Rabu, 29 Oktober 2014

Ritual Nyalamaq Dilauq di Pesisir Selatan Lombok Timur

nyalamaq dialuq

Mei 2014 menjadi tahun terbesar penyelenggaraan ritual nyalamaq dilauq atau selamatan laut. Ritual selamatan laut yang menjadi tradisi warga pesisir selatan Lombok Timur (Lotim) ini digelar selama seminggu penuh. Para panitia dan tokoh adat bahu membahu menemukan kembali beberapa perlengkapan ritual yang tersebar di beberapa kampung nelayan.


Mukti Ali M Yusuf, pemuda dari Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur ini sibuk membahas persiapan ritual selamatan laut. Dipercaya sebagai ketua panitia, Mukti berpikir keras untuk menyiapkan berbagai kebutuhan ritual. Kelelahan tampak di wajahnya. Kantong matanya, menjadi bukti, dia begadang selama persiapan acara.

Sebenarnya dalam ritual-ritual tahun sebelumnya, tidak sesibuk tahun ini. Nyalamaq dilauq, menjadi bagian dari masyarakat Desa Tanjung Luar. Ibaratnya, nyalamaq dilauq itu seperti pesta syukuran pada umumnya. Tidak terlalu besar, dan tidak melibatkan ribuan orang. Antar kampung satu dengan kampung yang lain, bisa saja menggelar sendiri. Kampung/desa nelayan di Lombok Timur seperti Ketapang Raya, Pijot, Maringkik, Labuhan Haji, Labuhan Lombok, Batunampar, Batunampar Selatan, Ekas, Pemongkong memiliki tradisi serupa, walau dengan nama berbeda.

“Kami mengharapkan semua warga pesisir pantai selatan Lombok Timur ini bisa bersatu, melalui ritual inilah bisa disatukan,’’ kata Mukti.

Ritual ini berasal dari suku Bajo, yang selama ini dikenal sebagai suku laut, mereka membangun rumah di atas laut. Nenek moyang orang Bajo yang datang ke Lombok, kemudian membawa serta tradisi mereka. Salah satunya syukuran laut. Selain itu, tradisi ini juga menjadi bagian dari kehidupan nelayan suku Mandar (berasal dari Sulawesi Barat), Bugis dan Makassar (Sulawesi Selatan). Empat suku yang identik dengan pelaut ini menempati daerah-daerah pesisir Lombok Timur. Salah satunya di Tanjung Luar yang menjadi lokasi nyalamaq dilauq.

“Di sini (Tanjung Luar) hanya beberapa rumah Bajo, tapi lihat saja bahasa daerah di sini menggunakan Bajo. Ini menandakan begitu besarnya pengaruh Bajo,’’ kata tokoh adat Tanjung Luar, Puang Abbas.

nyalamaq dialuq
seorang sanro perempuan memberikan sangkineh
Setelah mendata semua perlengkapan ritual, Mukti dan para pemuda yang telah diberikan mandat oleh para tokoh adat untuk menjadi panitia melakukan perburuan. Beberapa perlengkapan harus didatangkan dari Pulau Maringkik, dicari ke desa-desa nelayan lainnya. Pencarian dan persiapan ini memakan waktu hingga satu bulan. Maklum saja, dalam prosesnya, komunitas nelayan yang satu rumpun itu terpisah secara administratif oleh desa-desa pemekaran. Tantangan para panitia untuk meyakinkan, nyalamaq dilauq bukan even satu desa saja, tapi milik semua komunitas nelayan.

Perlengkapan yang dikumpulkan harus dipastikan tidak boleh ada yang kurang, atau salah cara memasang, keliru menempatkan. Keyakinan yang diteruskan secara turun temurun, jika ada kesalahan, ritual tidak akan berjalan mulus, atau bisa kena bencana.

Puang Abbas menuturkan ula-ula (bendera) kuning memanjang, yang dipasang di atas panggung ritual, tidak boleh sedikit pun terlipat. Jika terlipat, konon bisa mendatangkan hujan. Bagi nelayan, hujan adalah salah satu rintangan dalam melaut.

nyalamaq dialuq
warga ramai memadatati lokasi acara
“Harus hati-hati memasang bendera di atas itu, itu bendera simbol suku Mandar,’’ kata Puang Abbas, seraya mengadahkan ibu jarinya, sebagai simbol kesopanan, ke arah bendera itu.

Sementara panitia sibuk mencari perlengkapan, para tokoh adat juga sibuk untuk menentukan waktu dan tempat pelaksanaan ritual. Puang Abbas yang juga dipercaya sebagai sanro (dukun) pemimpin ritual ini rapat besar dengan para tokoh adat dan tokoh agama. Ilmu leluhur mereka, ilmu membaca langit dikeluarkan pada malam itu. Malam itu, dan malam-malam selanjutnya, mereka tidak pernah absen mengamati langit. Tanda akan dimulainya ritual harus bersamaan dengan munculnya pupuru atau bintang sembilan.

“Kalau masyarakat Sasak menyebutnya bintang rowot,’’ kata Puang Abbas.

Setelah pupuru itu terlihat, barulah rangkaian ritual dimulai. Kali ini, ritual kali pertama dimulai pada tangal 13 Mei 2014. Segala perlengkapan yang dikumpulkan panitia, termasuk juga para tokoh adat disatukan. Panggung utama dibangun, tepat menghadap ke laut. Sepanjang malam, digelar doa dan zikir.

“Kami di sini masyarakat Islam, tradisi ini dipengaruhi juga oleh Islam,’’ kata Abbas.

Tidak mengherankan pada puncak ritual tanggal 18 Mei, dalam pembacaan doa, pemimpin doa membacakan shalawat nahdlatain, doa yang selama ini identik dengan jamaah Nahdlatul Wathan (NW), ormas Islam terbesar di NTB.

iring-iringan membaca alat tenun
Setiap hari, selama tiga hari, 15-17 Mei, para tokoh adat yang dipimpin sanro Puang Abbas melakukan doa keselamatan keliling kampung. Dimulai dari depan panggung utama, para tokoh adat, dan perwakilan warga dari keempat suku kumpul di atas panggung.

Para sanro perempuan akan memberikan sangkineh, atau yang dalam bahasa Sasak disebut sembeq, sebuah tanda di kening dan leher yang dibuat dari beberapa ramuan. Seluruh peserta yang akan mengiringi sanro harus mengenakan tanda itu. Setelah diberikan sembeq merah, dilanjutkan dengan kuning.

Sangkineh itu sekaligus menjadi penanda, bahwa hanya merekalah orang-orang terpilih yang boleh mengiringi prosesi. Saya pun membuktikan, dari beberapa warga yang ikut mengambil gambar, beberapa orang tidak diusik, sementara yang lain, termasuk saya beberapa kali didatangi oleh para perempuan penjaga yang kesurupan. Bahkan sampai ada yang dikejar.

“Oh iya, pantesan pak wartawan terus ditunjuk karena tidak lengkap, lupa yang warna kuning,’’ kata Mukti Ali menimpali, menujuk ke olesan ramuan yang dioleskan ke kening saya.
para gadis pantai

Panitia memberikan garis batas antara rombongan dan warga yang menyaksikan. Sebuah tali tambang, yang biasa dipakai menambat kapal mengelilingi rombongan. Warga lain harus ada di luar tali itu. Mencoba mendekat, para perempuan yang kesurupan itu akan mendatangi dan mengusir mereka sambil menangis.

Setelah selesai memberikan sangkineh, para tokoh adat ini turun panggung. Di bawah panggung sudah menunggu kerbau yang akan dikorbankan. Kepala kerbau itu akan dilarungkan pada puncak ritual. Sementara daging kerbau akan dibagikan pada anak-anak yatim.
Para sanro bergiliran menjampi kerbau itu, mengusap badan kerbau. Terakhir sanro Puang Abbas, mengusap kepala kerbau dan memasangkan “pakaian” warnah putih di atas punggung kerbau. Lima lelaki berpakaian serba hitam, satu orang memegang payung, satu orang membawa golok, siap mengiring kerbau itu ke laut, lalu mengelilingi setiap sudut kampung.

**************

Ritual selamatan laut ini juga bermakna sebagai upaya pelestarian ekologi pesisir. Para nelayan Tanjung Luar dilarang melaut selama 3 hari setelah puncak ritual, melarungkan (menghanyutkan) kepala kerbau. Larangan itu sebagai simbol agar nelayan memberikan kesempatan ikan-ikan bertelur dan tumbuh besar.

Seluruh perlengkapan rangkaian ritual yang digelar dalam Nyalamaq Dilauq itu sebenarnya simbol keseharian warga pesisir selatan Lombok Timur. Lihat saja, di bagian depan, ketika ritual mengarak kerbau keliling kampung dan pesisir, seorang sanro (dukun) wanita membawa lampu dari olahan nyamlung, kapas, dan minyak tanah yang bagi masyarakat Tanjung Luar disebut jajakah. Lampu itu adalah simbol pelita bagi nelayan. Itu melambangkan kehidupan dan kearifan nenek moyang para pelaut ini. Jejakah inilah yang di masyarakat Sasak disebut mal-mal, dinyalakan pada malam ganjil Ramadan, di 10 hari terakhir.

Kemudian ada juga bendera (ula-ula), dengan lima warna. Warna putih melambangkan Suku Bajo, warna kuning melambangkan Mandar, warna merah melambangkan Makassar, warna hitam melambangkan Bugis. Tentu saja ada bendera merah putih sebagai lambang keutuhan NKRI. Bendera itu dibawa lelaki berpakaian hitam dan mengenakan ikat kepala hitam. 

nyalamaq dialuq
atraksi pesilat di pinggir pantai
Sementara itu belasan gadis remaja, membawa alat-alat tenun di atas kepala mereka. Mengenakan pakaian adat khas Mandar, Bugis, Bajo, dan Makassar, mereka mengikuti iringan sanro dan kerbau itu.

“Pakaian yang kami kenakan itu berasal dari alat tenun itu. Dulu nenek moyang kita membuat sendiri pakaiannya,” kata Puang Abas, sanro menjadi pemimpin ritual Nyalamaq Dilauq. Puang, dalam bahasa Bugis, merupakan sebuah sebutan penghormatan untuk bangsawan.

Setelah ritual keliling kampung, yang kata Puang Abbas, sebagai sebuah rangkaian mendoakan kampung agar selamat dari mara bahaya, kerbau dikembalikan di kandang, dekat panggung utama. Disaksikan ribuan pasang mata, para pendekar pesisir itu menunjukkan kebolehan mereka bermain silat. Keris, badik, parang terlihat bersahabat di tangan mereka. Silat yang mereka peragakan itu, merupakan silat tradisional yang gerakannya diwariskan dari generasi ke generasi. Acara pada Sabtu (17/5), hari terakhir ritual keliling kampung itu ditutup dengan menyembelih kerbau. Menunggu esok pagi untuk dilarungkan.

************

“Kapal di depan itu minggir, kalau tidak tali kami putus,” teriak salah seorang panitia, melalui pengeras suara pada Minggu pagi (18/5).

Dia memberi peringatan pada sebuah perahu yang berlabuh tak jauh dari dermaga. Kapal itu dinilai menghalangi lalu lintas perahu yang merayakan puncak Nyalamaq Dilauq. Suara keras itu juga sebagai peringatan agar perahu besar itu mau melibatkan diri dalam perayaan. Saya kemudian naik ke salah satu peraha yang berukuran cukup besar, dikawal panitia, yang selalu mengingatkan di kapal itu ada wartawan yang membawa perlengkapan kamera. Itu untuk menghindari serangan pada saat perang air.

Hampir semua perahu, berbagai ukuran, dengan berbagai macam hiasan, termasuk bendera partai politik, mengiring proses pelarungan kepala kerbau. Mereka bersuka cita begitu sanro berhasil menemukan titik, setelah keliling sejam lebih.

nyalamaq dialuq
para peserta mengikuti ritual pelarungan
Titik tempat melepas kepala kerbau itu tidak boleh sembarangan. Sanro, dengan penerawangan spiritual, meyakini ada sebuah tanda batu di tengah lautan itu. Di tempat itulah kepala kerbau dilepas. Dan sejak itu, aturan larangan melaut berlaku.

“Hanya tiga hari tidak boleh melaut,” kata Puang Abbas.

Seluruh aktivitas di lautan, memancing, menjaring, atau menyelam mencari ikan dilarang total selama tiga hari pasca pelarungan itu. Dituturkan Puang Abbas, tradisi tak boleh melaut selama 3 hari itu diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak ada yang berani melanggar. Sanksi sosial menanti jika ada yang berani melanggar. Perahu bisa juga dirusak oleh warga.

“Sekarang tidak perlu kita umumkan sanksinya, masyarakat sudah paham aturan ini,” katanya.

Masa larangan melaut 3 hari ini, kata Puang Abbas, sebagai simbol menjaga keseimbangan isi laut. Masyarakat tidak serakah mengambil isi laut. Perlu masa istirahat, membiarkan ikan bertelur, tumbuh besar. Waktu 3 hari itu hanya sebagai simbol, bahwa nelayan Tanjung Luar juga arif dalam mengeksploitasi hasil laut.

bersenang-senang dengan perang air
Melalui rangkaian ritual Nyalamaq Dilauq itu juga, para nelayan mengungkapkan syukur mereka atas karunia Tuhan berupa ikan yang berlimpah. Para nelayan juga berdoa agar tangkapan pada musim melaut, setelah puasa menghasilkan rezeki yang besar.

“Kalau aktivitas di darat, menjual beli ikan masih boleh. Hanya aktivitas di laut yang dilarang,” ujarnya.

Aturan ini masih dijaga hingga sekarang. Bahkan sehari sebelum Nyalamaq Dilauq, tidak ada aktivitas melaut. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Luar pun sepi. Para nelayan hari itu sibuk mempercantik perahu mereka yang akan mengikuti prosesi Nyalamaq Dilauq. (*)

Jumat, 17 Oktober 2014

Sumpah Setia Pengantin Wanita Tangga


pengantin pria harus memecahkan kendi ini
Pengantin wanita di Dusun Tangga Desa Selengen Kecamatan Kayangan meminum air bekas mencuci kaki suaminya. Salah satu prosesi dalam ritual pernikahan ini sebagai pembuktian kesetiaan sang istri pada suami.


REMENIP agak canggung melakukan prosesi itu. Mencuci kaki suaminya. Mencuci muka dengan air cucian itu, lalu meminumnya sebanyak tiga kali.

“Ayo lakukan. Ayo lakukan,’’ teriak Sukini, istri kiyai setempat yang memimpin prosesi itu.

Beragam ekspresi ditunjukkan puluhan pasangan mata yang menyaksikan Remenip . Ada yang jijik dengan menutup mulutnya. Ada yang tertawa. Ada pula yang penasaran, sampai-sampai harus melihat dari bawah kolong berugak. Sukini yang memimpin ritual itu pun harus berulang kali mengingatkan warga yang menonton tidak terlalu dekat.

Sukini yang dipercaya sebagai pemimpin ritual itu menyiapkan air dalam ember kecil. Air itu dituangkan dari atas. Remenip lalu mengusap kaki suaminya dengan limpahan air itu. Tiga kali dia menggosok.

“Sekarang cuci muka dan minum,’’ perintah Sukini.

Setelah membasuh kaki itu, pada tuangan air berikutnya, Remenip membasuh mukanya dengan air yang mengalir di sela-sela kaki Midrasah, suaminya. Air itu harus diambil dari bawah kaki.

Setelah selesai membasuh dan mencuci muka, barulah prosesi meminum air itu. Sukini kembali menuangkan air dari atas. Limpasan air yang membasuh kaki Midrasah itulah yang harus diminum Remenip. Harus ditelan.

Setelah prosesi mendebarkan itu selesai. Lalu Remenip mengatupkan kedua tangannya di depan kaki suaminya. Layaknya orang hendak bersalaman. Lalu Sukini memegang kedua tangan Remenip, dan mengatupkan ke arah tangan Midrasah, seperti orang sungkeman. Posisi Remenip masih jongkok. Sementara Midrasah duduk di atas berugak.

Prosesi mencuci kaki, membasuh muka dan meminum air cuci kaki itu dilakukan pasangan pengantin di dusun di atas bukit ini dalam prosesi Ngalu Kawin. Prosesi ini tidak dijumpai pada adat perkawinan masyarakat Sasak pada umumnya. Ngalu Kawin ini juga dijumpai di masyarakat adat Gumantar, Kecamatan Kayangan. Secara adat, antara warga Gumantar dan Tangga masih dalam satu rumpun desa adat. Itulah sebabnya, dalam pesta yang digelar pada Senin –Selasa, 21-22 Oktober (2013) itu dihadiri oleh warga Gumantar.

Prosesi Ngalu Kawin ini dipimpin oleh Sukini, istri kiyai setempat. Memang harus istri kiyai yang memimpin prosesi yang mempertemukan pasangan pengantin ini, termasuk mempertemukan para keluarga mereka.

Tokoh adat Tangga, Sumarsam mengatakan, prosesi mencuci, membasuh muka, dan meminum air dari kaki suami itu adalah bentuk kesetiaan istri. Sebagai istri, maka saat itu dia harus bersumpah setia kepada suaminya. Dia bukan lagi menjadi milik orang tuanya. Tapi kini menjadi milik suaminya.

“Meminum air itu sebagai pembuktian kesetiaan,’’ katanya.

Tradisi ini memang tidak dijumpai dalam perkawinan adat Sasak secara umum. Setidaknya di dalam literatur tentang pernikahan, tidak ada prosesi meminum air bekas mencuci kaki suami itu. Sumarsam menegaskan, prosesi ini memang khusus di komunitas masyarakat adat Gumantar. Tangga, walaupun berbeda desa dengan Gumantar, secara adat istiadat mereka memiliki keterikatan yang kuat.

Prosesi lainnya dalam Ngalu Kawin ini adalah memecahkan kendi. Prosesi ini dilakukan sebelum ritual membasuh kaki itu.

Carannya, kendi yang berisi air dan sirih, diletakkan di atas kepala pengantin perempuan. Lalu pengantin laki-laki berdiri sambil memegang tiang berugak. Dengan perintah pemimpin ritual, sang suami menendang kendi itu hingga pecah. Sementara itu, salah seorang pengiring pengantin juga memecahkan batok kelapa. Kelihatannya tidak sopan. Suami menendang kendi yang dijinjing oleh sang istri.

“Ketika pecah kendi itu, pecah lah hubungan kekerabatan. Istilahnya bela’ basa (memecah bahasa),’’ kata Sumarsam.

para pengantin silaturahmi ke tempat tinggal tokoh adat


Ritual ini dilakukan pada pasangan pengantin yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Karena pernikahan di Gumantar, banyak yang masih satu kampung sering terjadi perkawinan masih dalam satu keluarga. Midrasah dengan Remenip misalnya. Mereka masih bersepupu. Satu kampung.


Selain itu, ada juga pasangan pengantin yang masih berbahasa “bibi”. Misalnya, mempelai wanita itu adalah sepupu jauh dari ibu mempelai pria. Dalam bahasa sehari-hari, si lelaki itu memanggil bibi pada si perempuan. Ketika pasangan ini menikah, tentu ada masalah bahasa. Sang suami tidak mungkin memanggil bibi pada istrinya.

“Nah dalam prosesi inilah, bahasa itu yang istilahnya dirusak. Kini mereka setara,’’ kata Sumarsam.

Selain Ngalu Kawin, prosesi pernikahan di Tangga sama pada umumnya dengan masyarakat Sasak secara umum.  Pada hari pertama (Senin, 21/10) keluarga mempelai pria membawa seserahan/pisuka/gantiran  (jaminan)  pada keluarga mempelai wanita. Di dalam seserahan itu, ada benda wajib yang harus dibawa yaitu kelengkapan beras pati. Di dalamnya, selain beras disertakan juga kepeng tepong (uang bolong), sirih, benang putih, kain putih, dan beberapa perlengkapan lainnya. Boleh dibilang

“Pada umumnya sama seserahan ini dalam setiap acara pernikahan,’’ kata Sumarsam.

Setelah acara mengantar seserahan ini selesai, barulah prosesi pernikahannya, akad nikah. Masyarakat di Tangga menyebutnya pantok syahadat. Karena di dalam prosesi akad nikah itu diucapkan kalimat syahadat, lalu ikrar janji pasangan pengantin. Dalam acara akad nikah ini, dipimpin oleh kiyai. Wali mempelai perempuan hadir, dan tentu saja para saksi. Biasanya acara ini dilakukan pada malam hari. Selain itu, pada malam hari itu juga digelar sorong serah, atau di dalam bahasa masyarakat Tangga disebut menyorong menanggap.

“Barulah keesokan harinya digelar Ngalu Kawin itu. Di sini tidak ada nyongkolan (arak-arakan pengantin),’’ kata Sumarsam.

Nyongkolan, prosesi arak-arakan sekaligus berfungsi mengenalkan pengantin pada warga, tidak ada di dalam masyarakat adat Gumantar. Walaupun pihak pengantin menyediakan hiburan cilokak ale-ale atau kecimol, namun tidak ada proses nyongkolan itu. Seluruh prosesi pernikahan digelar di dalam kampung. Hiburan diam di tempat.

Setelah Ngalu Kawin selesai, biasanya siang hari, sebelum zuhur, seluruh tamu yang hadir menyantap hidangan. Para tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat duduk di satu berugak khusus. Sementara para pengantin yang melangsungkan acara hari itu, kumpul di berugak lain.
Setelah para tokoh itu selesai menyantap hidangan makan siang, pasangan pengantin pergi menyalami mereka. Tokoh-tokoh ini berasal dari dusun-dusun yang menjadi satu rumpun masyarakat adat Gumantar. Semua unsur tokoh adat seperti mangku, turun,penghulu, raden, dan pemekel hadir di tempat itu. Para pengantin akan mengitari berugak tempat mereka duduk. Menyalami satu persatu.

“Kalau ada hari itu salah satu tokoh tidak hadir, maka pasangan pengantin itu harus mencarinya ke rumah untuk salaman,’’ kata Sumarsam.

Salaman usai, para tokoh sudah menikmati hidangan makan siang. Para tamu undangan pun banyak berdatangan. Hidangan makanan yang sudah disiapkan diberikan pada para tamu hari itu. Dan tentu saja, hiburan cilokak dan kecimol menghibur warga dan pengantin yang berbahagia hari itu. 

iringan pengantin

 MenjalankanSyariat, Mempertahankan Adat

TANGGA adalah salah satu bekas perkampungan tradisional di Lombok Utara. Seiring perkembangan zaman, perkampungan itu mulai berubah. Menghidupkan kembali acara-acara adat, diyakini sebagai salah satu cara meneruskan warisan para leluhur.

Sisa-sisa perkampungan tradisional itu masih terlihat. Sebagian rumah masih mempertahankan bentuk aslinya. Dinding bedek, atap ilalang, lantai tanah, dan tanpa listrik. Namun lambat laut rumah tradisional itu berubah. Bermunculan rumah-rumah permanen dengan berbagai perlengkapan modernnya.

“Dulu bahkan masjid pernah ditolak di sini karena bangunan permanen,’’ tutur Sumarsam, tokoh adat di Tangga.

Kontak warga Tangga dengan masyarakat luar, ada yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia membawa perubahan. Ketika mereka memiliki cukup uang, bangunan tradisional tidak lagi menarik bagi mereka. Perlahan warga mengubah rumah mereka menjadi permanen. Masjid pun mulai dibangu permanen. Kini sebagian besar rumah di dusun yang berada di bawah kaki pegunungan itu sudah permanen.

“Sekarang listrik menjadi kebutuhan utama, mau tidak mau harus kami ikuti perubahan itu,’’ kata mantan Kepala Dusun (Kadus) Tangga ini.

Lantaran belum dialiri listrik, warga Tangga pun memanfaatkan genset untuk penerangan. Malam hari dinyalakan. Dibagi ke beberapa rumah. Rumah lainnya, yang cukup jauh dari lokasi genset, masih bertahan dengan lampu minyak tanah.

Menurut Sumarsam, perubahan fisik permukiman Tangga tidak bisa ditolak. Bahkan Sumarsam sebagai salah satu tokoh yang mendukung. Dia misalnya mendukung warga yang membangun rumah menggunakan atap genteng. Begitu juga ketika pembangunan masjid permanen, Sumarsam yang saat itu menjadi Kadus memberikan dukungan. Bagi Sumarsam, perubahan fisik perkampungan tidak bisa terelakkan, namun yang perlu dijaga adalah nilai-nilainya.

“Boleh berubah modern, tapi tradisi harus tetap dijaga. Syariat harus dijalankan, adat harus dipertahankan,’’ ujarnya.

Ritual-ritual adat di Tangga memang masih dipertahankan hingga kini. Dusun yang satu desa adat dengan Gumantar ini tetap berpartisipasi dalam setiap ritual adat. Cara itu, kata Sumarsam untuk mengikat hubungan keakraban antar masyarakat adat. Dalam setiap acara adat, selalu melibatkan seluruh masyarakat. Hingga kini, Sumarsam masih berbangga, warganya masih mempertahankan nilai-nilai warisan leluhur itu.

“Sebagai penganut Islam, kami juga tetap menjalankan syariat,’’ katanya menegaskan bahwa antara adat dan Islam saling menguatkan.

Dalam acara pernikahan adat di Tangga itu misalnya. Seluruh proses pernikahan adalah ritual adat, namun ketika akad-nikah itu adalah proses agama. Menyatukan dua manusia dalam ikatan perkawinan. Baru dianggap sah ketika sudah dilakukan secara syariat.

“Menyorong menangggap, dan begawenya itu adalah tradisi adat,’’ katanya.

pengantin pria meminum air bekas mencuci kaki suami

Bukan Pengantin Muda, Digelar Secara Kolektif

Jumatrah tidak bisa menahan senyumnya saat prosesi Ngalu Kawin digelar pada Selasa siang (22/10). Dia merasa risih dengan prosesi pembuktian kesetiaan istri itu. Duduk di atas berugak, sementara perempuan dibawahnya duduk membasuh kakinya. Lalu si perempuan itu mencuci muka dengan air itu. Terakhir harus meminum air itu. Perempuan itu juga sempat berujar, kaki Jumtrah bau. Puluhan warga, sebagian besar anak-anak yang menonton tertawa dengan celetukan mempelai wanita itu.

Wajar saja Jumatrah meras risih dengan prosesi sakral itu. Begitu juga dengan perempuan itu, dengan santainya mengolok kalau kaki lelaki itu bau. Mempelai perempuan dalam prosesi itu rupanya bukan istri Jumatrah.

Istrinya, Ana Sahroni baru saja melahirkan. Dalam kondisi belum selesai masa nifasnya, sang istri terlalu lemah untuk ikut prosesi itu. Sebagai gantinya, kerabat istrinya yang harus menggantikan.

“Ya memang seperti itu. Ketika ada halangan yang tidak bisa ditolak, kerabat mempelai perempuan yang mengganti,’’ kata Kepala Dusun (Kadus) Tangga Lujihartono.

Dalam prosesi itu, ada tiga mempelai wanita yang berhalangan karena baru saja melahirkan. Selain Ana Sahroni, Mariani istri Aftudin pun tidak bisa ikut prosesi itu. Seniwati, istri Saturdin juga berwakil ke kerabatnya yang lain. Walaupun berwakil, prosesi Ngalu Kawin itu tetap sah dan sakral.

“Intinya kan mempertemukan dua keluarga besar,’’ kata Luji.

Para pengantin ini juga sebenarnya bukan pengantin baru. Midrasah dan istrinya Remenip adalah pengantin lama. Mereka sudah memiliki dua orang anak. Namun, mereka pernah cerai hingga 1 tahun. Karena masa iddah istrinya sudah lewat, Midrasah dan Remenip pun kembali melangsungkan akad nikah.

Pasangan lainnya, Resudip dan Murinem sudah setahun lebih menikah. Adiar dan Adiani sudah memiliki satu orang anak. Jumatrah dan Ana Sahroni, Aftudin dan Mariani, Satudrin dan Seniwati baru saja dikarunia momongan. Sementara itu Mus dan Andriani bukan lagi pengantin baru.

Pesta pernikahan di Tangga memang tidak harus digelar langsung begitu selesai akad nikah. Pesta digelar ketika mempelai sudah memiliki tabungan untuk pesta. Kapan saja mereka siap untuk memenuhi seluruh syarat pesta adat dan tentu saja modal untuk menjamu para tamu.

“Itulah sebabnya pesta ini kami gelar secara bersama. Ada tujuh pasangan pengantin. Jadi seluruh biaya pesta, mereka bertujuh talangi. Lebih murah,’’ kata Luji.

Dulu, pesta seperti ini menghabiskan puluhan juta rupiah. Ditanggung oleh pasangan pengantin. Banyak yang tidak mampu, dan kadang setelah mereka tua baru melangsungkan pesta. Masyarakat pun membuat kesepakatan, pesta pernikahan bisa digabung berkelompok. Selain itui pesta-pesta yang lain bisa ikut di pesta ini. Misalnya saja pesta sunatan dan memotong gigi.

“Makanya disebut Gawe Beleq. Ini adalah pesta besar dari beberapa orang,’’ katanya. (fathul)