Senin, 07 Juli 2014

Musmuliadi, Guru “Oemar Bakri” Dari Bayan (bagian 2)

bersama murid awal dan bangunan "ruang kelas"

Hingga saat ini, hanya ada satu orang warga Semokan Ruak yang memiliki ijazah sekolah dasar (SD). Namanya Nuliangsi, 31 tahun. Dia dipercaya sebagai kepala kampung. Kini, setelah berdiri SD Filial Semokan Ruak, dalam empat tahun ke depan, akan ada warga Semokan Ruak lainnya yang akan memiliki ijazah SD.

Saya adalah salah satu saksi mata proses pendirian sekolah itu. Berawal dari sebuah berugak. Lalu meminjam sebuah rumah warga. Terakhir sejumlah relawan membantu material dan tanah tempat pembangunan. Barulah pemerintah mulai membangunkan sekolah permanen. Nama Musmuliadi dan Nuliangsi tidak bisa dilepaskan dari proses itu.

Ada tiga kampung terpencil di Dusun Semokan, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, yaitu Semokan Ruak, Tebeang dan Teratas. Akses yang jauh dari sekolah induk membuat anak-anak di tempat itu putus sekolah (DO). Mereka lebih memilih menjadi petani, peladang, peternak, mengikuti orang tua mereka.

Ketika dibuka pertama kali November 2012, Musmuliadi dan Nuliangsi “blusukan” ke kampung-kampung kaki gunung itu. Mereka mencari anak yang seumuran anak SD untuk menjadi calon murid. Jika siang hari tidak bertemu dengan orang tua anak itu, mereka mencari malam hari. Musmuliadi akan menaksir usia anak itu.

“Sebagian besar anak-anak itu sebenarnya sudah mau kelas 4 atau bahkan kelas 6,’’ kata Musmuliadi.

Tidak heran, jika di SD Filial Semokan Ruak saat ini, murid kelas 2 SD wajahnya seperti anak SMP. Dulu mereka adalah murid-murid yang putus sekolah. Lalu kembali masuk kelas 1. Kini mereka kelas 2 dan akan segera naik ke kelas 3. Mereka juga cukup membantu Musmuladi, mereka tidak buta huruf total ketika baru pertama masuk. Mereka sudah mengenal huruf lantaran pernah SD.

Di awal mengajar, Musmuliadi membimbing mereka mengenal huruf latin. Saya yang datang pada November 2012 mengamati, banyak murid itu tidak mengenal huruf latin sama sekali. Musmuliadi membimbing mereka satu per satu. Belajar di atas berugak, sambil bersila. Tentu saja melelahkan. Apalagi dengan murid yang penuh sesak di atas berugak itu.


sekolah terpencil, guru honorer, sekolah filial
bangunan sekolah saat ini
Ketika pindah ke bangunan darurat, pinjaman rumah warga yang belum dipagar keliling, sebagian anak-anak itu sudah bisa membaca.Musmuliadi juga mengajarkan mereka beberapa lagu nasional dan doa-doa yang biasa dilafalkan sehari-hari. Pada saat itu, para muridnya sudah mulai bisa membaca dan hafal dengan lancar doa-doa itu.

Kisah Musmuliadi, yang mencari murid sendiri, mengajar di atas berugak, dengan honor yang sangat kecil, saat itu Rp 150 ribu/bulan, mendatangkan simpati. PNPM juga membantu seragam sekolah bagi murid-muridnya, PNPM juga membantu bangku dan meja. Selain itu, aneka buku tulis dan buku bacaan mulai berdatangan dari para relawan.

Bantuan terbesar yang diterima sekolah itu ketika sekelompok anak muda menyatakan akan membantu material bangunan. Termasuk juga akan membantu membebaskan lahan untuk pembangunan sekolah. Bantuan alat tulis, buku bacaan, seragam sekolah juga terus berdatangan ketika tahun ajaran baru ini. Kini semua murid SD Filial Semokan Ruak memiliki seragam, mereka sudah seperti anak sekolahan. (*)

0 komentar:

Posting Komentar