Sabtu, 05 Juli 2014

Kembalikan Fungsi Ruang Terbuka Hijau !


taman udayana, car free day, PKL Mataram

Taman-taman yang dibangun pemerintah Kota Mataram mulai kehilangan ruh. Ruang terbuka hijau (RTH) tempat warga berkumpul, bersosialisasi, dan rekreasi itu kini mulai sesak oleh aktivitas berjualan.


SORE itu, Hamid, 47 tahun, menikmati matahari yang masih panas di Taman Loang Baloq (TLB). Mengenakan celana pendek, dan sepatu kets, sore itu Hamid berjalan cepat, mengitari jogging trek yang mengelilingi kolam. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul 17.00 Wita, udara masih terasa sedikit panas. Hamid menikmatinya. Keringat lebih cepat keluar.

Minggu sore itu, TLB sedang ramai-ramainya. Semua berugak terisi penuh. Bahkan di beberapa sudut, warga duduk lesehan dengan aneka sajian kue yang beli di dalam kompleks TLB.

“Sekarang makin banyak saja pedagang di dalam, ini cukup mengganggu,'' keluh Hamid yang biasanya jogging pada Minggu pagi atau sore.

Di TLB, sebenarnya sudah ada lapak pedagang kaki lima (PKL) di sisi utara kolam, tak jauh dari musala. Tapi lambat laun, PKL bertambah. Awalnya mereka hanya membawa jualan di dalam bakul, kini mereka mulai membawa meja. Arena jogging trek TLB mulai diisi pedagang. Kondisi seperti inilah yang dikeluhkan Hamid. Lantaran ada pedagang, pembeli nongkrong di jalur jogging trek.

“Sampahnya juga dibuang sembaranga, liha saja di pojok-pojok di bawah pohon sampah plastik ditaruh,'' kata Hamid seraya menunjuk ke arah sampah itu.

Di sisi utara TLB memang kerap diserobot PKL. Mereka berjualan di lintasan jogging trek, sampah dibuang di tempat itu. Tak heran, keramaian di sisi utara TLB itu bukan karena pengunjung semata, tapi para pedagang yang membuka lapak dadakan.

Belum selesai urusan PKL di TLB, para pemilik sepeda motor juga dengan mudahnya keliling di jalur jogging trek. Saya hampir kena serepet, pemilik sepeda motor menggeber motornya, di jalur lintasan lari itu. Di pinggir lintasan jogging trek itu, kini menjadi tempat parkir sepeda motor. Motor milik PKL dan pengunjung.

Lain lagi dengan Taman Udayana, tempat favorit warga Kota Mataram berkumpul dan bersosialisasi. Pada hari Minggu, menjadi milik pejalan kaki. Car free day (CFD) memungkinkan pejalan kaki bisa menikmati jalan di sepanjang Jalan Udayana.

Berkumpulnya ribuan warga yang menikmati CFD rupanya dianggap sebagai peluang bagi para PKL. Tak main-main, pada hari Minggu, Taman Udayana tak lebih seperti sebuah pasar tumpah.Tak jauh beda dengan pasar hiburan malam yang mendatangkan aneka wahana permainan.

Trotoar yang mestinya menjadi tempat pejalan duduk, berselonjor setelah jogging di sepanjang Jalan Udayana kini sudah dikuasai sepenuhnya oleh PKL. Pedagang makanan, minuman, bakso, jualan sepeda motor, jualan alat-alat rumah tangga, alat elektronik, sampai-sampai toko pakaian pindah sehari ke Taman Udayana.

Akibatnya tak ada tempat pejalan melepas lelah. Di dalam taman sendiri, sudah lebih awal diambil alih PKL. Lahan-lahan kosong, menjadi tempat berdirinya tenda aneka jenis jualan. Wahana bermain keliling juga ikut mengkavling lahan-lahan kosong. Tak sedikit, alat-alat itu disimpan begitu saja di sudut Taman Udayana. Kumuh.

Seperti pasar tradisional, begitu CFD berakhir, sampah-sampah dibiarkan berserakan. Para PKL, yang sebagian datang dengan mobil mengangkut dagangan mereka membiarkan sampah berserakan. Menunggu petugas. Tak ada rasa bersalah membiarkan sampah berserakan di trotoar yang sudah mereka kavling.

Pemerintah bukannya tidak peduli. Di Taman Selagalas misalnya. Sebenarya disediakan lokasi khusus untuk pedagang. Lokasi tersebut untuk mengantisipasi para pedagang berjualan sembarangan di dalam taman. Alasan pedagang enggan menempati lokasi tersebut, selain dianggap terlalu sempit, mereka khawatir kehilangan pembeli.

Kondisi serupa juga terjadi di Taman Adipura, saat malam hari taman yang dahulu tertutup ini, dipenuhi pedagang. Dagangan berjejer di pinggir jalan. Badan jalan diambil oleh pedagang maupun kendaraan pengunjung taman yang parkir.

Para pedagang enjoy berjualan hingga menggunakan fasilitas taman tanpa merasa mengganggu pengguna taman lainnya. Area jogging track yang seharusnya menjadi area olahraga kerap dijadikan lokasi berjualan.

Setali tiga uang, di Taman Selagalas kondisinya tidak jauh berbeda. Bukan hanya pada hari libur, hampir setiap hari taman ini dipenuhi pedagang. Tak perlu jauh berbelanja ke mal, hampir semua tersedia di Taman Selagalas. Soal jenis makanan, jangan ragu kelaparan. Mau bakso, mie ayam, pisang goreng, pelecing, mie instan, nasi goreng, martabak dan terang bulang, semua komplit. Buka hidung, bisa menuntun ke arah sumber makanan yang disukai. Rasanya, masuk ke Taman Selagalas seperti berada di arena kuliner.

Aturan mengenai ruang terbuka hijau (RTH) sebenarnya sudah tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Pekerjaan Umum Nomor 5 Tahun 2008 tentang pedoman penyediaan dan pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan. Sesuai dengan Permen PU, tujuan dari keberadaan RTH antara lain menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air.

Dalam aturan tersebut, tertulis juga tujuan RTH menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antar lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih.

Sayangnya, tujuan utama RTH tersebut menyimpang seiring dimanfaatkannya RTH sebagai lokasi pedagang kaki lima (PKL). Beberapa taman seperti Taman Selagalas, Taman Udayana, dan Taman Adipura kehilangan fungsinya karena banyaknya pedagang. Belum lagi, di sekitar taman itu kini bermunculkan kantor pemerintah, sekolah, aneka bangunan. Diantara bangunan ini tercatat milik pejabat.
taman udayana, car free day, PKL Mataram
tempat duduk dikuasai tempat jemuran panci


RTH sumber kehidupan, sebuah ungkapan yang terdengar klise namun benar adanya. Begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari keberadaan RTH di satu daerah.

Setiap hektare RTH dengan vegetasi pepohonan yang mencapai setidaknya 70 persen dari luas yang ada, dapat menyediakan 600 kilogram (kg) oksigen. Sedangkan satu orang manusia dalam sehari membutuhkan 0,4 kg oksigen. Artinya, setiap satu hektare RTH yang dikelola dengan baik mampu menyuplai oksigen bagi 1500 orang.

Jika dikonversi ke dalam data penduduk Kota Mataram yang sebanyak 402.843 jiwa, artinya setiap hari memerlukan 161.137,20 kg oksigen atau setara dengan 268.562 hektare RTH dengan jumlah vegetasi mencukupi. Secara angka, jumlah luasan lahan yang dibutuhkan sebenarnya telah terpenuhi, namun tidak sedikit dari RTH yang ada di kota ini masih memiliki vegetasi tumbuhan yang minim.

Hanya ada beberapa RTH saja yang dapat dikatakan telah prima dan memenuhi aturan 70 persen sebaran tumbuhan. Kebanyakan justru belum memenuhinya, RTH di kawasan Eks Pelabuhan Ampenan. Di sana, jumlah tumbuhan terbilang minim, hanya ada beberapa pohon kelapa saja.

Fungsi lain dari RTH diantaranya sebagai resapan air untuk mencegah banjir. Semakin banyak RTH, tentunya akan semakin baik pula kondisi alam. Tidak hanya mencegah banjir, dengan banyak menyerap air, sama saja dengan terus memperbaharui sumber air tanah yang dari hari kehari terus menurun kualitasnya.

Bagi saya, RTH sebenarnya tempat berkumpul dan bermain yang murah. Tak perlu keluar uang banyak, misalnya jika nongkrong di cafe yang mulai menjamur di Kota Mataram. Antara tahun 2008-2009, saya dan sahabat-sahabat saya sering nongkrong di Taman Udayana. Banyak ide-ide brilian yang muncul saat kami diskusi dan ngopi dengan biaya murah. Dulu tidak sebanyak sekarang jumlah PKL. Walaupun saat itu belum ada CFD, jalan di Taman Udayana pada Minggu pagi terasa sejuk. Tidak terlalu banyak kendaraan lalu lalang. Tidak ada PKL dengan berbagai jenis jualannya yang menyerobot jalur pejalan.

Jika kami mau rapat, Taman Udayana adalah pilihan. Kami bisa berdiskusi berjam-jam, cukup dengan memesan kopi. Ide untuk membuat program bakti sosial, ide membuat pelatihan mahasiswa, ide untuk membuat kelompok riset, termasuk juga berbincang tentang cinta. Kami juga biasanya ngenet di Taman Udayana. Tentu saja dengan membawa modem, dan mengisi penuh baterai laptop. Beberapa tulisan saya yang cukup panjang, idenya muncul saat diskusi di Taman Udayana. Tidak sedikit juga saya ketik di Taman Udayana, saat malam hari.


taman selagalas mataram
warga menikmati suasana di taman selagalas

Berbicara tentang ngenet di Taman Udayana, saya masih ingat cerita Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Bulan Mei lalu, Ridwan Kamil menjadi salah satu pembicara dalam forum internasional : Open Government Partnership (OGP) di Sanur Bali. Saya kebetulan salah satu delegasi saat itu, termasuk juga sekaligus menjadi perwakilan media yang meliput.

Saya langsung memilih kelas yang di dalamnya ada Ridwan Kamil. Dia kebetulan bercerita tentang inovasi memanfaatkan IT di kota yang dia pimpin. Salah satunya, Ridwan Kamil menyediakan free wifi di ruang-ruang terbuka di Bandung. Saya lupa angkanya, setidaknya ada ratusan titik wifi gratis.

Ridwan Kamil tahu, bahwa Bandung, kota yang memiliki puluhan kampus, dihuni oleh sebagian besar kaum muda. Potensi inilah yang ingin digali Ridwan Kamil. Anak muda pasti melek IT. Anak muda pasti senang kongkow sambil berselancar di dunia maya.

Ridwan Kamil membuka kanal-kanal resmi pemerintah, yang bisa diakses publik. Para kepala dinasnya tidak lagi gatek soal facebook, twitter, instagram, blog, website, path. Ridwan Kami “memaksa” semua pejabatnya untuk memiliki salah satu socmed itu. Lewat forum dunia maya itu, Ridwan Kamil menyerap banyak ide dari para pemuda, mahasiswa, pelajar yang setiap hari memenuhi taman untuk kongkow.

Hasilnya : ketika Ridwan Kamil mau membuat suatu aplikasi pelayanan publik berbasis IT, dia tidak kerepotan. Para mahasiswa, pelajar dan pemuda yang senang dengan fasilitas wife gratis itu menyumbang ide. Tak sedikit yang menawarkan program hasil racikan mereka. Cukup dengan menulis status bahwa pemerintah butuh ide untuk sebuah pelayanan berbasis internet, ada puluhan tawaran ide. Semua gratis.

Pemerintah juga merasa semakin diawasai. Semua program harus selalu dilaporkan melalui socmed itu. Warga yang mau melapor, cukup mengirim foto dan keterangan tentang sebuah pelayanan. Hari itu juga pemerintah akan memeriksa, dan Ridwan Kamil berjanji keesokan harinya, laporan itu akan ditindaklanjuti.

Saya bermimpi, walikota dan wakil walikota Mataram bisa meniru Ridwan Kamil. Di Kota Mataram ada 26 RTH yang tercatat di dinas pertamanan. Dari semua taman itu, belum ada satupun yang menyediakan fasilitas wifi tanpa batas. Artinya orang bisa akses selama 24 jam, seperti di Bandung ini.

Padahal antara Bandung dan Mataram ada persamaan : menjadi kota pendidikan. Sebagian besar perguruan tinggi di NTB ada di Kota Mataram. Para siswa, dari SD-SMA melek dengan IT. Sekolah-sekolah menyediakan fasilitas wifi gratis. Setiap tahun, ada ribuan anak-anak muda yang datang dan tinggal di Mataram. Mereka sekolah, mereka kuliah, atau sekadar mencari kerja.

Cobalah lihat sore dan malam hari. Taman-taman di Kota Mataram itu selalu penuh dengan anak-anak muda yang nongkrong. Tapi sangat jarang saya melihat ada yang membawa laptop. Mereka duduk hanya sekadar ngobrol. Tak sedikit datang ke taman memadu kasih. Di tempat-tempat yang agak gelap dan sepi, termasuk Taman Sangkareang, di samping kantor walikota.

Membangun fasilitas wifi gratis di semua taman itu saya rasa bukan pekerjaan sulit bagi walikota dan wakil walikota. Tidak berbiaya mahal. Dan saya menjamin, ketika fasilitas itu tersedia, taman-taman tidak lagi sekadar menjadi tempat nongkrong. Taman itu menjadi ruang kreatif. Akan banyak kelompok-kelompok yang doyan dunia IT nongkrong di taman, tidak lagi di cafe-cafe yang menyediakan fasilitas internet gratis.

Walikota dan wakil walikota yang masa pemerintahannya akan berakhir 1 tahun lagi, masih ada waktu untuk mewujudkan ide membangun fasilitas wifi gratis 24 jam itu. Saya rasa ini juga akan mendatangkan manfaat di tahun 2015 nanti. Ketika pemilihan walikota dan waki walikota, kampanye di internet menjadi keharusan.

Kota Mataram dihuni oleh usia-usia muda yang melek internet, doyan internet, dan bisa diajak untuk memilih calon walikota dan wakil walikota melalui medium socmed. Kalau ada kandidat yang memiliki program akan memasang wifi gratis 24 jam di semua taman di Kota Mataram, maka saya siap akan membantu mengkampanyekan melaui socmed. (*)


2 komentar:

  1. Kren.. inspiratif.. Harusnya gratis wifi sejak dulu diprogramkan sama walikota...

    BalasHapus
  2. ayok kita bikin petisi untuk sediakan wifi mahsus khair

    BalasHapus