Jumat, 01 Agustus 2014

Tradisi Unik Ramadan di Lombok Utara

masjid kuno, wetu telu, ngaji quran, sesait, lombok utara


Perpaduan antara ajaran Islam dan adat di Lombok Utara terlihat dalam berbagai kegiatan sehari-hari mereka, khususnya dalam sebuah pesta. Pada bulan Ramadan, masyarakat adat Sesait  di Kecamatan Kayangan juga memiliki tradisi khas Ramadan, yaitu Ngaji Quran. Kegiatan ini seperti tadarusan (membaca Alquran) pada umumnya, tapi ada corak budaya di dalamnya.

********

Seperti namanya, Ngaji Quran, masyarakat adat Sesait yang 100 persen muslim juga mengisi kegiatan malam Ramadan dengan tadarusan. Setiap masjid dan musala melantunkan ayat-ayat suci Alquran selama sebulan penuh.

Tapi di Sesait, Masjid Kuno yang masih terawat dengan baik, juga menjadi pusat kegiatan dalam Ramadan. Masjid berdinding bambu, berlantai tanah ini memang bukan tempat kegiatan salah tarawih. Tapi pada salah satu malam, Masjid Kuno ini menjadi lokasi kegiatan tadarusan itu. Tadarusan itu, menjadi pengingat masa lalu kehidupan Islam di Sesait, khususnya selama Ramadan.

Kegiatan dimulai dari Kampu, kompleks perumahan tradisional yang dulunya menjadi pusat pemerintah Desa Adat Sesait. Empat tokoh adat terdiri dari Jintaka, Mangkugumi, Penghulu dan Pemusungan duduk melingkar di berugak di dalam kompleks Kampu. Di hadapan mereka kotak kaca berisi Alquran dikeluarkan dari dalam salah satu rumah di dalam kompleks itu.

Alquran yang dikeluarkan itu adalah Alquran yang ditulis tangan. Alquran ini diperkirakan peninggalan pada abad ke XV. Di dalam kotak kaca itu terdapat lembaran-lembaran mushaf Alquran. Masing-masing dijilid satu juz. Tidak jauh berbeda dengan Alquran tulis tangan 30 juz itu.

Alquran tua itu menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat adat Sesait sudah lama menerima Islam. Sebagai masyarakat yang memegang teguh tradisi, berbagai ritual tradisi itu kemudian menyatu dengan ajaran Islam.

“Dulu Alquran yang satu juz satu juz itu disebar di seluruh kampung untuk dibaca bagi orang yang ingin belajar ngaji. Dulu tidak ada istilah buku Iqro’ (sebuah buku panduan untuk belajar mengaji),’’ kata tokoh masyarakat adat Sesait, Djekat.

Dulu, warga belajar mengaji menggunakan Alquran yang terbagi dalam 30 juz itu. Cukup sulit. Orang langsung belajar membaca secara keseluruhan. Berbeda dengan sekarang orang belajar dari dasar sehingga ketika fasih barulah naik membaca Alquran 30 juz itu.

Dulu, Alquran tulis tangan 30 juz dan Alquran yang terbagi masing-masing 1 juz itu selalu dipakai ketika tadarusan selama Ramadan. Namun belakangan, ketika kondisi Alquran itu sudah terancam rusak, masyarakat adat Sesait menggunakan Alquran generasi kedua. Alquran itu sudah menggunakan mesin cetak, tapi sampulnya menggunakan kulit Unta.

Setelah para tokoh adat, dan warga kumpul di Kampu, mereka selanjutnya berangkat ke Masjid Kuno. Jaraknya sekitar 300 meter dari Kampu.

Alquran yang sampulnya kulit Unta itu dibungkus kain putih. Ditaruh di atas baki, Alquran itu dibawa menuju Masjid Kuno. Penghormatan Alquran itu dilakukan masyarakat, salah satu caranya dengan membungkus dengan kain putih yang melambangkan kesucian.

Di belakangan pembaca Alquran, belasan masyarakat, mulai dari orang tua dan anak-anak beriringan mengiring Alquran itu menuju Masjid Kuno. Tidak boleh mendahului. Termasuk juga tidak boleh masuk duluan ke dalam masjid Kuno. Alquran itu harus masuk terlebih dahulu, barulah masyarakat yang lainnya ikut masuk.
masjid kuno, wetu telu, ngaji quran, sesait, lombok utara

Setelah Alquran itu masuk ke dalam Masjid Kuno, Penghulu akan menjelaskan tentang ritual Ngaji Quran yang merupakan bagian dari ritual Ngaji Makam. Termasuk juga menceritakan bagaimana tradisi para orang tua dulu mengaji di Masjid Kuno Sesait. Kegiatan Ngaji Quran saat ini, sebenarnya semacam napak tilas proses yang pernah dilakukan leluhur masyarakat adat Sesait.

Dulu, para orang tua mengaji hingga waktu Sahur tiba. Selain itu dalam semalam itu 30 juz itu bisa dikhatamkan (habis dibaca), caranya dengan membagi tiap juz. Namun dengan kondisi jamaah sekarang yang sudah tersebar mengaji di berbagai masjid,  tidak memungkinan mengkhatamkan 30 juz selama semalam saja. Sekarang hanya memungkinkan untuk mengaji sampai di awal tengah malam (sekitar pukul 00.00 Wita). Walau demikian, rangkaian Ngaji Quran di Masjid Kuno harus tetap dipertahankan seperti zaman dulu.

Dulu, seluruh pusat kegiatan agama dipusatkan di Masjid Kuno. Penduduk juga masih sedikit. Itulah sebabnya, ketika malam Ramadan, warga akan kumpul di Masjid Kuno. Mereka mampu mengkhatamkan 30 juz dalam semalam. Mereka membagi diri.

Saat ini Ngaji Quran hanya membaca juz 1 saja, itu pun dibagi menjadi beberapa kelompok. Kemudian membaca surat Yasin dan terakhir membaca surat-surat pendek pada juz 30.

Di sela-sela perpindahan dari membaca juz 1, Yasin, dan juz 30 itulah, para wanita di Sesait membawa dulang berisi makanan. Pada saat istirahat pertama, makanan yang dibawa es dan aneka kue. Sama seperti menu berbuka pada umumnya.

Tak lama kemudian, setelah juz 1 selesai datang kembali warga membawa dulang membawa makanan ringan. Bedanya, makanan kedua ini ditemani kopi. Barulah saat juz 30 berakhir, makanan terakhir datang berupa nasi dan aneka lauknya.

Ada maknanya membawa makanan tiga gelombang ini. Saat warga masih Ngaji Quran semalam suntuk di Masjid Kuno Sesait, jeda makanan itu cukup panjang. Terakhir hidangan makan nasi itu sebagai penutup, masuk warga sahur.

Ritual mencicipi makanan sebanyak tiga kali ini masih hidup sampai sekarang. Menyuguhkan kopi pada istirahat sesi ke- 2 bukannya tanpa alasan. Jika mengambil masa dulu, saat istirahat sesi ke-2 itu sudah tengah malam. Warga yang tadarusan perlu diberikan kopi agar kuat jaga hingga makan sahur.

Saat ini kegiatan Ngaji Quran itu hanya berlangsung tak lebih 3 jam. Tapi, bukan berarti kegiatan Ngaji Quran ini cukup sekali selama bulan Ramadan. Di masjid-masjid dan musala yang bertebaran di Sesait, tetap ramai selama Ramadan. Ngaji Quran ini hanya sekadar napak tilas mengingat tradisi tadarusan yang pernah dilakukan para leluhur. (*)

0 komentar:

Posting Komentar