Senin, 14 Juli 2014

Gule Gending : Manisan yang Menghibur

gule gending, gule gending lombok, gula sasak
Masih ingkatkah anda dengan manisan gule gending ? Manisan yang berbentuk serat itu, dijual oleh para lelaki yang memainkan gending. Saat melintas di kampung-kampung, si penjual memainkan gendingnya. Telinga anak-anak, hingga orang dewasa yang mengenali sontak memanggil : gule gending. Tak banyak pula yang tahu, gule gending ini berasal dari sebuah dusun kecil, Dusun Kembang Kerang Daye, Desa Kembang Kerang Daye, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur.


GENDING ATAU GENDANG, itu sebenarnya sebutan untuk tempat menyimpan gula. Berbentuk setengah lingkaran, melingkar di pinggang sebelah kanan, terdapat enam buah kantong. Kantong-kantong itulah yang dipukul oleh si penjual. Tidak sekadar memukul, tapi memainkan jenis irama tertentu. Asyik untuk didengar. Apalagi ketika anak-anak banyak berbelanja, si penjual seolah-olah bertemu fans. Lalu, dia akan memainkan kembali gendingnya. Anak-anak yang awalnya membeli sejumput gula pun rela untuk merogoh kocek kembali untuk membeli, dan mendengar irama gending itu.

Saat acara hajatan di kampung, penjual gule gending pasti akan datang. Dia turut memeriahkan acara dengan irama gendingnya. Anak-anak adalah pembeli setia mereka. Di depan sekolah, penjual gule gending setia menunggu jam pulang sekolah atau keluar istirahat. Selebihnya dia akan keliling keluar masuk kampung, memainkan gendingnya.

Gule gending selama ini memang lebih dikenal lantaran bunyi gendingnya itu. Sementara manisannya, tidak terlalu khas. Belakangan anak-anak lebih suka manisan yang disebut gule puter. Gula-gula yang menggumpal dengan warna merah muda yang memikat mata, dibentuk dengan cara memutar loyangnya. Dari segi bentuk, gule puter ini lebih menarik.
gule gending, gule gending lombok, gula sasak
nostalgia masa kecil menikmati gule gending
Namun ketenaran gule gending tidak pernah kalah oleh berbagai jenis manisan baru itu. Ini bisa dilihat dari para lelaki penjual gending. Setiap tahun, jumlah mereka bertambah. Ini menandakan usaha ini tidak gulung tikar. Bukan lagi berjualan di kampung-kampung di Lombok, atau Sumbawa. Para penjual gule gending menyeberangi lautan. Mereka berjualan hingga ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Batam. Mengikuti diaspora orang-orang Lombok. Mereka juga telah mengenalkan identitas baru pada orang-orang luar : gule gending adalah sasak.

“Kalau sekarang sepi, semua masih keluar. Nanti maulid dan lebaran pulang,’’ tutur Lalu Satrun, salah seorang penjual gule gending saat ditemui di rumahnnya, di Dusun Kembang Kerang Daye, Desa Kembang Kerang Daye, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur.

Selain penjual gula gending, Satrun adalah seniman pembuat gending itu. Di kampung itu, boleh dikatakan dia adalah maestro pembuat gending. Di kampung itu, hanya ada empat orang yang bisa membuat gending, yaitu Lalu Satrun, Abdul Kadir alias bapak Fahmi, bapak Jaerani, dan bapak Sukri. Dari empat orang ini, Lalu Satrun lah yang cukup memiliki nama hingga ke luar daerah.

Para penjual gule gending adalah perantau tangguh. Mereka berjualan hingga setahun di kampung halaman orang. Pulang membawa pundi-pundi rupiah ketika hajatan terbesar umat Islam, Idul Fitri. Bagi penjual gule gending yang masih beroperasi di sekitar Lombok, mereka bisa pulang juga pada saat maulid. Sejauh-jauh merantau, mereka akan pulang di dua momen penting itu. Lalu Satrun sendiri, sudah 13 kali pulang pergi ke Kalimantan. Berjualan gule gending.

Mereka ketat dalam menabung. Menghitung setiap rupiah yang masuk. Mengatur pengeluaran untuk membuat bahan manisan, membelanjakan untuk makan sehari-hari, dan menyewa rumah kos. Tak heran, para penjual gule gending dari Kembang Kerang ini cukup sukses. Setidaknya, rumah-rumah mereka menjadi bukti. 

Lalu Satrun, yang hanya lulus Sekolah Rakyat (SR), memiliki rumah cukup besar. Kira-kira 12 X 9 meter, dengan tembok yang kokoh, bentuk modern. Dari menjual gule gending pula, dia bisa menyekolahkan empat orang anaknya. Tiga orang diantaranya mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Satu orang diantaranya, sekarang sudah menjadi guru  di Sumbawa.
“Alhamdulillah hasilnya cukup kalau ditabung,’’ kata pria 68 tahun ini.

Dalam sehari, Lalu Satrun bisa mengantongi Rp 400 ribu. Modal untuk membuat manisan itu, tidak pernah lebih dari Rp 100 ribu. Di usianya yang sudah tua, Lalu Satrun hanya berjualan di sekitar Lombok Timur. Kadang dia jualan di Gili Trawangan Lombok Utara. Harga sejumput gule gending di kawasan wisata itu bisa dua kali lipat. Bahkan para turis-turis asing yang terpukau dengan permainan gending itu bisa memberikan Rp 10.000 untuk sejumput gula yang biasa dijual Rp 1.000.  Bahkan kadang si turis asing itu memborong semua manisan yang dijual.

“Dulu ada turis Belanda sampai rombong (gending, tempat menyimpan gula) yang dibeli,’’ katanya tersenyum.
gule gending, gule gending lombok, gula sasak
Lalu Satrun mencoba nada gule gending saat memperbaiki rombong gending
Pernah juga turis asing memesan khusus tempat penyimpnan gula itu. Dia tertarik setelah melihat permainan Lalu Satrun saat berjualan. Hari itu juga dia meminta dibuatkan rombong itu.
“Membuat rombong ini penghasilan saya lainnya,’’ katanya.

Satu rombong gule gending itu dijual Rp 1 juta untuk bahan dari seng, dan Rp 1,5 juta bahan stainless. Dari pembuatan gending yang biasanya 3 hari ini, Lalu Satrun bisa memperoleh 80 persen dari penjualan. Bahan-bahannya sederhana dan murah. Rombong made in Satrun ini juga melintasi Lombok. Dia memastikan rombong yang dipakai di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi adalah buatan tangannya.

Tidak semua penjual gule gending memang bisa membuat rombong. Letak tersulit membuat rombong itu ada pada pembuatan nada-nada. Enam buah kantong yang ada di depan rombong itu memiliki bunyi berbeda. Di sana lah letak tersulitnya. Sementara membuat kerangkanya, bisa dalam hitungan jam.

Enam buah kantong itu ukurannya sama. Namun bisa berbeda bunyinya. Rahasianya ada di guratan tipis di sisi dan tengah kantong itu. Tekanan pada garis itu sedikit mengubah rongga, hasilnya bunyi berbeda. Butuh kejelian untuk membuat bunyi keenam kantong itu cocok satu sama lain. Jika semuanya memiliki bunyi sama, tidak akan terdengar merdu. Seperti senar gitar, masing-masing senar memiliki bunyi khas masing-masing.

“ Ini ditekan pakai kayu sampai bunyinya pas,’’ kata Satrun saat memperbaiki sebuah rombong. Rombong yang diperbaiki itu milik penjual yang pernah ke Batam. Di Batam dia kecelakaan, lalu pulang kampung untuk dirawat, termasuk merawat rombongnya yang rusak.

Seorang penjual gule gending juga harus mahir memainkan nada keenam kantong itu. Jika nada yang dihasilkan jelek, mereka kurang percaya diri berjualan. Mereka harus berlatih terus menerus. Selain itu, mereka juga harus tahu lagu-lagu yang populer di kalangan anak-anak (kampung).

“Yang paling sering dimainkan adalah lagu kadal nongak,’’ kata peneliti kesenian Lombok, Salman Faris ditemui di Mataram.

gule gending, gule gending lombok, gula sasak
Lalu Satrun, maestro gule gending
 Lagu ini memang terkenal di kalangan anak-anak di desa. Belakangan lagu ini kalah pamor oleh maraknya berbagai lagu pop, dangdut, atau cilokak. Namun, pakem di gule gending, lagu kadal nongak itu semacam “wajib”. Itulah sebabnya, menurut Salman, gule gending ini juga sebenarnya menjadi media penyampai pesan-pesan sosial di masyarakat. Lagu yang dimainkan adalah lagu yang mengandung pesan-pesan kebaikan.

Gule gending ini juga sebagai bentuk pembeda kelas. Gule gending identik dengan masyarakat kecil. Mereka tidak bisa menikmati coklat, manisan-manisan mahal yang dijual di toko. Itulah sebabnya, gule gending ini begitu populer di kalangan anak-anak di desa.

“Pola pemasarannya pun jalan kaki dari kampung ke kampung,’’ kata kandidat doktor di bidang kebudayaan ini.

Menurut Salman, eksistensi gule gending ini akan tetap hidup. Anak-anak di kampung tetap menikmati gule gending ini. Namun, pemerintah pun harus mulai memikirkan pengembangan gule gending ini sebagai sebuah bentuk kesenian. Permainan gending para penjual itu, bisa menjadi bentuk musik baru, dan menjadi ciri khas Lombok.

“Yang pasti penjual gule gending itu pasti orang Sasak,’’ kata Salman yang menulis disertasi tentang Cilokaq Ale-Ale.

3 komentar:

  1. waktu sy masih kecil penjual gule gending rame, sekarang sudah mulai jarang.

    BalasHapus
  2. gula gending ini semacam nostalgia masa kecil...

    BalasHapus
  3. gula gending ini,,, makanan favorit ketika masa-masa SD dlu,,,

    BalasHapus