Kamis, 30 Juli 2015

Gili Kondo : Bermain Bareng Nemo

Gili Kondo, Gili Petagan, Gili Bidara, Snorkeling, Free Diving
Gugusan Gili Kondo, Gili Bidara, dan Gili Petagan di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, belakangan mulai kesohor. Tiga pulau tidak berpenghuni tersebut tak pernah sepi saat hari libur. Pantai yang indah dengan pasir putih menjadi daya tarik bagi muda-mudi yang senang selfie. Tapi ada keindahan lain di gugusan pulau tersebut: bermain-main dengan ikan.
*****************

Hari masih pagi.  Jalanan masih lengang. Orang-orang masih belum membuka pintu rumah. Warung makan belum juga buka sepanjang perjalanan. Rombongan kami beberapa kali berhenti mencari warung yang buka. Perjalanan dari Mataram cukup menguras tenaga. Perut belum terisi sejak pagi.

Akhirnya di salah satu warung, di Labuhan Lombok kami menemukan warung makan sederhana. Makanan masih panas. Mengganjal perut penting sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan gili yang berada di Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, itu. Apalagi perjalanan dari daratan menuju pulau itu memakan waktu 20 menit. Tak ada warung makan di pulau itu.

Sahabat kami, pemilik perahu, Pak Jef sudah menunggu sejak pagi buta. Lelaki dengan perawakan tinggi, berkulit hitam, dengan senyum tipis menyambut di pintu masuk menuju tempat sandar perahu. Padak Guar, tepatnya tak jauh dari lokasi pembangunan proyek listrik, beberapa nelayan melayani penyeberangan ke pulau itu. Tempat lainnya dari penyeberangan Gili Lampu atau dari Labuhan Lombok. Kami yang sudah beberapa kali menggunakan jasa Pak Jef memilih jalur Padak Guar itu. Jalur yang cukup dekat dengan Gili Kondo, dan memiliki tempat parkir kendaraan yang luas. Apalagi Pak Jef juga memberikan “bonus” istirahat singgah untuk membersihkkan badan di rumahnya.

Sementara Pak Jef menyiapkan perahu, kami berselonjor dan pemanasan. Kang Ican, pegawai PLN yang paling lengkap bawaan peralatan snorkeling dan kamera bawah lautnya paling sibuk. Semua kamera underwater harus dipastikan sudah penuh baterainya, memori kosong, dan tak ada celah terbuka. Sesekali mencoba selfie dengan tongsis yang sudah disiapkan.

Mesin perahu dinyalakan. Kami sudah tidak sabaran. Perjalanan kali ini, kami akan menjelajahi keindahan bawah laut di kawasan itu.

“Kalau ke Gili Kondo sudah sering, gak asyik snorkeling,’’ kata Ifath menyela.

Gili Kondo, Gili Petagan, Gili Bidara, Snorkeling, Free Diving
Spot pertama kami menuju Gili Petagan. Sebenarnya pulau kecil ini lebih tepat disebut hutan mangrove. Tak ada daratan. Hutan mangrove yang cukup lebat membentuk gugusan, saling menyambung dan terlihat seperti pulau. Tempat ini, menurut Pak Jef, tempat paling disenangi ikan nemo. Ikan lucu yang jinak ketika menyelam.  Baiq Apriany Wikananti paling tidak sabaran bertemu nemo. Padahal hampir tiap minggu pegawai di Setda Pemprov NTB ini snorkeling.  Jika namanya hobi tak ada namanya bosan.

Belum menjajal keindahan bawah laut di sekitar Gili Petagan kami disambut gugusan terumbu karang yang sehat. Air laut dangkal dan jernih membuat karang terlihat jelas. Seolah-olah perahu yang kami tumpangi akan menabrak karang itu. Raut wajah khawatir terlihat di wajah para penumpang. Bukan karena takut perahu terbalik, tapi takut karang rusak. Sebagai pengggemar snorkeling atau free dive, Ririn – panggilan akrab Baiq Apriany Wikananti, akan merasa berdosa jika sampai merusak terumbu karang.

“Bayangkan saja untuk tumbuh satu centimeter butuh bertahun-tahun. Tapi sangat mudah merusaknya,’’ katanya memberi wejangan agar rombongan berhati-hati ketika turun dari perahu.
Gili Kondo, Gili Petagan, Gili Bidara, Snorkeling, Free Diving
Pak Jef, yang sebelumnya pernah bekerja di salah satu biro perjalanan wisata juga sadar pentingnya menjaga kelestarian terumbu karang. Dia kini menggantungkan hidupnya dari usaha perahu yang mengantar wisatawan ke Gili Kondo. Jika terumbu karang lestari, berarti asap dapur di rumahnya akan tetap terjaga.

Pak Jef dan rekan-rekannya sesama pemilik perahu membuatkan tempat tambatan khusus, permanen di sekitar perairan yang kaya ikan itu. Beton diikat tali yang ditaruhkan pelampung sebagai penanda tempat menambat perahu. Kabar baiknya, tempat itu cukup dalam sehingga perahu tak akan menyentuh karang. Beton yang ditanam itu juga menjadi rumah baru bagi ikan.

Benar saja, begitu kami turun di tempat penambatan perahu, ikan warna warni sudah menyambut. Tak perlu beranjak jauh dari tempat menambat perahu, mata sudah dihibur dengan aneka ikan, dengan berbagai ukuran. Sayangnya diantara kami tidak ada yang tahu jenis ikan-ikan itu. Dan tujuan semua rombongan sepertinya sama : menemui nemo.

Ikan-ikan itu begitu jinak. Remah roti yang kami bawa menyelam diserbu. Kita bisa langsung memberikan makan ikan itu. Mereka tidak takut. Roti yang ditaruh di tangan pun dikejar. Mereka berebutan. Jika mau atraksi keren cobalah ini : masukkan remah roti dalam botol air mineral. Tahan nafas, menyelam, lalu hamburkan roti di sekitar tubuh anda. Anda akan dikepung ikan-ikan itu. Sensasi dikepung ratusan, bahkan ribuan ikan menjadi pengalaman paling seru dari snorkeling. Mata terhalangi memandangi terumbu karang, yang di beberapa titik berwarna warni.

Sejam tidak cukup untuk menjajal semua titik di sekitar Gili Petagan itu. Apalagi ketika sudah bertemu nemo. Ikan lucu yang makin dikenal lewat film Finding Nemo membuat popularitas ika yan besarnya tak lebih dari tiga jari ini melejit. Apalagi dia tinggal di perairan dangkal.
Gili Kondo, Gili Petagan, Gili Bidara, Snorkeling, Free Diving
Nemo bersembunyi di balik tumbuh-tumbuhan yang hidup di atas terumbu karang. Mereka ikan yang malu. Tapi ketika sudah diberikan makan, mereka akan mendekat. Bahkan kadang bisa dipegang. Di dalam sarang mereka bisa tinggal berdua, bertiga. Di tiap sarang itu jarang sendiri. Aksi mengintip, memunculkan badan, lalu sembunyi lagi menjadi sensasi bermain bersama nemo. Jika kuat menahan nafas bermenit-menit, rugi rasanya terlalu cepat berpisah dengan nemo. Mereka juga jinak, tak terganggu dengan benda, misalnya saja kamera underwater yang disimpan dekat sarang mereka. Nemo juga bisa diajak selfie. Tidak percaya ? Cobalah ke Gili Petagan.

Di kawasan Gili Petagan, Gili Bidara, Gili Kondo terdapat belasan titik snorkeling. Pemandangan bawah lautnya masih alami dengan terumbu karang yang sehat. Nelayan sekitar lebih banyak mencari ikan besar jauh dari sekitara pulau-pulau kecil itu. Lantaran ketiga pulau tersebut tidak berpenghuni dan tidak ada bangunan bungalow, restoran dan sejenisnya seperti di Gili Trawangan, lautnya tetap bersih. Hampir tidak ada yang mencemari. Itulah sebabnya hampir semua titik yang dangkal terjaga terumbu karangnya.

Beberapa kali kami pindah. Bermain bersama ikan-ikan, bertemu nemo. Kami juga mencoba free diving. Menyelam tanpa bantuan alat selam. Cukup mendebarkan. Menyelam hingga 5 meter lebih. Jika tidak terbiasa atau salah teknik, telinga bisa berdenging, bahkan bisa menyebabkan pingsan. Tapi ketika sudah tahu tekniknya, rasanya seperti terbang di dalam air. Di antara permukaan dan dasar, bisa melayang-layang. Apalagi jika di dasar terlihat karang warna-warni, maka jadilah free diving ini momen yang paling cantik difoto. 
Gili Kondo, Gili Petagan, Gili Bidara, Snorkeling, Free Diving
Tiga jam keliling sekitar pulau rasanya belum puas. Di sekitar pulau itu juga ada tempat yang layak dikunjungi : Gili Kapal. Ada juga yang menyebutkan Pulau Pasir. Pulau Pasir ini terbentuk di tengah-tengah perairan, berupa tumpukan pasir yang dihempas gelombang. Di satu titik gelombang dari berbagai arah bertemu di satu titik.Titik pertemuan itulah yang menyebabkan terbentuknya pulau baru. Pulau Pasir ini biasanya muncul siang hari dan pada kondi tertentu.

“Kalau pasang nanti tenggelam lagi pulau pasirnya,’’ kata Pak Jef.

Tiga jam berendam membuat energi terkuras. Inilah saat yang paling nikmat, menyantah nasi dengan lauk ikan plus sambel pedas. Ini sensasi lain liburan ke kawasan ini, makan siang di Gili Kondo.

Ketika kami sandar di Gili Kondo, matahari sudah di atas ubun-ubun. Pasir pantai terasa panas. Puluhan wisatawan duduk di berugak (sejenis gazebo) yang dibangun di Gili Kondo. Anak-anak, muda-mudi sibuk mengabadikan diri mereka berpose di plang nama Gili Kondo. Bergaya di pasir putih, dihempas ombak tak lepas dari bidikan kamera. Sementara itu, rombongan kami bertebuh di bawah pohon sambil membuka bekal.

Para wisatawan yang berlibur ke Gili Kondo lebih banyak sekadar duduk-duduk atau mandi di sekitar Gili Kondo. Bukan tempat yang bagus untuk snorkeling. Karang agak jauh. Berbahaya bagi yang baru belajar berenang. Gili Kondo memang lebih banyak dikunjungi untuk tempat kongkow-kongkow. Kadang ada yang camping. Menginap semalam. (fathul)

Kenawa : Tempat Liburan Paling Romantis




Pulau Kenawa, Sumbawa
Menikmati sepi, jauh dari hiruk pikuk kota, tak salah jika memilih Pulau Kenawa. Salah satu pulau dari gugusan “Gili Balu” di Kecamatan Pototano, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) tidak berpenghuni. Suguhan bukit Kenawa, padang rumput nan hijau, laut bersih dan view gunung Rinjani dan perairan Pototano menjadi momen tak terlupakan.




DEWI SATRIA ELMIANA sempat khawatir ketika kapal ferry yang membawanya dari Pulau Lombok mendekati Pelabuhan Pototano Sumbawa. Hujan mengguyur menjelang sore itu. Diguyur hujan saat liburan ke pantai adalah petaka. Serba tidak enak. Mau berteduh sudah terlanjur perjalanan jauh. Mau snorkeling, air laut kadang kurang bersahabat ketika hujan. Hari itu, Dewi, yang baru saja mendapat kabar gembira diterima beasiswa dokter (S3) ke New Zealand merencanakan camping di Pulau Kenawa. Dari foto-foto di media sosial dan video youtube, pulau tak berpenghuni itu membuatnya jatuh cinta.

Keberuntungan lagi bersama Dewi, begitu kapal merapat ke Pelabuhan Pototano, hujan reda. Malahan dia mendapat bonus pelangi. Pelangi di laut Pototano itu terlihat lebih indah dengan latar pulau-pulau kecil di sekitarnya, apalagi dai kejauhan tampak kapal lainnya yang akan berangkat ke Lombok.

Sesampai Pelabuhan Pototano, menaiki sepeda motor, Dewi bersama sahabatnya di perkampungan suku Bajo, sekitar 400 meter dari Pelabuhan Pototano. Lewat perkampungan pinggir laut itulah perjaanan akan dilanjutkan menuju Pulau Kenawa.

Keindahan kampung pesisir itu juga tidak kalah indah. Dermaga kayu yang menjorok ke laut menjadi tempat bermain favorit anak-anak pantai. Bagi wisatawan, rasanya rugi tidak mengabadikan foto di dermaga yang langsung viewnya Pelabuhan Pototano dengan deretan kapal ferry yang antre. Rumah panggung yang berderet, memantul di air kolam asin yang membatasi perkampungan dengan laut. Di belakang perkampungan itu, bukit-bukit tandus menambah keelokannya. Belum saja menjejak kaki ke Pulau Kenawa, rasanya sudah cukup puas menikmati pemandangan di dermaga kecil yang melayani rute ke Pulau Kenawa.
 
Pulau Kenawa, Sumbawa
Rombongan lain dari Kota Sumbawa, Lulu WS tiba juga di dermaga perkampungan Pototano itu. Dia datang bersama rekan-rekannya dari komunitas Adventurous Sumbawa, sebuah komunitas yang getol mempromosikan pariwisata Sumbawa. Pada hari itu juga, rombongan backpacker dari Batam akan menjadi rekan mereka camping di Pulau Kenawa.

Dari Kota Sumbawa perjalanan menuju dermaga Pototano itu kurang lebih 2 jam. Sementara dari Pulau Lombok, perjalanan menyeberangi Selat Alas kurang lebih 2 jam. Untuk mengenali dermaga penyeberangan ke Pulau Kenawa sangat mudah. Perkampungan terdekat dengan Pelabuhan Pototano adalah titik tolak menuju Pulau Kenawa. Ada gerbang penanda jika tempat itu penyeberangan ke Pulau Kenawa.

Matahari sudah jatuh ketika rombongan Dewi dari Lombok dan Lulus WS dari Sumbawa Besar tiba di dermaga. Akhirnya sore itu, rombongan memutuskan untuk menikmati detik-detik tenggelamnya matahari di dermaga kayu. Tak rugi menunggu rombongan lain. Pemandangan sore, dengan gradasi langit merah-jingga, cukup melepas lelah perjalanan dua jam.

 
Pulau Kenawa, Sumbawa
Penyeberangan ke Pulau Kenawa menggunakan perahu kayu nelayan. Ketika Pulau Kenawa belum booming, kapal-kapal kayu dengan kapasitas maksimal 20 orang itu dipakai menangkap ikan. Belakangan ketika Pulau Kenawa booming menjadi tujuan liburan, para nelayan lebih sering melayani penumpang, khususnya pada akhir pekan.

Ongkos kapal-kapal kayu itu relatif murah. Biasanya dicarter antar jemput. Tarifnya Rp 300.000 – Rp 400.000. Jika berkelompok harganya bisa lebih murah. Bayar saweran. Seperti rombongan Dewi dari Mataram dan Lulu dari Sumawa Besar, mereka hanya perlu mengeluarkan masing-masing Rp 18.000. Para nelayan di perkampungan itu ramah dengan wisatawan. Mereka siap antar jemput, kapan saja, selama cuaca bagus tentunya.

Perahu menembus malam. Lampu dari kapal ferry menyinari perairan Pototano. Aktivitas pelabuhan itu 24 jam. Perjalanan rombongan dengan perahu kayu tak perlu was-was walau membelah malam. Nakhoda memiliki jam terbang tinggi. Bertahun-tahun menembus ganasnya laut mencari ikan. Malam itu dia hanya mengantar tamu dengan jarak tempuk hanya 30 menit. Ombak malam itu sangat bersahabat. Langit sedang berada di pihak rombongan.

Tak salah promosi yang menyebut Pulau Kenawa sebagai tempat yang romantis. Malam hari, langit di Pulau Kenawa bertabur bintang. Seluas mata memandang, taburan bintang berkelap-kelip. Pekatnya malam, tanpa polusi lampu listrik, pemandangan langit di Pulau Kenawa bak menyaksikan lukisan cahaya di atas kanvas hitam. Bulan yang tak sempurna pun bisa menerangi Pulau Kenawa.

Udara malam di Pulau Kenawa tidak terlalu dingin atau tida terlalu panas. Hembusan angin juga tidak terlalu keras. Dan inilah yang paling membuat betah wisatawan : deburan ombak. Deburan pelan ombak itu seolah sapaan selamat datang. Dia siap menyambut ketika fajar menyingsing. Malam itu di dalam tenda, di bawah cahaya bulan-bintang, rombongan tertidur lelap.
 
Pulau Kenawa, Sumbawa

“Bangun-bangun, siap-siap kita melihat sunris,’’ kata Lulu membangunkan rombongan lain yang masih nikmat di dalam tenda. Selimut tebal yang membungkus badan tidak ditembus angin laut. Subhan, salah satu rombongan dari Sumbawa Besar harus beberapa kali dibangunkan agar sadar 100 persen.

Rupanya semalam ada rombongan lain yang tiba. Dua diantara mereka mengenalkan diri Choti dan Ester. Kedua gadis itu berasal dari Batam. Mereka datang jauh-jauh untuk menikmati sunrise dari Pulau Kenawa. Itulah sebabnya, mereka bela-belain menembus malam ke Pulau Kenawa. Mereka menyeberang sekitar pukul 10 malam.

Dari lokasi membangun tenda, rombongan bergerak ke arah barat pulau. Rupanya di lokasi itu berdiri menjulang bukit. Bukit Kenawa. Semalam tidak terlalu jelas. Pada menjelang pagi, bukit itu mulai menunjukkan dirinya. Menyusuri jalan setapak yang sering dilewati pejalan, perjalanan ke puncak bukit mudah. Tanpa bantuan lampu senter, rombongan tidak terpisah.

Teriakan gembira bersahutan ketika rombongan sampai ke puncak Bukit Kenawa. Tepat beberapa menit setelah sampai, matahari mulai muncul. Walaupun tidak langsung dari laut, tapi di balik deretan bukit di Pulau Sumbawa, pemandangan matahari terbit (sunrise) pagi itu membius para pejalan. Dewi yang menempuh perjalanan dari Mataram, Choti dan Ester yang perjalanan sehari dari Batam – Jakarta – Sumbawa untuk sekadar menikmati Pulau Kenawa merasa puas. Tidak rugi mereka menghabiskan waktu, tenaga, dan uang. Sunrise di Pulau Kenawa menjadi momen tak terlupakan bagi mereka.

Makin tinggi matahari, makin terlihat keelokan Pulau Kenawa. Berada di puncak bukit, seluruh pulau terlihat jelas. Rumput yang hijau di kala hujan, dan mulai besar ibarat permadani hijau yang digelar di halaman. Di sebelah timur, mata disuguhkan pemandangan bukit-bukit di Pulau Sumbawa. Samar-samar juga terlihat awan yang menutupi Desa Mantar, sebuah desa wisata di KSB yang dijuluki Desa di Atas Awan. Di sebelah barat, puncak Rinjani terlihat kokoh. Terpaan matahari pagi membuat puncak itu terlihat sedikit memerah.

 
Pulau Kenawa, Sumbawa
View seluruh Pulau Kenawa adalah foto terbanyak. Foto-foto itulah yang membuat banyak orang datang ke Pulau Kenawa. Hamparan padang rumput hijau manambah keeksotisannya. Dan ini dia momen terbaiknya : ketika berdiri sendirian di tengah padang rumput itu, lalu foto diambil dari arah bukit. Pulau Kenawa serasa milik sendiri. Kesunyian itulah yang mahal.

Pantai di Pulau Kenawa tidak kalah memikat. Pasir putih. Tapi memang tidak semua sudut cocok untuk snorkeling. Di beberapa titik ada palung yang cukup dalam. Arus juga agak keras, bergerak mengelilingi pulau. Karang ada di sekitar dermaga. Walau tidak terlalu banyak, tapi ikan-ikannya banyak. Pulau Kenawa yang jauh dari perkampungan, tanpa penghuni, memungkinkan biota lautnya terjaga.

Sayangnya keindahan Pulau Kenawa, termasuk keindahan lautnya tidak diimbangi dengan fasilitas. Walaupun ada berugak (gazebo) dan rumah-rumah panggung, kondisinya tidak terawat. Atap bolong. Dinding menganga. Begitu juga dengan toilet yang tersedia. Tidak pernah berisi air. Justru bau pesing yang tercium. Salah seorang wisatawan asing yang kebetulan kapal phinisi mereka singgah di Pulau Kenawa terdengar menggerutu ketika hendak buang air kecil. Jadi bagi wisatawan siap-siap saja urusan buang hajat dilakukan di pantai. (fathul)