Jumat, 04 Juli 2014

Belajar Merawat Hutan di Masyarakat Adat Bayan




Dari luas hutan adat 10,03 hektare itu muncul 9 mata air yang dimanfaatkan oleh ribuan masyarakat di Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Hutan Adat Mandala, yang berada di Dusun Mandala Desa Bayan itu menjadi saksi dan bukti, kelestarian hutan memberikan manfaat yang besar.




BEBERAPA orang bocah bermain air di saluran yang mengalir dari mata air di dalam kawasan hutan itu. Ketika lelah bermain, bocah-bocah itu sepuasnya mengambil air di saluran dengan tangan mereka. Mereka menikmati meminum air itu. Tidak dimasak.Jernih. Terasa segar ketika masuk ke dalam tenggorokan.Saya pun mencoba meminum air yang mengalir itu. Segarrrrrr……………

Air yang saya minum  itu berasal dari mata air mandala. Penamaanya ini sesuai dengan nama hutan tempat mata air ini menyembul, hutan adat mandala. Sebuah hutan yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat. Sebuah hutan yang rimbun dengan aneka pepohonan. Sebuah hutan yang berada di luar kawasan hutan “pemerintah”. Hutan yang belum diakui secara resmi oleh pemerintah.

Selain mata air mandala itu, ada delapan mata air lainnya yang muncul dari akar-akar pepohonan di dalam hutan itu. Mata-mata air itu adalah mata air lokoq jawa, tiu rare, pancuran teruna, olor baro, baroq tioq, lokoq pangsor, olor ampel duri dan lokoq tirpas. Nama-namanya sesuai dengan bahasa lokal.

Mata air yang berasal dari dalam hutan ini mampu mengairi ratusan hektare sawah di Kecamatan Bayan. Dari mata air yang berasal dari hutan adat mandala itu, menjadi sumber untuk kelompok P3A Mandala dengan lauas areal 50, 23 hektare. P3A Ampel Duri 19,30 hektare, dan P3A Bangket Tuban 41,50 hektare.

Selain itu mata air ini juga menjadi sumber air minum bagi 390 KK di Desa Bayan dan 132 KK di Desa Loloan. PDAM memanfaatkan air dari mata air ini dengan jumlah penerima manfaat 319 KK dari Desa Karang Bajo, 1.083 KK di Desa Anyar, dan 144 KK di Desa Loloan, sehingga total pelanggan PDAM yang memanfaatkan air PDAM tersebut 1.694 KK.

Banyaknya penerima manfaat dari keberadaan mata air mandala itu lah yang membuat pemerintah memberikan perhatian pada mata air itu. Tentunya untuk melestarikan mata air itu, hutan sebagai tempat kantong air itu perlu dijaga kelestariannya. Ketika hutan lestari, mata air pun akan hidup sepanjang tahun.

Hutan tersebut dikelola secara adat. Tidak ada dalam peta kawasan hutan yang dikeluarkan pemerintah. Kelestarian hutan adat mandala itu memang terjaga berkat peran serta masyarakat adat menjaga hutan. Di dalam masyarakat adat Bayan, ada pranata adat yang turut menjaga kelestarian hutan itu. Antara pranata yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan.

Di Bayan, ada lembaga adat yang terdiri dari pemangku adat yang bertugas sebagai pemimpin gundem (musyawarah) adat, lalu ada penghulu adat dan pembekel adat yang bertugas untuk memberikan pendapat, masukan, usulan pada pemangku adat terkait dengan adanya persoalan di dalam hutan adat itu. Sebagai salah satu produk ‘’undang-undang’’ dalam pengelolaan hutan adat ini, masyarakat adat Bayan telah membuat awiq-awiq (aturan lokal) hutan adat mandala.

Soal keamanan hutan adat, ada lang-lang jagad yang bertugas seperti polisi kehutanan. Ada juga inan aiq (secara harfiah berarti ibu air), orang yang memimpin saat selamatan mata air.

Di dalam kepercayaan masyarakat adat, hutan adat bukan sekadar sebuah kawasan yang hanya ditumbuhi dengan pohon lalu di dalamnya ada mata air. Hutan adat merupakan salah satu tempat sakral bagi masyarakat adat. Penghargaan masyarakat adat pada hutan adat itu sangat besar. Dalam tiga tahun sekali digelar selamatan di dalam hutan adat itu.

Adanya nilai sakral inilah yang menjadikan masyarakat adat memiliki kepatuhan yang tinggi dalam menjaga kelestarian itu. Bahkan, sanksi yang diberikan pada pelanggar kesakralan hutan adat itu begitu besar, baik secara materi dan sosial.

  

air mandala begitu segar

HUTAN ADAT MANDALA ini diyakini memiliki hubungan dengan danau Segara Anak Rinjani yang disakralkan itu. Mata air mandala ini sudah ada sejak zaman leluhur masyarakat adat Bayan. Mandala itu diambil dari kata ‘’ma’’ yang berarti sebuah ‘’pemberian’’ atau ‘’firman’’. Kemudian muncullah kata “mandala yang berarti pemberian kekuasaan, kekuatan, dan kepercayaan dari Sang Pencipta Alam. Mata air yang berjumlah 9 itu merupakan sebuah amanat yang harus dijaga.

Cerita lainnya, mandala juga berarti ‘’ksatria. Ksatria yang dimaksuda itu ada hubungannya dengan salah satu mata air yang merupakan tempat pemandian bidadari. Dikisahkah, sang mandala kemudian mengambil salah satu selendang bidadari yang sedang mandi itu. Sang bidadari itu tidak bisa kembali ke istana langit. Dia bisa kembali jika diberikan selendangnya itu. Oleh sang mandala, syaratnya sang bidadari harus mau menjadi istrinya.

Sementara itu mata air lokoq jawa, konon pada zaman dulu ada mubaligh (penyebar agama Islam) yang pernah tinggal di sekitar mata air yang ada di dalam hutan adat itu. Karena sang mubalig itu berasal dari pulau Jawa, mata air tempatnya tinggal itu pun diberikan nama lokoq jawa. Pun demikian dengan mata air ampel duri, diberikan lantaran di tempat itu konon salah satu mubaliq pernah tinggal di sekitar mata air itu. Berkaitan dengan asal mubaligh itu.

Berbagai mitos seputar hutan adat mandala dan mata airnya itu hidup bersama hidupnya hutan itu. Tidak perli ditelusuri kebenarannya.Sebagai sebuah mitos, itu memberikan spirit bagi masyarakat untuk mempertahakan kelestarian hutan itu.





jangan coba-coba melanggar

  
Sanksi Pelanggaran Begitu Ngeri

Pranata-pranata adat yang ada di Bayan membuat kesepakatan terkait aturan hutan adat mandala dan mata air di dalamnya. Kesekapatan itu kemudian dituangan ke dalam sebuah aturan yang dikenal dengan awiq – awiq. Aturan ini ternyata cukup ampuh untuk mencegah terjadinya perusakan hutan. Maklum saja sanksi yang diterima begitu ngeri. Dikucilkan bahkan dikeluarkan dari kampung.

Memang belum pernah ada kejadian seperti ini. Tapi dengan adanya aturan seperti ini, masyarakat akan berpikir-pikir kalau mau merusak hutan,’’ kata tokoh adat Bayan Raden Gedarip.

Aturan yang diterapkan untuk hutan adat itu mirip dengan hutan lindung. Misalnya saja, masyarakat dilarang mengambil kayu di dalam hutan, bahkan ketika kayu yang mati sekalipun. Pun demikian dengan satwa yang ada di dalam hutan adat itu dilarang ditangkap.

Para peternak dilarang keras untuk mengembalakan ternaknya di dalam kawasan hutan adat. Di pinggir kawasan hutan warga diwanti-wanti untuk tidak mengembala yang dikhawatirkan dalam merusak flora dan fauna yang ada di dalam hutan adat.

Apalagi sampai merusak mata air di kawasan hutan, dilarang keras. Masyarakat tidak diperbolehkan menggunakan potas, strum di perairan dalam kawasan hutan adat.

Aturan-aturan dalam pengelolaan hutan adat itu memang normatif, namun sanksi bagi pelanggaran itu justru yang menjadi paling berat. Dalam awiq-awiq yang ada, bagi masyarakat yang melanggar harus membayar denda berupa : satu ekor kerbau, beras satu kwintal, uang bolong 244 biji, kelapa 40 buah, gula merah, beras satu rombong (nampan), ayam satu ekor dan kayu bakar empat ikat.

Itu masih pelanggaran ringan. Lebih ngeri lagi bagi pelanggaran berat atau yang dalam kasus kehutanan yang diatur oleh negara setara dengan illegal logging, masyarakat itu didenda dengan : tidak akan diberikan penghulu dan kiyai dalam pelaksanaan acara-acara adat/selamatan/syukuran. Paling berat akan dikucilkan dan tidak akan diakui sebagai bagian masyarakat adat.

Bagi masyarakat adat Bayan yang masih terikat dengan berbagai tradisi di kampung, tidak dihadiri kiyai dan penghulu dalam acaranya merupakan tamparan besar. Dia akan menanggung malu di kampung. Secara otomatis dikucilkan dalam kegiatan-kegiatan sosial.

Di beberapa tempat di Pulau Lombok memang banyak memiliki awiq-awiq. Tapi dalam pengalaman saya, awiq-awiq di Lombok Utara inilah yang paling berat dan dipatuhi. Di tulisan lain, saya akan menceritakan penerapan awiq-awiq di Lombok Utara. Bupati pun pernah mendapat hukuman adat lantaran melanggar aturan tak tertulis itu. (*)


0 komentar:

Posting Komentar