Senin, 31 Agustus 2015

Desa Beleq Gumantar;Perkampungan Tradisional Terakhir di Lombok

desa tradisional, kampung tradisional, kampung adat lombok, gumantar, lombok

Banyak tempat yang disebut sebagai kampung tradisional. Sebut saja Sade (Lombok Tengah), Segenter (Bayan), Akar-Akar (Bayan), Senaru (Bayan), Limbungan (Pringgabaya Lombok Timur). Tapi di tempat-tempat tadi, perkampungan tradisional yang dicirikan dengan rumah tradisional sudah mulai berubah. Banyak yang tidak tahu, sebuah kampung yang berbatasan dengan hutan di Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, masih bertahan kampung tradisional. 100 persen rumah di kampung itu masih mempertahankan bentuk aslinya. Selain itu, ini yang nyaris susah ditemukan di “kampung tradisional lainnya”, seluruh pranata adat dan tradisi warisan leluhur masih terjaga di kampung ini. Nama kampung ini Desa Beleq. Masuk dalam wilayah Desa Gumantar.


***********

SAYA disambut belasan bocah usia antara 4 – 10 tahun ketika memasuki kampung itu, awal tahun 2015 lalu. Hari itu saya diundang acara maulid, acara yang sejak lama ingin saya ikuti di Desa Beleq Gumantar. Tradisi maulid masyarakat Lombok - peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW  - dirayakan dengan meriah. Masjid dan rumah warga tak pernah sepi di malam-malam maulid, yang bisanya dirayakan mulai 12 Rabiul Awal hingga seminggu ke depannya. Begitu juga di beberapa tempat di Lombok Utara, Sesait dan Bayan sudah lama kesohor dengan perayaan maulidnya yang “eksotis”. Di dua tempat ini, perayaan maulid digelar besar-besaran. Di tempat ini, perayaan maulid sangat khas, menyatu dengan budaya setempat. Maulid di dua tempat ini dikenal dengan maulid adat.

Beberapa kali mengikuti maulid di Bayan dan Sesait, maulid di Desa Beleq Gumantar memang berbeda. Ketika baru memasuki perkampungan saya langsung disambut dengan pakaian anak-anak itu. Laki dan perempuan menutup badan mereka dengan kain panjang. Caranya kain itu dililitkan di badan mereka, lalu kedua ujungnya diikat di belakang leher. Sebagian anak-anak, khususnya perempuan, bahkan menjadikan kain itu sebagai pakaian mereka.

“Acara sebentar lagi akan dimulai,’’ tegur sahabat saya, Jumayar, yang dengan ramah menyediakan rumahnya tempat saya menginap selama kegiatan maulid berlangsung.

Acara itu dimulai dengan pertempuan para tokoh adat, termasuk Jumayar, ke sebuah rumah. Rumah itu dipisahkan dengan rumah lain di dalam kompleks perkampungan itu. Rumah itu memiliki pagar pembatas. Rumah itu tempat tinggal pemimpin adat, rumah seorang mangku.

Gamelan dikeluarkan dari dalam rumah itu. Beberapa orang laki-laki berotot, tanpa mengenakan baju, bersarung, besapu’ (ikat kepala khas Lombok), dan tanpa alas kaki berjalan menuju hutan yang berbatasan dengan kampung itu. Sementara mereka berjalan di depan, puluhan anak-anak mengikuti dari belakang. Hutan yang mereka masuki itu adalah hutan adat. Di dalamnya muncul mata air yang tak pernah kering. Perlengkapan gamelan itu harus dimandikan sebelum dipakai untuk perayaan maulid hari itu.

Usai dimandikan, gamelan dibunyikan. Secara spontan, puluhan anak-anak itu mengiringi dengan tarian. Tanpa dikomando. Mereka berbaris rapi. Gerakan mereka sama. Secara teratur pula, mereka kembali mengiring kelompok penabuh gamelan kembali ke perkampungan

desa tradisional, kampung tradisional, kampung adat lombok, gumantar, lombok

Perkampungan, tempat pusat kegiatan maulid itu berbeda dengan kampung sekitarnya. Kali pertama saya berkunjung ke kampung itu, awal tahun 2010, sudah bisa menebak jika kampung itu “istimewa”. Dikelilingi oleh pagar dari tanaman hidup, seluruh rumah di dalam pagar itu masih mempertahankan bentuk keaslian rumah tradisional Lombok.

Atap rumah itu menggunakan ilalang. Temboknya menggunakan belahan bambu. Pintu mengenakan kayu yang diambil dari hutan setempat. Ketinggian pintu tak lebih dari 1,5 meter. Harus menunduk ketika masuk. Seluruh lantai rumah di dalam kompleks itu masih berupa tanah. Ada semen. Tidak ada penerangan listrik. Hanya boleh lampu petromax. Tapi belakang, di tahun 2012, mereka mulai menerima kehadiran listrik.

Tokoh adat Gumantar, Yurdin, yang pernah menjadi kepala dusun (Kadus) selama 22 tahun mengatakan jika listrik itu tidak mengubah kampung tradisional. Seperti halnya mereka menerima kehadiran teknologi baru lainnya : motor, handphone, radio, TV. Asalkan rumah-rumah di dalam kompleks itu terjaga bentuk keasliannya, mereka tidak melanggar adat.

Kompleks yang dikelilingi pagar tanaman hidup itulah satu-satunya kampung tradisonal yang tersisa. Di kampung tradisional lainnya, yang masih satu Desa Gumantar, Tenggorong misalnya, sudah banyak berdiri rumah permanen. Rumah permanen itu banyak dimulai oleh keluarga buruh migran.

Walaupun sudah ada listrik, tapi masih dibatasi di beberapa tempat. Misalnya di Bale Pegalan. Rumah kosong itu tidak sembarangan dijadikan sebagai pusat memulai berbagai ritual adat. Pemilihan rumah itu berdasar nilai historis. Bale Pegalan itu dikenal juga sebagai bangar desa. Bangar desa itu merupakan induk permulaan berdirinya sebuah komunitas adat. Di zamannya, bangar desa itu adalah bangunan pertama yang dibangun. Rumah pertama leluhur masyarakat adat Gumantar. Cikal bakal perkampugan masyarakat adat Gumantar dimulai dari bangunan itu.
desa tradisional, kampung tradisional, kampung adat lombok, gumantar, lombok
Bangunan itu tidak boleh diubah. Bentuknya saat ini merupakan bentuk sejak awal dibangun. Rumah-rumah warga boleh saja berubah, mengikuti perkembangan zaman. Modernitas boleh masuk ke rumah warga, tapi bangar desa itu harus tetap dipertahankan. Tapi tetap saja, bagi yang ingin rumah modern, tetap harus diluar kompleks pagar.

Sebagai rumah yang ‘’khusus’’ di masyarakat adat Gumantar, rumah itu tidak boleh dimasuki semua orang. Hanya para tokoh adat yang boleh masuk. Warga umum biasanya masuk ketika para tokoh adat rapat dan meminta bantuan. Selain itu rumah itu bisa dimasuki hanya saat diperbaiki. Seluruh warga bisa memasuki bagian dalam rumah itu saat membongkar dinding dan atap. Begitu juga saat memasang kembali mereka bisa masuk. Tapi tetap harus ada pengarahan dari para tokoh adat

Untuk membuka pintu Bale Pegalan itu, hanya mangku yang pertama membuka. Begitu juga untuk menutup pintu itu. keteraturan tugas itu sudah diatur secara turun temurun. Seluruh pranata adat masih ada dan berfungsi di Desa Beleq Gumantar. Mangku mengurus aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan ritual adat, penghulu yang berkaitan dengan urusan ibadah, raden bertugas sebagai mantri/tukang sunat, pemekel berkaitan dengan hukum adat, dan turun berkaitan dengan administrasi. Itulah sebabnya jabatan turun itu selalu melekat di kepala dusun (Kadus) yang diberikan secara turun temurun.

Seluruh kegiatan adat dipusatkan di Desa Beleq. Seperti kegiatan maulid adat. Gamelan dikeluarkan dari Desa Beleq, dimandikan ke mata air di hutan adat, kembali ke Desa Beleq. Kemudian anak-anak, dewasa, orang tua, menari mengiringi gamelan itu. Setelah malam, barulah kegiatan menabuh gamelan dan menari itu dilanjutkan di kampung-kampung lainnya.

Malam harinya barulah kegiatan di pusatkan di masjid kuno Gumantar, letaknya di Dusun Gumantar, sekitar 1,5 kilometer dari Desa Beleq. Di depan masjid kuno digelar peresean, seperti halnya di Bayan dan Sesait. Tapi di samping peresean, malam itu, selama semalam suntuk musik pengiring peresean juga diikuti tarian. Tua, muda, anak-anak, menari sepanjang malam.

Keberadaan bale pegalan di Desa Beleq juga yang membuat kompleks itu spesial. Hampir semua kegiatan adat dipusatkan di tempat itu. Misalnya kegiatan pegawe gumi (syukuran atas hasil panen), begawe beleq (pesta secara kolektif), dan maulid. Begitu juga acara-acara lainnya selalu dipusatkan di Desa Beleq. Peran sentral Desa Beleq inilah yang membuat para tokoh adat, masyarakat Desa Beleq tetap konsisten menjaga keaslian kompleks itu.
desa tradisional, kampung tradisional, kampung adat lombok, gumantar, lombok

JUMAYAR, 30 tahun, adalah generasi muda Desa Beleq Gumantar yang cinta dengan tradisinya. Setiap acara adat, pria beranak satu ini sering terlibat. Sebagai orang yang terdidik (dia mengenyam pendidikan di kampus), Jumayar cukup dipercaya.

Tapi, Jumayar, yang orang tuanya tinggal di dalam kompleks perkampungan tradisional itu, tak bisa lagi tinggal. Maklum saja, sebagai keluarga baru, mereka membutuhkan rumah. Sementara lahan di dalam kompleks perkampungan tradisional itu terbatas. rumah peninggalan orang tuanya juga tidak mungkin menampung banyak keluarga. Jumayar pun membangun rumah, tak jauh dari perkampungan tradisional. Karena dia membangun di luar kompleks, Jumayar boleh membangun permanen.

Di Desa Gumantar, ada tiga dusun yang sebelumnya diketahui memiliki perkampungan tradisonal. Kampung itu ada di Dusun Gumantar, Dusun Desa Beleq dan Dusun Tenggorong.

Kini di Dusun Gumantar dan Tenggorong tidak dijumpai kompleks permukiman tradisional. Kompleks perkampungan tradisional terakhir bertahan tahun 2010. Setelah itu banyak berdiri bangunan permanen.

Di Dusun Gumantar, tempat Masjid Kuno Gumantar berdiri, rumah tradisional bersisian dengan rumah modern. Tembok bata, atap genteng atau seng. Ada juga rumah masih mempertahankan pagar bambu, tapi atapnya seng. Lantai semen. Sebutan permukiman tradisional pun sepertinya tidak layak lagi dilekatkan pada Dusun Gumantar itu.

Patra adalah salah seorang warga Tenggorong yang sebelumnya tinggal di rumah tradisional. Tapi sejak tahun 2012 dia membangun rumah permanen. Rumah itu diapit oleh rumah-rumah tradisional, yang tiap tahun berkurang.

Tetangga Patra, Sumajan juga tergoda untuk mengganti rumahnya. Masih mempertahankan dinding bambu dan model ‘’dalam’’ rumah. Tapi atapnya sudah menggunakan seng. Sementara berugak (semacan gazebo) masih tegak di depan rumahnnya.
“Sulitnya bahan menjadi salah satu faktor yang membuat warga mengganti rumah mereka,’’ kata Yurdin.

Bahan yang paling sulit dicari adalah ilalang. 1 pikul ilalang kering dibeli dengan harga minimal Rp 60 ribu. Untuk perbaikan 1 atap rumah membutuhkan minimal 40 pikul. Sehingga untuk perbaikan 1 atap rumaha membutuhkan minimal Rp 2,4 juta. Cukup mahal bagi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

‘’Ilalang juga sulit dicari,’’ kata Jumayar.

20 tahun silam masih banyak kebun, ladang yang ditanami ilalang. Lambat laun kebun dan ladang ilalang itu hilang. Berganti dengan tanaman lain. Ilalang yang dibeli saat ini biasanya dari ladang yang tidak produktif untuk tanaman lain. Jumlahnya terbatas. Untuk renovasi rumah di Desa Beleq itu, warga perlu mengumpulkan ilalang hingga setahun lebih. Menunggu ilalang cukup.

‘’Kami datangkan dari luar Gumantar,’’ kata Jumayar menjelaskan ilalang yang banyak disimpan di samping berugak di Desa Beleq.(*)

















Senin, 24 Agustus 2015

Liburan ke Pulau Tak Berpenghuni

pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Bagi Anda yang ingin liburan membutuhkan ketenangan, pilihan mengunjungi pulau-pulau kecil (gili) tak berpenghuni di perairan selatan Lombok Timur adalah pilihan tepat. Tak ada penduduk, wisatawan yang datang terbatas. Jika menginap, Anda bisa menjadi raja di pulau-pulau itu. Dalam tulisan kali ini, saya membahas pulau-pulau yang ada di Kecamatan Jerowaru dan Kecamatan Keruak
***********
 KETIKA rombongan kami sampai, 10 orang wisatawan lebih dulu tiba. Mereka sibuk mengabadikan gambar dengan berbagai pose. Mereka tersenyum. Mereka melompat. Mereka memungut bintang laut, kemudian melepas kembali ke perairan. Gambar favorit adalah mereka berdiri di tengah pulau itu, sementara kapal mejauh. Jepret. Jadilah foto itu akan menjadi foto terbaik. Berdiri sendiri di sebuah gundukan pasir putih. Dikelilingi laut biru. 10 orang wisatawan itu berbahasa Melayu. Mereka wisatawan dari Malaysia. Hari itu kami bertemu di Pulau Pasir. Pulau yang kini sedang naik daun.

Pulau pasir merupakan pulau kecil yang seluruh permukaannya terdiri dari hamparan pasir putih. Tidak ada tanah dan pohon yang hidup di pulau ini. Tidak memungkinkan dijadikan tempat tinggal. Apalagi pada waktu tertentu, air pasang, seluruh hamparan pulau ini nyaris tenggelam. Pulau Pasir paling luas sekitar 5 hektare, biasanya pagi hingga siang. Saat itulah momen terbaik mengunjungi pulau yang masuk dalam wilayah Desa Maringkik, Kecamatan Keruak, Lombok Timur ni.

Bentuk pasirnya membentuk garis-garis bergelombang dengan satu titik puncak di bagian tengah. Garis-garis itu terbentuk oleh air laut yang surut-pasang. Jika dibadikan dengan lensa yang cukup lebar, garis itu membentu pola yang memikat para fotografer. Karena keunikan inilah, banyak pelancong kepicut mengunjungi Pulau Pasir. Tapi tenang saja, Pulau Pasir tidak akan pernah seramai Pantai Pink. Selain akses ke sana hanya melalui kapal, yang harus disewa Rp 500 ribu – Rp 750 ribu, artinya dikunjungi pelancong berkantong cukup tebal.

pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Tak jauh dari Pulau Pasir, hanya sekitar 200 meter ada Gili Kere. Disebut juga Gili Bembek (kambing). Dinamakan Pulau Kambing lantaran pulau itu kerap dijadikan lokasi pengembalaan kambing, atau menjadi kandang kambing warga Gili Maringkik, yang juga tak jauh dari Pulau Pasir.

Gili Bembek ini bisa dihuni. Terbentuk dari karang. Di atas lautan seperti puncak gunung yang muncul dari dasar laut. Jika berdiri dari Gili Bembek, Pulau Pasir nan eksotis itu adalah pemandangannya. Di sisi lain, Gili Maringkik bisa terlihat jelas. Karena kalah pesona oleh Pulau Pasir, Gili Bembek sangat jarang dikunjungi wisatawan. Nah di sinilah tempat asyiknya bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana sepi. Anda bisa menginap di Gili Bembek, tentu saja setelah bekerjasama dengan nelayan sekitar yang akan mengantar dan menjemput keesokan harinya.
pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Di dalam gambar itu terlihat sebuah daratan. Sepintas seperti menyatu dengan Lombok. Sebuah Tanjung.Dalam pelajaran geografi di bangku sekolah didefinisikan sebagai daratan yang menjorok ke laut. Tapi dalam peta itu, sambungan antara pulau Lombok dengan daratan itu terlihat samar, seperti sebuah benang tipis. Tidak menyatu, tapi juga tidak terputus total. Seperti ada daratan ‘’tipis’’ yang menghubungkan dua daratan itu.

Di dalam peta, daratan yang terhubung oleh garis tipis dengan Lombok itu masuk di kawasan hutan Sekaroh. Dalam sebuah liburan dari jalur darat, kami harus ‘’meraba’’ jalur. Tidak ada petunjuk jalan menuju daratan yang ditunjuk dalam peta itu. Jalan aspal memang ada di Sekaroh, tapi ujung jalan itu menuju Tanjung Ringgit , ujung lain menuju lokasi pembudidayaan mutiara. Tanpa petunjuk jalan, harus mencari celah jalan setapak diantara pepohonan. Panas terik hari itu, sejuk oleh pepohonan.

 pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Hanya berbekal ingatan pernah berkunjung ke tempat itu, jalan akhirnya kami temukan. Jalan setapak di tempat itu terlihat berbeda dengan tempat lainnya. Menunjukkan jalan itu sering dilewati kendaraan. Pelajaran sederhana dari pramuka, untuk mencari jejak yang kerap dilewati. Orang-orang di daratan dalam peta itu pasti sering lewat jalan setapat tersebut.
Perjalanan lima menit di dalam kawasan hutan itu, akihirnya tiba juga di tepi Pulau Lombok. Dari kejauhan terbentang hamparan pasir putih agak kekuning-kuningan. Di sisi kiri-kanan pasir putih itu air laut biru. Di bagian ujung hamparan pasir putih itu berdiri rumah-rumah panggung. Di ujung perjalanan, rombongan kami berdecak kagum melihat pemandangan di depan mata yang terbentang. Inilah yang disebut Gili Sunut.

Pulau seluas 7,5 hektara itu terpisah dengan Pulau Lombok. Jaraknya sekitar 300 meter. Tapi pada kondisi air laut surut, pasir putih naik ke permukaan. Seolah-olah air laut persis di tengah pulau yang menghadap ke Lombok terpisah, seperti cerita Nabi Musa membelah lautan. Air laut memang terbelah, ke kiri-kanan pulau. Di tenganya hamparan pasir putih selebar 50 meter membentang. Pasir putih itulah yang terlihat samar-samar menghubungkan Pulau Lombok dengan Gili Sunut.

Gili Sunut merupakan pulau karang. Dikelilingi oleh pasir putih, dan ajaib, pada sisi pulau yang menghadap ke Lombok terbentang pasir putih yang luas. Seperti atol di tengah lautan. Biasanya air laut itu ‘’terbelah’’ pada siang hari. Warga yang tinggal di pulau bisa jalan kaki kepulau Lombok. Pada kondisi air laut pasang,harus naik perahu.

Keindahan Gili Sunut rupanya lama dimonitor para investor. Tidak pernah dipromosikan pemerintah, Gili Sunut banyak menimbulkan penasaran ketika dibidik melalui peta satelit. Garis tipis yang menghubungkan antara Lombok dengan Sunut itulah yang membuat penasaran. Decak kagum keluar dari bibir setelah mereka melihat langsung ke lapangan.

pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Tidak lama kemudian, tahun 2009 lalu, investor asing ingin mengelola pulau itu menjadi kawasan pariwisata. Tidak berselang lama setelah menyatakan minat itu, investor itu langsung merencanakan pengembangan pulau yang dihuni 95 KK itu. Di jejaring dunia maya, gambar rencana pengembangan Gili Sunut sudah terpampang. Tiga tahun lalu, satu persatu penduduk Gili Sunut pindah ke daratan Pulau Lombok. Kini Gili Sunut adalah pulau tanpa penghuni.

Mengunjungi Gili Sunut saat ini serasa mendatangi pulau “hantu”. Bekas bangunan yang ditinggalkan warga seperti sebuah kota mati. Masjid masih bisa dikenali. Tak dirobohan. Tak mungkin dipindahkan. Bekas pondasi rumah masih terlihat. Beberapa rumah juga masih berdiri, dengan kondisi kotor. Petak-petak halaman masih bisa dikenali, walaupun sebagian mulai ditutupi ilalang lebat. Menelusuri bekas perkampungan itu seraya memasuki kota mati.

Gili Sunut memang bisa ditempuh melalui jalur darat. Tapi kini mulai banyak yang mengunjungi lewat jalur laut. Sekalian mengunjungi pulau-pulau kecil lainnya di kawasan selatan Lombok Timur, tepatnya wilayah Kecamatan Keruak dan Kecamatan Jerowaru.

Bersebelahan dengan sisi jalan pasir yang membelah lautan, Gili Sunut memiliki padang ilalang yang cukup luas. Saat musim kemarau, ilalang itu kering. Berwarna coklat. Saat mulai dibasahi hujan, kembali hijau. Saat itulah waktu terbaik untuk mengabadikan eksotisme padang ilalang dengan latar laut biru nan luas. Berkemah di padang ilalang, atau juga di pesisir pantai di Gili Sunut bisa menjadi momen liburan paling romantis.

pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
USAI menyantap makan siang : kepiting dan udang bumbu santan pedas, ikan bakar, dan pelecing, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan kami berikutnya Gili Petelu. Gili ini tidak sepopuler Gili Sunut dan Pulau Pasir. Tapi jangan salah, berkunjung ke gili ini bisa membuat anda malas untuk beranjak.

Mendekati Gili Petelu, mata dimanjankan dengan air laut yang jernih. Di beberapa titik terdapat karang yang masih terjaga. Ini adalah bonus liburan ke Gili Petelu. Menyelami keindahan dasar laut, sekaligus merasakan sensasi sebagai pemilik pulau.

Gili Petelu terdiri dari dua pulau utama. Ya dua pulau. Pulau yang satu dengan yang lainnya dipisahkan oleh laut ketika air pasang. Saat air surut, kedua pulau itu dihubungkan oleh jalan pasir. Seperti jalan antara Pulau Lombok dengan Gili Sunut.

Gili Petelu adalah pulau karang. Tidak banyak pepohonan besar. Dipenuhi ilalang. Dan ini yang membuat pelancong jatuh cintah : berdiri di salah satu tonjolan karang yang memisahkan dua pulau utama itu. Dengan latar langin biru dan awan putih, rasa-rasanya malas untuk beranjak.

Sayangnya keindahan Gili Petelu ini mulai dirusak oleh ulah sejumlah wisatawan tidak bertanggungjawab. Bungkus makanan ringan, botol bekas air minum menjadi sampah. Pelancong yang datang tak membawa kembali sampah mereka. Sampah itu mulai merusak mood kami. Seperti di Pantai Pink yang sudah terlanjur dikotori sampah, kondisi Gili Petelu juga mulai mengkhawatirkan. 


pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Gili Sunut, Pulau Pasir, Gili Petelu adalah tiga pulau tak berpenghuni yang paling dikenal. Di media sosial, tiga pulau ini paling sering diposting. Begitu juga di ulasan blog, tiga pulau ini menjadi favorit para blogger.

Sebenarnya di kawasan selatan Lombok Timur ini masih banyak pulau yang tak berpenghuni. Sayangnya belum semua pulau itu memiliki nama. Beberapa nelayan yang pernah kami tanya, jawaban mereka berbeda tentang nama pulau. Seperti penamaan Gili Kere dan Gili Bembek itu. Begitu juga dengan Pulau Pasir, diberikan nama seperti itu lantaran berupa gugusan pasir. Pulau pasir seperti ini juga ada di Kecamatan Sambelia Lombok Timur, tak jauh dari Gili Kondo.
pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Di kawasans selatan Lombok Timur, tepatnya di Desa Batunampar dan Desa Batunampar Selatan terdapat juga Pulau Pasir. Tapi tidak seluas Pulau Pasir yang bertetangga dengan Gili Maringkik itu. Begitu juga di Batunampar Selatan itu ada pulau kecil tak berpenghuni.

“Ini sebenarnya menjadi potensi pariwisata. Mengunjungi pulau-pulau kecil itu,’’ kata Kepala Desa Batunampar Selatan Mahnan Rasuli.

Kabupaten Lombok Timur memang terkesan setengah hati membangun pariwisata. Kawasan selatan yang memiliki pantai pasir putih, panjangnya berkilo-kilometer adalah potensi besar yang belum terjamah. Akses jalan menuju kawasan pantai itu tidak semuanya bagus. Apalagi fasilitas pendukung. Akhirnya pantai-pantai itu belum bisa memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah. (*)



Semangat Kemerdekaan dari Sekolah Terpencil


Jika melihat materi, barangkali sudah lama MI Nawwarul Uyun NW di Aro Inaq Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru tutup. Jika hanya melihat gaji, para guru di madrasah ini barangkali sudah lama berhenti mengajar. Tapi para guru di sekolah, yang kebetulan semuanya perempuan ini, tetap memilih mengabdi mendidik anak-anak mereka.

*********
Usia kehamilan Sri Wahyuni sudah tujuh bulan. Pada kehamilan anak keduanya ini, Sri, tetap pada aktivitas sehari-harinya. Di rumah menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga. Di sekolah dia kepala sekolah. Sri berumah di Desa Pare Mas. Jarak sekolah tempatnya mengajar ke rumah sekitar 8 km. Berada di daerah selatan Lombok Timur yang dikenal daerah kering, perjalanan dengan usia kandungan 7 bulan itu terasa berat. Dia berangkat sendiri. Suaminya, Murjiono, guru SD, mengajar tempat lain, yang jalurnya berbeda.

Jelang tanggal 17 Agustus lalu, Sri bertambah sibuk. Pada tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan, sekolah yang dipimpinnya akan menggelar upacara bendera. Upacara bendera bersejarah. Sejak berdiri, belum pernah sama sekolah sekolah itu menggelar upacara 17 Agustus. Apalagi upacara bendera hari senin. Tiang bendera pun tidak punya. Tiang bendera yang berdiri saat ini sumbangan donatur yang kebetulan sering lewat di jalan depan sekolah, jalan menuju kawasan Pantai Pink.
 
Sri merasa lebih bersemangat menyambut 17 Agustus kali ini. Selain menjadi hari bersejarah lantaran kali pertama menggelar upacara, petugas dan peserta upacara bendera di sekolah pada 17 Agustus juga istimewa. Petugasnya berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Tiga orang pengibar bendera berasal dari daerah yang berbeda, satu orang dari Lombok Tengah, satu orang dari Dompu, dan satu orang pengibar merupakan mahasiswa dari Bandung yang kini menempuh pendidikan di Taiwan.
 
Begitu juga dengan pembaca teks Proklamasi, berasal dari Medan Sumatera Utara. Pembaca UUD 1945 dari Mataram, pemimpin upacara dari Lombok Barat. Pembaca susunan upacara dua orang, satu orang presenter TV, satu orang dosen. Dirigennya seorang perempuan di Sumbawa Besar. 

“Kami sangat bersemangat dengan kehadiran para relawan. Ini menjadi motivasi kami para guru dan murid-murid kami,’’ kata Sri yang pada malam 17 Agustus, rumahnya kami pakai untuk menginap.

Selama ini Sri merasa pasrah dengan kondisi sekolah. Berada di jalur wisata selatan Lombok Timur tidak membuat sekolah ini membaik. Di kawasan selatan itu, kini mulai populer Pantai Pink, Jeeva Bloam, Tanjung Ringgit, Pantai Kaliantan, Pantai Cemara, dan jajaran pulau kecil tak berpenghuni. Investor sudah mulai membangun. Jalan sudah diperbaiki, sebagian hotmix.

Jika kondisi infrastruktur semakin membaik, kondisi MI Nawwarul Uyun justru makin memprihatinkan. Semua lantai ruang kelas bolong. Meja dan bangku tak lagi utuh. Jendela tak lengkap. Atap sudah mulai bocor. Jika hujan, air masuk ke dalam kelas.

“Beginilah kondisi sekolah kami,’’ kata Sri.

 
Sejak sekolah ini berdiri, Sri termasuk guru pertama. Itulah sebabnya dia dipercaya sebagai kepala sekolah. Yayasan tempat MI ini bernaung, Yayasan Ponpes Nawwarul Uyun NW berdiri tahun 2005. Dua tahun setelah yayasan berdiri, dibangunlan MI ini. Ruang kelas yang dibangun berjumlah 3 lokal. Bertahan hingga sekarang.

Menjadi kepala sekolah, kedengarannya prestisius. Tapi menjadi kepala sekolah di madrasah swasta, di tempat terpencil, di daerah yang sebagian besar penduduknya masuk kategori miskin menjadi tantangan berat. Kondisi itu setidaknya bisa dilihat dari fisik sekolah.
 
Jumlah murid MI Nawwarul Uyun 60 orang. Ada tiga lokal. Satu lokal diisi dua kelas. Ruang kelas disekat dengan tripleks. Di salah satu ruang kelas lainnya, disekat menjadi tiga. Dua untuk ruang kelas, satu ruang untuk guru. Para guru lebih banyak duduk di teras sekolah.
Semua guru di sekolah ini adalah perempuan. Kelas I dipegang oleh Suhaeni, kelas II Husna Julaeni, kelas III Baiq Yuliana, kelas IV Baiq Husnul Faizah, kelas V Masitah, kelas VI Emiliyawati. Tujuh perempuan perkasa inilah yang rela mengajar dengan pendapatan sangat rendah.

Tanpa menyebut berapa jumlah honornya, para guru perempuan di madrasah ini mengajar demi pengabdian. Tapi dari penuturan beberapa orang, guru di sekolah ini honornya tak lebih dari Rp 200 ribu per bulan. Itupun dibayarkan tiap triwulan. Itu kalau dana BOS cair. Dengan pendapatan kira-kira Rp 1 juta – Rp 1,5 juta per tahun, tentu saja tidak cukup untuk biaya hidup. Gaji habis untuk membeli bensin motor.

 

Bagi mereka gaji bukan segalanya. Sebagai ibu, Sri merasa begitu pentingnya pendidikan anak-anak. Dipilihnya madrasah ibtidaiyah (MI) agar memberikan pelajaran agama. Semangat itulah yang membuat Sri dan enam guru perempuan lainnya tetap bertahan dalam kondisi serba kekurangan itu.

Dana BOS memang satu-satunya andalan sekolah ini. Mengharapkan iuran dari orang tua sangat berat. Mau menyekolahkan putra putri mereka saja Sri sudah bersyukur. Sebab di kawasan itu masih ada anak yang tidak bersekolah. Bagi Sri, kehadiran mereka ke sekolah menjadi kebahagiaan yang tidak bisa dihargai dengan uang.

Sebagai kepala sekolah, tentu saja Sri mengharapkan sekolah yang dipimpinnya membaik. Bangunan membaik, fasilitas tersedia. Menurut Sri, seharusnya tidak boleh ada diskriminasi sekolah, sekolah negeri atau sekolah swasta, sekolah di kota atau sekolah di pelosok. Semua sekolah seharusnya diperlakukan sama, diberikan fasilitas yang sama.

“Walaupun ini jalur pariwisata, tapi kondisi sekolah di sini tidak membaik,’’ katanya.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nawwarul Uyun  H Taufik mengakui pihaknya belum bisa menyediakan fasilitas yang lebih baik. Ketika membangun yayasan pendidikan itu, alumni Ma’had Darul Quran Hadits (MDQH) Pancor ini, dia meniatkan agar anak-anak di kawasan selatan Lombok Timur itu bisa mengakses pendidikan yang dekat.

“Sekolah negeri di daerah selatan ini terbatas. Jarak ke sekolah cukup jauh. Itulah sebabnya kami membangun di pelosok,’’ katanya.

H Taufik memberikan apresiasi yang besar bagi guru-guru di MI Nawwarul Uyun. Walaupun semua gurunya perempuan, mereka tetap menjalankan kewajiban sebagai pendidik. Berada di daerah terpencil, tidak membuat guru-guru itu patah semangat. Dengan kondisi bangunan sekolah yang jelek tak menurunkan kualitas belajar.

“Para guru di sini memang luar biasa,’’ katanya.(*)







Rabu, 05 Agustus 2015

Pantai Nipah : Perpaduan Keindahan dan Kelezatan Ikan Bakar

pantai nipah, ikan bakar, lombok

Liburan praktis, murah, dan lengkap bisa didapatkan di Pantai Nipah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Anda bisa menikmati pantai berpasir hitam, pasir putih, laut bening, dan tentu saja kuliner ikan Nipah yang sudah kesohor itu. Bagi anda yang sibuk dan ingin pelesir ke tempat yang mudah dijangkau, Pantai Nipah adalah pilihan tepat.

********************
DULUNYA, ikan tangkapan nelayan di Dusun Nipah, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang dipasarkan begitu saja kepada para pengepul yang sudah menanti di pesisir pantai. Kini, sebagian besar dari mereka punya cara lain untuk meningkatkan nilai ekonomis dari biota laut hasil tangkapannya tersebut.

Sahmin, 40 tahun, salah seorang nelayan setempat baru saja menambatkan perahunya ke daratan. Dari hasil melautnya hari itu, ia membawa pulang satu bak berisi puluhan ikan tongkol.
Ikan-ikan segar tangkapan dibawa untuk dibersihkan. Agar tetap segar, puluhan ekor ikan itu dimasukan dalam freezer berupa box berisi potongan-potongan es batu. Saat cuaca buruk, nelayan di Dusun Nipah, termasuk Sahmin tak lagi menjual tangkapan mereka kepada pengepul. Ikan-ikan yang diperoleh, diolah sendiri untuk usaha kuliner.

“Hasil tangkapan ini tidak cukup untuk dipasarkan pada pengepul. Ini hanya untuk usaha ikan bakar,” kata Sahmin.

Istrinya sendiri, Kurniawati yang mengelola kuliner ikan keluarga Sahmin. Ia memiliki lapak khusus yang terletak persis di pinggir pantai. Lapaknya memang terbilang sederhana, hanya beratap jerami dan berdinding anyaman bambu. Sebagaimana hari biasanya, Kurniawati sibuk menyiapkan bumbu dapur untuk mengolah ikan-ikan segar tersebut. Racikan bumbu pedas khas Sasak disiapkannya, sembari menunggu ikan yang dipanggangnya cukup matang.

Sementara, satu rombongan keluarga sudah menanti di salah satu lapak milik Kurniawati. Mereka merupakan warga Kota Mataram yang menyempatkan diri untuk mencicipi kuliner ikan bakar di sana. Hanya butuh menunggu sekitar belasan menit, ikan bakar pun tersaji di hadapan mereka, lengkap dengan sayur bening dan aneka bumbu colek.

“Kebetulan saya sudah beberapa kali menikmati ikan bakar di sini. Kemudian saya rekomendasikan ke teman-teman dan sekalian saya ajak kemari,” kata Muhammad Safwan, bapak dua anak.

pantai nipah, ikan bakar, lombok
Menurutnya, yang menarik dari kuliner ikan bakar di Nipah adalah pembeli bisa memilih sendiri ikannya. Tongkol, kakap, pogot, kerapu, baronang, dan jenis ikan tersebut telah disiapkan pedagang dalam box pendingin. Tersedia dalam berbagai ukuran, menyesuaikan selera dan tentunya isi kantong mereka. Safwan yang datang bersama rombongan  keluarganya sengaja memilih ikan berukuran jumbo untuk disantap bersama.

Bicara soal harga pun cukup relatif, tak jauh berbeda dengan yang ditawarkan rumah makan di pusat kota. Harga bergantung pada jenis ikan maupun ukurannya. Kurniawati sendiri sudah menyiapkan timbangan khusus untuk itu.

 “Harganya cukup terjangkau mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 80 ribu. Kita bisa seusaikan dengan isi kantong,” katanya.

Disamping harga dan rasa, lokasi kuliner ikan bakar tersebut juga memiliki daya tarik tersendiri bagi Safwan. Sembari menikmati sajian ikan bakar, dua orang putranya, Jaka dan Reza, dan istrinya Fitri, dimanjakan oleh keeksotisan pemandangan pantai yang jelas terlihat dari lokasi tersebut. Mulai dari jejeran pohon kelapa yang menghiasi garis putih pantai. Hingga kejernihan air lautnya yang tak kalah elok. Juga ditemani semilir angin yang sejuk, lengkap dengan suara deru ombak yang menambah ketentraman suasana.

“Nipah memang lokasi liburan yang pas bagi keluarga,’’ kata penulis beberapa buku ini.
Safwan sendiri datang ke Nipah untuk mengambil foto dan wawancara. Dia berencana akan menerbitkan buku tentang kuliner dan wisata. Menurut penulis “NW Melompat” ini, kuliner Nipah memang memiliki ciri khas tersendiri. Ikan segar plus panorama pantai.

pantai nipah, ikan bakar, lombok
Perpaduan rasa dan keelokan alam di sana tak hanya memikat Safwan dan keluarganya. Terbukti, tak hanya lapak kuliner Kurniawati yang disambengi pembeli. Pengunjung lainnya pun nampak asik menikmati hidangan ikan bakar di sejumlah lapak yang kini ramai berjejer tak jauh dari milik Kurniawati.

Perkembangan kuliner ikan di kawasan Nipah tersebut berkembang sejak tahun 2012. Setidaknya, tercatat sekitar 80 lapak di sana yang siap melayani pecinta ikan bakar, 50 diantaranya berada di pinggir jalan dan sisanya menghiasi bibir pantai. Sama halnya dengan Kurniawati, sebagian besar pemilik lapak tersebut adalah keluarga nelayan setempat. Makin lama, jumlah lapak ini terus bertambah.

“Kebetulan suami saya nelayan dan sebagian dari hasil tangkapannya, kita olah untuk usaha kuliner ini. Keuntungan jadi bisa berlipat ganda,” terang Heratun, pemilik lapak kuliner ikan di pinggir jalan Nipah.

Inspirasinya memang datang dari Kurniawati yang lebih dahulu menggarap usaha serupa di pesisir pantai. Ia mengawalinya dengan modal sekitar Rp 3 juta untuk membangun lapak. Seiring waktu, usaha kuliner ikan tersebut terus dirasakan perkembangannya. Pengunjung pun datang dari berbagai tempat, sendiri, berpasangan, maupun rombongan.

Dalam sehari saja, Heratun mengaku beromsetkan sekitar Rp 300 ribu. Namun, untuk hari minggu omzet bisa naik tajam hingga mencapai Rp 2 juta, seiring dengan pengunjung yang kian ramai di akhir pekan.

“Biasanya, pengunjung paling ramai di akhir pekan. Sambil berwisata di pantai, mereka menyantap ikan bakar di sini,” katanya.

Akibat lonjakan jumlah pembeli tersebut, Heratun maupun para pedagang lainnya mengaku harus mendatangkan ikan dari luar Nipah. Biasanya mereka membeli ikan segar tambahan di Pasar Ampenan.

“Kalau hanya mengandalkan tangkapan ikan nelayan di sini, masih kurang. Jadi, kita tambah stok ikannya dari pasar kebon roek,” imbuhnya.

Dari usaha kuliner ikan bakar tersebut, kehidupan keluarga nelayan di kawasan itu pun mengalami kemajuan. Taraf perekonomian mereka terangkat. Keuntungan dari kuliner tersebut, dapat dimanfaatkan untuk biaya pendidikan anak-anak mereka. Bahkan, kala cuaca tak bersahabat seperti hari-hari belakangan ini. Finansial keluarga nelayan itu pun tak lagi memburuk.

pantai nipah, ikan bakar, lombok
Dukungan pemerintah sendiri bagi kemajuan usaha kuliner setempat cukup terlihat. Para pemilik lapak kuliner di sepanjang jalan Nipah pernah mendapat bantuan. Lapak mereka yang awalnya begitu sederhana dan terkesan asal-asalan, kini sudah direnovasi dengan anggaran pusat.

Meski diambut animo yang baik dari masyarakat dan ada perhatian dari pemerintah, para pedagang sendiri mengaku masih dihadapkan pada sejumlah kendala hingga kini. Salah satu yang menjadi keluhannya adalah pemagaran yang tengah dilakukan oleh pemilik lahan sekitar kawasan tersebut. Akibat dibangunnya pagar itu, keindahan panorama alam setempat menjadi terhalangi.

“Kita berharap pemerintah bisa mengkomunikasikan masalah ini kepada pemilik lahan,” kata Sunati.

Di samping itu, keberadaan fasilitas umum di kawasan Nipah pun dirasakan belum cukup memadai. Pengunjung kerap mengeluh lantaran harus menggunakan MCK sederhana yang dibangun seadanya oleh warga setempat menggunakan karung-karung bekas.(*)