Rabu, 02 Juli 2014

Cerita Hutan “Jagung” Mekar Sari


ini kawasan hutan lho/foto:fathul



 Seandainya tidak diajak “blusukan” oleh sahabat-sahabat dari WWF ke Desa Mekar Sari Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur, saya mungkin masih kesulitan merangkai peristiwa 5 tahun silam. Saat itu saya bertugas liputan di biro Lombok Timur. Saya kaget ketika meliput di salah satu dusun di Desa Pringgabaya yang terendam banjir. Sama seperti kasus di Jakarta. Jakarta panas, tapi hulu hujan. Air bah melanda di daerah hilir. “Dosa” masyarakat hulu membabat hutan, masyarakat hilir yang merasakan petakanya.

*******************
TAK ada hujan di Desa Pringgabaya pada tahun 2009 itu. Cuaca cerah sejak pagi. Malam hari, hanya sedikit gerimis membasahi desa yang berbatasan dengan laut itu. Tapi, dini hari, sekitar pukul 02.00 Wita, tiba-tiba saja air bah menerjang. Sungai yang melintas di desa itu meluap. Beberapa rumah warga terendam. Bahkan salah satu kampung, hampir seluruh rumah warganya terendam air bercampur lumpur. Rugi harta benda yang rusak, padi gagal tumbuh lantaran terendam lumpur. Ternak ikut hanyut, sebagian mati.
“ Ya saya ingat itu, saya masih mahasiswa saat itu, airnya dari sini sudah,’’ kata Hakkul, salah seorang guru dari Desa Perigi Kecamatan Suela saat kami ngobrol di salah satu warung di Desa Mekar Sari, sepekan sebelum puasa.
Guru bahasa Inggris alumni STKIP Hamzanwadi Pancor itu menunjukkan celah-celah di bukit di Mekar Sari itu. Dia menunjuk di salah satu titik, sumber air bencana banjir di tahun 2009 itu. Hakkul yang lahir dan besar di desa kaki Rinjani itu tahu, jika bencana banjir yang kerap terjadi di Desa Pringgabaya, yang sebenarnya desa pesisir merupakan kiriman dari desa-desa hulu.
Saat berbincang, di depan mata kami, tampak gunung Rinjani yang tertutup kabut. Udara terasa agak dingin, walaupun kurang dingin untuk ukuran wilayah di atas 600 mdpl. Dari kejauhan tampak gubuk yang atapnya menyilaukan mata ketika diterpa matahari. Itu adalah atap gubuk yang menggunakan seng.
Hakkul menyebut, kawasan hijau itu sebenarnya sudah kritis pepohonan besar. Hanya tampak hijau dari kejauran. Bisa dilihat dari kejauhan pohon besar yang menjulang tinggi hanya beberapa batang. Sisanya, pohon buah-buahan yang tidak seberapa kuat menahan air. Paling banyak, ladang-ladang jagung dan padi gogo rancah (padi yang ditanam di ladang).
 “Ketika menanam padi, pepohonan ditebang. Itu yang membuat gundul,’’ kata Hakkul.
Ada dua desa hulu yang berbatasan langsung dengan hutan di Kecamatan Suela itu, yaitu Desa Perigi dan Desa Sapit. Belakangan Desa Sapit mekar menjadi Desa Mekar Sari. Tiga desa inilah yang kemudian menjadi desa hulu. Kelestarian hutan di kawasan kaki Rinjani sangat tergantung dari ketiga desa ini. Sebab warga sekitar yang memiliki akses paling dekat dengan kawasan hutan.
Kampung yang saya kunjungi pekan lalu adalah kampung paling atas, yang berbatasan langsung dengan hutan. Dulu, kampung itu sebenarnya belum ada. Tapi 10-15 tahun lalu, warga sekitar mulai membuka hutan untuk berladang. Mereka lalu membangun gubuk sederhana untuk menjaga ladang yang mereka buka. Lama kelamaan, rumah dibangun.
“Nah seperti itu dulu, pemilik menjaga ladangnya, lalu bikin rumah,’’ kata Ayun, salah seorang petani menunjuk gubuk beratap seng di tengah-tengah ladang jagung.
Jika mengacu pada data WWF yang disodorkan sahabat saya Eliyan Umamy, berdasarkan pada program NEWtrees tahun 2006, ada 350 hektare (ha) yang menjadi lokasi program. Jadi bisa disimpulkan, kawasan hutan yang berubah fungsi menjadi ladang pada tahun itu sekitar 350 ha, bahkan bisa lebih. Ribuan batang kayu dibabat, hutan menjadi ladang. Lalu muncullah banjir yang kerap menerjang di desa hilir, yang sebenarnya jauh dari kawasan hutan.
Tidak mudah memang menghijaukan kembali kawasan yang terlanjur gundul itu. Tantangan alam, tidak semua pohon yang pernah ditanam tumbuh. Tantangan lain, warga kembali kambuh membabat. Seperti cerita Hakkul dan Ayun, saat musim hujan warga memilih menanam padi. Pohon yang sudah mulai tumbuh dianggap mengganggu pertumbuhan padi. Warga kembali membabat.
  
hutan menyediaka kayu gratis/foto:fathul


************
Sahabat yang menemani saya Ahyar Rosidi berujar : jagung di sini banyak dan subur. Cocok menjadi contoh program PIJAR (Sapi, Jagung, Rumput Laut), salah satu program unggulan Pemprov NTB.
Saya tidak menjawab pertanyaan itu sebelum sampai di tujuan. Saya ingin, sahabat saya itu melihat dengan mata sendiri proses alih fungsi hutan menjadi lahan. Saya yang beberapa kali liputan tentang hutan gundul di Lombok Timur, Lombok Barat, dan Lombok Utara, langsung merasakan ada masalah ketika baru masuk perbatasan Desa Mekar Sari.
Sepanjang jalan yang dilalui, belasan selang terpasang di beberapa bak penampungan air. Selang aneka warna itu dialirkan ke rumah penduduk. Berada di ketinggian di atas 600-an mdpl, tidak memungkinkan untuk menggali sumur. Pasokan air bersih dari mata air di pegunungan satu-satunya tumpuan warga.
Beberapa bak air yang saya pantau, tidak semuanya terisi penuh. Nyaris kering. Air yang mengalir di selang debitnya kecil. Sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi dari bak penampungan itu ada belasan selang yang terpasang.
“Memang ada beberapa dusun yang kesulitan air bersih saat kemarau,’’ kata Kepala Desa Mekar Sari Adenan saat pertemuan dengan warga dan para aktivis WWF di kediamannya.
Adenan bercerita, beberapa tahun lalu air berlimpah di Mekar Sari. Air mengalir deras ke rumah-rumah penduduk, walaupun kemarau panjang, air tidak pernah sesulit seperti saat ini. Berkurangnya debit air itu bersamaan dengan pembukaan hutan. Jika merujuk pada data WWF pada program NEWtrees, sekitar 350 hektare (ha) kawasan hutan beralih fungsi menjadi ladang.
“Ada tiga dusun yang krisis air bersih saat kemarau,’’ katanya.
Warga yang hadir dalam pertemuan di rumah Adenan itu sadar berkurangnya air lantaran daerah tangkapan air yang menyusut. Pepohonan ditebang demi kebutuhan menanam padi dan jagung. Dulunya kawasan yang rimbun, berubah menjadi ladang penduduk. Program penanaman kembali tahun 2006 yang dilakukan WWF, belum sepenuhnya berhasil.
Sebenarnya solusi untuk lahan yang terlanjur digunduli itu tidak akan memutus total pendapatan warga sebagai peladang. WWF mengusulkan penanaman pohon dan buah-buahan. Buah—buahan bisa menjadi penyangga, hasil buahnya bisa dijual warga. Dengan menjaga kelestarian hutan yang ditanami buah itu, warga bisa memetik hasilnya.
Saya melihat di halaman rumah warga di kampung itu banyak pohon alvukat. Penuturan Ayun, petani yang saya temui, alvukat memang menjadi tanaman primadon. Untuk 1 kg alvukat, bisa dijual Rp 4 ribu – Rp 8 ribu/kg. Dari satu pohon, bisa menghasilkan 100 kg. Sehingga jika warga memiliki satu pohon yang subur, bisa menghasilkan Rp 400 ribu – Rp 800 ribu. Itu baru dari satu pohon. Ayun sendiri menguasai 1 hektare lahan, yang masih masuk kawasan hutan.

jalan menuju mekar sari/foto:ahyar
  
*********************
SEMPAT terjadi perdebatan antara warga, aparat desa dan sahabat dari WWF. Warga tidak mau disalahkan atas kegagalan program penghijauan, termasuk juga keberatan jika mereka menjadi biang kerok segala kerusakan hutan dan bencana yang ditimbulkan. Versi warga, lantaran pemerintah, dalam hal ini Dinas Kehutanan yang tak pernah turun ke lapangan membimbing warga. Mereka pernah diberikan bibit, tapi tidak ada pendampingan. Bibit banyak yang mati.
Dalam perjalanan pulang, saya dan Ahyar sempat “narsis” berpose di depan ladang jagung dan jalan yang kami lewati. Saya tidak mau berprasangka buruk pada Dinas Kehutanan yang ikut disalahkan warga lantaran tidak melakukan pembimbingan. Termasuk juga saya tidak 100 persen percaya penuturan warga petugas Dinas Kehutanan tidak pernah datang memantau ke tempat mereka. Saya hanya memikirkan siapakah petugas kehutanan yang mau datang jauh-jauh dari kantor mereka yang nyaman di Kota Selong, yang membutuhkan perjalanan 1,5 jam ke Mekar Sari. Saya membayangkan militansi pengabdian petugas dari Dinas Kehutanan Pemprov NTB yang ada di Kota Mataram, yang butuh 2,5 jam sampai kawasan Mekar Sari itu. (*)

1 komentar: