Kamis, 10 Juli 2014

Hikayat Patung Susah Berjamaah

patung lombok, patung senanti, patung sasak, patung
 Lagu-lagu cilokak yang diciptakan seniman Lombok Timur bagian selatan berisi kesedihan dan penderitaan. Begitu juga dengan karya patung mereka. Karya seni yang dicipta itu berkaitan erat dengan kondisi daerah selatan yang kerap dilanda kekeringan itu. Peristiwa kekurangan pangan pernah terjadi di daerah yang kini siap akan menjadi Kabupaten Lombok Selatan (KLS) itu.





Di sebuah studio patung, di Dusun Bebile Desa Ganti Kecamatan Praya Timur Kabupaten Lombok Tengah berderet puluhan patung yang belum jadi. Di salah satu sudut, tampak patung yang masih terlihat baru, menunggu proses finishing. Di pojokan lain, patung-patung itu menunggu giliran untuk dihaluskan. Pemilik studio,membariskan patung-patung itu berdasarkan bentuk dan ukurannya.

Di salah satu sudut, tampak mencolok deretan patung perempuan. Itu bisa dilihat dari wajah dan rambutnya. Patung perempuan itu menggambarkan sesosok perempuan yang membawa baskom. Ekspresi wajah patung itu tampak kelelahan. Selain mengangkat baskom, patung perempuan itu dibuat sedang hamil. Sedikit (maaf) porno, payudara perempuan di patung itu menggantung. Seiring dengan perutnya yang membesar.

Sementara di dekat patung perempuan itu, berderet patung para pria. Patung-patung itu digambarkan memiliki tubuh ceking. Perut tipis, dada rata. Tangan dan kaki kurus, hampir seperti tulang.  Dengan posisi duduk, patung itu menggambarkan posisi orang bertopang dagu di atas lutut yang dilipat. Wajahnya tampak susah.

Masih di studio yang sama, patung setinggi kurang lebih 3 meter menggambarkan patung lelaki yang berwajah susah itu. Tapi, patung ini posisinya berjejal. Orang-orang itu dilukiskan saling menginjak, seperti dalam acara panjat pinang. Bedanya, patung-patung pria ini posisi mereka hampir sama : susah dengan tubuh ceking.

“Ini bisa disebut patung susah susun gibung,’’ kata Herman, si pembuat patung.

Disebut patung susah susun gibung, karena posisi patung susah yang saling bertumpuk. Gibung secara harpiah berarti bersama-sama. Dalam patung itu digambarkan para lelaki itu sama-sama susah.
Herman yang mulai membuat patung sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas IV, kini sudah memiliki 3 anak.

 Lama saya berbincang dengannya, dia tidak tahu siapa yang awalnya mencipta patung susah susun gibung itu. Sama juga seperti patung perempuan hamil membawa baskom air itu.
Sejak masih belia, Herman sudah sering melihat model patung-patung itu. Di kampung halamannya di Dusun Batu Iting, Desa Batu Putih, Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur, bentuk patung itu hampir seragam. Begitu juga dengan bentuk patung di  Desa Banyumulek Kecamatan Labuapi dan Senggigi Kabupaten Lombok Barat, patung-patung susah itu hampir seragam. Lelaki kurus bertopang dagu di atas lutut mereka. Herman tidak tahu asal usul patung itu.

“Saya juga yang membuat di Banyumulek dan Senggigi. Banyak teman saya di sana,’’ kata Herman seraya menyelesaikan patung ayam yang sedang proses dihaluskan.



patung lombok, patung senanti, patung sasak, patung, artshop


**************

5 kilometer dari Bebile ke arah timur, tepatnya di Dusun Kerong Desa Pandan Wangi Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur, lelaki umur kira-kira 60 tahun itu membuka gudang tua di samping rumahnya. Di gudang yang lebih mirip dapur dan kandang itu, berderet sejumlah patung topeng. Berbagai ukuran, mulai dari sekitar 20 centimeter (cm) hingga hampir setinggi orang dewasa.  Gudang yang memang kandang itu, sekaligus menjadi penyimpanan patung-patung karyanya. Lelaki itu dipanggil Amaq Sudirman.

Mengenakan kaos singlet putih dan sarung, lelaki yang tidak tahu persis umurnya itu menunjukkan hasil pahatannya yang lain. Kerotok (genta) sapi berbagai ukuran juga tergantung di gudang itu. Di sebelah gudang itu, bangunan yang sedikit lebih bagus, gudang milik anaknya, juga berisi aneka patung. Paling banyak patung susah. Dari kampung terpencil, yang belum disentuh aspal inilah rupanya kisah patung susah dan perempuan bunting itu bermula.

“Patung-patung itu bukan hanya benda mati,  tapi mereka bercerita,’’ katanya seraya mengambil nafas panjang.

Diam sejenak. Amaq Sudirman melihat ke atas atap berugaknya. Seperti mengingat sesuatu.

“Patung kami itu punya cerita,’’ katanya melanjutkan. Dia menekankan kata “kami”. Mempertegas bahwa patung susah yang kini ditemui hampir di semua gerai seni, berasal dari kampungnya.

Patung lelaki susah itu adalah cerminan  masyarakat di Dusun Kerong, dan masyarakat daerah selatan Lombok Timur pada umumnya. Sebelum ada program embung(bendungan kecil), daerah selatan Lombok Timur itu terkenal sebagai daerah kering kerontang. Tanah hanya bisa ditanami sekali setahun. Air bersih hanya tersedia saat  musim hujan. Pada suatu masa, terjadi kemarau panjang. Menyebabkan gagal panen, dan langka pangan. Masyarakat daerah selatan itu dilanda kesusahan. Para lelaki yang selama ini menggarap sawah dan ladang hanya bisa berpangku tangan melihat tanah sawah mereka pecah.

“Badan kurus dengan dengan bertopang dagu di atas dengkul adalah para orang tua kami,’’ katanya memulai kisah.

Awalnya warga di Kerong, dan tetangganya di Dusun Senanti yang dikenal sebagai sentra patung. Tapi sehari-hari mereka adalah petani. Di tahun-tahun 1960-an dan 1970-an tidak ada pematung. Belakangan beberapa petani di kampung itu mencoba membuat patung. Mengisi waktu luang menunggu sawah, mereka mengukir kayu-kayu itu. Lama kelamaan menjadi kebiasaan, mulai menerima pesanan patung jenis tertentu. Akhirnya tahun 1990-an dua kampung tersebut berkembang menjadi kampung pematung.

Patung susah.Itulah yang terbersit dalam benak para pematung di Kerong dan Senanti. Pengalaman masa kecil para pematung itu, hidup susah dengan kondisi pangan menipis menjadi sumber inspirasi. Berkembanglah model patung yang hampir sama. Lelaki kurus yang bertopang dagu.
“Tubuh kurus menggambarkan kesusahan, memang seperti itulah para orang tua kami dulu hidupnya susah,’’ katanya.

Patung susah itu menjadi pengingat para pematung di Kerong tentang perjalanan hidup para leluhur mereka. Pernah hidup dalam kesusahan panjang, kemarau dan krisis pangan. Amaq Sudirman yang hidup pada era susah itu, selalu mengingat masa-masa itu ketika melihat patung susah itu.
Begitu juga dengan patung perempuan. Patung perempuan itu sebenarnya ada model lengkapnya. Perempuan hamil besar, di belakangnya berdiri seorang balita. Lalu di tangan kirinya dia menuntun bocah kecil, berusia 2-3 tahun. Di atas kepalanya baskom berisi air. Itu adalah gambaran penderitaan wanita di kampung itu. Mereka harus jalan kaki jauh untuk mengambil air bersih. Mereka juga mengurus anak-anak yang banyak. Sementara di rumah, suami mereka bertopang dagu melihat tanah yang tidak bisa ditanami.

“Patung susah itu adalah masyarakat selatan,’’ kata pria yang nama ketika muda, Pilah.

Patung-patung susah ini, kata Pilah, berasal dari Kerong. Patung yang ada di Senggigi, Banyumulek maupun Ganti modelnya diambil dari Kerong. Ketika booming pariwisata, para pemuda Dusun Kerong merantau ke tempat-tempat itu. Dibayar oleh para pemilik galeri untuk membuat patung.
Model patung susah yang sudah berkembang di Kerong dibawa juga para pemuda itu. Akhirnya model patung susah ini berkembang ke tempat-tempat itu. Patung susah itu, kini menjadi ciri khas patung dari Lombok.

“Coba tanyakan ke galer-galeri itu, pasti mereka akan bercerita kalau dulu pernah mempekerjakan anak-anak Kerong. Sampai sekarang juga masih banyak pemuda sini yang merantau menjadi pematung,’’ katanya.

Budayawan NTB Moch Yamin berpendapat, apa yang disampaikan Pilah itu bisa ditelusuri dari peristiwa tahun 1960-an. Saat itu, Yamin yang tinggal di Montong Betok (sekarang Kecamatan Montong Gading), menyaksikan gelombang eksodus warga selatan itu. Mereka tinggal di pasar-pasar Montong Betok, pasar Kotaraja, dan daerah utara Lombok Timur lainnya. Mereka pindah menjadi penggarap sawah, menjadi buruh, dan menukar garam dengan hasil bumi.

“Saya melihat langsung, ratusan warga dari daerah selatan datang ke sini. Mereka menginap, karena di daerah mereka krisis pangan,’’ kata pria yang pernah mendapat Ashoka Fellowship karena kiprahnya membina banjar ini.

Tahun 1960-an, bahkan sampai 1990-an, kekurangan pangan masih terjadi di selatan Lombok Timur. Kontur tanah kering, tidak ada air irigasi. Akhirnya tanah tidak bisa ditanami. Ini berarti warga tidak memiliki sumber panghasilan lain. Mereka akhirnya memilih pindah ke bagian utara yang lebih subur. Mereka mencari pekerjaan, bahkan sampai tinggal di pasar-pasar untuk menjadi buruh. Ini pula yang melatarbelakangi, warga selatan Lombok Timur memiliki daya tahan merantau yang lebih kuat dibandingkan warga bagian utara. Mereka datang ke kota, selain untuk mencari pekerjaan, sekaligus menghindar dari krisis di tempat mereka.

Kondisi krisis itu, kata Yamin, bisa dilacak dari syair-syair cilokak (musik dan lagu khas Lombok) warga selatan Lombok Timur. Yamin yang cukup lama berkecimpung dalam advokasi pendidikan kesenian, mengatakan, syair cilokak dari selatan Lombok Timur itu bercerita tentang kesedihan, kesusahan hidup. Hampir semua lirik, tidak ada yang bernada kesenangan. Lirik-lirik putus asa, sampai kini masih dijumpai. Begitu juga dengan irama musiknya, yang diwakilkan lewat gambus, nada-nada kesedihan yang menyayat menjadi ciri khas.

“Tahun 1960-an terjadi kekeringan dan krisis pangan di selatan. Saya melihat sendiri orang-orang itu datang ke tempat saya. Mungkin itu yang menjadi inpirasi lagu-lagu cilokak, dan patung dari selatan berisi kesedihan,’’ kata lelaki berdarah bangsawan, yang kemudian membuang nama depannya yang menjadi tanda sebagai bangsawan sasak.

Sebuah karya seni diinspirasi dari kondisi sosial setempat. Kondisi masyarakat selatan yang dilanda kekeringan dan krisis pangan, menjadi sumber inspirasi bagi para seniman setempat. Lagu dan musik mereka menyayat. Gambaran situasi dalam lirik-lirik lagu itu juga cocok dengan kondisi selatan Lombok Timur itu.

“Kalau para seniman senior, sangat hafal dengan lirik-lirik kesedihan itu. Sampai sekarang warna musik cilokak pun banyak tentang kesedihan,’’ katanya.

Sama seperti cilokak, patung susah yang kini menjadi ciri khas Lombok lahir dari kondisi sosial masyarakat. Gambaran patung susah itu, sangat tepat dengan kondisi masyarakat selatan Lombok Timur. Sangat sulit misalnya, membayangkan patung susah itu lahir dari pusat-pusat kekuasaan yang lebih sejahtera.

patung lombok, patung senanti, patung sasak, patung, artshop


*******************

Pagi Jadi Petani, Malam Jadi Seniman

Cukup lama saya menunggu janjian dengan Sahnun, Kepala Dusun Kerong Desa Pandang Wangi Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur. Segelas kopi hitam sudah habis, sang tuan rumah belum juga tiba. Sang istri menyampaikan kalau suaminya itu sedang memantau para pekerja yang memetik daun tembakau. Kebetulan sawah yang dituju itu cukup jauh dari rumahnya.

Dua jam menunggu, tuan rumah tiba. Dia tidak sendiri, tapi membawa beberapa orang. Lewat telepon memang sudah dikabari kedatangan saya. Orang yang dibawa itu adalah kerabatnya, Amaq Senun. Dia adalah pematung, sekaligus menjadi buruh petik tembakau.

“Maaf sekarang sedang panen,’’ kata Amaq Senun, seraya mengelap keringatnya.

Ya, Amaq Senun adalah seorang pematung sekaligus petani. Pada musim tembakau, sejak Juni hingga November, sebagian besar waktunya ada di sawah. Mulai mengurus pembibitan tembakau, persiapan lahan, merawat tembakau, panen, hingga menjual.  Itulah sebabnya ketika mengenalkan diri, dia menyebut dirinya petani. Tapi di luar musim tembakau, dia bisa saja menyebut dirinya pematung.

“Nah ini semua jago-jago bikin patung. Kebetulan sekarang musim tembakau jadi istirahat,’’ katanya menunjuk beberapa pemuda yang menjadi buruh angkut dan sopir yang mengangkut tembakau.

Lelaki berkepala enam ini sejak muda melakoni dua profesi : pematung dan petani. Dia membagi waktu untuk dua profesinya itu. Pagi hingga sore mengurus sawah. Malam hari mengurus patung. Kadang di sela-sela mengurus sawah, dia membawa perlengkapan dan bahan mematung.  Khususnya patung-patung dengan model mudah, seperti topeng.

“Sekali duduk bisa jadi topeng,’’ katanya.

Pematung di Dusun Kerong ini sejatinya petani. Kampung itu bersama Dusun Senanti mulai dikenal sebagai sentra patung setelah booming pariwisata. Sebelum-sebelumnya, kegiatan mematung hanya selingan ketika ada pesanan.

Dikisahknya, dulu ada emat orang di kampung itu yang biasa diminta tolong membuatkan motif pada gagang parang atau pisau. Mereka adalah Amaq Katum, Amaq Banun, Amaq Sumi, dan Amaq Rehan. Sambil istirahat di sawah, mereka mengerjakan pesanan gagang pisau itu. Lama kelamaan mereka mulai membuat lebih serius. Mereka menjual khusus gagang itu. Banyak yang suka dengan motif mereka.

“Akhirnya berkembanglah patung dan pematung seperti saat ini’’ kata Sahnun.
Empat orang itu tidak pernah belajar mematung secara khusus. Tiba-tiba saja mereka bisa membuat berbagai motif. Mereka mulai membuat patung lebih serius. Membuat bentuk patung yang khas : patung susah. Patung itu diinspirasi dari kehidupan masyarakat selatan Lombok Timur yang kesusahan saat musim kemarau.

“Sebelum ada embung yang dibuat tahun 1992, daerah kami ini kering kerontang. Nah kesusahan warga itulah awalnya menjadi ide patung yang dibuat,’’ kata pria yang juga pandai mematung ini.
Dari empat orang itu, lahir pematung-pematung muda. Mereka juga sebenarnya tidak dididik khusus. Melihat contoh, lalu dicoba. Akhirnya bisa. Sepertinya warga Kerong diberikan karunia kemampuan meniru yang bagus. Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk belajar mematung. Tentu saja tanpa membuat motif. Hanya berdasarkan insting. Anak-anak seusia SD pun sudah ada yang jago membuat patung. Awalnya anak-anak itu membantu menghaluskan, dan pekerjaan ringan lainnya. Lama kelamaan mereka bisa membuat patung.

Walaupun para pematung itu tinggal di Kerong, tapi yang dikenal di luar justru Dusun Senanti, tetangga Kerong.  Kebetulan saat itu, artshop ada di Dusun Senanti. Padahal para pematung di dusun itu orang-orang Kerong. Sampai sekarang beberapa studio di Senanti diisi orang Kerong. Empat orang yang memulai mematung juga orang Kerong, tapi kebetulan Amaq Sumi membuat studio di Senanti. Dia membawa anak buahnya ke Senanti. Maka di dalam berbagai promosi, nama Senanti yang lebih dikenal.

Seniman patung senior, Amaq Sudirman menuturkan, mematung sudah mengalir dalam darah warga Kerong. Dia juga merasa tiba-tiba saja bisa membuat patung. Melihat orang tuanya, dia mencoba, lalu bisa. Begitu juga dengan anak dan cucunya. Dia tidak pernah mengajar khusus.
“Nah cucu saya yang SD ini sudah bisa,’’ katanya menunjuk salah seorang cucu lelakinya.
Amaq Sudirman yang sibuk mengurus tembakau mengaku, seniman patung di Kerong semuanya petani. Tidak ada yang berprofesi khusus pematung. Kalau pun ada, sangat sedikit. Biasanya mereka keluar daerah menjadi pematung.

Kini, di Dusun Kerong, petani yang sekaligus pematung berjumlah 140 orang. Biasanya mereka mematung pada malam hari. Tapi, kata Amaq Sudirman, karena kebetulan musim panen tembakau, kegiatan mematung sementara waktu istirahat. Kecuali jika ada pesanan khusus yang sifatnya mendesak.

Seperti pada tradisi leluhur mereka, kegiatan mematung awalnya sebagai sambilan ketika menunggu sawah. Begitulah yang terjadi saat ini. Para pematung ini juga mematung saat pekerjaan bertani mereka selesai. Tapi kadang, kata Amaq Sudirman, jika dihitung penghasilan mematung dengan menggarap sawah, hasil mematung lebih besar.

“Rumah banyak berkeramik di sini karena patung,’’ katanya.

Tapi, seperti mengalir dalam darah warga Kerong. Aktivitas bertani tidak lepas dari aktivitas mematung. Tidak jarang, inspirasi membuat patung itu muncul ketika mereka di sawah. Sambil istirahat menggarap sawah, tiba-tiba terlintas di benak mereka bentuk patung yang akan dibuat.
Para pematung di Kerong tidak pernah menggambar sketsa patung. Begitu melihat balok kayu, langsung mengambil alat mematung. Gambar itu ada di otak mereka. Cukup dipesan patung apa yang akan dibuat, tangan dengan terampil membabat balok kayu itu. Nyaris tidak pernah salah ketika membuat patung itu. Keinginan pemesan selalu bisa dipenuhi para pematung.

Lokasi Dusun Kerong yang terpencil, dengan akses jalan jelek, serta tidak adanya artshop yang dikelola dengan baik membuat nama dusun ini tidak dikenal. Berbeda dengan sentra kerajinan lainnya, yang dikenal oleh wisatawan. Sepintas jika melintas di jalan dusun ini tidak terlihat ciri-ciri sebuah kampung pematung.

“Malahan kami lebih dikenal di Jakarta ketimbang di Lombok,’’ ujarnya.
patung lombok, patung senanti, patung sasak, patung susah

Amaq Sudirman sendiri sudah beberapa kali mengikuti pameran di Jakarta. Dalam even bergengsi Peran Raya Jakarta (PRJ), lelaki empat cucu ini sudah dua kali memenangkan lomba. Saat itu dia ikut lomba kerajinan. Dia menampilkan patung wanita hamil yang membawa anak dan mengangkat air itu. Pesan dalam patung itu : ber-KB lebih baik. Patung itu dipilih sebagai pemenang.

“Tepat sekali dengan pesan pemerintah untuk program KB,’’ katanya tertawa.

Dalam setiap pameran di luar daerah, Amaq Sudirman kerap diundang. Selama ini dia berangkat bersama orang-orang di dinas perindustrian dan perdagangan. Tapi jika tidak diajak orang dinas, Amaq Sudirman tidak bisa mengakses informasi pameran. Padahal, dia ingin sekali memamerkan hasil karyanya. Lewat pameran lah dia mengenalkan patung itu.

“Kadang saya siapkan gratis patung. Yang saya harapkan, orang itu akan bercerita dan ingat tentang saya, dan syukur mau datang ke sini mengajak teman mereka,’’ kata Amaq Sudirman seraya menawarkan beberapa patungnya sebagai oleh-oleh saya. Gratis. Tapi saya tidak bisa menerima. Setelah mendengar cerita mereka, saya terlalu pelit kalau harus gratis.

Kadus Kerong Sahnun juga pernah juara dalam lomba patung. Pada tahun 1995, pria yang juga sebagai pengepul patung ini berhasil sebagai juara I. Patung dari Kerong dinilai original. Bentuk patung yang diciptakan, adalah gambaran masyarakat setempat.

“Tapi setelah krisis moneter, kami tidak pernah lagi ikut lomba,’’ katanya.

Keruntuhan para pematung Kerong mencapai puncaknya setelah peristiwa bom Bali I. Termasuk juga ketika kerusuhan SARA di Kota Mataram yang saat itu dikenal sebagai peristiwa 171 (17-Januari-2000). Lesunya wisatawan, berdampak pada kegiatan mematung di Kerong. Itulah sebabnya, banyak pematung dari Kerong yang keluar kampung. Ada yang menjadi pematung, ada juga yang menjadi buruh kasah. Bagi para pematung itu, bekerja kasar sudah biasa bagi mereka. Toh di kampung mereka adalah petani dan buruh-buruh tani yang biasa bekerja kasar.

“Harapan kami program pariwisata pemerintah sekarang bisa membina pematung di sini. Pematung di sini banyak yang tidak mengerti soal desain, pemasaran, mereka tahunya hanya mematung. Itu bakat alami,’’ kata Sahnun. (*)

2 komentar: