Rabu, 02 Juli 2014

Buruh Tani Tergusur Mesin



 



Perkembangkan ilmu dan teknologi sudah merambah ke segala bidang, termasuk di pertanian. Selain perubahan besar sistem pertanian melalui revolusi hijau, perkembangan teknologi itu juga merambah pada alat-alat pertanian. Mekanisasi alat-alat pertanian terus terjadi seiring perkembangan zaman. Namun di balik perubahan itu, ada sisi positif dan negatif yang ditimbulkan.



Inaq Wahir terlihat heran melihat sebuah kendaraan yang mirip buldozer masuk ke areal persawahan di desa Gondang kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara (KLU). Wanita paro baya yang menjadi buruh tani itu sejenak menghentikan pekerjaannya menyabit batang padi yang siap dipanen. Bersama rekan-rekannya yang lain, mereka menonton mesin yang bisa berjalan di areal persawahan itu. Roda kendaraan yang mirip dengan heuler keliling itu seperti roda tank. Itulah yang membuatnya leluasa masuk ke areal persawahan.

Tumben saya lihat,’’ kata wanita dari Pringgarata, Lombok Tengah ini.

Kendaraan  yang dikemudikan oleh seorang pria itu, dan seorang ‘’kernet’’ di sisi nya itu memulai aksinya. Ada dua alat di depan kendaraan itu, sebuah alat di bagian bawah yang mirip dengan alat pada bagian depan buldozer untuk mengangkut material. Sebuah alat di bagian atasnya yang mirip seperti alat ‘’pemintal benang’’. Begitu dijalankan, kolaborasi dua alat itu, batang-batang padi yang sudah menguning itu terpotong. Secepat itu juga batang padi itu masuk ke dalam badan kendaraan itu. hanya hitungan beberapa detik, gabah keluar dari sisi kendaraan itu. Sementara dari ‘’pantat’’ kendaraan keluar pecahan batang jerami. Sangat halus.

Itulah mesin yang perontok padi yang mulai masuk tahun 2012 di KLU. Merk mesin itu Maxxi Padi. Diyakini sebagai mesin panen terbaik saat itu. ujicoba di areal persawahan di Gondang itu membuktikan. Puluhan warga, dan para buruh panen menonton aksi si Maxxi.

Kalah saing kami,’’ kata Tohri, buruh tani dari Pringgarata.

Mesin itu sebagai bentuk pertanian modern, khususnya tahapan panen. Jika sebelumnya alat paling modern adalah ‘’gir’’, alat perontok padi dengan memanfaatkan ‘’duri-duri’’ di sebuah tabung bundar, mirip kerjanya dengan parut, kini Maxxi itulah alat terbaik saat ini. Sebagai perbandingan, dalam sebuah panen menggunakan metode tradisional memukulkan batang padi ke sebuah papan (berampek), dan menggunakan gir, gabah yang terbuang itu sekitar 5-10 persen. Jika dalam kondisi basah, lebih banyak lagi yang terbuang. Maxxi itu hanya menyisakan maksimal 2 persen.

Inaq Wahir dan Tohri menjadi ‘’korban’’ pertama dari kedatangan mesin itu. Jika pada tahun-tahun sebelumnya mereka dapat orderan panen padi sampai berhektare-hektare, sejak masuknya mesin itu, orderan mereka menurun drastis. Para petani lebih senang menyewa alat itu. Biayanya murah dan panen lebih cepat.

Tapi kalau hujan dan tanahnya becek mereka tidak bisa,’’ kata Tohri membela diri jika tenaga manusia masih lebih hebat dibandingkan mesin itu.

    
cara tradisional merontokkan padi/foto:fathul
Tohri dan Inaq Wahir merupakan salah satu kelompok buruh tani dari Lombok Tengah yang dua kali setahun mengadu nasib ke Lombok Utara. Sebagian besar buruh tani, mulai dari proses penyiapan lahan hingga panen berasal dari luar Lombok Utara. Untuk panen padi, 90 persen buruhnya berasal dari Lombok Tengah. Sementara sangat jarang terlihat warga KLU sendiri yang mengolah lahan pertanian.

Padahal jika para ‘’putra daerah’’ mau menjadi buruh pada musim panen itu, perputaran uang cukup besar. Bisa mencapai ratusan juta rupiah jika ditotal dari seluruh areal sawah yang ada di KLU. Uang yang cukup besar inilah yang membuat Inaq Wahir dan Tohri mau datang jauh dari Pringgarata ke Lombok Utara, sekitar 1.5 jam dari rumah mereka. Mereka rela menginap hingga seminggu ketika musim panen tiba.

Para buruh panen ini biasanya menginap di pematang sawah ataupun di gubuk yang ada di tengah sawah. Mereka rela datang jauh dan menginap di persawahan demi menghidupi keluarga di rumah. Inaq Wahir dan Tohri mengandalkan buruh tani sebagai pekerjaan utamanya. Setiap tahun dia rutin ke KLU untuk panen padi. Kurangnya buruh tani di KLU menjadi peluang mereka dan kelompok lainnya.

Para buruh ini umumnya datang berkelompok. Satu kelompok terdiri dari 4-5 orang. Selain kelompok ‘’inti’’ ini, biasanya ikut juga ibu-ibu ‘’perampek’’. Mereka ini memanfaatkan sisa batang padi yang sudah dipanen. Dari perhitungan kasar, 5-10 persen dari gabah itulah yang diambil oleh ‘’perampek’’ yang seluruhnya perempuan ini.

Ada simbiosi antara para buruh tani yang ‘’begabah’’ dengan ‘’perampak’’. Walaupun mereka umumnya hubungan keluarga, tidak ada niat untuk sengaja memperbanyak sisa bulir padi. Bagi para buruh tani ini, profesionalitas tetap dijaga. Sisa yang diambil oleh ‘’perampek’’ itu adalah rezeki para ‘’perampek’’.

Makin banyak kami dapat gabah, makin besar upah kami. Setimbang dapat satu karung,’’ kata Amaq Ani, buruh yang menggunakan “gir.

Pria yang berasal dari Batunyale Lombok Tengah ini mengatakan, setiap 10 karung gabah yang dihasilkan, kelompoknya mendapatkan upah 1 karung. Ada juga perjanjian, dalam setiap 1 ton gabah mendapatkan 100 – 120 kg padi. Jika 1 kwintal (100 kg) gabah harganya Rp 400 ribu, maka dalam 1 ton panen padi mereka mendapatkan upah Rp 400.000.

Antara Rp 300 – 400 ribu, tergantung perjanjian dan tempat panen. Kalau jauh, kami kadang minta dilebihkan,’’ katanya.

Bagi para petani, upah Rp 300-Rp400 ribu itu cukup berat. Belum lagi masa panen yang bisa mencapai 2 hari. Tidak ada istilah kerja harian bagi buruh panen ini, mereka dibayar berdasarkan hasil panen. Makin banyak gabahnya, makin banyak upahnya. Bagi kelompok yang memiliki banyak orderan, biasanya lebih gesit memanen. Masih ada lokasi lain yang harus dilayani.

Sekarang dengan mesin tidak perlu repot, tinggal kasi uang. Gabah sudah terima jadi,’’ kata Indra, petani pemilik sawah dari Gondang.

Menurut Indra, dari hasil perhitungannya, biaya panen menggunakan mesin Maxxi Padi itu jauh lebih murah. Untuk 1 ton gabah, dia mengeluarkan kocek Rp 280.000. Jika sawah dekat dengan jalan raya, harga bisa lebih murah dan bisa negosiasi.

Lebih cepat selesainya,’’ katanya.

Dia juga tidak perlu terlalu mengawasi pekerjaan mesin itu. Tidak seperti menggunakan kelompok buruh, minimal dia datang untuk mengontrol. Apalagi jika sampai berhari-hari. Dengan mesin itu, lahannya yang hanya 50 are hanya sekali jalan sudah bersih oleh mesin itu.

Perubahan itu pasti terjadi. Ketika alat-alat pertanian tradisional digantikan dengan mesin, tenaga kerja yang diserap akan berkurang. Jika dulu dalam mengolah lahan pertanian menggunakan bajak butuh 4-5 orang, sekarang setelah ada traktor cukup 2 orang. biaya lebih murah dan lebih cepat pengolahannya. Biaya akomodasi buruh juga bisa ditekan.

Saat para petani Gondang menggunakan mesin perontok padi itu, buruh yang datang pun berkurang. Selain itu masa menginap mereka juga berkurang.

Buruh “perampek dan “gir mau tidak mau akan mulai tergerus oleh kedatangan mesin ini. Begitu juga dengan para wanita yang mengais sisa panen ‘’perampek’’ akan berkurang hasilnya. Kerja mesin itu sangat bersih, menyisakan maksimal 2 persen dari bulir-bulir padi. Beda ketika menggunakan alat tradisional yang masih menyisakan antara 5 – 10 persen bulir padi.

     

semi mesin (gir)/foto:fathul

Yang Tradisional Bertahan Lantaran Tuntutan Adat


DUA ORANG WANITA terlihat memotong padi di sebuah areal persawahan di Desa Loloan Kecamatan Bayan. Tangan kanannya memegang sebuah alat untuk memotong padi, warga menyebut alat itu dengan nama “renggapan. Bahasa Indonesianya : Anai-Anai. Di tangan kirinya, bakul kecil terbuat dari bambu. Setiap memotong tangkai padi itu, mereka masukkan ke dalam bakul itu. Setelah merasa cukup, padi itu diikat.

Aktivitas panen padi ini dikenal masyarakat Lombok dengan nama mata’. Penamaannya berbeda dengan panen padi dengan cara memotong batang padi dan merontokkan bijinya yang disebut begabah. Dulunya, mata ini cukup dikenal luas, kini sudah mulai berkurang. Jenis padi yang dipanen dengan cara mata’ itu pun berubah.

Jenis padi yang dipanen dengan sistem mata’ itu pada umumnya padi yang batangnya tinggi. Padi jenis padi bulu merupakan salah satu contohnya. contoh lainnya adalah ketan atau yang dalam bahasa Lombok disebut reket. Padi jenis Gora (Gogo Rancah), juga sering dipanen dengan sistem mata’ ini.

Padi yang dipanen dengan cata mata itu pada umumnya tidak dijual, namun disimpan menjadi cadangan pangan. Masyarakat menyimpannya di dalam lumbung atau juga disebut dengan sambik. Padi itu diikat lalu dimasukkan ke dalam bangunan itu. Masyarakat tradisional Lombok menyimpan padi di dalam lumbung. Saat ini, ketika lumbung sudah mulai langka dan ditinggalkan, pemerintah kembali mencanangkannya. Lumbung padi itu efektif untuk mengurangi rawan pangan.

Mata dan lumbung itu sudah langka, saat ini di Lombok Utara masih bisa dijumpai di kecamatan Kayangan dan Bayan. Di kecamatan Kayangan masih bisa dijumpai di Perkampungan Tradisional Gumantar yang ada di Dusun Desa Beleq dan Lenggorong. Beberapa dusun lainnya sudah jarang ditemui lumbung atau sambik itu.

Di kecamatan Bayan masih banyak dijumpai di Loloan dan Bayan Bayan. Bangunan sambik itu menjadi satu kesatuan dengan berugak (balai-balai di depan rumah orang sasak) yang selalu ada di depan rumah warga.

Bertahannya mata dan sambik di dua kecamatan ini lantaran tuntutan adat. Pada saat acara-acara adat, masyarakat adat harus membawa padi bulu. Padi bulu itulah yang dipanen dengan mata dan disimpan di sambik.

Kalau tidak punya lagi padi bulu, masyarakat bisa membeli untuk dibawa ke Maulid Adat,’’ kata tokoh adat Bayan Raden Gedarip dalam sebuah wawancara.

Raden Gedarip menuturkan, tradisi mata’ dan sambik itu menjadi warisan nenek moyang. Seiring dengan perkembangan zaman, sambik mulai ditinggalkan. Padi bulu sudah berganti. Tapi dalam kegiatan adat, seperti Maulid Adat itu ada keharusan membawa padi bulu. Itulah yang membuat masyarakat adat Bayan tetap mempertahankan mata’ dan sambik itu.(*)



 
romantisme memanen padi/foto:fathul


 

Perbandingan Upah dan Lama Kerja Panen

Rata-Rata Hasil Panen di KLU       = 1 hektare = 4-5 ton
1 kwintal                                            = 100 kg
Harga gabah 1 kwintal                     = Rp 400.000


Berampek

Jumlah pekerja                        = 4-6 orang (1 kelompok)
Upah                                       = 10 karung gabah diupah 1 karung gabah
                                                = 1 ton gabah diupah 100-120 kg gabah
Jika diupah uang                     = Rp 350.000 – Rp 400.000
Lama panen                             = 3 hari
Kehilangan gabah                   = 5-10 persen


Gir
Jumlah pekerja                        = 4-6 orang (1 kelompok)
Upah                                       = 10 karung gabah diupah 1 karung gabah
                                                = 1 ton gabah diupah 120 kg gabah
Jika diupah uang                     = Rp 350.000 – Rp 400.000
Lama panen                             = 2 hari
Kehilangan gabah                   = 5-10 persen


Maxxi (mesin perontok padi)
Jumlah pekerja                        = 2 orang
Upah                                       = Rp 280.000/ton
Lama panen                             = 2 jam
Kehilangan gabah                   = 2 persen


0 komentar:

Posting Komentar