Senin, 27 April 2015

PACUAN KUDA : Joki Berjuang Demi Uang, Majikan Demi Gengsi



Pacuan kuda sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Bima dan Sumbawa. Setiap even ini digelar tidak pernah sepi dari penonton. Di balik hingar bingar itu, ada sebuah kontradiksi, joki dan juragan pemilik kuda. Jika sang joki cilik berjuang keras mencapai garis finis demi uang, sang juragan mengejar harga diri dan gengsi.  Jika kuda menjadi juara, tak penting lagi siapa joki penunggang di balik kesuksesan itu.

**********

Langit di Panda, Kabupaten Bima cukup bersahabat pada Minggu itu. (9/11/2014). Pada acara puncak pacuan kuda yang dihajatkan untuk memperingati HUT TNI ke-69 tersebut,  beberapa kali langit mendung, walau tak sampai hujan mengguyur. Setidaknya cuaca tersebut tidak terlalu menyengat penonton yang jumlahnya ribuan itu. Maklum saja, banyak penonton tidak kebagian tempat duduk di tribun penonton.

Begitu kuda dilepas dari box start, teriakan penonton memecah kedua sisi tribun, mengalahkan suara pelantang suara panitia. Para penonton, meneriakkan nama kuda andalan mereka. Tidak sedikit penonton berlari-lari, memutar sambil berteriak, walau pada akhirnya mereka dilarang mendekat di pagar arena pertandingan. Pacuan kuda kali ini merupakan pacuan kuda paling tertib dalam sejarah olahraga tradisional ini. Pemilik kuda, suporter, penonton tidak diizinkan mendekat ke pagar. Sebelum-sebelumnya, pemilik kuda bahkan bisa masuk ke arena lintasan sambil mengejar, memecut kudanya agar lebih berlari.
 
Sorakan kembali pecah ketika kuda memasuki finis. Pemilik kuda akan berlari bersorak, mengangkat tangan mereka, sambil menyebut nama kuda kesayangan mereka. Para suporter akan memberikan ucapan selamat pada pemilik kuda. Dari pelantang suara, diumumkan pemilik kuda harus naik ke podium menerima hadiah.

Sementara para pemilik kuda menerima hadiah, tak jauh dari podium, di bawah rimbun pohon, para joki asyik bercanda. Mereka menikmati es, bakso, dan aneka kue yang dijajakan pedagang keliling. Anak-anak yang rata-rata masih di bawah belasan tahun ini bercanda satu sama lain. Melupakan  pertarungan mereka di lintasan. Menunggu kembali dipanggil pemilik kuda lainnya untuk menunggang di arena lintasan.

Tugas joki berakhir ketika kuda sudah menyentuh garis finis. Anak-anak yang menunggang kuda ini tak pernah disebutkan siapa mereka, darimana asal mereka. Dalam pertandingan kuda yang sudah mentradisi ini, orang hanya mengenal siapa nama kuda dan siapa pemiliknya. Itulah sebabnya, para penunggang kuda ini tak pernah dipanggil naik ke podium untuk menerima hadiah.

Dalam sehari, para joki cilik ini bisa main 5 kali. Mereka menunggang kuda beda kelas, majikan yang berbeda. Bagi mereka siapa yang memberikan bayaran, maka dialah tuannya. Jika mereka bisa mencapai garis finis lebih depan, hadiah lebih besar dari sang majikan pemilik kuda.

Salah seorang Joki cilik, Abo, 5 tahun mengaku setiap kali tampil dia dibayar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Nilai itu kata putra dari pasangan Abdullah dan Siti Sarah ini tidak dipatok. Semakin sering joki itu memenangkan kuda pacuan, nilai bayarannya semakin tinggi pula.

Abo mengaku, dalam sehari dia bisa menjadi joki untuk lima hingga 10 ekor kuda. Hasilnya, dia bisa mendapatkan uang hingga Rp 1 juta.

Meski hasil yang diperoleh besar, tapi risiko yang dihadapi para joki cilik ini juga tinggi. Jika terjatuh saat pacuan berlangsung, bisa patah tulang atau meninggal dunia. Kalau lagi naas, joki bisa terinjak oleh kuda-kuda lain yang sedang berlari kencang. Belum lagi risiko kuda tidak bisa dikendalikan sehingga keluar lintasan. Kuda bisa menabrak pagar atau menabrak para penonton.

Kendati risiko yang dihadapi cukup parah, siswa kelas satu SD ini mengaku tidak pernah takut. Apalagi pekerjaannya sebagai joki didukung kedua orang tuanya.

“Saya senang bisa menunggangi kuda, saya bisa dapat uang dari pekerjaan itu,’’ kata bocah asal Desa Panda ini.
 
Jika para joki cilik ini berjuang demi uang, beda halnya dengan para pemilik kuda. Dibandingkan dengan pengeluaran mereka selama pertandingan, transportasi mengangkut kuda, pakan kuda selama pertandingan, dan pemeliharaan rutin, hadiah yang diterima jauh lebih kecil. Untuk juara I mendapat Rp 10 juta.

“ Jumlah hadiah tidak sebanding dengan biaya perawatan kuda,’’ kata Rosmini, salah seorang pemilik kuda.

Kuda miliknya, yang diberi nama Costarica mampu menjadi juara I pada salah satu kelas. Rosmini yang datang bersama ibunya, pada pertandingan kali ini membawa 14 ekor kuda. Dengan lama pertandingan 8 hari, jutaan rupiah dikeluarkan. Selama pertandingan, dia menginapkan kuda dan para staf pemelihara kuda tak jauh dari arena pertandingan.

“ Mengikuti pacuan kuda dan melihat juara menjadi kepuasan tersendiri bagi kami,’’ katanya.


Banyak diantara para joki ini yang terpaksa berhenti sekolah gara-gara pacuan kuda. Dalam satu kejuaraan, mereka bisa menginap di lokasi hingga berminggu-minggu. Sekolah terbengkalai. Belum ada solusi untuk mencarikan jalan keluar agar para joki ini bisa meneruskan pendidikan ketika jasa mereka sudah tidak dipakai lagi.

Awalnya bocah itu malu-malu bercerita. Ketika duduk dia seperti berusaha menyembunyikan sesuatu di paha kirinya. Berulang kali dia menurunkan celananya.

Cukup lama mengobrol, setelah saya menunjukkan bekas luka melintang di jidat dan pipi, barulah bocah yang mengenalkan dirinya bernama Surya itu menunjukkan sesuatu di balik celananya itu. Dia mengangkat celananya hingga ke betis. Dugaan awal saya benar. Dia menyembunyikan luka.

Luka yang cukup besar, yang hampir sebesar dengkulnya itu didapat Surya ketika menunggang kuda di arena pacuan kuda di Desa Panda Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima. Luka di atas dengkul itu, kala itu, sangat menyakitkan. Surya hampir tidak bisa berjalan.

Setelah sembuh, Surya kembali seperti sediakala. Ketika baru bisa berjalan, sembuh dari luka, dia sudah dikontrak dalam berbagai kejuaraan. Hingga menyeberang ke Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Surya mengaku tidak ciut ketika mendapat luka yang hampir membuatnya lumpuh itu. Dia selalu tertantang untuk menjajal keterampilan mengendalikan kuda tunggangan. Walaupun bayaran yang diterima tidak sebesar risiko cacat, bahkan nyawa.

Di usianya 13 tahun, Surya pernah berlaga di Sumbawa. Enam kali. Sekali musim kejuaraan, dia dibayar Rp 2 juta. Itu diluar bonus jika dia bisa mengantar kuda majikan menjadi juara satu.

Jam terbang Surya berlaga di arena pacuan kuda, sama juga dengan seringnya mencium tanah arena pacuan kuda. Bagi Surya, risiko terjatuh sudah dianggap biasa.

Bahraen, kakak Abo, salah seorang joki cilik, juga menuturkan adiknya telah menjadi joki sejak usia tiga tahun. Selama Abo belajar menjadi joki, sudah beberapa kali jatuh. Tapi diakui, Abo memiliki semangat pantang menyerah. Meski beberapa kali jatuh, tidak membuat nyalinya ciut.

Diakui, penghasilan sebagai joki dengan risiko yang dihadapi tidak sebanding. Tapi pekerjaan itu tetap menjadi kebanggaan, apalagi kuda yang ditunggangi  keluar sebagai pemenang.
 
Bahraen yang sebelumnya pernah menjadi joki mengaku,  banyak teman-teman joki seusianya meninggal dunia karena terinjak kuda saat pacuan. Hal itu tidak membuat dia melarang adiknya Abo menekuni pekerjaan sebagai joki. Sayangnya darah keluarga joki sudah terlanjur mengalir di dalam nadi Abo. Abo pun meneruskan profesi kakaknya.

Risiko terinjak kuda, luka, cacat, bahkan meninggal memang tidak sebanding dengan bayaran para joki ini. Begitu juga dengan gambaran masa depan mereka. Para joki ini sebagian besar putuh sekolah.

Seperti Surya misalnya. Dia tidak menyelesaikan sekolah dasar (SD). Ketika musim kejuaraan, dia bisa bolos hingga sebulan. Apalagi jika kejuaraan digelar di Sumbawa atau NTT. Surya bisa sebulan bolos sekolah. Akhirnya putusan yang diambil, berhenti sekolah.

Kasus putus sekolah seperti Surya seperti menjadi kebiasaan di kalangan joki cilik. Para orang tua, sepertinya mendukung juga profesi anak mereka. Tidak sedikit pula orang tua yang menggantungkan nasib dapur mereka pada anak-anak belia itu. Bayaran menjadi joki memang cukup besar jika kerap menjadi juara. Sehari mereka bisa mengantongi Rp 1 juta.

Ketika para joki cilik ini mengorbankan sekolah mereka, di usia mereka sudah belasan tahun, seumuran anak SMP, para joki ini sudah pensiun. Mereka sudah tidak dibutuhkan lagi. Badan mereka sudah terlalu besar. Dianggap bisa mengurangi kecepatan kuda. Mereka akan menjadi pengurus kuda. (*)

0 komentar:

Posting Komentar