang mahal atau menyalakan pelita dari minyak tanah. Warga di 9 kecamatan itu kembali seperti masa lalu tanpa listrik.

Nun jauh di kampung terpencil, sekitar 8 km dari pasar Aikmel ke arah Utara, Dusun Karang Petak Desa Aikmel Utara, puluhan warga di kampung itu tidak pernah merasakan kegelapan total. Saat ratusan kampung lainnya gelap total, justru di kampung itu masih bisa menikmati lampu listrik. Walaupun saat itu hanya bisa sekadar menyalakan belasan watt lampu listrik, setidaknya warga di kampung itu tidak seperti kampung lainnya yang gelap total.

Warga di kampung itu bisa tetap menikmati listrik berkat tangan dingin Lalu Supardi. Saat itu dia 27 tahun. Masih bujang. Kini dia 33 tahun, memiliki 1 orang putri. Dari tangan lelaki jebolan Madrasah Aliyah (MA) itu, listrik tak pernah padam di kampung itu, hingga kini, setelah PLN masuk.

Kondisi terdesak membuat orang kreatif mencari cara untuk keluar dari masalah. Begitulah dalam diri Supardi. Kegelapan total pasca kerusakan KLP Sinar Rinjani membuatnya berpikir keras mencari cara agar listrik bisa tetap mengalir di kampungnya. Supardi yang pernah menonton acara TV tentang Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) tertarik dengan teknologi itu. Dia tidak perlu repot mencari sumber air, Aikmel Utara adalah salah satu gudang air di Aikmel. Tapi bagaimana cara mengalirkan air itu adalah tantangannya.

PLTMH, Aikmel, Pemuda Pelopor, Lalu Supardi, Swadaya

“Saya usahakan mengalir lewat tanah saya biar tidak perlu membeli tanah,’’ kata Supardi.

Masalahnya, tanah yang dimiliki Supardi posisinya lebih tinggi dibandingkan aliran sungai. Sungai yang melintas di kampung itu cukup dalam, sekitar 5 meter ke bawah. Saluran irigasi yang sudah dipikirkan Supardi menjadi solusi cukup jauh dari tanah miliknya, tempat akan membangun PLTMH.
Sambil memikirkan cara merancang mesin PLTMH, Supardi juga merancang darimana air akan diambil. Akhirnya dia menemukan ide : membuat saluran baru.

Saluran besar yang jaraknya ratusan meter dari tanah miliknya harus diubah alirannya, tapi tidak dengan cara menghentikan aliran air. Sebab para petani akan protes jika tidak bisa mendapatkan air.
Dibantu warga lainnya, tentu tidak gratis, Supardi menggali saluran irigasi. Melewati tanah tandus perkebunan. Warga yang membantu saat itu beranggapan, saluran itu sekadar mengairi tanah Supardi.

“Karena hanya bermodal cangkul dan tenaga manusia, saluran itu kami kerjakan 3 bulan,’’ katanya.

Padahal panjang saluran itu kira-kira 250 meter. Tapi karena ukuran yang besar, cukup dalam, dan tanah cukup cadas membuat pekerjaan jadi berat. Air dari saluran itu kemudian ditampung di salah satu titik di lahan miliknya. Posisinya cukup tinggi. Keuntungan Supardi, lahan yang dulunya kering, kebun, setelah dilewati saluran untuk PLTMH itu bisa menikmati air sepanjang tahun.

Tidak mudah bagi Supardi merancang mesin PLTMH. Pengetahuannya terbatas. Tapi dia paham, air bisa menggerakkan turbin, lalu dari turbin itu bisa menghasilkan listrik. Tanpa desain Supardi merakit sendiri bahan-bahan yang dibeli dengan uang pribadinya itu. Belakangan setelah mulai jalan, pemerintah melihat kerja Supardi lalu mengguyur dengan bantuan Rp 50 juta. Air yang sudah terlanjur dialirkan dimanfaatkan untuk mengairi lahannya. Kebetulan lahannya itu dulu agak kering. Sementara Supardi menyelesaikan mesin PLTMH.

“Saat itu sistem ujicoba saja, yang penting turbin bisa mutar dan bisa nyala. Belum saya kenal ada travo saat itu,’’ ujarnya.

Beberapa kali mencoba, menanyakan ke teman yang lebih ahli, Supardi bisa menyelesaikan mesin itu. Warga di kampung halaman sempat mencibir apa yang dilakukan Supardi sia-sia. Pekerjaan gila. Supardi yang saat itu masih bujang dianjurkan untuk mencari pekerjaan ke luar daerah. Bukan bergelut dengan mesin dan berbagai perkakas yang asing bagi warga.

2008, setelah akhirnya impian Supardi berdiri. Dari arah penampungan air yang dia bangun, Supardi membuat saluran irigasi kecil. Agar air bisa meluncur deras. Lalu lebih ke bawah, di sela-sela sawahnya, Supardi menaruh sebuah kincir. Kincir itu diputar oleh aliran air saluran itu. Dari arah kincir itu, Supardi mengalirkan sebuah aki kecil yang kemudian dialirkan melalui kabel. Mata Supardi berbinar-binar : bohlam yang dipasang menyala. 

Tiba-tiba nama Supardi menjadi perbincangan di kampung. Bukan lagi tentang pekerjaan gilanya, tapi dia mampu menghasilkan listrik. Sebuah kemewahan bagi kampung yang mengalami kegelapan total.

Karena daya terbatas, saat itu Supardi hanya mampu melayani 74 rumah. Dari mesin PLTMH sederhana miliknya itu, listrik menyala ke rumah-rumah. Supardi, yang sudah berpikir untuk mengembalikan modal menjual listrik itu pada warga. Warga tidak keberatan.

“Ya bayarnya dulu sekadar saja. Untuk menutupi biaya pemeliharaan,’’ katanya.

PLTMH, Aikmel, Pemuda Pelopor, Lalu Supardi, Swadaya

Setelah tahu cara menghitung daya listrik, Supardi akhirnya tahu dulu daya listrik yang dihasilkan dari alat sederhananya itu hanya 18 kw. Dengan daya yang sangat kecil itu, listrik yang mampu dilayani terbatas. Warga juga tidak bisa semau-maunya memasang bohlam.

“Yang jelas saat itu hanya kampung kami yang bisa menikmati listrik,’’ katanya.

Keberhasilan Supardi ini sampai ke telinga pemerintah. Tahun 2008 pemerintah dan PLN memang mulai membenahi listrik yang kacau di 9 kecamatan itu. Langkah Supardi yang membuat PLTMH memberikan inspirasi bagi pemerintah untuk membangun PLTMH lainnya. Sambil menunggu PLN mengambil alih semua jaringan, langkah Supardi itu menyelamatkan satu kampung kecil dari kegelapan.

Pemerintah mengguyurkan bantuan. Supardi membangun PLTMH yang kapasitasnya lebih besar. Tidak lagi menyimpan turbin di sela-sela parit sawahnya, melainkan di bangunan permanen. Mesin turbin sudah buatan pabrik, bukan rakitan asal-asalan. Daya yang dihasilkan juga lebih besar. Dan Supardi dipercaya untuk mengelola.

“Sekarang saya jual Rp 500 untuk per kwh,’’ katanya.

Berkat prestasinya ini pula Supardi diikutkan dalam lomba Pemuda Pelopor. Pada penentuan juara akhir, Supardi yang saat lomba sudah beristri dan memiliki anak keluar sebagai juara II.
“Kalau lombanya tahun 2008 mungkin saya juara satu,’’ katanya tertawa.

Tahun 2010 PLN mulai masuk ke kecamatan eks KLP. Belakangan listrik PLN sudah berhasil mengambil alih hampir semua kampung di 9 kecamatan itu, termasuk ke Karang Petak. Warga yang rumahnya dekat dengan akses PLN mulai beralih ke PLN. Tidak lagi menggunakan PLTMH dari Supardi. Pelanggan berkurang.

“Karena PLN sudah masuk sekarang kurang pelanggan. Pelanggan sekarang yang rumahnya jauh dari PLN,’’ ujarnya.

Secara bisnis penghasilan Supardi berkurang. Tapi dia tidak pernah menyesal membangun PLTMH itu. Setidaknya sejak 2008, hingga PLN benar-benar masuk dia memberikan pelita pada warga di kampung halamannya. Warga pun ingat dengan jasa Supardi itu. Di usianya yang relatif muda, dia dipercaya sebagai Kepala Dusun (Kadus) di Karang Petak.

“Warga menaruh hormat berkat usaha awalnya membangun listrik,’’ kata Kepala Desa (Kades) Aikmel Utara, Kemah.

PLTMH, Aikmel, Pemuda Pelopor, Lalu Supardi, Swadaya


Menikmati Hasil Sampingan

Tanah milik Supardi awalnya hanya bisa ditanami sekali setahun. Tadah hujan. Posisinya lebih tinggi dibandingkan saluran air. Aikmel Utara yang berlimpah air, terkendala fasilitas saluran air. Tanah-tanah akhirnya menjadi kebun. Padahal lahan di Aikmel Utara terkenal subur. Bekas aliran lava letusan gunung Rinjani yang kaya material penyubur tanah.

Sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui. Saluran air untuk PLTMH yang dibangun Supardi sangat bermanfaat bagi lahan sekitarnya. Lahan kebun yang kering kini disulap menjadi sawah dan kolam ikan. Air untuk PLTMH hanya sekadar lewat memutar turbin. Tidak mengubah kualitas air.
“Baru-baru ini saya mulai,’’ katanya ketika ditanya tentang kolam ikan miliknya.

Di lahan tempat dibangun PLTMH itu kini hijau oleh aneka sayuran. Selain itu kolam yang cukup besar berada persis di bawah pembuangan air dari turbin. Dari kolam itu, dan sayur-sayuran yang ditanam, Supardi bisa menambah penghasilan. Tanah yang dulunya kurang produktif, kini subur, sepanjang tahun pun bisa ditanami padi.

“Selama masih berputar roda turbin, berarti masih ada air,’’ ujarnya.

Dari segi pergaulan sosial, perjuangan Supardi itu diganjar dengan penghargaan dari masyarakat. Suami Neti Karmila ini dipercaya sebagai Kepala Dusun (Kadus).  Tentu saja kepercayaan ini berkat usahanya membangun listrik.

“Bisa dikatakan dia ini anak muda kreatif,’’ kata Kepala Desa (Kades) Aikmel Utara, Kemah.

Apa yang telah diperbuat Supardi, kata Kemah, menjadi inspirasi anak-anak muda di Aikmel Utara. Termasuk juga menginspirasi dirinya. Kemah yang selama ini dikenal sebagai kades yang rajin blusukan tahu potensi besar anak muda di desa yang dipimpinnya. Bebeberapa program di desa, digerakkan oleh anak muda, dilakukan oleh anak muda.

“Kegiatan kebersihan sebagian besar kami libatkan anak muda. Mereka senang terlibat dalam kegiatan positif,’’ katanya. (*)

Kamis, 10 Juli 2014

Hikayat Patung Susah Berjamaah

patung lombok, patung senanti, patung sasak, patung
 Lagu-lagu cilokak yang diciptakan seniman Lombok Timur bagian selatan berisi kesedihan dan penderitaan. Begitu juga dengan karya patung mereka. Karya seni yang dicipta itu berkaitan erat dengan kondisi daerah selatan yang kerap dilanda kekeringan itu. Peristiwa kekurangan pangan pernah terjadi di daerah yang kini siap akan menjadi Kabupaten Lombok Selatan (KLS) itu.





Di sebuah studio patung, di Dusun Bebile Desa Ganti Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah berderet puluhan patung yang belum jadi. Di salah satu sudut, tampak patung yang masih terlihat baru, menunggu proses finishing. Di pojokan lain, patung-patung itu menunggu giliran untuk dihaluskan. Pemilik studio,membariskan patung-patung itu berdasarkan bentuk dan ukurannya.

Di salah satu sudut, tampak mencolok deretan patung perempuan. Itu bisa dilihat dari wajah dan rambutnya. Patung perempuan itu menggambarkan sesosok perempuan yang membawa baskom. Ekspresi wajah patung itu tampak kelelahan. Selain mengangkat baskom, patung perempuan itu dibuat sedang hamil. Sedikit (maaf) porno, payudara perempuan di patung itu menggantung. Seiring dengan perutnya yang membesar.

Sementara di dekat patung perempuan itu, berderet patung para pria. Patung-patung itu digambarkan memiliki tubuh ceking. Perut tipis, dada rata. Tangan dan kaki kurus, hampir seperti tulang.  Dengan posisi duduk, patung itu menggambarkan posisi orang bertopang dagu di atas lutut yang dilipat. Wajahnya tampak susah.

Masih di studio yang sama, patung setinggi kurang lebih 3 meter menggambarkan patung lelaki yang berwajah susah itu. Tapi, patung ini posisinya berjejal. Orang-orang itu dilukiskan saling menginjak, seperti dalam acara panjat pinang. Bedanya, patung-patung pria ini posisi mereka hampir sama : susah dengan tubuh ceking.

“Ini bisa disebut patung susah susun gibung,’’ kata Herman, si pembuat patung.

Disebut patung susah susun gibung, karena posisi patung susah yang saling bertumpuk. Gibung secara harpiah berarti bersama-sama. Dalam patung itu digambarkan para lelaki itu sama-sama susah.
Herman yang mulai membuat patung sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas IV, kini sudah memiliki 3 anak.

 Lama saya berbincang dengannya, dia tidak tahu siapa yang awalnya mencipta patung susah susun gibung itu. Sama juga seperti patung perempuan hamil membawa baskom air itu.
Sejak masih belia, Herman sudah sering melihat model patung-patung itu. Di kampung halamannya di Dusun Batu Iting, Desa Batu Putih, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur, bentuk patung itu hampir seragam. Begitu juga dengan bentuk patung di  Desa Banyumulek Kecamatan Labuapi dan Senggigi Kabupaten Lombok Barat, patung-patung susah itu hampir seragam. Lelaki kurus bertopang dagu di atas lutut mereka. Herman tidak tahu asal usul patung itu.

“Saya juga yang membuat di Banyumulek dan Senggigi. Banyak teman saya di sana,’’ kata Herman seraya menyelesaikan patung ayam yang sedang proses dihaluskan.



patung lombok, patung senanti, patung sasak, patung, artshop


**************

5 kilometer dari Bebile ke arah timur, tepatnya di Dusun Kerong Desa Pandan Wangi Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur, lelaki umur kira-kira 60 tahun itu membuka gudang tua di samping rumahnya. Di gudang yang lebih mirip dapur dan kandang itu, berderet sejumlah patung topeng. Berbagai ukuran, mulai dari sekitar 20 centimeter (cm) hingga hampir setinggi orang dewasa.  Gudang yang memang kandang itu, sekaligus menjadi penyimpanan patung-patung karyanya. Lelaki itu dipanggil Amaq Sudirman.

Mengenakan kaos singlet putih dan sarung, lelaki yang tidak tahu persis umurnya itu menunjukkan hasil pahatannya yang lain. Kerotok (genta) sapi berbagai ukuran juga tergantung di gudang itu. Di sebelah gudang itu, bangunan yang sedikit lebih bagus, gudang milik anaknya, juga berisi aneka patung. Paling banyak patung susah. Dari kampung terpencil, yang belum disentuh aspal inilah rupanya kisah patung susah dan perempuan bunting itu bermula.

“Patung-patung itu bukan hanya benda mati,  tapi mereka bercerita,’’ katanya seraya mengambil nafas panjang.

Diam sejenak. Amaq Sudirman melihat ke atas atap berugaknya. Seperti mengingat sesuatu.

“Patung kami itu punya cerita,’’ katanya melanjutkan. Dia menekankan kata “kami”. Mempertegas bahwa patung susah yang kini ditemui hampir di semua gerai seni, berasal dari kampungnya.

Patung lelaki susah itu adalah cerminan  masyarakat di Dusun Kerong, dan masyarakat daerah selatan Lombok Timur pada umumnya. Sebelum ada program embung(bendungan kecil), daerah selatan Lombok Timur itu terkenal sebagai daerah kering kerontang. Tanah hanya bisa ditanami sekali setahun. Air bersih hanya tersedia saat  musim hujan. Pada suatu masa, terjadi kemarau panjang. Menyebabkan gagal panen, dan langka pangan. Masyarakat daerah selatan itu dilanda kesusahan. Para lelaki yang selama ini menggarap sawah dan ladang hanya bisa berpangku tangan melihat tanah sawah mereka pecah.

“Badan kurus dengan dengan bertopang dagu di atas dengkul adalah para orang tua kami,’’ katanya memulai kisah.

Awalnya warga di Kerong, dan tetangganya di Dusun Senanti yang dikenal sebagai sentra patung. Tapi sehari-hari mereka adalah petani. Di tahun-tahun 1960-an dan 1970-an tidak ada pematung. Belakangan beberapa petani di kampung itu mencoba membuat patung. Mengisi waktu luang menunggu sawah, mereka mengukir kayu-kayu itu. Lama kelamaan menjadi kebiasaan, mulai menerima pesanan patung jenis tertentu. Akhirnya tahun 1990-an dua kampung tersebut berkembang menjadi kampung pematung.

Patung susah.Itulah yang terbersit dalam benak para pematung di Kerong dan Senanti. Pengalaman masa kecil para pematung itu, hidup susah dengan kondisi pangan menipis menjadi sumber inspirasi. Berkembanglah model patung yang hampir sama. Lelaki kurus yang bertopang dagu.
“Tubuh kurus menggambarkan kesusahan, memang seperti itulah para orang tua kami dulu hidupnya susah,’’ katanya.

Patung susah itu menjadi pengingat para pematung di Kerong tentang perjalanan hidup para leluhur mereka. Pernah hidup dalam kesusahan panjang, kemarau dan krisis pangan. Amaq Sudirman yang hidup pada era susah itu, selalu mengingat masa-masa itu ketika melihat patung susah itu.
Begitu juga dengan patung perempuan. Patung perempuan itu sebenarnya ada model lengkapnya. Perempuan hamil besar, di belakangnya berdiri seorang balita. Lalu di tangan kirinya dia menuntun bocah kecil, berusia 2-3 tahun. Di atas kepalanya baskom berisi air. Itu adalah gambaran penderitaan wanita di kampung itu. Mereka harus jalan kaki jauh untuk mengambil air bersih. Mereka juga mengurus anak-anak yang banyak. Sementara di rumah, suami mereka bertopang dagu melihat tanah yang tidak bisa ditanami.

“Patung susah itu adalah masyarakat selatan,’’ kata pria yang nama ketika muda, Pilah.

Patung-patung susah ini, kata Pilah, berasal dari Kerong. Patung yang ada di Senggigi, Banyumulek maupun Ganti modelnya diambil dari Kerong. Ketika booming pariwisata, para pemuda Dusun Kerong merantau ke tempat-tempat itu. Dibayar oleh para pemilik galeri untuk membuat patung.
Model patung susah yang sudah berkembang di Kerong dibawa juga para pemuda itu. Akhirnya model patung susah ini berkembang ke tempat-tempat itu. Patung susah itu, kini menjadi ciri khas patung dari Lombok.

“Coba tanyakan ke galer-galeri itu, pasti mereka akan bercerita kalau dulu pernah mempekerjakan anak-anak Kerong. Sampai sekarang juga masih banyak pemuda sini yang merantau menjadi pematung,’’ katanya.

Budayawan NTB Moch Yamin berpendapat, apa yang disampaikan Pilah itu bisa ditelusuri dari peristiwa tahun 1960-an. Saat itu, Yamin yang tinggal di Montong Betok (sekarang Kecamatan Montong Gading), menyaksikan gelombang eksodus warga selatan itu. Mereka tinggal di pasar-pasar Montong Betok, pasar Kotaraja, dan daerah utara Lombok Timur lainnya. Mereka pindah menjadi penggarap sawah, menjadi buruh, dan menukar garam dengan hasil bumi.

“Saya melihat langsung, ratusan warga dari daerah selatan datang ke sini. Mereka menginap, karena di daerah mereka krisis pangan,’’ kata pria yang pernah mendapat Ashoka Fellowship karena kiprahnya membina banjar ini.

Tahun 1960-an, bahkan sampai 1990-an, kekurangan pangan masih terjadi di selatan Lombok Timur. Kontur tanah kering, tidak ada air irigasi. Akhirnya tanah tidak bisa ditanami. Ini berarti warga tidak memiliki sumber panghasilan lain. Mereka akhirnya memilih pindah ke bagian utara yang lebih subur. Mereka mencari pekerjaan, bahkan sampai tinggal di pasar-pasar untuk menjadi buruh. Ini pula yang melatarbelakangi, warga selatan Lombok Timur memiliki daya tahan merantau yang lebih kuat dibandingkan warga bagian utara. Mereka datang ke kota, selain untuk mencari pekerjaan, sekaligus menghindar dari krisis di tempat mereka.

Kondisi krisis itu, kata Yamin, bisa dilacak dari syair-syair cilokak (musik dan lagu khas Lombok) warga selatan Lombok Timur. Yamin yang cukup lama berkecimpung dalam advokasi pendidikan kesenian, mengatakan, syair cilokak dari selatan Lombok Timur itu bercerita tentang kesedihan, kesusahan hidup. Hampir semua lirik, tidak ada yang bernada kesenangan. Lirik-lirik putus asa, sampai kini masih dijumpai. Begitu juga dengan irama musiknya, yang diwakilkan lewat gambus, nada-nada kesedihan yang menyayat menjadi ciri khas.

“Tahun 1960-an terjadi kekeringan dan krisis pangan di selatan. Saya melihat sendiri orang-orang itu datang ke tempat saya. Mungkin itu yang menjadi inpirasi lagu-lagu cilokak, dan patung dari selatan berisi kesedihan,’’ kata lelaki berdarah bangsawan, yang kemudian membuang nama depannya yang menjadi tanda sebagai bangsawan sasak.

Sebuah karya seni diinspirasi dari kondisi sosial setempat. Kondisi masyarakat selatan yang dilanda kekeringan dan krisis pangan, menjadi sumber inspirasi bagi para seniman setempat. Lagu dan musik mereka menyayat. Gambaran situasi dalam lirik-lirik lagu itu juga cocok dengan kondisi selatan Lombok Timur itu.

“Kalau para seniman senior, sangat hafal dengan lirik-lirik kesedihan itu. Sampai sekarang warna musik cilokak pun banyak tentang kesedihan,’’ katanya.

Sama seperti cilokak, patung susah yang kini menjadi ciri khas Lombok lahir dari kondisi sosial masyarakat. Gambaran patung susah itu, sangat tepat dengan kondisi masyarakat selatan Lombok Timur. Sangat sulit misalnya, membayangkan patung susah itu lahir dari pusat-pusat kekuasaan yang lebih sejahtera.

patung lombok, patung senanti, patung sasak, patung, artshop


*******************

Pagi Jadi Petani, Malam Jadi Seniman

Cukup lama saya menunggu janjian dengan Sahnun, Kepala Dusun Kerong Desa Pandang Wangi Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur. Segelas kopi hitam sudah habis, sang tuan rumah belum juga tiba. Sang istri menyampaikan kalau suaminya itu sedang memantau para pekerja yang memetik daun tembakau. Kebetulan sawah yang dituju itu cukup jauh dari rumahnya.

Dua jam menunggu, tuan rumah tiba. Dia tidak sendiri, tapi membawa beberapa orang. Lewat telepon memang sudah dikabari kedatangan saya. Orang yang dibawa itu adalah kerabatnya, Amaq Senun. Dia adalah pematung, sekaligus menjadi buruh petik tembakau.

“Maaf sekarang sedang panen,’’ kata Amaq Senun, seraya mengelap keringatnya.

Ya, Amaq Senun adalah seorang pematung sekaligus petani. Pada musim tembakau, sejak Juni hingga November, sebagian besar waktunya ada di sawah. Mulai mengurus pembibitan tembakau, persiapan lahan, merawat tembakau, panen, hingga menjual.  Itulah sebabnya ketika mengenalkan diri, dia menyebut dirinya petani. Tapi di luar musim tembakau, dia bisa saja menyebut dirinya pematung.

“Nah ini semua jago-jago bikin patung. Kebetulan sekarang musim tembakau jadi istirahat,’’ katanya menunjuk beberapa pemuda yang menjadi buruh angkut dan sopir yang mengangkut tembakau.

Lelaki berkepala enam ini sejak muda melakoni dua profesi : pematung dan petani. Dia membagi waktu untuk dua profesinya itu. Pagi hingga sore mengurus sawah. Malam hari mengurus patung. Kadang di sela-sela mengurus sawah, dia membawa perlengkapan dan bahan mematung.  Khususnya patung-patung dengan model mudah, seperti topeng.

“Sekali duduk bisa jadi topeng,’’ katanya.

Pematung di Dusun Kerong ini sejatinya petani. Kampung itu bersama Dusun Senanti mulai dikenal sebagai sentra patung setelah booming pariwisata. Sebelum-sebelumnya, kegiatan mematung hanya selingan ketika ada pesanan.

Dikisahknya, dulu ada emat orang di kampung itu yang biasa diminta tolong membuatkan motif pada gagang parang atau pisau. Mereka adalah Amaq Katum, Amaq Banun, Amaq Sumi, dan Amaq Rehan. Sambil istirahat di sawah, mereka mengerjakan pesanan gagang pisau itu. Lama kelamaan mereka mulai membuat lebih serius. Mereka menjual khusus gagang itu. Banyak yang suka dengan motif mereka.

“Akhirnya berkembanglah patung dan pematung seperti saat ini’’ kata Sahnun.
Empat orang itu tidak pernah belajar mematung secara khusus. Tiba-tiba saja mereka bisa membuat berbagai motif. Mereka mulai membuat patung lebih serius. Membuat bentuk patung yang khas : patung susah. Patung itu diinspirasi dari kehidupan masyarakat selatan Lombok Timur yang kesusahan saat musim kemarau.

“Sebelum ada embung yang dibuat tahun 1992, daerah kami ini kering kerontang. Nah kesusahan warga itulah awalnya menjadi ide patung yang dibuat,’’ kata pria yang juga pandai mematung ini.
Dari empat orang itu, lahir pematung-pematung muda. Mereka juga sebenarnya tidak dididik khusus. Melihat contoh, lalu dicoba. Akhirnya bisa. Sepertinya warga Kerong diberikan karunia kemampuan meniru yang bagus. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk belajar mematung. Tentu saja tanpa membuat motif. Hanya berdasarkan insting. Anak-anak seusia SD pun sudah ada yang jago membuat patung. Awalnya anak-anak itu membantu menghaluskan, dan pekerjaan ringan lainnya. Lama kelamaan mereka bisa membuat patung.

Walaupun para pematung itu tinggal di Kerong, tapi yang dikenal di luar justru Dusun Senanti, tetangga Kerong.  Kebetulan saat itu, artshop ada di Dusun Senanti. Padahal para pematung di dusun itu orang-orang Kerong. Sampai sekarang beberapa studio di Senanti diisi orang Kerong. Empat orang yang memulai mematung juga orang Kerong, tapi kebetulan Amaq Sumi membuat studio di Senanti. Dia membawa anak buahnya ke Senanti. Maka di dalam berbagai promosi, nama Senanti yang lebih dikenal.

Seniman patung senior, Amaq Sudirman menuturkan, mematung sudah mengalir dalam darah warga Kerong. Dia juga merasa tiba-tiba saja bisa membuat patung. Melihat orang tuanya, dia mencoba, lalu bisa. Begitu juga dengan anak dan cucunya. Dia tidak pernah mengajar khusus.
“Nah cucu saya yang SD ini sudah bisa,’’ katanya menunjuk salah seorang cucu lelakinya.
Amaq Sudirman yang sibuk mengurus tembakau mengaku, seniman patung di Kerong semuanya petani. Tidak ada yang berprofesi khusus pematung. Kalau pun ada, sangat sedikit. Biasanya mereka keluar daerah menjadi pematung.

Kini, di Dusun Kerong, petani yang sekaligus pematung berjumlah 140 orang. Biasanya mereka mematung pada malam hari. Tapi, kata Amaq Sudirman, karena kebetulan musim panen tembakau, kegiatan mematung sementara waktu istirahat. Kecuali jika ada pesanan khusus yang sifatnya mendesak.

Seperti pada tradisi leluhur mereka, kegiatan mematung awalnya sebagai sambilan ketika menunggu sawah. Begitulah yang terjadi saat ini. Para pematung ini juga mematung saat pekerjaan bertani mereka selesai. Tapi kadang, kata Amaq Sudirman, jika dihitung penghasilan mematung dengan menggarap sawah, hasil mematung lebih besar.

“Rumah banyak berkeramik di sini karena patung,’’ katanya.

Tapi, seperti mengalir dalam darah warga Kerong. Aktivitas bertani tidak lepas dari aktivitas mematung. Tidak jarang, inspirasi membuat patung itu muncul ketika mereka di sawah. Sambil istirahat menggarap sawah, tiba-tiba terlintas di benak mereka bentuk patung yang akan dibuat.
Para pematung di Kerong tidak pernah menggambar sketsa patung. Begitu melihat balok kayu, langsung mengambil alat mematung. Gambar itu ada di otak mereka. Cukup dipesan patung apa yang akan dibuat, tangan dengan terampil membabat balok kayu itu. Nyaris tidak pernah salah ketika membuat patung itu. Keinginan pemesan selalu bisa dipenuhi para pematung.

Lokasi Dusun Kerong yang terpencil, dengan akses jalan jelek, serta tidak adanya artshop yang dikelola dengan baik membuat nama dusun ini tidak dikenal. Berbeda dengan sentra kerajinan lainnya, yang dikenal oleh wisatawan. Sepintas jika melintas di jalan dusun ini tidak terlihat ciri-ciri sebuah kampung pematung.

“Malahan kami lebih dikenal di Jakarta ketimbang di Lombok,’’ ujarnya.
patung lombok, patung senanti, patung sasak, patung susah

Amaq Sudirman sendiri sudah beberapa kali mengikuti pameran di Jakarta. Dalam even bergengsi Peran Raya Jakarta (PRJ), lelaki empat cucu ini sudah dua kali memenangkan lomba. Saat itu dia ikut lomba kerajinan. Dia menampilkan patung wanita hamil yang membawa anak dan mengangkat air itu. Pesan dalam patung itu : ber-KB lebih baik. Patung itu dipilih sebagai pemenang.

“Tepat sekali dengan pesan pemerintah untuk program KB,’’ katanya tertawa.

Dalam setiap pameran di luar daerah, Amaq Sudirman kerap diundang. Selama ini dia berangkat bersama orang-orang di dinas perindustrian dan perdagangan. Tapi jika tidak diajak orang dinas, Amaq Sudirman tidak bisa mengakses informasi pameran. Padahal, dia ingin sekali memamerkan hasil karyanya. Lewat pameran lah dia mengenalkan patung itu.

“Kadang saya siapkan gratis patung. Yang saya harapkan, orang itu akan bercerita dan ingat tentang saya, dan syukur mau datang ke sini mengajak teman mereka,’’ kata Amaq Sudirman seraya menawarkan beberapa patungnya sebagai oleh-oleh saya. Gratis. Tapi saya tidak bisa menerima. Setelah mendengar cerita mereka, saya terlalu pelit kalau harus gratis.

Kadus Kerong Sahnun juga pernah juara dalam lomba patung. Pada tahun 1995, pria yang juga sebagai pengepul patung ini berhasil sebagai juara I. Patung dari Kerong dinilai original. Bentuk patung yang diciptakan, adalah gambaran masyarakat setempat.

“Tapi setelah krisis moneter, kami tidak pernah lagi ikut lomba,’’ katanya.

Keruntuhan para pematung Kerong mencapai puncaknya setelah peristiwa bom Bali I. Termasuk juga ketika kerusuhan SARA di Kota Mataram yang saat itu dikenal sebagai peristiwa 171 (17-Januari-2000). Lesunya wisatawan, berdampak pada kegiatan mematung di Kerong. Itulah sebabnya, banyak pematung dari Kerong yang keluar kampung. Ada yang menjadi pematung, ada juga yang menjadi buruh kasah. Bagi para pematung itu, bekerja kasar sudah biasa bagi mereka. Toh di kampung mereka adalah petani dan buruh-buruh tani yang biasa bekerja kasar.

“Harapan kami program pariwisata pemerintah sekarang bisa membina pematung di sini. Pematung di sini banyak yang tidak mengerti soal desain, pemasaran, mereka tahunya hanya mematung. Itu bakat alami,’’ kata Sahnun. (*)

Senin, 07 Juli 2014

Demi Air Bersih, Nyawa Taruhannya

air bersih, kekeringan, krisis air bersih, lombok selatan

Demi mendapatkan air tawar bersih, warga di Gubuk Teantah-Antah dan Gubuk Pemondah, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur harus berjuang menembus tebing-tebing curam. Satu-satunya sumber air tawar di tempat itu, berada di bawah dinding curam yang langsung menghadap laut lepas.

“Belasan tahun saya tinggal di sini, kalau musim kemarau hanya di sini ambil air,’’ kata Serinah, warga Pemondah yang saya temui ketika mengambil air di sumur yang berada di pinggir laut itu.

Berada di ujung selatan Lombok Timur, tempat pengambilan air itu tak jauh dari Tanjung Ringgit. Tipikal pantainya sama. Pantai dengan tebing tinggi, curam, dan langsung menghadap laut lepas. Entah siapa yang kali pertama menemukan, air tawar terdekat ada di bawah tebing.

Air itu keluar dari sela-sela dinding batu. Agar air itu bisa tertampung, warga membuatkan batas, semacam sumur. Dari atas dinding tebing, dengan ketinggian sekitar 20-an meter, warga menimba di sumur kecil itu.

“Kalau air sumur kecil, kami kadang harus turun mengisi timba,’’ katanya menunjuk tangga turun ke sumur itu.
air bersih, kekeringan, krisis air bersih, lombok selatan

Saat saya berkunjung ke tempat itu, air sumur cukup besar. Masih bisa ditimba dari atas. Tapi saat puncak kemarau bulan Agustus-Oktober, air bisa saja menyusut. Warga harus siap untuk menuruni tebing dengan kemiringan tegak lurus itu.

Saya melihat, sumur air bersih itu sebenarnya berada di jalur sungai musiman.Terlihat jelas, diantara dua tebing bukit ada cekungan. Panjang ke arah hutan. Cekungan itulah sungai yang hanya mengalir musim hujan.

Penuturan Misnah, warga lainnya, warga yang tinggal di sekitar kawasan yang disebut Gili Cine itu, ada sekitar 20-an kepala keluarga (KK). Mereka tersebar di masing-masing ladang. Mobil bak terbuka yang biasa membawa air bersih, tidak bisa mencapai rumah-rumah mereka.
Sementara itu, di pusat Desa Sekaroh, krisis air bersih sudah menjadi langganan ketika pertengahan tahun. Cadangan air embung menipis. Air sumur kecil. Di kawasan ini hanya ada 3 sumur yang menjadi sumber air bersih warga.

“Kalau sumur ini sekarang payau rasanya,’’ kata Inaq Aldin yang ketika itu saya temui antre di Sumur Loam Dusun Sekaroh.

Di kawasan yang pernah menjadi lokasi transmigrasi lokal itu, ada tiga sumur, yaitu Sumur Loam, Timba Nyiur, dan Lingkok Sege. Ketiga sumur ini jaraknya berjauhan, dari permukiman terjauh mencapai 2-3 km.
air bersih, kekeringan, krisis air bersih, lombok selatan

Di ketiga sumur tersebut, menjadi pemandangan biasa setiap hari orang antre menimba air bersih. Pagi hingga siang hari biasanya orang dewasa yang memenuhi sumur. Sore hari anak-anak sekolah yang antre. Mereka membantu orang tua. Sekaligus mandi.

“Kadang tidak mandi kalau kurang air,’’ tutur Ridwan, murid SDN-SMP 7 Satu Atap Pemongkong.
Selain mencari air di sumur yang jaraknya berkilo-kilometer dari rumah, sebagian warga juga membeli air bersih eceran. Tapi hanya warga mampu saja yang membeli. Untuk setiap 3 jeriken air, 30 liter, dibeli dengan harga Rp 10.000.

“Itu hanya untuk air minum. Kalau mandi terpaksa di embung yang airnya keruh dan sedikit,’’ kata Amaq Nuridah, pemukim di kawasan hutan Sekaroh.

Mengatasi krisis air bersih ini, pemerintah daerah Lombok Timur sebenarnya rutin mengirim air bersih menggunakan mobil tangki. Tapi armada yang terbatas, tidak mampu menjangkau semua desa.
Pengalaman saya yang pernah bertugas di biro Lombok Timur, hingga sekarang daerah yang krisis air bersih tidak berubah.

Sampai saat ini, pemerintah belum mampu menyediakan infrastruktur air bersih. Desa-desa di Kecamatan Jerowaru yang berbatasan dengan laut merupakan langganan krisis air bersih. Desa-desa itu adalah Batu Nampar Selatan, Koang Rundun, Ekas, Serewe, Pare Mas, sebagian Jerowaru, Pemongkong, sebagian Pandan Wangi, dan sebagian Wakan.(*)

Musmuliadi, Guru “Oemar Bakri” Dari Bayan (bagian 2)

bersama murid awal dan bangunan "ruang kelas"

Hingga saat ini, hanya ada satu orang warga Semokan Ruak yang memiliki ijazah sekolah dasar (SD). Namanya Nuliangsi, 31 tahun. Dia dipercaya sebagai kepala kampung. Kini, setelah berdiri SD Filial Semokan Ruak, dalam empat tahun ke depan, akan ada warga Semokan Ruak lainnya yang akan memiliki ijazah SD.

Saya adalah salah satu saksi mata proses pendirian sekolah itu. Berawal dari sebuah berugak. Lalu meminjam sebuah rumah warga. Terakhir sejumlah relawan membantu material dan tanah tempat pembangunan. Barulah pemerintah mulai membangunkan sekolah permanen. Nama Musmuliadi dan Nuliangsi tidak bisa dilepaskan dari proses itu.

Ada tiga kampung terpencil di Dusun Semokan, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, yaitu Semokan Ruak, Tebeang dan Teratas. Akses yang jauh dari sekolah induk membuat anak-anak di tempat itu putus sekolah (DO). Mereka lebih memilih menjadi petani, peladang, peternak, mengikuti orang tua mereka.

Ketika dibuka pertama kali November 2012, Musmuliadi dan Nuliangsi “blusukan” ke kampung-kampung kaki gunung itu. Mereka mencari anak yang seumuran anak SD untuk menjadi calon murid. Jika siang hari tidak bertemu dengan orang tua anak itu, mereka mencari malam hari. Musmuliadi akan menaksir usia anak itu.

“Sebagian besar anak-anak itu sebenarnya sudah mau kelas 4 atau bahkan kelas 6,’’ kata Musmuliadi.

Tidak heran, jika di SD Filial Semokan Ruak saat ini, murid kelas 2 SD wajahnya seperti anak SMP. Dulu mereka adalah murid-murid yang putus sekolah. Lalu kembali masuk kelas 1. Kini mereka kelas 2 dan akan segera naik ke kelas 3. Mereka juga cukup membantu Musmuladi, mereka tidak buta huruf total ketika baru pertama masuk. Mereka sudah mengenal huruf lantaran pernah SD.

Di awal mengajar, Musmuliadi membimbing mereka mengenal huruf latin. Saya yang datang pada November 2012 mengamati, banyak murid itu tidak mengenal huruf latin sama sekali. Musmuliadi membimbing mereka satu per satu. Belajar di atas berugak, sambil bersila. Tentu saja melelahkan. Apalagi dengan murid yang penuh sesak di atas berugak itu.


sekolah terpencil, guru honorer, sekolah filial
bangunan sekolah saat ini
Ketika pindah ke bangunan darurat, pinjaman rumah warga yang belum dipagar keliling, sebagian anak-anak itu sudah bisa membaca.Musmuliadi juga mengajarkan mereka beberapa lagu nasional dan doa-doa yang biasa dilafalkan sehari-hari. Pada saat itu, para muridnya sudah mulai bisa membaca dan hafal dengan lancar doa-doa itu.

Kisah Musmuliadi, yang mencari murid sendiri, mengajar di atas berugak, dengan honor yang sangat kecil, saat itu Rp 150 ribu/bulan, mendatangkan simpati. PNPM juga membantu seragam sekolah bagi murid-muridnya, PNPM juga membantu bangku dan meja. Selain itu, aneka buku tulis dan buku bacaan mulai berdatangan dari para relawan.

Bantuan terbesar yang diterima sekolah itu ketika sekelompok anak muda menyatakan akan membantu material bangunan. Termasuk juga akan membantu membebaskan lahan untuk pembangunan sekolah. Bantuan alat tulis, buku bacaan, seragam sekolah juga terus berdatangan ketika tahun ajaran baru ini. Kini semua murid SD Filial Semokan Ruak memiliki seragam, mereka sudah seperti anak sekolahan. (*)

Minggu, 06 Juli 2014

Musmuliadi, Guru “Oemar Bakri” Dari Bayan (bagian 1)

semokan ruak, guru terpencil, bayan, guru honorer
musmuliadi berangkat mengajar

Sosok guru sederhana, mengabdi tanpa pamrih seperti lagu Iwan Fals “Oemar Bakri “ bisa dilekatkan pada sosok Musmuliadi, 29 tahun. Guru berstatus sukarela ini mengajar di SD Filial Semokan Ruak, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Tak hanya mengajar, lelaki yang hanya memegang ijazah SMA ini adalah pelopor sekolah di tempat itu, bersama sahabatnya, sang kepala kampung, Nuliangsi. Berkat Musmuliadi, anak-anak di Semokan Ruak bisa menikmati bangku sekolah.

Motor merek Suzuki Shogun  itu berasap ketika melintasi sungai kecil yang membatasi Semokan Ruak dengan Semokan induk. Asap itu berasal dari mesin yang terendam air sungai. Sungai yang dasarnya bebatuan itu sempat membuat oleng. Terpaksa Musmuliadi, pengendara motor itu menurunkan kaki. Sepatunya basah.

Melewati sungai, Musmuliadi melewati jalan menanjak. Suara mesin motor itu terdengar meraung. Suara mesin meraung beradu dengan suara kepala motor yang penyok. Saya yang menumpang merasa seakan-akan badan motor itu akan copot. Beruntung hari itu, air sungai tidak terlalu besar. Kami bisa melewati sungai dan sampai di sekolah itu.

Di lain waktu, Musmuliadi mengabarkan jika selama seminggu dia terpaksa libur mengajar. Saban hari, air sungai itu meluap. Tidak ada jalan alternatif lain. Motor tidak bisa melewati sungai itu. Tinggi airnya sampai pinggang Musmuliadi, bahkan sering lebih. Musmuliadi juga tidak bisa jalan kaki, air terlalu deras. Jika air sudah mulai surut, Musmuliadi biasanya melepas motor di seberang sungai, lalu jalan kaki ke sekolah yang jaraknya 2 km dari sungai itu.

“Masyarakat juga terisolir kalau hujan, tidak bisa kemana-mana,’’ kata Musmuliadi dalam sebuah perbincangan.

Jika hari hujan, murid-murid kadang belum datang hingga lewat jam 07.00 Wita. Musmuliadi menunggu hingga seluruh muridnya kumpul. Kadang ada yang datang jam 08.00 Wita, ada pula yang tiba di sekolah jam 08.30 Wita. Musmuliadi memaklumi. Seluruh muridnya harus jalan kaki ke sekolah. Kampung terjauh sekitar 2.5 km. Melewati beberapa punggung bukit.

Ketika hujan lebat, Musmuliadi menunggu di berugak (balai terbuka biasanya ada di depan rumah) milik warga. Dia merasa beruntung bisa mengajar di Semokan Ruak. Masyarakat setempat sangat ramah. Ketika Musmuliadi mengajar, tidak sedikit yang menawarkan kopi atau sekadar makan kue.

Sepulang mengajar, Musmuliadi tidak bisa langsung istirahat. Dia harus berangkat kuliah. Kampus tempatnya kuliah membuka kuliah siang/sore. Ketika ada jadwal kuliah, dia harus segera pulang. Walaupun hujan lebat dan jalan kaki. Bagi Musmuliadi, perjalanan seperti itu sudah biasa dia lakoni.

Musmuliadi mengajar hari Senin – Sabtu. Ketika sekolah ini dibuka tahun 2012 lalu, hanya dia sendiri yang mengajar. Jumlah murid saat itu 44 orang. Tempat mengajarnya pun bukan ruang kelas, tapi sebuah berugak milik warga. Di awal sekolah itu dibuka, hanya 2 orang muridnya yang memiliki seragam. Selebihnya mereka mengenakan sarung, kaos kumal, tak ada memakai sepatu. Bahkan sering, murid mereka ke sekolah sambil mengembala kambing.

Mengajar ke SD Filial Semokan Ruak memang butuh kesabaran ekstra. Saat awal membuka sekolah ini, November 2012, Musmuliadi mengajar anak-anak di kampung yang tidak pernah mengenal bangku sekolah. Di kampung-kampung bawah kaki gunung itu, hanya 1 orang yang pernah sekolah. Namanya Nuliangsi. Hanya dia yang pernah tamat SD. Kini dipercaya sebagai kepala kampung.
semokan ruak, guru terpencil, bayan, guru honorer
musmuliadi mengajar bahasa indonesia
Guru yang lain mungkin akan berpikir berulang kali untuk mau mengajar di SD Filial Semokan Ruak. Perjalanan menuju sekolah tidak mulus. Tantangan alam, lingkungan, dan fasilitas yang serba minim. Selain itu untuk ukuran guru honorer, gaji yang diterima tidak sebanding dengan pengeluaran. Terlalu kecil untuk disebut.

“Saya tidak berpikir soal gaji mengajar disini,’’ kata Musmuliadi yang ketika kali pertama kami berjumpa November 2012 hingga kini masih memakai sepatu yang sama.

Musmuliadi hanya memikirkan anak-anak di Semokan Ruak harus bisa mengenyam bangku sekolah. Musmuladi, ketika kecil dan remaja juga pernah tinggal di Semokan Ruak di rumah keluarganya. Itulah sebabnya ketika dia bisa kuliah di STKIP Hamzar yang memiliki kampus di Bayan, dia merasa terbebani jika tidak mengamalkan ilmunya. Musmuliadi mau mengajar di tempat terpencil itu. Sekitar 6 km dari rumahnya.

Setelah dua tahun mengajar, kini Musmuliadi memiliki rekan. Masih berstatus honorer juga. Mereka membagi peran untuk mengajar kelas 1 dan kelas 2. Dalam satu bangunan, kedua kelas itu dipisahkan oleh sekat tripleks. Sumbangan para relawan yang dulu membuat program dengan nama share for care.

“Bantuan para relawan dan donatur mempercepat proses pembangunan sekolah ini,’’ katanya. (bersambung)

Sabtu, 05 Juli 2014

Kembalikan Fungsi Ruang Terbuka Hijau !


taman udayana, car free day, PKL Mataram

Taman-taman yang dibangun pemerintah Kota Mataram mulai kehilangan ruh. Ruang terbuka hijau (RTH) tempat warga berkumpul, bersosialisasi, dan rekreasi itu kini mulai sesak oleh aktivitas berjualan.


SORE itu, Hamid, 47 tahun, menikmati matahari yang masih panas di Taman Loang Baloq (TLB). Mengenakan celana pendek, dan sepatu kets, sore itu Hamid berjalan cepat, mengitari jogging trek yang mengelilingi kolam. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul 17.00 Wita, udara masih terasa sedikit panas. Hamid menikmatinya. Keringat lebih cepat keluar.

Minggu sore itu, TLB sedang ramai-ramainya. Semua berugak terisi penuh. Bahkan di beberapa sudut, warga duduk lesehan dengan aneka sajian kue yang beli di dalam kompleks TLB.

“Sekarang makin banyak saja pedagang di dalam, ini cukup mengganggu,'' keluh Hamid yang biasanya jogging pada Minggu pagi atau sore.

Di TLB, sebenarnya sudah ada lapak pedagang kaki lima (PKL) di sisi utara kolam, tak jauh dari musala. Tapi lambat laun, PKL bertambah. Awalnya mereka hanya membawa jualan di dalam bakul, kini mereka mulai membawa meja. Arena jogging trek TLB mulai diisi pedagang. Kondisi seperti inilah yang dikeluhkan Hamid. Lantaran ada pedagang, pembeli nongkrong di jalur jogging trek.

“Sampahnya juga dibuang sembaranga, liha saja di pojok-pojok di bawah pohon sampah plastik ditaruh,'' kata Hamid seraya menunjuk ke arah sampah itu.

Di sisi utara TLB memang kerap diserobot PKL. Mereka berjualan di lintasan jogging trek, sampah dibuang di tempat itu. Tak heran, keramaian di sisi utara TLB itu bukan karena pengunjung semata, tapi para pedagang yang membuka lapak dadakan.

Belum selesai urusan PKL di TLB, para pemilik sepeda motor juga dengan mudahnya keliling di jalur jogging trek. Saya hampir kena serepet, pemilik sepeda motor menggeber motornya, di jalur lintasan lari itu. Di pinggir lintasan jogging trek itu, kini menjadi tempat parkir sepeda motor. Motor milik PKL dan pengunjung.

Lain lagi dengan Taman Udayana, tempat favorit warga Kota Mataram berkumpul dan bersosialisasi. Pada hari Minggu, menjadi milik pejalan kaki. Car free day (CFD) memungkinkan pejalan kaki bisa menikmati jalan di sepanjang Jalan Udayana.

Berkumpulnya ribuan warga yang menikmati CFD rupanya dianggap sebagai peluang bagi para PKL. Tak main-main, pada hari Minggu, Taman Udayana tak lebih seperti sebuah pasar tumpah.Tak jauh beda dengan pasar hiburan malam yang mendatangkan aneka wahana permainan.

Trotoar yang mestinya menjadi tempat pejalan duduk, berselonjor setelah jogging di sepanjang Jalan Udayana kini sudah dikuasai sepenuhnya oleh PKL. Pedagang makanan, minuman, bakso, jualan sepeda motor, jualan alat-alat rumah tangga, alat elektronik, sampai-sampai toko pakaian pindah sehari ke Taman Udayana.

Akibatnya tak ada tempat pejalan melepas lelah. Di dalam taman sendiri, sudah lebih awal diambil alih PKL. Lahan-lahan kosong, menjadi tempat berdirinya tenda aneka jenis jualan. Wahana bermain keliling juga ikut mengkavling lahan-lahan kosong. Tak sedikit, alat-alat itu disimpan begitu saja di sudut Taman Udayana. Kumuh.

Seperti pasar tradisional, begitu CFD berakhir, sampah-sampah dibiarkan berserakan. Para PKL, yang sebagian datang dengan mobil mengangkut dagangan mereka membiarkan sampah berserakan. Menunggu petugas. Tak ada rasa bersalah membiarkan sampah berserakan di trotoar yang sudah mereka kavling.

Pemerintah bukannya tidak peduli. Di Taman Selagalas misalnya. Sebenarya disediakan lokasi khusus untuk pedagang. Lokasi tersebut untuk mengantisipasi para pedagang berjualan sembarangan di dalam taman. Alasan pedagang enggan menempati lokasi tersebut, selain dianggap terlalu sempit, mereka khawatir kehilangan pembeli.

Kondisi serupa juga terjadi di Taman Adipura, saat malam hari taman yang dahulu tertutup ini, dipenuhi pedagang. Dagangan berjejer di pinggir jalan. Badan jalan diambil oleh pedagang maupun kendaraan pengunjung taman yang parkir.

Para pedagang enjoy berjualan hingga menggunakan fasilitas taman tanpa merasa mengganggu pengguna taman lainnya. Area jogging track yang seharusnya menjadi area olahraga kerap dijadikan lokasi berjualan.

Setali tiga uang, di Taman Selagalas kondisinya tidak jauh berbeda. Bukan hanya pada hari libur, hampir setiap hari taman ini dipenuhi pedagang. Tak perlu jauh berbelanja ke mal, hampir semua tersedia di Taman Selagalas. Soal jenis makanan, jangan ragu kelaparan. Mau bakso, mie ayam, pisang goreng, pelecing, mie instan, nasi goreng, martabak dan terang bulang, semua komplit. Buka hidung, bisa menuntun ke arah sumber makanan yang disukai. Rasanya, masuk ke Taman Selagalas seperti berada di arena kuliner.

Aturan mengenai ruang terbuka hijau (RTH) sebenarnya sudah tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Pekerjaan Umum Nomor 5 Tahun 2008 tentang pedoman penyediaan dan pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan. Sesuai dengan Permen PU, tujuan dari keberadaan RTH antara lain menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air.

Dalam aturan tersebut, tertulis juga tujuan RTH menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antar lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih.

Sayangnya, tujuan utama RTH tersebut menyimpang seiring dimanfaatkannya RTH sebagai lokasi pedagang kaki lima (PKL). Beberapa taman seperti Taman Selagalas, Taman Udayana, dan Taman Adipura kehilangan fungsinya karena banyaknya pedagang. Belum lagi, di sekitar taman itu kini bermunculkan kantor pemerintah, sekolah, aneka bangunan. Diantara bangunan ini tercatat milik pejabat.
taman udayana, car free day, PKL Mataram
tempat duduk dikuasai tempat jemuran panci


RTH sumber kehidupan, sebuah ungkapan yang terdengar klise namun benar adanya. Begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari keberadaan RTH di satu daerah.

Setiap hektare RTH dengan vegetasi pepohonan yang mencapai setidaknya 70 persen dari luas yang ada, dapat menyediakan 600 kilogram (kg) oksigen. Sedangkan satu orang manusia dalam sehari membutuhkan 0,4 kg oksigen. Artinya, setiap satu hektare RTH yang dikelola dengan baik mampu menyuplai oksigen bagi 1500 orang.

Jika dikonversi ke dalam data penduduk Kota Mataram yang sebanyak 402.843 jiwa, artinya setiap hari memerlukan 161.137,20 kg oksigen atau setara dengan 268.562 hektare RTH dengan jumlah vegetasi mencukupi. Secara angka, jumlah luasan lahan yang dibutuhkan sebenarnya telah terpenuhi, namun tidak sedikit dari RTH yang ada di kota ini masih memiliki vegetasi tumbuhan yang minim.

Hanya ada beberapa RTH saja yang dapat dikatakan telah prima dan memenuhi aturan 70 persen sebaran tumbuhan. Kebanyakan justru belum memenuhinya, RTH di kawasan Eks Pelabuhan Ampenan. Di sana, jumlah tumbuhan terbilang minim, hanya ada beberapa pohon kelapa saja.

Fungsi lain dari RTH diantaranya sebagai resapan air untuk mencegah banjir. Semakin banyak RTH, tentunya akan semakin baik pula kondisi alam. Tidak hanya mencegah banjir, dengan banyak menyerap air, sama saja dengan terus memperbaharui sumber air tanah yang dari hari kehari terus menurun kualitasnya.

Bagi saya, RTH sebenarnya tempat berkumpul dan bermain yang murah. Tak perlu keluar uang banyak, misalnya jika nongkrong di cafe yang mulai menjamur di Kota Mataram. Antara tahun 2008-2009, saya dan sahabat-sahabat saya sering nongkrong di Taman Udayana. Banyak ide-ide brilian yang muncul saat kami diskusi dan ngopi dengan biaya murah. Dulu tidak sebanyak sekarang jumlah PKL. Walaupun saat itu belum ada CFD, jalan di Taman Udayana pada Minggu pagi terasa sejuk. Tidak terlalu banyak kendaraan lalu lalang. Tidak ada PKL dengan berbagai jenis jualannya yang menyerobot jalur pejalan.

Jika kami mau rapat, Taman Udayana adalah pilihan. Kami bisa berdiskusi berjam-jam, cukup dengan memesan kopi. Ide untuk membuat program bakti sosial, ide membuat pelatihan mahasiswa, ide untuk membuat kelompok riset, termasuk juga berbincang tentang cinta. Kami juga biasanya ngenet di Taman Udayana. Tentu saja dengan membawa modem, dan mengisi penuh baterai laptop. Beberapa tulisan saya yang cukup panjang, idenya muncul saat diskusi di Taman Udayana. Tidak sedikit juga saya ketik di Taman Udayana, saat malam hari.


taman selagalas mataram
warga menikmati suasana di taman selagalas

Berbicara tentang ngenet di Taman Udayana, saya masih ingat cerita Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Bulan Mei lalu, Ridwan Kamil menjadi salah satu pembicara dalam forum internasional : Open Government Partnership (OGP) di Sanur Bali. Saya kebetulan salah satu delegasi saat itu, termasuk juga sekaligus menjadi perwakilan media yang meliput.

Saya langsung memilih kelas yang di dalamnya ada Ridwan Kamil. Dia kebetulan bercerita tentang inovasi memanfaatkan IT di kota yang dia pimpin. Salah satunya, Ridwan Kamil menyediakan free wifi di ruang-ruang terbuka di Bandung. Saya lupa angkanya, setidaknya ada ratusan titik wifi gratis.

Ridwan Kamil tahu, bahwa Bandung, kota yang memiliki puluhan kampus, dihuni oleh sebagian besar kaum muda. Potensi inilah yang ingin digali Ridwan Kamil. Anak muda pasti melek IT. Anak muda pasti senang kongkow sambil berselancar di dunia maya.

Ridwan Kamil membuka kanal-kanal resmi pemerintah, yang bisa diakses publik. Para kepala dinasnya tidak lagi gatek soal facebook, twitter, instagram, blog, website, path. Ridwan Kami “memaksa” semua pejabatnya untuk memiliki salah satu socmed itu. Lewat forum dunia maya itu, Ridwan Kamil menyerap banyak ide dari para pemuda, mahasiswa, pelajar yang setiap hari memenuhi taman untuk kongkow.

Hasilnya : ketika Ridwan Kamil mau membuat suatu aplikasi pelayanan publik berbasis IT, dia tidak kerepotan. Para mahasiswa, pelajar dan pemuda yang senang dengan fasilitas wife gratis itu menyumbang ide. Tak sedikit yang menawarkan program hasil racikan mereka. Cukup dengan menulis status bahwa pemerintah butuh ide untuk sebuah pelayanan berbasis internet, ada puluhan tawaran ide. Semua gratis.

Pemerintah juga merasa semakin diawasai. Semua program harus selalu dilaporkan melalui socmed itu. Warga yang mau melapor, cukup mengirim foto dan keterangan tentang sebuah pelayanan. Hari itu juga pemerintah akan memeriksa, dan Ridwan Kamil berjanji keesokan harinya, laporan itu akan ditindaklanjuti.

Saya bermimpi, walikota dan wakil walikota Mataram bisa meniru Ridwan Kamil. Di Kota Mataram ada 26 RTH yang tercatat di dinas pertamanan. Dari semua taman itu, belum ada satupun yang menyediakan fasilitas wifi tanpa batas. Artinya orang bisa akses selama 24 jam, seperti di Bandung ini.

Padahal antara Bandung dan Mataram ada persamaan : menjadi kota pendidikan. Sebagian besar perguruan tinggi di NTB ada di Kota Mataram. Para siswa, dari SD-SMA melek dengan IT. Sekolah-sekolah menyediakan fasilitas wifi gratis. Setiap tahun, ada ribuan anak-anak muda yang datang dan tinggal di Mataram. Mereka sekolah, mereka kuliah, atau sekadar mencari kerja.

Cobalah lihat sore dan malam hari. Taman-taman di Kota Mataram itu selalu penuh dengan anak-anak muda yang nongkrong. Tapi sangat jarang saya melihat ada yang membawa laptop. Mereka duduk hanya sekadar ngobrol. Tak sedikit datang ke taman memadu kasih. Di tempat-tempat yang agak gelap dan sepi, termasuk Taman Sangkareang, di samping kantor walikota.

Membangun fasilitas wifi gratis di semua taman itu saya rasa bukan pekerjaan sulit bagi walikota dan wakil walikota. Tidak berbiaya mahal. Dan saya menjamin, ketika fasilitas itu tersedia, taman-taman tidak lagi sekadar menjadi tempat nongkrong. Taman itu menjadi ruang kreatif. Akan banyak kelompok-kelompok yang doyan dunia IT nongkrong di taman, tidak lagi di cafe-cafe yang menyediakan fasilitas internet gratis.

Walikota dan wakil walikota yang masa pemerintahannya akan berakhir 1 tahun lagi, masih ada waktu untuk mewujudkan ide membangun fasilitas wifi gratis 24 jam itu. Saya rasa ini juga akan mendatangkan manfaat di tahun 2015 nanti. Ketika pemilihan walikota dan waki walikota, kampanye di internet menjadi keharusan.

Kota Mataram dihuni oleh usia-usia muda yang melek internet, doyan internet, dan bisa diajak untuk memilih calon walikota dan wakil walikota melalui medium socmed. Kalau ada kandidat yang memiliki program akan memasang wifi gratis 24 jam di semua taman di Kota Mataram, maka saya siap akan membantu mengkampanyekan melaui socmed. (*)


Jumat, 04 Juli 2014

Belajar Merawat Hutan di Masyarakat Adat Bayan




Dari luas hutan adat 10,03 hektare itu muncul 9 mata air yang dimanfaatkan oleh ribuan masyarakat di Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Hutan Adat Mandala, yang berada di Dusun Mandala Desa Bayan itu menjadi saksi dan bukti, kelestarian hutan memberikan manfaat yang besar.




BEBERAPA orang bocah bermain air di saluran yang mengalir dari mata air di dalam kawasan hutan itu. Ketika lelah bermain, bocah-bocah itu sepuasnya mengambil air di saluran dengan tangan mereka. Mereka menikmati meminum air itu. Tidak dimasak.Jernih. Terasa segar ketika masuk ke dalam tenggorokan.Saya pun mencoba meminum air yang mengalir itu. Segarrrrrr……………

Air yang saya minum  itu berasal dari mata air mandala. Penamaanya ini sesuai dengan nama hutan tempat mata air ini menyembul, hutan adat mandala. Sebuah hutan yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Sebuah hutan yang rimbun dengan aneka pepohonan. Sebuah hutan yang berada di luar kawasan hutan “pemerintah”. Hutan yang belum diakui secara resmi oleh pemerintah.

Selain mata air mandala itu, ada delapan mata air lainnya yang muncul dari akar-akar pepohonan di dalam hutan itu. Mata-mata air itu adalah mata air lokoq jawa, tiu rare, pancuran teruna, olor baro, baroq tioq, lokoq pangsor, olor ampel duri dan lokoq tirpas. Nama-namanya sesuai dengan bahasa lokal.

Mata air yang berasal dari dalam hutan ini mampu mengairi ratusan hektare sawah di Kecamatan Bayan. Dari mata air yang berasal dari hutan adat mandala itu, menjadi sumber untuk kelompok P3A Mandala dengan lauas areal 50, 23 hektare. P3A Ampel Duri 19,30 hektare, dan P3A Bangket Tuban 41,50 hektare.

Selain itu mata air ini juga menjadi sumber air minum bagi 390 KK di Desa Bayan dan 132 KK di Desa Loloan. PDAM memanfaatkan air dari mata air ini dengan jumlah penerima manfaat 319 KK dari Desa Karang Bajo, 1.083 KK di Desa Anyar, dan 144 KK di Desa Loloan, sehingga total pelanggan PDAM yang memanfaatkan air PDAM tersebut 1.694 KK.

Banyaknya penerima manfaat dari keberadaan mata air mandala itu lah yang membuat pemerintah memberikan perhatian pada mata air itu. Tentunya untuk melestarikan mata air itu, hutan sebagai tempat kantong air itu perlu dijaga kelestariannya. Ketika hutan lestari, mata air pun akan hidup sepanjang tahun.

Hutan tersebut dikelola secara adat. Tidak ada dalam peta kawasan hutan yang dikeluarkan pemerintah. Kelestarian hutan adat mandala itu memang terjaga berkat peran serta masyarakat adat menjaga hutan. Di dalam masyarakat adat Bayan, ada pranata adat yang turut menjaga kelestarian hutan itu. Antara pranata yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan.

Di Bayan, ada lembaga adat yang terdiri dari pemangku adat yang bertugas sebagai pemimpin gundem (musyawarah) adat, lalu ada penghulu adat dan pembekel adat yang bertugas untuk memberikan pendapat, masukan, usulan pada pemangku adat terkait dengan adanya persoalan di dalam hutan adat itu. Sebagai salah satu produk ‘’undang-undang’’ dalam pengelolaan hutan adat ini, masyarakat adat Bayan telah membuat awiq-awiq (aturan lokal) hutan adat mandala.

Soal keamanan hutan adat, ada lang-lang jagad yang bertugas seperti polisi kehutanan. Ada juga inan aiq (secara harfiah berarti ibu air), orang yang memimpin saat selamatan mata air.

Di dalam kepercayaan masyarakat adat, hutan adat bukan sekadar sebuah kawasan yang hanya ditumbuhi dengan pohon lalu di dalamnya ada mata air. Hutan adat merupakan salah satu tempat sakral bagi masyarakat adat. Penghargaan masyarakat adat pada hutan adat itu sangat besar. Dalam tiga tahun sekali digelar selamatan di dalam hutan adat itu.

Adanya nilai sakral inilah yang menjadikan masyarakat adat memiliki kepatuhan yang tinggi dalam menjaga kelestarian itu. Bahkan, sanksi yang diberikan pada pelanggar kesakralan hutan adat itu begitu besar, baik secara materi dan sosial.

  

air mandala begitu segar

HUTAN ADAT MANDALA ini diyakini memiliki hubungan dengan danau Segara Anak Rinjani yang disakralkan itu. Mata air mandala ini sudah ada sejak zaman leluhur masyarakat adat Bayan. Mandala itu diambil dari kata ‘’ma’’ yang berarti sebuah ‘’pemberian’’ atau ‘’firman’’. Kemudian muncullah kata “mandala yang berarti pemberian kekuasaan, kekuatan, dan kepercayaan dari Sang Pencipta Alam. Mata air yang berjumlah 9 itu merupakan sebuah amanat yang harus dijaga.

Cerita lainnya, mandala juga berarti ‘’ksatria. Ksatria yang dimaksuda itu ada hubungannya dengan salah satu mata air yang merupakan tempat pemandian bidadari. Dikisahkah, sang mandala kemudian mengambil salah satu selendang bidadari yang sedang mandi itu. Sang bidadari itu tidak bisa kembali ke istana langit. Dia bisa kembali jika diberikan selendangnya itu. Oleh sang mandala, syaratnya sang bidadari harus mau menjadi istrinya.

Sementara itu mata air lokoq jawa, konon pada zaman dulu ada mubaligh (penyebar agama Islam) yang pernah tinggal di sekitar mata air yang ada di dalam hutan adat itu. Karena sang mubalig itu berasal dari pulau Jawa, mata air tempatnya tinggal itu pun diberikan nama lokoq jawa. Pun demikian dengan mata air ampel duri, diberikan lantaran di tempat itu konon salah satu mubaliq pernah tinggal di sekitar mata air itu. Berkaitan dengan asal mubaligh itu.

Berbagai mitos seputar hutan adat mandala dan mata airnya itu hidup bersama hidupnya hutan itu. Tidak perli ditelusuri kebenarannya.Sebagai sebuah mitos, itu memberikan spirit bagi masyarakat untuk mempertahakan kelestarian hutan itu.





jangan coba-coba melanggar

  
Sanksi Pelanggaran Begitu Ngeri

Pranata-pranata adat yang ada di Bayan membuat kesepakatan terkait aturan hutan adat mandala dan mata air di dalamnya. Kesekapatan itu kemudian dituangan ke dalam sebuah aturan yang dikenal dengan awiq – awiq. Aturan ini ternyata cukup ampuh untuk mencegah terjadinya perusakan hutan. Maklum saja sanksi yang diterima begitu ngeri. Dikucilkan bahkan dikeluarkan dari kampung.

Memang belum pernah ada kejadian seperti ini. Tapi dengan adanya aturan seperti ini, masyarakat akan berpikir-pikir kalau mau merusak hutan,’’ kata tokoh adat Bayan Raden Gedarip.

Aturan yang diterapkan untuk hutan adat itu mirip dengan hutan lindung. Misalnya saja, masyarakat dilarang mengambil kayu di dalam hutan, bahkan ketika kayu yang mati sekalipun. Pun demikian dengan satwa yang ada di dalam hutan adat itu dilarang ditangkap.

Para peternak dilarang keras untuk mengembalakan ternaknya di dalam kawasan hutan adat. Di pinggir kawasan hutan warga diwanti-wanti untuk tidak mengembala yang dikhawatirkan dalam merusak flora dan fauna yang ada di dalam hutan adat.

Apalagi sampai merusak mata air di kawasan hutan, dilarang keras. Masyarakat tidak diperbolehkan menggunakan potas, strum di perairan dalam kawasan hutan adat.

Aturan-aturan dalam pengelolaan hutan adat itu memang normatif, namun sanksi bagi pelanggaran itu justru yang menjadi paling berat. Dalam awiq-awiq yang ada, bagi masyarakat yang melanggar harus membayar denda berupa : satu ekor kerbau, beras satu kwintal, uang bolong 244 biji, kelapa 40 buah, gula merah, beras satu rombong (nampan), ayam satu ekor dan kayu bakar empat ikat.

Itu masih pelanggaran ringan. Lebih ngeri lagi bagi pelanggaran berat atau yang dalam kasus kehutanan yang diatur oleh negara setara dengan illegal logging, masyarakat itu didenda dengan : tidak akan diberikan penghulu dan kiyai dalam pelaksanaan acara-acara adat/selamatan/syukuran. Paling berat akan dikucilkan dan tidak akan diakui sebagai bagian masyarakat adat.

Bagi masyarakat adat Bayan yang masih terikat dengan berbagai tradisi di kampung, tidak dihadiri kiyai dan penghulu dalam acaranya merupakan tamparan besar. Dia akan menanggung malu di kampung. Secara otomatis dikucilkan dalam kegiatan-kegiatan sosial.

Di beberapa tempat di Pulau Lombok memang banyak memiliki awiq-awiq. Tapi dalam pengalaman saya, awiq-awiq di Lombok Utara inilah yang paling berat dan dipatuhi. Di tulisan lain, saya akan menceritakan penerapan awiq-awiq di Lombok Utara. Bupati pun pernah mendapat hukuman adat lantaran melanggar aturan tak tertulis itu. (*)