Selasa, 23 Juni 2015

Pergasingan : Obat Rindu Para Pendaki

Bukit Pergasingan, Gunung Rinjani, Sembalun
para pendaki menuruni Bukit Pergasingan/foto:Fathul

Mendaki Gunung Rinjani menjadi impian banyak orang. Mengingat medan yang berat dan perjalanan panjang, tak semua orang bisa menaklukkannya. Tapi, ada pengobat rindu bagi mereka yang ingin menjejakkan kaki di Rinjani : Gunung Pergasingan. Nama gunung ini sedang nge-hits di kalangan pecinta perjalanan.



Butuh waktu panjang bagi Windah menyusun jadwal liburannya ke Lombok. Pecinta free diving ini sangat penasaran dengan ramainya informasi pariwisata Lombok. Beberapa tahun lalu dia memang pernah ke Lombok, tapi hanya singgah di Gili Trawangan. Setelah menimbang matang, penulis novel dan guru musik dari Makassar, Sulawesi Selatan,  ini mengajukan cuti dari tempatnya bekerja.

Di Jogjakarta, seorang mahasiswi pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Uzlifatul Azimiyati tidak perlu waktu lama ketika diajak mendaki Gunung Pergasingan. Aktif di dunia sosial media Facebook dan Twitter, Azmi-panggilannya- sudah lama penasaran dengan Pergasingan. Akhirnya dua gadis yang sama-sama penggemar karya sastra ini bertemu dalam sebuah pendakian Pergasingan.

Setelah saling menghubungi, rombongan kami akhirnya berjumlah delapan orang. Setelah berunding, kami memutuskan akan menginap di Pergasingan pada Jumat malam. Pertimbangannya, pada Sabtu malam terlalu banyak orang mendaki dan menginap. Informasi dari seorang sahabat trekking organizer (TO) di Sembalun, pada malam Minggu, pendaki bisa mencapai 100 orang.

Pendakian ke Pergasingan sebenarnya bisa ditempuh 2 jam. Tapi rombongan kami yang beragam, Azmi dan Windah dengan pengalaman pertama mendaki mereka, membuat kami harus jalan pelan. Suriani Mursal, pendaki lain juga meminta jalan pelan. Dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Mataram yang sering mendaki gunung ini berpendapat mendaki itu sebenarnya seni menikmati perjalanan. Akhirnya perjalanan menuju lokasi pendirian tenda memakan waktu 3 jam lebih. Bintang sudah terlihat ketika kami selesai mendirikan tenda. Pendapat Suriani benar juga, perjalanan menaklukkan tanjakan dengan kemiringan 45 derajat tidak terasa dengan obrolan ringan di setiap peristirahatan.
Bukit Pergasingan, Gunung Rinjani, Sembalun
Pendaki memasang tenda di Pergasingan/foto : Fathul
Begitu masuk gerbang pendakian Pergasingan kami memutuskan untuk mengukur setiap langkah. Bunyi nafas kelelahan, keringat yang cepat kering diterpa angin bagian perjalanan itu. Perjalanan mendaki adalah perjalanan melawan ego masing-masing. Harus mau saling menunggu. Semua memiliki tujuan yang sama. Menikmati bersama perjalanan itu adalah tujuan pendakian sesungguhnya.

Pergasingan, gunung yang baru setahun ini terkenal berada di Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Berada di sebelah timur, pintu masuk gunung ini melalui lapangan bola di desa itu. Dari lapangan itu menelusuri jalan kampung, bisa dilewati mobil, hingga akhirnya terhenti di sebuah jembatan. Biasanya para pendaki yang membawa kendaraan menitip kendaraan di ujung kampung itu.

Setelah masuk gerbang dan berjalan beberapa menit, perjalanan langsung disambut tanjakan. Untungnya pemerintah dan masyarakat membuat tangga semen di tanjakan pertama itu. Cukup melelahkan menaklukkan anak tangga ini. Tapi cukup membantu jika ingin beristirahat. Apalagi jika menolehkan kepala ke belakang. Hamparan Sembalun terlihat jelas. Rombongan kami memutuskan istirahat untuk melihat keindahan itu. Tapi tunggu dulu, bukankah semakin atas, hamparan Sembalun akan terlihat lebih luas lagi ?. Azmi dan Windah pun memutuskan untuk mempercepat langkah mereka, demi menikmati pemandangan yang lebih memesona.

Bukit Pergasingan, Gunung Rinjani, Sembalun

Langit mulai gelap saat kami di pertengahan jalan menaklukkan tanjakan. Asap dari pembakaran dan kabut dari perkampungan penduduk terlihat melayang-layang.  Sementara itu puncak Rinjani mulai terlihat kabur oleh kabut dan hari yang mulai gelap. Kami mempercepat langkah kaki. Walau makin lama kemiringan tanjakan semakin ekstrem, 60 sampai 70 derajat.

“Ketika istirahat, posisi tas ke arah tanjakan, bukan ke arah menurun. Bahaya kalau tertarik beban yang berat,’’ kata Teguh, anggota rombongan. Teguh merupakan anggota rombongan terkuat. Mahasiswa FPOK IKIP Mataram ini memang sudah sering mendaki. Dalam perjalanan kami, dia menawarkan diri membawa barang lebih banyak. Membawa tenda, matras, sleeping bag, dan tentu saja beberapa makanan pengganjal perut.

Dalam perjalanan kami ini banyak orang-orang baik yang membantu. Kami bertemu dengan seorang anak usia belasan tahun yang mengambilkan air minum ketika botol kosong. Kami bertemu dengan para pecinta alam yang membantu kami mendirikan tenda. Kami bertemu dengan kelompok pemuda yang menikmati liburan, tendanya tak jauh dari kami. Mereka mau berbagi kebahagiaan dengan menyanyikan lagu yang direquest rombongan kami. Kelompok mahasiswa IKIP dan Unram yang mau berbagi api unggun.
Bukit Pergasingan, Gunung Rinjani, Sembalun
deretan pepohonan /foto : Fathul

Kami harus sabar manati terbitnya mentari, dan itu bisa terlihat dari puncak Pergasingan. Kami mendirikan tenda sekitar 20 menit dari puncak. Salah satu punggung bukit tempat kami mendirikan tenda merupakan tempat favorit. Tempat paling indah, ketika matahari sudah muncul. Dan untuk itu, kami harus menunggu satu malam. Untungnya langit malam itu cerah. Bintang-bintang terlihat sempurna. Apalagi bulan juga tidak terlalu terang.  

Tanpa gitar, malam kami isi dengan bercerita. Ada yang bercerita konyol. Ada yang bercerita pengalaman pribadi. Sebab malam itu, beberapa diantara kami baru saling mengenal. Ada Susan, mahasiswi Unram, yang belajar menjadi pengusaha menuturkan beberapa kegagalannya. Pernah memegang uang berjuta-juta, pernah ditipu, dan sering kali terlalu banyak rekanan yang nakal. Yuni, calon mahasiswi yang penasaran ingin cepat mengenakan almamater setelah mendengar cerita kami yang sudah kuliah dan sudah menyelesaikan kuliah. Suriani Mursal, dosen baru yang sebulan sebelumnya menyelesaikan pendidikannya di pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta berkisah tentang pasangan hidup yang dipertemukan pendakian. Seorang pria dan perempuan yang bertemu ketika mendaki Rinjani, dan pada akhirnya mereka menikah. Kisah-kisah lainnya yang harus kami tahan dulu, karena malam sudah semakin larut.


**************
Bukit Pergasingan, Gunung Rinjani, Sembalun

Matahari pagi di gunung selalu terasa istimewa. Untuk bisa menikmati hangatnya butuh perjuangan keras. Butuh waktu tiga jam lebih mulai dari Sembalun ke lokasi camping. Butuh waktu 20 menit dari kemah menuju puncak Pergasingan. Suriani memang benar tentang makna mendaki, perjalanan itu sendirilah keindahannya. Ada sensasi ketika melihat matahari muncul dari punggung Pergasingan. Matahari yang setiap hari bisa kami lihat dari rumah masing-masing. Matahari pagi di puncak gunung memang lebih romantis.

“Ini adalah pengalaman pertama saya. Mataharinya gak kalah cakep dengan bintang-bintang semalam,’’ tulis Azmi dalam blognya setelah menyelesaikan pendakian Pergasingan.

Berada di ketinggian 1700 meter di atas permukaan laut (mdpl), udara Pergasingan mampu menembus jaket. Matahari pagi itu memberikan sedikit kehangatan. Gradasi warna langit dari gelap, perlahan memerah, dan pada akhirnya terang menjadi sensasi tersendiri. Di balik punggung bukit tempat matahari muncul, mata dimanjakan oleh pemandangan laut. Dua buah pulau, Gili Sulat dan Gili Lawang di Sambelia terlihat jelas dari kami berdiri.

“Wah amazing,’’ komentar singat Windah setelah kami turun dari puncak Pergasingan kembali ke lokasi berkemah.

Di hadapan kami terhampar pemandangan seluruh Sembalun. Rumah-rumah, sawah yang berderet rapi bak permadani yang digelar di lapangan. Warna daun sayur dan padi yang ditanam, dengan gradasi warna berbeda membuat mata kami tidak ingin cepat berpaling. Entah sudah berapa ratus foto yang diabadikan Ayie, anggota rombongan kami. Diambil dari sisi manapun, hamparan sawah itu tetap cantik. Sementara rumah-rumah penduduk, ibarat terjebak dalam sebuah mangkuk. Dikelilingi kawasan pergunungan, dengan Rinjani sebagai komandonya. Pemandangan inilah yang membuat Pergasingan menjadi buah bibir hingga ke mancanegara. Kami baru tahu, setelah pulang, tenda yang berdiri di bawah kami adalah rombongan wisatawan dari Singapura.

Perjalanan pulang menuruni Pergasingan kemudian terasa lebih bertenaga. Padahal semalam tenaga sudah terkuras saat mendaki. Kaki terasa berat, tapi kepuasaan menikmati matahari terbit di puncak Pergasingan membuat langkah ringan. Apalagi sepanjang turun, pemandangan “permadani” sawah-sawah selalu di depan mata. Ayie, mahasiswa STKIP Hamzanwadi Pancor yang membawa kamera harus rela berhenti berulang kali demi mengabadikan pemandangan itu. Dan tentu saja pose para pejalan. Azmi dengan pose mengenakan jaket kebesarannya “Universitas Gadjah Mada”, Windah dengan pose merentangkan tangan sambil tersenyum, Yuni dengan pose centilnya.

Perjalanan ke Pergasingan itu bukan menjadi akhir. Tapi menjadi awal persahabatan. Tiba-tiba seperti sudah saling mengenal lama. Windah memberikan oleh-oleh novel karyanya pada Azmi. Azmi menitip salam melalui Windah pada seorang penulis puisi dari Makassar, yang belakangan menyita waktu Azmi, menyerap keindahan bait puisi itu. Susan pada akhirnya tidak bisa menahan air mata ketika harus berpisah dengan Windah yang akan kembali ke Makassar. Mereka telah menjadi sahabat baru. Perjalanan ke gunung, adalah perjalanan persahabatan. (fathul) 

Uma Lengge, Warisan Masyarakat Agraris Bima


uma lengge, lumbung padi, bima
Kompleks uma lengge di Desa Maria
Petani Bima memiliki kearifan lokal dalam mengelola dapur mereka. Padi, sebagai makanan pokok harus diatur sedemikian rupa agar cukup hingga panen berikutnya. Masyarakat pun kemudian membangun sebuah lumbung padi, yang di Bima dikenal dengan Uma Lengge.


 

Ketika saya menjejak kaki di Kota Bima, saat itu musim kemarau. Pepohonan sedang merangas. Bukit-bukit yang membentengi Kota Bima kecoklatan. Semua rumput kering. Seorang sahabat, Ruslin, mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Bima menyarankan untuk kembali pada musim hujan. Kota Bima akan terlihat lebih cantik, dengan pemandangan laut dan bukit hijau setelah diguyur hujan.

Walaupun musim kemarau, sepanjang perjalanan dari Kota Bima menuju Desa Maria, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima terasa adem. Daerah yang akan kami tuju itu kawasan perbukitan. Walaupun sebagian besar pepohonan tidak berdaun, masih tersisa kesejukan hawa pegunungan. Melewati jalan mulus dan cukup lebar, perjalanan melewati jalan yang sepi pengendara itu terasa lebih cepat.

Tapi Ruslin keliru. Ketika hendak memasuki Desa Maria, saya menyaksikan hamparan sawah hijau. Tepat di bawah badan jalan yang kami lewati. Sawah itu berada di cekungan. Dengan irigasi yang bagus, sawah itu mendapat pasokan air, walaupun musim kemarau. Kami pun menyempatkan singgah melihat hamparan “karpet” hijau itu. Pemandangan yang langka di sepanjang perjalanan kami.
uma lengge, lumbung padi, bima

Desa Maria, Kecamatan Wawo, desa yang akan kami tuju berjarak 1 jam perjalanan sepeda motor dari Kota Bima. Daerah itu berada di kawasan pegunungan. Jalanan cukup menanjak. Tebing tinggi di sisi jalan, dengan bukit cadas di sisi lainnya. Jejak keberhasilan pembangunan infrastruktur jalan terasa ketika melewati jalan menuju desa itu.  Desa itu dikelilingi perbukitan. Tidak banyak lahan datar. Lahan datar untuk persawahan yang ditanami sekali setahun. Sebagian adalah sawah tadah hujan.

Berada di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan, fasilitas di Desa Maria tersedia. Sekolah tidak jauh, fasilitas kesehatan bisa diakses. Dan yang paling menarik dari desa ini adalah kerapian perkampungan. Memasuki permukiman, rumah-rumah panggung tertata rapi. Antara rumah satu dengan yang lain saling berhadapan. Walaupun hanya menggunakan pagar bambu sebagai pembatas halaman, perkampungan-perkampungan yang kami masuki begitu rapi. Rumah-rumah panggung juga terawat dengan baik. Warga desa ini memang dikenal rapi dan bersih. Itulah sebabnya Desa Maria kerap menjadi juara dalam hal kebersihan.

Matahari persis di atas kepala ketika kami sampai ke lokasi yang hendak dituju : kompleks Uma Lengge. Uma Lengge ini memang kesohor di Bima, termasuk juga dalam berbagai buku perjaanan. Uma Lengge di Desa Maria direkomendasikan sebagai salah satu destinasi wisata budaya.

Secara harfiah uma berarti rumah, lengge berarti rumah berbentuk kerucut. Uma Lengge, secara harfiah adalah rumah yang berbentk kerucut, bertiang empat, yang atapnya terbuat ilalang. Ketika melihat dari dekat, orang akan mudah menebak jika Uma Lengge adalah lumbung padi. Di Lombok disebut dengan lumbung atau sambik. Ya Uma Lengge adalah lumbung padi masyarakat Bima.

Uma Lengge terkenal lantaran berada dalam satu kompleks. Memasuki kawasan Uma Lengge ini, seperti memasuki sebuah perkampungan yang sepi. Bangunan rumah berdiri kokoh dan teratur rapi, dengan jalan setapak. Tapi tidak ada penghuninya.

“Ini yang membedakan Uma Lengge dengan lumbung di daerah lain,’’ kata Ketua Lembaga Adat Desa Maria M Hasan H Abu Bakar.

Di tempat lain, misalnya di Lombok Utara, lumbung padi memang masih dijumpai di kampung-kampung. Tapi biasanya lumbung padi itu berada di dekat rumah warga. Satu kompleks dengan permukiman. Sementara Uma Lengge dibangun dalam satu kompleks. Jaraknya cukup jauh dari perkampungan. Bahkan ada Uma Lengge yang pemiliknya tinggal 1 kilometer (km) dari lumbung penyimpanan padi itu.

Ada alasan tersendiri masyarakat Desa Maria membangunan Uma Lengge jauh dari rumah mereka. Pertimbangan adalah keamanan dan efisiensi. Dulunya Uma Lengge ditempatkan di dekat rumah warga, satu kompleks di perkampungan. Pada suatu ketika terjadi kebakaran rumah. Karena rumah warga Maria saat itu semuanya rumah panggung, api cepat menjalar. Naas, Uma Lengge juga ikut terbakar. Semua cadangan makanan habis dilalap si jago merah.

“Nah sekarang seandainya kebakaran rumah, anggota keluarga tidak akan kelaparan karena masih ada makanan,’’ kata pria 77 tahun ini.
uma lengge, lumbung padi, bima

Kelaparan akibat bencana kebakaran memang menakutkan bagi warga Maria. Dulu sebelum ada jalan sebagus saat ini, Desa Maria cukup terisolir. Dikelilingi perbukitan, akses keluar masuk cukup susah. Selain itu, air irigasi tidak tersedia sepanjang tahun. Kontur berbukit, dan sebagian lahan berupa ladang di perbukitan, membuat sawah di desa ini hanya bisa ditanami satu kali setahun. Sebagian besar sawah tadah hujan. Bisa dibayangkan dulu kesulitan warga Maria untuk memproduksi padi.

“Filosofi itu yang dipegang, walaupun sekarang mudah membeli beras di pasar,’’ katanya.

Dibangun dikompleks terpisah memang tidak mungkin terjadi kebakaran. Sebab tidak ada sumber api di kompleks Uma Lengge. Bencana yang memungkinkan hanya angin puting beliung yang bisa menerjang Uma Lengge, tapi bencana itu tidak menghancurkan gabah yang disimpan.

Berada jauh dari rumah tempat tinggal membuat masyarakat juga harus pandai mengatur beras yang akan dikonsumsi. Pengambilan gabah hanya satu kali seminggu. Sehingga ibu rumah tangga yang mengurus dapur, harus memperkirakan berapa takaran yang akan dimasak cukup untuk keluarganya seminggu ke depan.

“Kalau mengambil dua kali seminggu, orang kampung akan menilai keluarga itu boros,’’ katanya.

Begitu juga dengan penjualan gabah sangat tabu. Gabah yang dihasilkan dari sawah tadah hujan menjadi cadangan pangan selama setahun, sebelum panen berikutnya. Gabah yang disimpan di Uma Lengge harus benar-benar dihitung cukup untuk satu keluarga.

“Istilahnya kalau gabah dipakai untuk membeli pakaian, padinya menangis,’’ ujarnya.

Selain Uma Lengge, di kompleks itu juga terdapat Jompa. Jompa ini juga lumbung padi. Bedanya bangunan ini terbuat dari papan. Dindingnya papan. Atapnya bisa genteng atau seng. Memiliki fungsi sama dengan Uma Lengge. Hanya bahan bangunan yang berbeda. Aturan-aturan pemanfaatan Jompa, semisal pengambilan padi, juga sama dengan Uma Lengge.

Di tengah gempuran modernintas, misalnya wadah penyimpanan padi dari plastik atau berbagai jenis lainnya, warga Desa Maria masih menjaga tradisi leluhur mereka. Saat ini di kompleks Uma Lengge terdapat 115 buah Uma Lengge dan Jompa. Tidak semua kepala keluarga (KK) memang memiliki Uma Lengge atau Jompa. Alasan praktis bisa membeli beras tiap hari ke pasar, atau pedagang beras yang bisa membawa ke Desa Maria menjadi alasan.

Eksistensi Uma Lengge yang mulai dibangun sejak abad ke VIII ini menjadi bukti adaptasi masyarakat agraris di Desa Maria. Alam mereka yang tidak terlalu subur, sawah yang hanya bisa ditanami padi sekali setahun membuat mereka memutar otak untuk penyediaan pangan selama setahun. Gabah yang disimpan di Uma Lengge bisa memenuhi makanan pokok. Dengan pengaturan pengambilan yang ketat, dengan sindiran bagi yang boros membuat masyarakat Desa Maria tidak pernah rawan pangan. Kini, pemerintah melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP) pun mulai mengadopsi lumbung padi yang diciptakan masyarakat petani sebagai model ketahanan pangan, tentu dengan model lumbung modern. Bulog, institusi pemerintah yang mengatur penyimpanan beras pun mencontoh kearifan lokal petani dalam menyiapkan cadangan pangan. (fathul)