Minggu, 06 Juli 2014

Musmuliadi, Guru “Oemar Bakri” Dari Bayan (bagian 1)

semokan ruak, guru terpencil, bayan, guru honorer
musmuliadi berangkat mengajar

Sosok guru sederhana, mengabdi tanpa pamrih seperti lagu Iwan Fals “Oemar Bakri “ bisa dilekatkan pada sosok Musmuliadi, 29 tahun. Guru berstatus sukarela ini mengajar di SD Filial Semokan Ruak, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Tak hanya mengajar, lelaki yang hanya memegang ijazah SMA ini adalah pelopor sekolah di tempat itu, bersama sahabatnya, sang kepala kampung, Nuliangsi. Berkat Musmuliadi, anak-anak di Semokan Ruak bisa menikmati bangku sekolah.

Motor merek Suzuki Shogun  itu berasap ketika melintasi sungai kecil yang membatasi Semokan Ruak dengan Semokan induk. Asap itu berasal dari mesin yang terendam air sungai. Sungai yang dasarnya bebatuan itu sempat membuat oleng. Terpaksa Musmuliadi, pengendara motor itu menurunkan kaki. Sepatunya basah.

Melewati sungai, Musmuliadi melewati jalan menanjak. Suara mesin motor itu terdengar meraung. Suara mesin meraung beradu dengan suara kepala motor yang penyok. Saya yang menumpang merasa seakan-akan badan motor itu akan copot. Beruntung hari itu, air sungai tidak terlalu besar. Kami bisa melewati sungai dan sampai di sekolah itu.

Di lain waktu, Musmuliadi mengabarkan jika selama seminggu dia terpaksa libur mengajar. Saban hari, air sungai itu meluap. Tidak ada jalan alternatif lain. Motor tidak bisa melewati sungai itu. Tinggi airnya sampai pinggang Musmuliadi, bahkan sering lebih. Musmuliadi juga tidak bisa jalan kaki, air terlalu deras. Jika air sudah mulai surut, Musmuliadi biasanya melepas motor di seberang sungai, lalu jalan kaki ke sekolah yang jaraknya 2 km dari sungai itu.

“Masyarakat juga terisolir kalau hujan, tidak bisa kemana-mana,’’ kata Musmuliadi dalam sebuah perbincangan.

Jika hari hujan, murid-murid kadang belum datang hingga lewat jam 07.00 Wita. Musmuliadi menunggu hingga seluruh muridnya kumpul. Kadang ada yang datang jam 08.00 Wita, ada pula yang tiba di sekolah jam 08.30 Wita. Musmuliadi memaklumi. Seluruh muridnya harus jalan kaki ke sekolah. Kampung terjauh sekitar 2.5 km. Melewati beberapa punggung bukit.

Ketika hujan lebat, Musmuliadi menunggu di berugak (balai terbuka biasanya ada di depan rumah) milik warga. Dia merasa beruntung bisa mengajar di Semokan Ruak. Masyarakat setempat sangat ramah. Ketika Musmuliadi mengajar, tidak sedikit yang menawarkan kopi atau sekadar makan kue.

Sepulang mengajar, Musmuliadi tidak bisa langsung istirahat. Dia harus berangkat kuliah. Kampus tempatnya kuliah membuka kuliah siang/sore. Ketika ada jadwal kuliah, dia harus segera pulang. Walaupun hujan lebat dan jalan kaki. Bagi Musmuliadi, perjalanan seperti itu sudah biasa dia lakoni.

Musmuliadi mengajar hari Senin – Sabtu. Ketika sekolah ini dibuka tahun 2012 lalu, hanya dia sendiri yang mengajar. Jumlah murid saat itu 44 orang. Tempat mengajarnya pun bukan ruang kelas, tapi sebuah berugak milik warga. Di awal sekolah itu dibuka, hanya 2 orang muridnya yang memiliki seragam. Selebihnya mereka mengenakan sarung, kaos kumal, tak ada memakai sepatu. Bahkan sering, murid mereka ke sekolah sambil mengembala kambing.

Mengajar ke SD Filial Semokan Ruak memang butuh kesabaran ekstra. Saat awal membuka sekolah ini, November 2012, Musmuliadi mengajar anak-anak di kampung yang tidak pernah mengenal bangku sekolah. Di kampung-kampung bawah kaki gunung itu, hanya 1 orang yang pernah sekolah. Namanya Nuliangsi. Hanya dia yang pernah tamat SD. Kini dipercaya sebagai kepala kampung.
semokan ruak, guru terpencil, bayan, guru honorer
musmuliadi mengajar bahasa indonesia
Guru yang lain mungkin akan berpikir berulang kali untuk mau mengajar di SD Filial Semokan Ruak. Perjalanan menuju sekolah tidak mulus. Tantangan alam, lingkungan, dan fasilitas yang serba minim. Selain itu untuk ukuran guru honorer, gaji yang diterima tidak sebanding dengan pengeluaran. Terlalu kecil untuk disebut.

“Saya tidak berpikir soal gaji mengajar disini,’’ kata Musmuliadi yang ketika kali pertama kami berjumpa November 2012 hingga kini masih memakai sepatu yang sama.

Musmuliadi hanya memikirkan anak-anak di Semokan Ruak harus bisa mengenyam bangku sekolah. Musmuladi, ketika kecil dan remaja juga pernah tinggal di Semokan Ruak di rumah keluarganya. Itulah sebabnya ketika dia bisa kuliah di STKIP Hamzar yang memiliki kampus di Bayan, dia merasa terbebani jika tidak mengamalkan ilmunya. Musmuliadi mau mengajar di tempat terpencil itu. Sekitar 6 km dari rumahnya.

Setelah dua tahun mengajar, kini Musmuliadi memiliki rekan. Masih berstatus honorer juga. Mereka membagi peran untuk mengajar kelas 1 dan kelas 2. Dalam satu bangunan, kedua kelas itu dipisahkan oleh sekat tripleks. Sumbangan para relawan yang dulu membuat program dengan nama share for care.

“Bantuan para relawan dan donatur mempercepat proses pembangunan sekolah ini,’’ katanya. (bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar