Senin, 14 Juli 2014

Gule Gending : Gula Jawa Rasa Sasak


Gule gending ini sebenarnya hasil tiruan orang Lombok pada jualan gula orang-orang Jawa yang merantau ke Lombok. Mereka menjual manisan yang cara mengambilnya ditarik, lalu dijuluki gula tarik. Gula ini kemudian berbentuk gule gaet di masyarakat Lombok.

“Sebelum merdeka sudah ada gula ini,’’ kata Lalu Satrun, salah seorang penjual gule gending dari Aikmel Lombok Timur.

Lalu Satrun, yang kini berusia 68 tahun, ketika masih kecil sudah mengenal gule gending. Para perintis gule gending ini adalah bapak Sahendap, bapak Sinasip, dan bapak Dijah. Dulu jumlah kantong rombong hanya tiga buah. Belakangan bertambah menjadi enam kantong.

“Bapak Dijah yang mulai enam kantong,’’ ujarnya.

gule puter, warna lebih menarik
Gula yan dijual pun awalnya gule gaet, seperti gula tarik. Bentuknya menggumpal. Belakangan barulah bisa membuat gula serat, yang bisa juga disebut gula tirus. Hingga kini, gula serat inilah yang dijajakan penjual gule gending.

“Kalau dulu pakai gula tarik itu,’’  kata Lalu Satrun.

Peneliti kesenian Lombok Salman Faris mengatakan, gula serat yang dibuat penjual gule gending belajar dari orang China. Awalnya ketika gule gaet, kurang praktis. Lalu orang-orang Lombok melihat manisan yang dibuat orang China. Bentuknya lebih menarik, praktis, dan tidak terlalu lengket.

“Sampai sekarang gula serat ini yang dipakai dan paling cocok dengan rombongnya,’’ katanya.

Dalam perjalanannya, para penjual gule gending ini akhirnya menemukan komposisi yang pas hingga menghasilkan gula seperti saat ini. Disamping itu, mereka juga membuat aturan dalam berjualan.

“Coba perhatikan tidak pernah kita lihat ada dua atau tiga orang penjual gule gending yang jalan bersamaan,’’ kata Salman.

“Karena mereka memang berbagi wilayah kerja,’’ sambungnya.

pedagang gule gending menunggu pembeli
Masing-masing penjual memiliki lokasi jualan berbeda. Misalnya si A hari ini jualan di Pagutan, si B di Pagesangan. Keesokan harinya mereka bisa bertukaran tempat jualan. Itulah sebabnya, para penjual gule gending ini tinggal ngekos berkelompok, lebih mudah mengatur tempat jualan.

Selain itu, mereka juga pantang naik kendaraan ketika jualan. Mereka harus jalan kaki menelusuri kampung, sambil memainkan gending. Jalan kaki dan memainkan gending itu sebagai tanda bahwa manisan yang mereka jual masih ada.

“Kalau sudah naik mobil atau ojek, itu berarti mereka sudah pulang,’’ katanya. (*)


3 komentar:

  1. kalo saya sebutnya gula kumis kucing...hehehe

    BalasHapus
  2. Bagian dari kenangan masa kecil yang bahagia...
    Bulu Jaran kalau di kampung saya di sumbawa hahaha

    BalasHapus
  3. Sayang saya jalan keliling Lombok sdh jarang ketemu penjual gula gula begini.
    Ijin share tulisannya miq tampi asih.

    BalasHapus