Senin, 07 Juli 2014

Demi Air Bersih, Nyawa Taruhannya

air bersih, kekeringan, krisis air bersih, lombok selatan

Demi mendapatkan air tawar bersih, warga di Gubuk Teantah-Antah dan Gubuk Pemondah, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur harus berjuang menembus tebing-tebing curam. Satu-satunya sumber air tawar di tempat itu, berada di bawah dinding curam yang langsung menghadap laut lepas.

“Belasan tahun saya tinggal di sini, kalau musim kemarau hanya di sini ambil air,’’ kata Serinah, warga Pemondah yang saya temui ketika mengambil air di sumur yang berada di pinggir laut itu.

Berada di ujung selatan Lombok Timur, tempat pengambilan air itu tak jauh dari Tanjung Ringgit. Tipikal pantainya sama. Pantai dengan tebing tinggi, curam, dan langsung menghadap laut lepas. Entah siapa yang kali pertama menemukan, air tawar terdekat ada di bawah tebing.

Air itu keluar dari sela-sela dinding batu. Agar air itu bisa tertampung, warga membuatkan batas, semacam sumur. Dari atas dinding tebing, dengan ketinggian sekitar 20-an meter, warga menimba di sumur kecil itu.

“Kalau air sumur kecil, kami kadang harus turun mengisi timba,’’ katanya menunjuk tangga turun ke sumur itu.
air bersih, kekeringan, krisis air bersih, lombok selatan

Saat saya berkunjung ke tempat itu, air sumur cukup besar. Masih bisa ditimba dari atas. Tapi saat puncak kemarau bulan Agustus-Oktober, air bisa saja menyusut. Warga harus siap untuk menuruni tebing dengan kemiringan tegak lurus itu.

Saya melihat, sumur air bersih itu sebenarnya berada di jalur sungai musiman.Terlihat jelas, diantara dua tebing bukit ada cekungan. Panjang ke arah hutan. Cekungan itulah sungai yang hanya mengalir musim hujan.

Penuturan Misnah, warga lainnya, warga yang tinggal di sekitar kawasan yang disebut Gili Cine itu, ada sekitar 20-an kepala keluarga (KK). Mereka tersebar di masing-masing ladang. Mobil bak terbuka yang biasa membawa air bersih, tidak bisa mencapai rumah-rumah mereka.
Sementara itu, di pusat Desa Sekaroh, krisis air bersih sudah menjadi langganan ketika pertengahan tahun. Cadangan air embung menipis. Air sumur kecil. Di kawasan ini hanya ada 3 sumur yang menjadi sumber air bersih warga.

“Kalau sumur ini sekarang payau rasanya,’’ kata Inaq Aldin yang ketika itu saya temui antre di Sumur Loam Dusun Sekaroh.

Di kawasan yang pernah menjadi lokasi transmigrasi lokal itu, ada tiga sumur, yaitu Sumur Loam, Timba Nyiur, dan Lingkok Sege. Ketiga sumur ini jaraknya berjauhan, dari permukiman terjauh mencapai 2-3 km.
air bersih, kekeringan, krisis air bersih, lombok selatan

Di ketiga sumur tersebut, menjadi pemandangan biasa setiap hari orang antre menimba air bersih. Pagi hingga siang hari biasanya orang dewasa yang memenuhi sumur. Sore hari anak-anak sekolah yang antre. Mereka membantu orang tua. Sekaligus mandi.

“Kadang tidak mandi kalau kurang air,’’ tutur Ridwan, murid SDN-SMP 7 Satu Atap Pemongkong.
Selain mencari air di sumur yang jaraknya berkilo-kilometer dari rumah, sebagian warga juga membeli air bersih eceran. Tapi hanya warga mampu saja yang membeli. Untuk setiap 3 jeriken air, 30 liter, dibeli dengan harga Rp 10.000.

“Itu hanya untuk air minum. Kalau mandi terpaksa di embung yang airnya keruh dan sedikit,’’ kata Amaq Nuridah, pemukim di kawasan hutan Sekaroh.

Mengatasi krisis air bersih ini, pemerintah daerah Lombok Timur sebenarnya rutin mengirim air bersih menggunakan mobil tangki. Tapi armada yang terbatas, tidak mampu menjangkau semua desa.
Pengalaman saya yang pernah bertugas di biro Lombok Timur, hingga sekarang daerah yang krisis air bersih tidak berubah.

Sampai saat ini, pemerintah belum mampu menyediakan infrastruktur air bersih. Desa-desa di Kecamatan Jerowaru yang berbatasan dengan laut merupakan langganan krisis air bersih. Desa-desa itu adalah Batu Nampar Selatan, Koang Rundun, Ekas, Serewe, Pare Mas, sebagian Jerowaru, Pemongkong, sebagian Pandan Wangi, dan sebagian Wakan.(*)

1 komentar: