Senin, 04 Agustus 2014

Lebaran Adat Komunitas Wetu Telu (1)

lebaran adat, wetu telu


Komunitas Wetu Telu di Kabupaten Lombok Utara (KLU) merayakan Idul Fitri dengan cara berbeda dengan umat Islam kebanyakan. Mereka berlebaran tiga hari setelah umat Islam lainnya berlebaran, yang jatuh pada tanggal 1 Syawal. Jika sebagian besar berlebaran pada hari Senin (28/7), komunitas Wetu Telu baru memulai prosesi lebaran pada Kamis (31/7).

******************
Hari masih pagi pada Kamis (31/7), saat Raden Anggrita duduk mengenakan sapu’ (pengikat kepala khas Sasak) dan dodot (sarung) di berugak di belakang rumahnya. Hari itu, pemuda yang tercatat sebagai mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Mataram ini diberikan tugas besar oleh para tetua di gubug (semacam RT). Hari itu, dia menjadi perwakilan untuk mengantarkan pitrah ke Masjid Kuno Sukadana, sekitar 200 meter dari rumahnya.

Sebelum berangkat dia tak lupa mengingat kembali isi keranjang bambu besar yang diletakkan di atas berugak. Di atas keranjang itu, sajadah (alas yang dipakai salat), menutupi isi keranjang.

Di bagian paling bawah, diisi beras. Lalu di atas beras ada kepeng bolong (uang logam berlubang di tengahnya). Beras itu dilapisi kain. Setelah itu di atas beras itu, disusun rapi tebu, pisang, dile jojor (lampu dari kapas dan jamplung), kelapa dan ubi, dan berbagai jenis hasil kebun lainnya. Anggrita mengingat, jumlah keseluruhan bawaannya itu : 2 gantang, 15 koyong.

lebaran adat, wetu telu

Sesampai di depan Masjid Kuno, Anggrita mencuci kaki. Di atas masjid yang berdinding bambu dan berlantai tanah itu, seorang pria menyambut. Mengambil bawaan Anggrita.

Di dalam masjid itu, sudah kumpul barang serupa. Keranjang bambu yang berisi beras dan aneka hasil bumi. Belasan pria mengenakan pakaian putih, sapu’ putih, sarung panjang, duduk di setiap sisi masjid itu. Sambil ngobrol, mereka menyulut rokok. Mereka rupanya masih menunggu temannya yang lain. Acara penyerahan pitrah hari itu, harus menunggu semua kiyai santri tiba di Masjid Kuno.
Barang bawaan Anggrita itu adalah zakat pitrah warga di gubug, Dusun Labangkara, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan. Hari itu, komunitas Wetu Telu di Sukadana memulai perayaan lebaran. Jika mengikuti penetapan 1 Syawal yang jatuh pada Senin (28/7), maka hari itu adalah 4 Syawal. Komunitas Wetu Telu memang merayakan lebaran tiga hari setelah Idul Fitri.

Pitrah yang dibawa Anggrita hari itu, 2 gantang dan 15 koyong adalah zakat kolektif warga. Dalam komunitas Wetu Telu, zakat pitrah dikumpulkan secara kolektif, lalu diserahkan ke kiyai.
2 gantang itu adalah ukuran untuk beras. Ditakar dengan sebuah mangkuk terbuat dari batok kelapa. Jadi beras yang dibawa Anggrita, dua mangkuk.

lebaran adat, wetu telu

Sementara koyong, sebutan bagi pitrah yang diserahkan oleh anak-anak. Bisa saja ada anak-anak yang datang menyerahkan zakat pitrah hanya berupa dua genggam beras.

“Anak-anak yang datang membawa ke rumah kalau koyong itu,’’ kata Anggrita.

Setelah para perwakilan pembawa pitrah kumpul, acara penyerahan pitrah dimulai. Para kiyai kagungan (penghulu, ketip, lebai, mudim) duduk di depan, dekat mimbar masjid. Satu persatu perwakilan gubuk membawa bawaan mereka.

Para pembawa pitrah menyalami kiyai dan mengucapkan salam. Lalu mereka mengucapkan akad penyerahan pitrah. Ucapan itu, permintaan agar kiyai menerima pitrah itu. Para pembawa pitrah juga menyebutkan jumlah pitrah yang dibawa. Setelah mengucapkan akad itu, kiyai akan menerima. Lalu kiyai memimpin doa. Doa dalam bahasa Arab.

Setelah doa, kiyai membuka isi keranjang itu. Hasil bumi seperti kelapa, tebu, jagung, ubi, akan dikelompokkan menjadi satu. Begitu juga dengan kepeng bolong yang dibawa dikumpulkan menjadi satu. Ada juga yang menyelipkan uang pecahan baru di atas beras. Kiyai memisahkan tersendiri uang itu.

Setelah isi pitrah dipisahkan, kiyai santri diminta untuk mengambil beras. Mereka diminta mengumpulkan beras itu menjadi satu. Salah seorang kiyai yang ada di dalam masjid mengingatkan, para pembawa pitrah dan kiyai santri untuk tidak meninggalkan masjid walaupun sudah selesai menyerahkan dan menerima pitrah.

Dalam keyakinan masyarakat Wetu Telu, zakat pitrah yang dibawa tidak harus berupa beras/makanan pokok seperti umat Islam kebanyakan. Seluruh hasil bumi bisa menjadi pitrah. Pitrah yang dibawa pada umumnya hasil kebun mereka. Itulah sebabnya, antara satu gubuk dengan gubug lain, bisa berbeda jenis yang dibawa, tergantung apa yang mereka miliki saat itu. Selain itu, dalam komunitas Wetu Telu, pitrah itu dibagi untuk para kiyai.

“Ada yang dibagikan ke anak yatim,’’ kata Anggrita, seraya menegaskan sebelum prosesi itu dimulai sudah didata anak-anak yatim yang akan diberikan pitrah itu.

lebaran adat, wetu telu

Soal pelaksanaan lebaran yang dimulai 3 hari setelah perayaan Idul Fitri mayarakat muslim kebanyakan, para tokoh Wetu Telu tidak memberikan jawaban pasti. Beberapa tokoh yang pernah Lombok Post temui di tempat-tempat komunitas Wetu Telu masih menjaga tradisi, mereka hanya berujar jika penetapan waktu itu sudah menjadi turun temurun.

“Dari nenek moyang kami memang seperti itu,’’ kata Raden Riawadi, tokoh masyarakat di komunitas Wetu Telu di Labangkara, Desa Sukadana.

Di Desa Sukadana sendiri, ada dua lokasi pemusatan perayaan lebaran, yang belakangan dikenal dengan Lebaran Adat. Selain di Masjid Kuno yang ada di pusat Desa Sukadana, kegiatan serupa juga dilakukan di Masjid Kuno yang berada di dalam pawang (hutan) Semokan. Dibandingkan Masjid Kuno lainnya, keberadaan Masjid Kuno di pawang Semokan itu memang terpencil. Berada di dalam hutan adat yang masih lebat. (*)

Jumat, 01 Agustus 2014

Tradisi Unik Ramadan di Lombok Utara

masjid kuno, wetu telu, ngaji quran, sesait, lombok utara


Perpaduan antara ajaran Islam dan adat di Lombok Utara terlihat dalam berbagai kegiatan sehari-hari mereka, khususnya dalam sebuah pesta. Pada bulan Ramadan, masyarakat adat Sesait  di Kecamatan Kayangan juga memiliki tradisi khas Ramadan, yaitu Ngaji Quran. Kegiatan ini seperti tadarusan (membaca Alquran) pada umumnya, tapi ada corak budaya di dalamnya.

********

Seperti namanya, Ngaji Quran, masyarakat adat Sesait yang 100 persen muslim juga mengisi kegiatan malam Ramadan dengan tadarusan. Setiap masjid dan musala melantunkan ayat-ayat suci Alquran selama sebulan penuh.

Tapi di Sesait, Masjid Kuno yang masih terawat dengan baik, juga menjadi pusat kegiatan dalam Ramadan. Masjid berdinding bambu, berlantai tanah ini memang bukan tempat kegiatan salah tarawih. Tapi pada salah satu malam, Masjid Kuno ini menjadi lokasi kegiatan tadarusan itu. Tadarusan itu, menjadi pengingat masa lalu kehidupan Islam di Sesait, khususnya selama Ramadan.

Kegiatan dimulai dari Kampu, kompleks perumahan tradisional yang dulunya menjadi pusat pemerintah Desa Adat Sesait. Empat tokoh adat terdiri dari Jintaka, Mangkugumi, Penghulu dan Pemusungan duduk melingkar di berugak di dalam kompleks Kampu. Di hadapan mereka kotak kaca berisi Alquran dikeluarkan dari dalam salah satu rumah di dalam kompleks itu.

Alquran yang dikeluarkan itu adalah Alquran yang ditulis tangan. Alquran ini diperkirakan peninggalan pada abad ke XV. Di dalam kotak kaca itu terdapat lembaran-lembaran mushaf Alquran. Masing-masing dijilid satu juz. Tidak jauh berbeda dengan Alquran tulis tangan 30 juz itu.

Alquran tua itu menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat adat Sesait sudah lama menerima Islam. Sebagai masyarakat yang memegang teguh tradisi, berbagai ritual tradisi itu kemudian menyatu dengan ajaran Islam.

“Dulu Alquran yang satu juz satu juz itu disebar di seluruh kampung untuk dibaca bagi orang yang ingin belajar ngaji. Dulu tidak ada istilah buku Iqro’ (sebuah buku panduan untuk belajar mengaji),’’ kata tokoh masyarakat adat Sesait, Djekat.

Dulu, warga belajar mengaji menggunakan Alquran yang terbagi dalam 30 juz itu. Cukup sulit. Orang langsung belajar membaca secara keseluruhan. Berbeda dengan sekarang orang belajar dari dasar sehingga ketika fasih barulah naik membaca Alquran 30 juz itu.

Dulu, Alquran tulis tangan 30 juz dan Alquran yang terbagi masing-masing 1 juz itu selalu dipakai ketika tadarusan selama Ramadan. Namun belakangan, ketika kondisi Alquran itu sudah terancam rusak, masyarakat adat Sesait menggunakan Alquran generasi kedua. Alquran itu sudah menggunakan mesin cetak, tapi sampulnya menggunakan kulit Unta.

Setelah para tokoh adat, dan warga kumpul di Kampu, mereka selanjutnya berangkat ke Masjid Kuno. Jaraknya sekitar 300 meter dari Kampu.

Alquran yang sampulnya kulit Unta itu dibungkus kain putih. Ditaruh di atas baki, Alquran itu dibawa menuju Masjid Kuno. Penghormatan Alquran itu dilakukan masyarakat, salah satu caranya dengan membungkus dengan kain putih yang melambangkan kesucian.

Di belakangan pembaca Alquran, belasan masyarakat, mulai dari orang tua dan anak-anak beriringan mengiring Alquran itu menuju Masjid Kuno. Tidak boleh mendahului. Termasuk juga tidak boleh masuk duluan ke dalam masjid Kuno. Alquran itu harus masuk terlebih dahulu, barulah masyarakat yang lainnya ikut masuk.
masjid kuno, wetu telu, ngaji quran, sesait, lombok utara

Setelah Alquran itu masuk ke dalam Masjid Kuno, Penghulu akan menjelaskan tentang ritual Ngaji Quran yang merupakan bagian dari ritual Ngaji Makam. Termasuk juga menceritakan bagaimana tradisi para orang tua dulu mengaji di Masjid Kuno Sesait. Kegiatan Ngaji Quran saat ini, sebenarnya semacam napak tilas proses yang pernah dilakukan leluhur masyarakat adat Sesait.

Dulu, para orang tua mengaji hingga waktu Sahur tiba. Selain itu dalam semalam itu 30 juz itu bisa dikhatamkan (habis dibaca), caranya dengan membagi tiap juz. Namun dengan kondisi jamaah sekarang yang sudah tersebar mengaji di berbagai masjid,  tidak memungkinan mengkhatamkan 30 juz selama semalam saja. Sekarang hanya memungkinkan untuk mengaji sampai di awal tengah malam (sekitar pukul 00.00 Wita). Walau demikian, rangkaian Ngaji Quran di Masjid Kuno harus tetap dipertahankan seperti zaman dulu.

Dulu, seluruh pusat kegiatan agama dipusatkan di Masjid Kuno. Penduduk juga masih sedikit. Itulah sebabnya, ketika malam Ramadan, warga akan kumpul di Masjid Kuno. Mereka mampu mengkhatamkan 30 juz dalam semalam. Mereka membagi diri.

Saat ini Ngaji Quran hanya membaca juz 1 saja, itu pun dibagi menjadi beberapa kelompok. Kemudian membaca surat Yasin dan terakhir membaca surat-surat pendek pada juz 30.

Di sela-sela perpindahan dari membaca juz 1, Yasin, dan juz 30 itulah, para wanita di Sesait membawa dulang berisi makanan. Pada saat istirahat pertama, makanan yang dibawa es dan aneka kue. Sama seperti menu berbuka pada umumnya.

Tak lama kemudian, setelah juz 1 selesai datang kembali warga membawa dulang membawa makanan ringan. Bedanya, makanan kedua ini ditemani kopi. Barulah saat juz 30 berakhir, makanan terakhir datang berupa nasi dan aneka lauknya.

Ada maknanya membawa makanan tiga gelombang ini. Saat warga masih Ngaji Quran semalam suntuk di Masjid Kuno Sesait, jeda makanan itu cukup panjang. Terakhir hidangan makan nasi itu sebagai penutup, masuk warga sahur.

Ritual mencicipi makanan sebanyak tiga kali ini masih hidup sampai sekarang. Menyuguhkan kopi pada istirahat sesi ke- 2 bukannya tanpa alasan. Jika mengambil masa dulu, saat istirahat sesi ke-2 itu sudah tengah malam. Warga yang tadarusan perlu diberikan kopi agar kuat jaga hingga makan sahur.

Saat ini kegiatan Ngaji Quran itu hanya berlangsung tak lebih 3 jam. Tapi, bukan berarti kegiatan Ngaji Quran ini cukup sekali selama bulan Ramadan. Di masjid-masjid dan musala yang bertebaran di Sesait, tetap ramai selama Ramadan. Ngaji Quran ini hanya sekadar napak tilas mengingat tradisi tadarusan yang pernah dilakukan para leluhur. (*)