Sabtu, 12 Juli 2014

Lalu Supardi, Pelopor PLTMH Swadaya


PLTMH, Aikmel, Pemuda Pelopor, Lalu Supardi, Swadaya

Daripada menyalahkan kegelapan, lebih baik menyalakan sebuah lilin untuk pelita. Kata-kata bijak ini tepat untuk menggambarkan sosok Lalu Supardi. Saat 9 kecamatan di Lombok Timur mengalami gelap total setelah perusakan KLP Sinar Rinjani, Supardi datang memberikan solusi. Dia memberikan cahaya pada kampung halamannya, Dusun Karang Petak Desa Aikmel Utara, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur.

********

Tahun 2007 adalah tahun kegelapan panjang bagi 9 kecamatan di Lombok Timur. Setelah krisis di KLP Sinar Rinjani yang berujung perusakan, koperasi yang menyalurkan listrik ke-9 kecamatan di Lotim itu berhenti beroperasi. Hingga saat ini.

Pasca perusakan itu, Kecamatan Sukamulia,Aikmel,Wanasaba,Suela,Sembalun, Sambelia, Pringgasela, Suralaga, dan Pringgabaya. Menjelang perusakan itu, berbagai selebaran tertempel di desa-desa, berisi kekecewaan pelayanan listrik yang lebih banyak padam ketimbang menyala. Namun saat tagihan datang, biayanya sangat besar.

Demo besar-besaran pun terjadi yang berujung perusakan. Aliran listrik di 9 kecamatan tersebut putus total. Tidak ada lagi sumber, selain genset, yang tentu saja tidak terjangkau bagi masyarakat miskin. Melewati 9 kecamatan tersebut usai matahari tenggelam, seperti melewati kota mati.
Pilihan saat itu : menggunakan genset yang mahal atau menyalakan pelita dari minyak tanah. Warga di 9 kecamatan itu kembali seperti masa lalu tanpa listrik.

Nun jauh di kampung terpencil, sekitar 8 km dari pasar Aikmel ke arah Utara, Dusun Karang Petak Desa Aikmel Utara, puluhan warga di kampung itu tidak pernah merasakan kegelapan total. Saat ratusan kampung lainnya gelap total, justru di kampung itu masih bisa menikmati lampu listrik. Walaupun saat itu hanya bisa sekadar menyalakan belasan watt lampu listrik, setidaknya warga di kampung itu tidak seperti kampung lainnya yang gelap total.

Warga di kampung itu bisa tetap menikmati listrik berkat tangan dingin Lalu Supardi. Saat itu dia 27 tahun. Masih bujang. Kini dia 33 tahun, memiliki 1 orang putri. Dari tangan lelaki jebolan Madrasah Aliyah (MA) itu, listrik tak pernah padam di kampung itu, hingga kini, setelah PLN masuk.

Kondisi terdesak membuat orang kreatif mencari cara untuk keluar dari masalah. Begitulah dalam diri Supardi. Kegelapan total pasca kerusakan KLP Sinar Rinjani membuatnya berpikir keras mencari cara agar listrik bisa tetap mengalir di kampungnya. Supardi yang pernah menonton acara TV tentang Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) tertarik dengan teknologi itu. Dia tidak perlu repot mencari sumber air, Aikmel Utara adalah salah satu gudang air di Aikmel. Tapi bagaimana cara mengalirkan air itu adalah tantangannya.

PLTMH, Aikmel, Pemuda Pelopor, Lalu Supardi, Swadaya

“Saya usahakan mengalir lewat tanah saya biar tidak perlu membeli tanah,’’ kata Supardi.

Masalahnya, tanah yang dimiliki Supardi posisinya lebih tinggi dibandingkan aliran sungai. Sungai yang melintas di kampung itu cukup dalam, sekitar 5 meter ke bawah. Saluran irigasi yang sudah dipikirkan Supardi menjadi solusi cukup jauh dari tanah miliknya, tempat akan membangun PLTMH.
Sambil memikirkan cara merancang mesin PLTMH, Supardi juga merancang darimana air akan diambil. Akhirnya dia menemukan ide : membuat saluran baru.

Saluran besar yang jaraknya ratusan meter dari tanah miliknya harus diubah alirannya, tapi tidak dengan cara menghentikan aliran air. Sebab para petani akan protes jika tidak bisa mendapatkan air.
Dibantu warga lainnya, tentu tidak gratis, Supardi menggali saluran irigasi. Melewati tanah tandus perkebunan. Warga yang membantu saat itu beranggapan, saluran itu sekadar mengairi tanah Supardi.

“Karena hanya bermodal cangkul dan tenaga manusia, saluran itu kami kerjakan 3 bulan,’’ katanya.

Padahal panjang saluran itu kira-kira 250 meter. Tapi karena ukuran yang besar, cukup dalam, dan tanah cukup cadas membuat pekerjaan jadi berat. Air dari saluran itu kemudian ditampung di salah satu titik di lahan miliknya. Posisinya cukup tinggi. Keuntungan Supardi, lahan yang dulunya kering, kebun, setelah dilewati saluran untuk PLTMH itu bisa menikmati air sepanjang tahun.

Tidak mudah bagi Supardi merancang mesin PLTMH. Pengetahuannya terbatas. Tapi dia paham, air bisa menggerakkan turbin, lalu dari turbin itu bisa menghasilkan listrik. Tanpa desain Supardi merakit sendiri bahan-bahan yang dibeli dengan uang pribadinya itu. Belakangan setelah mulai jalan, pemerintah melihat kerja Supardi lalu mengguyur dengan bantuan Rp 50 juta. Air yang sudah terlanjur dialirkan dimanfaatkan untuk mengairi lahannya. Kebetulan lahannya itu dulu agak kering. Sementara Supardi menyelesaikan mesin PLTMH.

“Saat itu sistem ujicoba saja, yang penting turbin bisa mutar dan bisa nyala. Belum saya kenal ada travo saat itu,’’ ujarnya.

Beberapa kali mencoba, menanyakan ke teman yang lebih ahli, Supardi bisa menyelesaikan mesin itu. Warga di kampung halaman sempat mencibir apa yang dilakukan Supardi sia-sia. Pekerjaan gila. Supardi yang saat itu masih bujang dianjurkan untuk mencari pekerjaan ke luar daerah. Bukan bergelut dengan mesin dan berbagai perkakas yang asing bagi warga.

2008, setelah akhirnya impian Supardi berdiri. Dari arah penampungan air yang dia bangun, Supardi membuat saluran irigasi kecil. Agar air bisa meluncur deras. Lalu lebih ke bawah, di sela-sela sawahnya, Supardi menaruh sebuah kincir. Kincir itu diputar oleh aliran air saluran itu. Dari arah kincir itu, Supardi mengalirkan sebuah aki kecil yang kemudian dialirkan melalui kabel. Mata Supardi berbinar-binar : bohlam yang dipasang menyala. 

Tiba-tiba nama Supardi menjadi perbincangan di kampung. Bukan lagi tentang pekerjaan gilanya, tapi dia mampu menghasilkan listrik. Sebuah kemewahan bagi kampung yang mengalami kegelapan total.

Karena daya terbatas, saat itu Supardi hanya mampu melayani 74 rumah. Dari mesin PLTMH sederhana miliknya itu, listrik menyala ke rumah-rumah. Supardi, yang sudah berpikir untuk mengembalikan modal menjual listrik itu pada warga. Warga tidak keberatan.

“Ya bayarnya dulu sekadar saja. Untuk menutupi biaya pemeliharaan,’’ katanya.

PLTMH, Aikmel, Pemuda Pelopor, Lalu Supardi, Swadaya

Setelah tahu cara menghitung daya listrik, Supardi akhirnya tahu dulu daya listrik yang dihasilkan dari alat sederhananya itu hanya 18 kw. Dengan daya yang sangat kecil itu, listrik yang mampu dilayani terbatas. Warga juga tidak bisa semau-maunya memasang bohlam.

“Yang jelas saat itu hanya kampung kami yang bisa menikmati listrik,’’ katanya.

Keberhasilan Supardi ini sampai ke telinga pemerintah. Tahun 2008 pemerintah dan PLN memang mulai membenahi listrik yang kacau di 9 kecamatan itu. Langkah Supardi yang membuat PLTMH memberikan inspirasi bagi pemerintah untuk membangun PLTMH lainnya. Sambil menunggu PLN mengambil alih semua jaringan, langkah Supardi itu menyelamatkan satu kampung kecil dari kegelapan.

Pemerintah mengguyurkan bantuan. Supardi membangun PLTMH yang kapasitasnya lebih besar. Tidak lagi menyimpan turbin di sela-sela parit sawahnya, melainkan di bangunan permanen. Mesin turbin sudah buatan pabrik, bukan rakitan asal-asalan. Daya yang dihasilkan juga lebih besar. Dan Supardi dipercaya untuk mengelola.

“Sekarang saya jual Rp 500 untuk per kwh,’’ katanya.

Berkat prestasinya ini pula Supardi diikutkan dalam lomba Pemuda Pelopor. Pada penentuan juara akhir, Supardi yang saat lomba sudah beristri dan memiliki anak keluar sebagai juara II.
“Kalau lombanya tahun 2008 mungkin saya juara satu,’’ katanya tertawa.

Tahun 2010 PLN mulai masuk ke kecamatan eks KLP. Belakangan listrik PLN sudah berhasil mengambil alih hampir semua kampung di 9 kecamatan itu, termasuk ke Karang Petak. Warga yang rumahnya dekat dengan akses PLN mulai beralih ke PLN. Tidak lagi menggunakan PLTMH dari Supardi. Pelanggan berkurang.

“Karena PLN sudah masuk sekarang kurang pelanggan. Pelanggan sekarang yang rumahnya jauh dari PLN,’’ ujarnya.

Secara bisnis penghasilan Supardi berkurang. Tapi dia tidak pernah menyesal membangun PLTMH itu. Setidaknya sejak 2008, hingga PLN benar-benar masuk dia memberikan pelita pada warga di kampung halamannya. Warga pun ingat dengan jasa Supardi itu. Di usianya yang relatif muda, dia dipercaya sebagai Kepala Dusun (Kadus) di Karang Petak.

“Warga menaruh hormat berkat usaha awalnya membangun listrik,’’ kata Kepala Desa (Kades) Aikmel Utara, Kemah.

PLTMH, Aikmel, Pemuda Pelopor, Lalu Supardi, Swadaya


Menikmati Hasil Sampingan

Tanah milik Supardi awalnya hanya bisa ditanami sekali setahun. Tadah hujan. Posisinya lebih tinggi dibandingkan saluran air. Aikmel Utara yang berlimpah air, terkendala fasilitas saluran air. Tanah-tanah akhirnya menjadi kebun. Padahal lahan di Aikmel Utara terkenal subur. Bekas aliran lava letusan gunung Rinjani yang kaya material penyubur tanah.

Sekali mendayung dua, tiga pulau terlampaui. Saluran air untuk PLTMH yang dibangun Supardi sangat bermanfaat bagi lahan sekitarnya. Lahan kebun yang kering kini disulap menjadi sawah dan kolam ikan. Air untuk PLTMH hanya sekadar lewat memutar turbin. Tidak mengubah kualitas air.
“Baru-baru ini saya mulai,’’ katanya ketika ditanya tentang kolam ikan miliknya.

Di lahan tempat dibangun PLTMH itu kini hijau oleh aneka sayuran. Selain itu kolam yang cukup besar berada persis di bawah pembuangan air dari turbin. Dari kolam itu, dan sayur-sayuran yang ditanam, Supardi bisa menambah penghasilan. Tanah yang dulunya kurang produktif, kini subur, sepanjang tahun pun bisa ditanami padi.

“Selama masih berputar roda turbin, berarti masih ada air,’’ ujarnya.

Dari segi pergaulan sosial, perjuangan Supardi itu diganjar dengan penghargaan dari masyarakat. Suami Neti Karmila ini dipercaya sebagai Kepala Dusun (Kadus).  Tentu saja kepercayaan ini berkat usahanya membangun listrik.

“Bisa dikatakan dia ini anak muda kreatif,’’ kata Kepala Desa (Kades) Aikmel Utara, Kemah.

Apa yang telah diperbuat Supardi, kata Kemah, menjadi inspirasi anak-anak muda di Aikmel Utara. Termasuk juga menginspirasi dirinya. Kemah yang selama ini dikenal sebagai kades yang rajin blusukan tahu potensi besar anak muda di desa yang dipimpinnya. Bebeberapa program di desa, digerakkan oleh anak muda, dilakukan oleh anak muda.

“Kegiatan kebersihan sebagian besar kami libatkan anak muda. Mereka senang terlibat dalam kegiatan positif,’’ katanya. (*)

0 komentar:

Posting Komentar