Minggu, 07 Desember 2014

N. Marewo, Sastrawan dari Bima ( bagian 2 )

Marewo, Bima
N Marewo
Nama Marewo melejit sebagai novelis awalnya dari sebuah kebetulan. Saat itu, salah seorang pengunjung, mungkin pegawai koran Jawa Pos dititipi naskah novel oleh Marewo. Novel itu kemudian naik bersambung di Jawa Pos.

Marewo muda “galau” dengan keinginannya yang tiba-tiba ingin kembali ke Indonesia. Perjumpaan dengan orang Amerika, ketika dia berlibur, terbawa hingga ke Jerman. Pada akhirnya Marewo memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Saat itu dia kebingungan mencari alasan untuk kembali ke Indonesia. Hidupnya di Jerman sudah mapan dan serba berkecukupan. Satu-satunya alasan yang dipakai Marewo untuk kembali ke Indonesia adalah menyelesaikan kuliahnya.

Lama tinggal di Jerman, Marewo serasa menjadi turis di negeri sendiri. Apa yang dibayangkan tentang Indonesia ketika tinggal di Jerman di luar harapan. Situasi politik tidak kunjung membaik. Makin banyak pejabat korup dan nepotisme terjadi semua lapisan. Sementara warga miskin banyak tumbuh subur, di negeri yang subur ini. Kegelisahan Marewo tentang Indonesia itu sebenarnya sudah dituangkan ke dalam karya-karyanya ketika tinggal di Jerman, tapi belum semua diterbitkan.

Sekitar tahun 1992, Marewo tinggal di Bali. Dalam kondisi “terasing” di negeri sendiri, Marewo saat itu bekerja di salah satu perusahaan sepatu. Kebetulan kantor perusahaan itu ada di Bali.

Perkenalan Marewo dengan pemilik perusahaan itu secara kebetulan. Pada suatu malam Marewo diajak ke cafe di kawasan Kuta oleh sahabatnya, salah seorang putra pejabat orde baru. Di cafe itu dia mengenal kalau beberapa orang adalah orang Jerman. Marewo pun mengajak berbahasa Jerman. Orang Jerman itu kaget. Seorang warga lokal begitu fasih berbahasa Jerman, dan tahu seluk beluk Jerman. Sejak malam itu, Marewo akrab. Hingga akhirnya, seperti sebuah mukjizat, Marewo dipercaya untuk memegang perusahaan milik kenalannya itu. 

Lama tinggal di Jerman, lalu kembali ke Indonesia menjadi seorang manajer perusahaan yang cukup besar, Marewo adalah pribumi  yang menjadi turis. Marewo yang saat itu hidup dalam masyarakat kelas atas, justru dikenalkan tentang Bali dan Lombok oleh para turis asing. Sempat ketika Marewo berkunjung ke gili-gili di kawasan Lombok Barat, pemilik usaha mengira Marewo adalah guide. Tapi para bule yang menemani Marewo saat itu menuturkan jika Marewo adalah bos mereka.

Hidup dalam kemewahan, Marewo rindu dengan dunia lamanya : menulis. Di sela-sela kesibukan, dan aneka pesta kelas atas yang diikuti, Marewo sesekali mencurahkan emosinya dalam sebuah tulisan. Sebuah cerpennya dikirim ke koran lokal di Bali.

“Saya membeli koran itu khusus hari Minggu untuk melihat apakah karya saya naik atau tidak. Dan saya kecewa ketika minggu demi minggu tidak naik,’’ kenang Marewo.

Dalam kesibukannya, Marewo melupakan karya cerpennya itu. Hingga pada suatu hari, salah seorang sahabat mengabarkan jika namanya naik di koran itu. Namanya tercetak sebagai penulis cerpen. Mendengar kabar itu, Marewo berlari, mencari koran itu, dan berteriak keras. Dia bahagia cerpennya naik.

“Honornya seingat saya Rp 75 ribu. Tapi senangnya luar biasa. Padahal saat itu, semalam saya bisa menghabiskan jutaan di cafe-cafe Kuta,’’ katanya.

Marewo yang merasakan bahagia luar biasa memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai manajer. Banyak menyayangkan langkahnya itu. Tapi keputusan Marewo sudah bulat. Dia ingin mengerjakan apa yang mendatangkan kebahagian. Menulis.

Marewo kembali membongkar koper tua ketika dia tinggal di Jerman. Di koper itu banyak karya-karyanya yang belum dirampung, atau sudah rampung tapi belum diterbitkan. Salah satunya Lambo.

Novel itu, Lambo, sebenarnya ditulis Marewo ketika tinggal di Jerman, tepatnya di Berlin. Novel itu diselesaikan tahun 1990. Suatu hari Marewo ingin menyodorkan novel itu untuk dimuat di koran Jawa Pos. Tapi Marewo tidak memiliki kenalan. Dia juga malu.

Saat itu kebetulan dia bertemu orang, laki-laki. Dalam percakapan itu, orang itu mau ke Jawa Pos. Marewo pun menitip naskah itu. Setelah itu Marewo pulang. Tidak pernah mencari kabar tentang novelnya.

Suatu ketika secara kebetulan Marewo membaca koran Jawa Pos. Alangkah terkejutnya ketika tahu novelnya itu naik, menjadi cerita bersambung di Jawa Pos.

“Sudah belasan episode baru saya tahu kalau naik. Kebahagiaan saya saat itu luar biasa,’’ kata Marewo sambil mengepalkan tangannya menggambarkan ekspresi bahagianya saat itu.

Lantaran cerita Lambo dimuat di Jawa Pos, penerbit Bentang mau menerbitkan. Alasannya sederhana, koran Jawa Pos saja mau menerbitkan. Dengan pembaca yang banyak, tentu sudah banyak mengenal Marewo. Akhirnya Lambo itu menjadi novel pertama Marewo yang diterbitkan. Novel itu terbit tahun 1995.

Sambutan publik sangat besar pada novel itu. Nama Marewo langsung melejit. Banyak yang mencari novelnya. Dia dicari para mahasiswa untuk menulis skripsi maupun tesis tentang novelnya.

Kemudian Marewo berturut-turut menerbitkan novelnya. Satu Hari di Jogja (1998), Jangan Menangis Bangsaku (2000), Pulang (2001), Budak (2003), Filmbuehne am Stainplatz (2003), serta kumpulan cerpen Lalat-Lalat dan Burung-Burung Bangkai ( cerpen, 2004).

Karya-karya Marewo ini menjadi perbincangan kritikus, penikmat karya sastra, hingga mahasiswa. Karya Marewo saat itu memang berbeda dengan karya sastra kebanyakan. Marewo tidak mau ikut-ikutan latah, memenuhi trend pasar. Marewo konsisten dengan tema-tema kritik sosial.

Begitu juga dengan pilihan hidup, Marewo, seorang Mbojo asli yang pernah keliling dunia, hampir menjadi penduduk tetap Jerman, pernah menjadi manajer dan kaya raya, kini kembali ke kampung halaman. Di rumah sederhananya di Bima, dengan mobil tuanya, Marewo terus memompakan semangat pada generasi muda. Dari Bima, Marewo terus berkarya.

“Saya menulis bukan karena saya ahli, tapi karena ada panggilan jiwa,’’ kata Marewo seraya menghisap dalam-dalam rokoknya. (fathul/bisa juga dilihat di www.lombokpost.net)

N. Marewo, Sastrawan dari Bima (1)

marewo, bima
N Marewo
Di kampung halamannya, Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Bima, N. Marewo adalah lelaki biasa. Hanya para penggemar karya sastra yang tahu tentang nama besarnya di jagat sastra tanah air. Karya-karyanya yang semua berisi kritik sosial dikaji hingga mancanegara. Berbagai penghargaan pernah disabet, namanya bercokol sebagai salah satu novelis yang berpengaruh.

Di suasana malam Kota Bima, pertengahan November, Marewo berbagi kisah hidupnya. Beberapa kisah “kelam” juga diungkapkan malam itu. Tentu saja tidak bisa semua ditulis dalam berita. Ditemani gorengan, kopi, dan rokok, perbincangan pun menyentuh dini hari. Berikut kisah sastrawan dari Mbojo ini.

“Orang yang tidak kenal dengan bang Marewo mungkin akan menganggap N. Marewo itu sebagai Nyoman Marewo,’’ kata saya membuka percakapan.

Marewo langsung saja tertawa mendengar perkenalan pembuka itu. Malam itu, di awal perbincangan di kantor Radar Tambora (Lombok Post Grup), di Perumahan Pepabri Kota Bima, perbincangan seputar novel terbarunya Legian Kuta. Novel yang cukup hebih di Bali ini, diterbitkan oleh Pustaka Pelajar tahun setahun lalu.

Ya, Merewo yang berdarah Mbojo itu menulis tentang daerah Legian dan Kuta di Bali. Jika dicari penulis novel yang berlatar belakang dua daerah pariwisata di Bali itu, sepertinya belum ada yang menyamai detail penceritaan yang ditulis Marewo. Seolah-olah Marewo orang yang lahir dan besar di Legian dan Kuta.

“Saya suka gayamu membuka percakapan, ada-ada saja. Tapi benar juga, saya memang terlihat seperti orang Bali di dalam novel Legian Kuta,’’ kata Marewo seraya mengisap rokoknya.

Dalam novel itu, Marewo begitu apik menuturkan setiap sudut surga pariwisata Bali itu. Sejarah perkembangan pariwisata dibedah Marewo layaknya seorang sejarah. Walaupun bukan novel tentang promosi pariwisata, Marewo adalah penutur pariwisata yang ulung. Seluk beluk dunia pariwata, lengkap dengan dunia malam dikisahkan Marewo, seolah-olah dia adalah tokoh utama di dalam novel itu.

Marewo juga ibarat seorang detektif, membongkar persekongkolan kapitalisme. Dunia pariwisata yang penuh hingar bingar pada akhirnya akan dinikmati segelintir orang. Ciri khas Marewo dalam setiap karyanya, penuh dengan kritik sosial, juga ditampilkan dalam novel Legian Kuta itu. Pada akhirnya, pariwisata yang menjaja sekeping surga memarjinalkan masyarakat lokal. Sama persis dengan kawasan pariwisata di Lombok, Senggigi dan kawasan gili. Warga lokal pada akhirnya menjadi penonton.

Legian Kuta adalah novel terbaru Marewo. Rentang penerbitan novel itu, dengan karya lainnya cukup panjang, 9 tahun. novelnya yang banyak menjadi perbincangan para pengamat sastra, Filmbuehne am Stainplatz terbit pada tahun 2003. Jadi ada rentang waktu 10 tahun bagi Marewo untuk menerbitkan karyanya. Dan waktu panjang menyiapkan novel Legian Kuta ini tidak sia-sia. Sejarah akan mencatat, inilah novel yang berkisah sisi lain pariwisata. Apresiasi para penulis dari Bali sendiri begitu besar, sebagai “orang luar”, pengamatan Marewo layaknya orang yang lahir dan besar di tanah dewata. Dia juga lebih bebas untuk menyampaikan kritik.

Novel Legian Kuta memang begitu hidup. Setiap kata yang tertulis dalam novel itu gambaran hidup Marewo. Ya, Marewo muda memang pernah menjajal Legian Kuta. Dia pernah merasakan kebebasan kehidupan malam, dengan segala kemewahan. Marewo muda saat itu masuk dalam kalangan kelas atas di tempat wisata itu. Marewo muda saat itu adalah seorang manajer sebuah perusahaan asing. Dari Legian Kuta lah, sebagian kisahnya dimulai.

Sejak masih remaja Marewo adalah petualang. Sebelum istilah backpacker trend seperti saat ini, Marewo remaja sudah memulai perjalanan. Pada tahun 1980 an, dia sudah terbiasa berkeliling Sumbawa, Lombok, Bali, Jogja, hingga ke Sumatera. Pada tahun 1987 dia mengunjungi Malaysia, dan negara-negara ASEAN lainnya. Hasil pengamatan perjalanannya itu kemudian dia tuangkan menjadi catatan harian, dalam bentuk cerita. Itulah yang kemudian menjadi cikal bakal novel Jagan Menangis Bangsaku, yang terbit pada tahun 2000.

Pada era itu, selain sebagai petualang, Marewo adalah penulis cerita pendek. Beberapa karyanya naik di berbagai media. Namanya sudah mulai populer. Tapi sayang, lantaran petualangannya itu, kuliahnya di jurusan Hubungan Internasional (HI) tidak dituntaskan.

Tidak cukup di sekitar ASEAN, Marewo juga melanglang buana ke negara-negara di Eropa, sampai Eropa. Pada suatu periode hidupnya, Marewo menetap di Jerman. Di Jerman, dia pernah tinggal di Berlin dan Frankfurt.

Marewo saat itu memang warga Jerman. Dia menikah dengan perempuan Jerman. Kelurga istrinya orang terpandang. Mereka tinggal di kawasan cuku elit di Jerman. Hidup Marewo saat itu layaknya seorang ekspatriat. Jika ingin liburan, Marewo dengan gampang melanglang buana ke Eropa dan Amerika.

Selama di Jerman, Marewo menulis cerpen dan novel. Tidak semua memang diterbitkan saat dia tinggal di Jerman itu. Tapi karya-karya yang masih dalam bentuk coretan itu dengan setia disimpan di tas miliknya. Selama tinggal di Jerman, Marewo mengaku cukup produktif menulis. Suasana di Jerman membuatnya betah berkutat dengan kata-kata.

“Kalau mau liburan saya gampang ke Eropa dan Amerika,’’ kata Marewo.

Pada suatu ketika, Marewo liburan ke Amerika. Liburan ke luar negeri adalah agenda rutinnya. Dalam perjalanan ke Amerika itu, dia bekenalan dengan seseorang. Dalam percakapan itu, orang itu heran dengan Marewo, seorang pemuda kampung bisa tinggal di kawasan elit di Jerman.

Percakapan mereka pun panjang lebar, hingga sebelum mereka berpisah, orang itu menyatakan dengan jujur jika dia kasihan dengan Marewo. Seorang pemuda idealis, masih muda yang lebih senang menjadi warga negara lain. Orang itu pun meminta Marewo berpikir ulang sebagai memutuskan apakah akan selamanya menjadi warga negara Jerman, atau pulang ke kampung halaman. Indonesia saat itu memang dalam kondisi politik yang kurang baik, kemiskinan, rezim otoriter, dan segudang masalah lainnya. Tapi orang yang ditemui Marewo di Amerika itu mengingatkan bahwa lebih bermanfaat seseorang bagi negaranya, walau hanya menjadi tukang sapu, ketimbang hidup mewah di negara lain.

“Sepulang ke Jerman kata-kata orang itu membebani saya. Saya tiba-tiba rindu kampung halaman,’’ kata Marewo. Akhirnya setelah 5 tahun menetap di Jerman, Marewo memutuskan harus kembali ke kampung halaman. Kisah itulah yang kemudian mengubah hidupnya. (fathul)