Minggu, 07 Desember 2014

N. Marewo, Sastrawan dari Bima (1)

marewo, bima
N Marewo
Di kampung halamannya, Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya Bima, N. Marewo adalah lelaki biasa. Hanya para penggemar karya sastra yang tahu tentang nama besarnya di jagat sastra tanah air. Karya-karyanya yang semua berisi kritik sosial dikaji hingga mancanegara. Berbagai penghargaan pernah disabet, namanya bercokol sebagai salah satu novelis yang berpengaruh.

Di suasana malam Kota Bima, pertengahan November, Marewo berbagi kisah hidupnya. Beberapa kisah “kelam” juga diungkapkan malam itu. Tentu saja tidak bisa semua ditulis dalam berita. Ditemani gorengan, kopi, dan rokok, perbincangan pun menyentuh dini hari. Berikut kisah sastrawan dari Mbojo ini.

“Orang yang tidak kenal dengan bang Marewo mungkin akan menganggap N. Marewo itu sebagai Nyoman Marewo,’’ kata saya membuka percakapan.

Marewo langsung saja tertawa mendengar perkenalan pembuka itu. Malam itu, di awal perbincangan di kantor Radar Tambora (Lombok Post Grup), di Perumahan Pepabri Kota Bima, perbincangan seputar novel terbarunya Legian Kuta. Novel yang cukup hebih di Bali ini, diterbitkan oleh Pustaka Pelajar tahun setahun lalu.

Ya, Merewo yang berdarah Mbojo itu menulis tentang daerah Legian dan Kuta di Bali. Jika dicari penulis novel yang berlatar belakang dua daerah pariwisata di Bali itu, sepertinya belum ada yang menyamai detail penceritaan yang ditulis Marewo. Seolah-olah Marewo orang yang lahir dan besar di Legian dan Kuta.

“Saya suka gayamu membuka percakapan, ada-ada saja. Tapi benar juga, saya memang terlihat seperti orang Bali di dalam novel Legian Kuta,’’ kata Marewo seraya mengisap rokoknya.

Dalam novel itu, Marewo begitu apik menuturkan setiap sudut surga pariwisata Bali itu. Sejarah perkembangan pariwisata dibedah Marewo layaknya seorang sejarah. Walaupun bukan novel tentang promosi pariwisata, Marewo adalah penutur pariwisata yang ulung. Seluk beluk dunia pariwata, lengkap dengan dunia malam dikisahkan Marewo, seolah-olah dia adalah tokoh utama di dalam novel itu.

Marewo juga ibarat seorang detektif, membongkar persekongkolan kapitalisme. Dunia pariwisata yang penuh hingar bingar pada akhirnya akan dinikmati segelintir orang. Ciri khas Marewo dalam setiap karyanya, penuh dengan kritik sosial, juga ditampilkan dalam novel Legian Kuta itu. Pada akhirnya, pariwisata yang menjaja sekeping surga memarjinalkan masyarakat lokal. Sama persis dengan kawasan pariwisata di Lombok, Senggigi dan kawasan gili. Warga lokal pada akhirnya menjadi penonton.

Legian Kuta adalah novel terbaru Marewo. Rentang penerbitan novel itu, dengan karya lainnya cukup panjang, 9 tahun. novelnya yang banyak menjadi perbincangan para pengamat sastra, Filmbuehne am Stainplatz terbit pada tahun 2003. Jadi ada rentang waktu 10 tahun bagi Marewo untuk menerbitkan karyanya. Dan waktu panjang menyiapkan novel Legian Kuta ini tidak sia-sia. Sejarah akan mencatat, inilah novel yang berkisah sisi lain pariwisata. Apresiasi para penulis dari Bali sendiri begitu besar, sebagai “orang luar”, pengamatan Marewo layaknya orang yang lahir dan besar di tanah dewata. Dia juga lebih bebas untuk menyampaikan kritik.

Novel Legian Kuta memang begitu hidup. Setiap kata yang tertulis dalam novel itu gambaran hidup Marewo. Ya, Marewo muda memang pernah menjajal Legian Kuta. Dia pernah merasakan kebebasan kehidupan malam, dengan segala kemewahan. Marewo muda saat itu masuk dalam kalangan kelas atas di tempat wisata itu. Marewo muda saat itu adalah seorang manajer sebuah perusahaan asing. Dari Legian Kuta lah, sebagian kisahnya dimulai.

Sejak masih remaja Marewo adalah petualang. Sebelum istilah backpacker trend seperti saat ini, Marewo remaja sudah memulai perjalanan. Pada tahun 1980 an, dia sudah terbiasa berkeliling Sumbawa, Lombok, Bali, Jogja, hingga ke Sumatera. Pada tahun 1987 dia mengunjungi Malaysia, dan negara-negara ASEAN lainnya. Hasil pengamatan perjalanannya itu kemudian dia tuangkan menjadi catatan harian, dalam bentuk cerita. Itulah yang kemudian menjadi cikal bakal novel Jagan Menangis Bangsaku, yang terbit pada tahun 2000.

Pada era itu, selain sebagai petualang, Marewo adalah penulis cerita pendek. Beberapa karyanya naik di berbagai media. Namanya sudah mulai populer. Tapi sayang, lantaran petualangannya itu, kuliahnya di jurusan Hubungan Internasional (HI) tidak dituntaskan.

Tidak cukup di sekitar ASEAN, Marewo juga melanglang buana ke negara-negara di Eropa, sampai Eropa. Pada suatu periode hidupnya, Marewo menetap di Jerman. Di Jerman, dia pernah tinggal di Berlin dan Frankfurt.

Marewo saat itu memang warga Jerman. Dia menikah dengan perempuan Jerman. Kelurga istrinya orang terpandang. Mereka tinggal di kawasan cuku elit di Jerman. Hidup Marewo saat itu layaknya seorang ekspatriat. Jika ingin liburan, Marewo dengan gampang melanglang buana ke Eropa dan Amerika.

Selama di Jerman, Marewo menulis cerpen dan novel. Tidak semua memang diterbitkan saat dia tinggal di Jerman itu. Tapi karya-karya yang masih dalam bentuk coretan itu dengan setia disimpan di tas miliknya. Selama tinggal di Jerman, Marewo mengaku cukup produktif menulis. Suasana di Jerman membuatnya betah berkutat dengan kata-kata.

“Kalau mau liburan saya gampang ke Eropa dan Amerika,’’ kata Marewo.

Pada suatu ketika, Marewo liburan ke Amerika. Liburan ke luar negeri adalah agenda rutinnya. Dalam perjalanan ke Amerika itu, dia bekenalan dengan seseorang. Dalam percakapan itu, orang itu heran dengan Marewo, seorang pemuda kampung bisa tinggal di kawasan elit di Jerman.

Percakapan mereka pun panjang lebar, hingga sebelum mereka berpisah, orang itu menyatakan dengan jujur jika dia kasihan dengan Marewo. Seorang pemuda idealis, masih muda yang lebih senang menjadi warga negara lain. Orang itu pun meminta Marewo berpikir ulang sebagai memutuskan apakah akan selamanya menjadi warga negara Jerman, atau pulang ke kampung halaman. Indonesia saat itu memang dalam kondisi politik yang kurang baik, kemiskinan, rezim otoriter, dan segudang masalah lainnya. Tapi orang yang ditemui Marewo di Amerika itu mengingatkan bahwa lebih bermanfaat seseorang bagi negaranya, walau hanya menjadi tukang sapu, ketimbang hidup mewah di negara lain.

“Sepulang ke Jerman kata-kata orang itu membebani saya. Saya tiba-tiba rindu kampung halaman,’’ kata Marewo. Akhirnya setelah 5 tahun menetap di Jerman, Marewo memutuskan harus kembali ke kampung halaman. Kisah itulah yang kemudian mengubah hidupnya. (fathul)

0 komentar:

Posting Komentar