Rabu, 29 Oktober 2014

Ritual Nyalamaq Dilauq di Pesisir Selatan Lombok Timur

nyalamaq dialuq

Mei 2014 menjadi tahun terbesar penyelenggaraan ritual nyalamaq dilauq atau selamatan laut. Ritual selamatan laut yang menjadi tradisi warga pesisir selatan Lombok Timur (Lotim) ini digelar selama seminggu penuh. Para panitia dan tokoh adat bahu membahu menemukan kembali beberapa perlengkapan ritual yang tersebar di beberapa kampung nelayan.


Mukti Ali M Yusuf, pemuda dari Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak, Kabupaten Lombok Timur ini sibuk membahas persiapan ritual selamatan laut. Dipercaya sebagai ketua panitia, Mukti berpikir keras untuk menyiapkan berbagai kebutuhan ritual. Kelelahan tampak di wajahnya. Kantong matanya, menjadi bukti, dia begadang selama persiapan acara.

Sebenarnya dalam ritual-ritual tahun sebelumnya, tidak sesibuk tahun ini. Nyalamaq dilauq, menjadi bagian dari masyarakat Desa Tanjung Luar. Ibaratnya, nyalamaq dilauq itu seperti pesta syukuran pada umumnya. Tidak terlalu besar, dan tidak melibatkan ribuan orang. Antar kampung satu dengan kampung yang lain, bisa saja menggelar sendiri. Kampung/desa nelayan di Lombok Timur seperti Ketapang Raya, Pijot, Maringkik, Labuhan Haji, Labuhan Lombok, Batunampar, Batunampar Selatan, Ekas, Pemongkong memiliki tradisi serupa, walau dengan nama berbeda.

“Kami mengharapkan semua warga pesisir pantai selatan Lombok Timur ini bisa bersatu, melalui ritual inilah bisa disatukan,’’ kata Mukti.

Ritual ini berasal dari suku Bajo, yang selama ini dikenal sebagai suku laut, mereka membangun rumah di atas laut. Nenek moyang orang Bajo yang datang ke Lombok, kemudian membawa serta tradisi mereka. Salah satunya syukuran laut. Selain itu, tradisi ini juga menjadi bagian dari kehidupan nelayan suku Mandar (berasal dari Sulawesi Barat), Bugis dan Makassar (Sulawesi Selatan). Empat suku yang identik dengan pelaut ini menempati daerah-daerah pesisir Lombok Timur. Salah satunya di Tanjung Luar yang menjadi lokasi nyalamaq dilauq.

“Di sini (Tanjung Luar) hanya beberapa rumah Bajo, tapi lihat saja bahasa daerah di sini menggunakan Bajo. Ini menandakan begitu besarnya pengaruh Bajo,’’ kata tokoh adat Tanjung Luar, Puang Abbas.

nyalamaq dialuq
seorang sanro perempuan memberikan sangkineh
Setelah mendata semua perlengkapan ritual, Mukti dan para pemuda yang telah diberikan mandat oleh para tokoh adat untuk menjadi panitia melakukan perburuan. Beberapa perlengkapan harus didatangkan dari Pulau Maringkik, dicari ke desa-desa nelayan lainnya. Pencarian dan persiapan ini memakan waktu hingga satu bulan. Maklum saja, dalam prosesnya, komunitas nelayan yang satu rumpun itu terpisah secara administratif oleh desa-desa pemekaran. Tantangan para panitia untuk meyakinkan, nyalamaq dilauq bukan even satu desa saja, tapi milik semua komunitas nelayan.

Perlengkapan yang dikumpulkan harus dipastikan tidak boleh ada yang kurang, atau salah cara memasang, keliru menempatkan. Keyakinan yang diteruskan secara turun temurun, jika ada kesalahan, ritual tidak akan berjalan mulus, atau bisa kena bencana.

Puang Abbas menuturkan ula-ula (bendera) kuning memanjang, yang dipasang di atas panggung ritual, tidak boleh sedikit pun terlipat. Jika terlipat, konon bisa mendatangkan hujan. Bagi nelayan, hujan adalah salah satu rintangan dalam melaut.

nyalamaq dialuq
warga ramai memadatati lokasi acara
“Harus hati-hati memasang bendera di atas itu, itu bendera simbol suku Mandar,’’ kata Puang Abbas, seraya mengadahkan ibu jarinya, sebagai simbol kesopanan, ke arah bendera itu.

Sementara panitia sibuk mencari perlengkapan, para tokoh adat juga sibuk untuk menentukan waktu dan tempat pelaksanaan ritual. Puang Abbas yang juga dipercaya sebagai sanro (dukun) pemimpin ritual ini rapat besar dengan para tokoh adat dan tokoh agama. Ilmu leluhur mereka, ilmu membaca langit dikeluarkan pada malam itu. Malam itu, dan malam-malam selanjutnya, mereka tidak pernah absen mengamati langit. Tanda akan dimulainya ritual harus bersamaan dengan munculnya pupuru atau bintang sembilan.

“Kalau masyarakat Sasak menyebutnya bintang rowot,’’ kata Puang Abbas.

Setelah pupuru itu terlihat, barulah rangkaian ritual dimulai. Kali ini, ritual kali pertama dimulai pada tangal 13 Mei 2014. Segala perlengkapan yang dikumpulkan panitia, termasuk juga para tokoh adat disatukan. Panggung utama dibangun, tepat menghadap ke laut. Sepanjang malam, digelar doa dan zikir.

“Kami di sini masyarakat Islam, tradisi ini dipengaruhi juga oleh Islam,’’ kata Abbas.

Tidak mengherankan pada puncak ritual tanggal 18 Mei, dalam pembacaan doa, pemimpin doa membacakan shalawat nahdlatain, doa yang selama ini identik dengan jamaah Nahdlatul Wathan (NW), ormas Islam terbesar di NTB.

iring-iringan membaca alat tenun
Setiap hari, selama tiga hari, 15-17 Mei, para tokoh adat yang dipimpin sanro Puang Abbas melakukan doa keselamatan keliling kampung. Dimulai dari depan panggung utama, para tokoh adat, dan perwakilan warga dari keempat suku kumpul di atas panggung.

Para sanro perempuan akan memberikan sangkineh, atau yang dalam bahasa Sasak disebut sembeq, sebuah tanda di kening dan leher yang dibuat dari beberapa ramuan. Seluruh peserta yang akan mengiringi sanro harus mengenakan tanda itu. Setelah diberikan sembeq merah, dilanjutkan dengan kuning.

Sangkineh itu sekaligus menjadi penanda, bahwa hanya merekalah orang-orang terpilih yang boleh mengiringi prosesi. Saya pun membuktikan, dari beberapa warga yang ikut mengambil gambar, beberapa orang tidak diusik, sementara yang lain, termasuk saya beberapa kali didatangi oleh para perempuan penjaga yang kesurupan. Bahkan sampai ada yang dikejar.

“Oh iya, pantesan pak wartawan terus ditunjuk karena tidak lengkap, lupa yang warna kuning,’’ kata Mukti Ali menimpali, menujuk ke olesan ramuan yang dioleskan ke kening saya.
para gadis pantai

Panitia memberikan garis batas antara rombongan dan warga yang menyaksikan. Sebuah tali tambang, yang biasa dipakai menambat kapal mengelilingi rombongan. Warga lain harus ada di luar tali itu. Mencoba mendekat, para perempuan yang kesurupan itu akan mendatangi dan mengusir mereka sambil menangis.

Setelah selesai memberikan sangkineh, para tokoh adat ini turun panggung. Di bawah panggung sudah menunggu kerbau yang akan dikorbankan. Kepala kerbau itu akan dilarungkan pada puncak ritual. Sementara daging kerbau akan dibagikan pada anak-anak yatim.
Para sanro bergiliran menjampi kerbau itu, mengusap badan kerbau. Terakhir sanro Puang Abbas, mengusap kepala kerbau dan memasangkan “pakaian” warnah putih di atas punggung kerbau. Lima lelaki berpakaian serba hitam, satu orang memegang payung, satu orang membawa golok, siap mengiring kerbau itu ke laut, lalu mengelilingi setiap sudut kampung.

**************

Ritual selamatan laut ini juga bermakna sebagai upaya pelestarian ekologi pesisir. Para nelayan Tanjung Luar dilarang melaut selama 3 hari setelah puncak ritual, melarungkan (menghanyutkan) kepala kerbau. Larangan itu sebagai simbol agar nelayan memberikan kesempatan ikan-ikan bertelur dan tumbuh besar.

Seluruh perlengkapan rangkaian ritual yang digelar dalam Nyalamaq Dilauq itu sebenarnya simbol keseharian warga pesisir selatan Lombok Timur. Lihat saja, di bagian depan, ketika ritual mengarak kerbau keliling kampung dan pesisir, seorang sanro (dukun) wanita membawa lampu dari olahan nyamlung, kapas, dan minyak tanah yang bagi masyarakat Tanjung Luar disebut jajakah. Lampu itu adalah simbol pelita bagi nelayan. Itu melambangkan kehidupan dan kearifan nenek moyang para pelaut ini. Jejakah inilah yang di masyarakat Sasak disebut mal-mal, dinyalakan pada malam ganjil Ramadan, di 10 hari terakhir.

Kemudian ada juga bendera (ula-ula), dengan lima warna. Warna putih melambangkan Suku Bajo, warna kuning melambangkan Mandar, warna merah melambangkan Makassar, warna hitam melambangkan Bugis. Tentu saja ada bendera merah putih sebagai lambang keutuhan NKRI. Bendera itu dibawa lelaki berpakaian hitam dan mengenakan ikat kepala hitam. 

nyalamaq dialuq
atraksi pesilat di pinggir pantai
Sementara itu belasan gadis remaja, membawa alat-alat tenun di atas kepala mereka. Mengenakan pakaian adat khas Mandar, Bugis, Bajo, dan Makassar, mereka mengikuti iringan sanro dan kerbau itu.

“Pakaian yang kami kenakan itu berasal dari alat tenun itu. Dulu nenek moyang kita membuat sendiri pakaiannya,” kata Puang Abas, sanro menjadi pemimpin ritual Nyalamaq Dilauq. Puang, dalam bahasa Bugis, merupakan sebuah sebutan penghormatan untuk bangsawan.

Setelah ritual keliling kampung, yang kata Puang Abbas, sebagai sebuah rangkaian mendoakan kampung agar selamat dari mara bahaya, kerbau dikembalikan di kandang, dekat panggung utama. Disaksikan ribuan pasang mata, para pendekar pesisir itu menunjukkan kebolehan mereka bermain silat. Keris, badik, parang terlihat bersahabat di tangan mereka. Silat yang mereka peragakan itu, merupakan silat tradisional yang gerakannya diwariskan dari generasi ke generasi. Acara pada Sabtu (17/5), hari terakhir ritual keliling kampung itu ditutup dengan menyembelih kerbau. Menunggu esok pagi untuk dilarungkan.

************

“Kapal di depan itu minggir, kalau tidak tali kami putus,” teriak salah seorang panitia, melalui pengeras suara pada Minggu pagi (18/5).

Dia memberi peringatan pada sebuah perahu yang berlabuh tak jauh dari dermaga. Kapal itu dinilai menghalangi lalu lintas perahu yang merayakan puncak Nyalamaq Dilauq. Suara keras itu juga sebagai peringatan agar perahu besar itu mau melibatkan diri dalam perayaan. Saya kemudian naik ke salah satu peraha yang berukuran cukup besar, dikawal panitia, yang selalu mengingatkan di kapal itu ada wartawan yang membawa perlengkapan kamera. Itu untuk menghindari serangan pada saat perang air.

Hampir semua perahu, berbagai ukuran, dengan berbagai macam hiasan, termasuk bendera partai politik, mengiring proses pelarungan kepala kerbau. Mereka bersuka cita begitu sanro berhasil menemukan titik, setelah keliling sejam lebih.

nyalamaq dialuq
para peserta mengikuti ritual pelarungan
Titik tempat melepas kepala kerbau itu tidak boleh sembarangan. Sanro, dengan penerawangan spiritual, meyakini ada sebuah tanda batu di tengah lautan itu. Di tempat itulah kepala kerbau dilepas. Dan sejak itu, aturan larangan melaut berlaku.

“Hanya tiga hari tidak boleh melaut,” kata Puang Abbas.

Seluruh aktivitas di lautan, memancing, menjaring, atau menyelam mencari ikan dilarang total selama tiga hari pasca pelarungan itu. Dituturkan Puang Abbas, tradisi tak boleh melaut selama 3 hari itu diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak ada yang berani melanggar. Sanksi sosial menanti jika ada yang berani melanggar. Perahu bisa juga dirusak oleh warga.

“Sekarang tidak perlu kita umumkan sanksinya, masyarakat sudah paham aturan ini,” katanya.

Masa larangan melaut 3 hari ini, kata Puang Abbas, sebagai simbol menjaga keseimbangan isi laut. Masyarakat tidak serakah mengambil isi laut. Perlu masa istirahat, membiarkan ikan bertelur, tumbuh besar. Waktu 3 hari itu hanya sebagai simbol, bahwa nelayan Tanjung Luar juga arif dalam mengeksploitasi hasil laut.

bersenang-senang dengan perang air
Melalui rangkaian ritual Nyalamaq Dilauq itu juga, para nelayan mengungkapkan syukur mereka atas karunia Tuhan berupa ikan yang berlimpah. Para nelayan juga berdoa agar tangkapan pada musim melaut, setelah puasa menghasilkan rezeki yang besar.

“Kalau aktivitas di darat, menjual beli ikan masih boleh. Hanya aktivitas di laut yang dilarang,” ujarnya.

Aturan ini masih dijaga hingga sekarang. Bahkan sehari sebelum Nyalamaq Dilauq, tidak ada aktivitas melaut. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Luar pun sepi. Para nelayan hari itu sibuk mempercantik perahu mereka yang akan mengikuti prosesi Nyalamaq Dilauq. (*)

1 komentar:

  1. baru pertama kali mendengar prosesi ini di Lombok...
    semoga tetap lestari selamanya :D

    BalasHapus