Senin, 31 Agustus 2015

Desa Beleq Gumantar;Perkampungan Tradisional Terakhir di Lombok

desa tradisional, kampung tradisional, kampung adat lombok, gumantar, lombok

Banyak tempat yang disebut sebagai kampung tradisional. Sebut saja Sade (Lombok Tengah), Segenter (Bayan), Akar-Akar (Bayan), Senaru (Bayan), Limbungan (Pringgabaya Lombok Timur). Tapi di tempat-tempat tadi, perkampungan tradisional yang dicirikan dengan rumah tradisional sudah mulai berubah. Banyak yang tidak tahu, sebuah kampung yang berbatasan dengan hutan di Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, masih bertahan kampung tradisional. 100 persen rumah di kampung itu masih mempertahankan bentuk aslinya. Selain itu, ini yang nyaris susah ditemukan di “kampung tradisional lainnya”, seluruh pranata adat dan tradisi warisan leluhur masih terjaga di kampung ini. Nama kampung ini Desa Beleq. Masuk dalam wilayah Desa Gumantar.


***********

SAYA disambut belasan bocah usia antara 4 – 10 tahun ketika memasuki kampung itu, awal tahun 2015 lalu. Hari itu saya diundang acara maulid, acara yang sejak lama ingin saya ikuti di Desa Beleq Gumantar. Tradisi maulid masyarakat Lombok - peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW  - dirayakan dengan meriah. Masjid dan rumah warga tak pernah sepi di malam-malam maulid, yang bisanya dirayakan mulai 12 Rabiul Awal hingga seminggu ke depannya. Begitu juga di beberapa tempat di Lombok Utara, Sesait dan Bayan sudah lama kesohor dengan perayaan maulidnya yang “eksotis”. Di dua tempat ini, perayaan maulid digelar besar-besaran. Di tempat ini, perayaan maulid sangat khas, menyatu dengan budaya setempat. Maulid di dua tempat ini dikenal dengan maulid adat.

Beberapa kali mengikuti maulid di Bayan dan Sesait, maulid di Desa Beleq Gumantar memang berbeda. Ketika baru memasuki perkampungan saya langsung disambut dengan pakaian anak-anak itu. Laki dan perempuan menutup badan mereka dengan kain panjang. Caranya kain itu dililitkan di badan mereka, lalu kedua ujungnya diikat di belakang leher. Sebagian anak-anak, khususnya perempuan, bahkan menjadikan kain itu sebagai pakaian mereka.

“Acara sebentar lagi akan dimulai,’’ tegur sahabat saya, Jumayar, yang dengan ramah menyediakan rumahnya tempat saya menginap selama kegiatan maulid berlangsung.

Acara itu dimulai dengan pertempuan para tokoh adat, termasuk Jumayar, ke sebuah rumah. Rumah itu dipisahkan dengan rumah lain di dalam kompleks perkampungan itu. Rumah itu memiliki pagar pembatas. Rumah itu tempat tinggal pemimpin adat, rumah seorang mangku.

Gamelan dikeluarkan dari dalam rumah itu. Beberapa orang laki-laki berotot, tanpa mengenakan baju, bersarung, besapu’ (ikat kepala khas Lombok), dan tanpa alas kaki berjalan menuju hutan yang berbatasan dengan kampung itu. Sementara mereka berjalan di depan, puluhan anak-anak mengikuti dari belakang. Hutan yang mereka masuki itu adalah hutan adat. Di dalamnya muncul mata air yang tak pernah kering. Perlengkapan gamelan itu harus dimandikan sebelum dipakai untuk perayaan maulid hari itu.

Usai dimandikan, gamelan dibunyikan. Secara spontan, puluhan anak-anak itu mengiringi dengan tarian. Tanpa dikomando. Mereka berbaris rapi. Gerakan mereka sama. Secara teratur pula, mereka kembali mengiring kelompok penabuh gamelan kembali ke perkampungan

desa tradisional, kampung tradisional, kampung adat lombok, gumantar, lombok

Perkampungan, tempat pusat kegiatan maulid itu berbeda dengan kampung sekitarnya. Kali pertama saya berkunjung ke kampung itu, awal tahun 2010, sudah bisa menebak jika kampung itu “istimewa”. Dikelilingi oleh pagar dari tanaman hidup, seluruh rumah di dalam pagar itu masih mempertahankan bentuk keaslian rumah tradisional Lombok.

Atap rumah itu menggunakan ilalang. Temboknya menggunakan belahan bambu. Pintu mengenakan kayu yang diambil dari hutan setempat. Ketinggian pintu tak lebih dari 1,5 meter. Harus menunduk ketika masuk. Seluruh lantai rumah di dalam kompleks itu masih berupa tanah. Ada semen. Tidak ada penerangan listrik. Hanya boleh lampu petromax. Tapi belakang, di tahun 2012, mereka mulai menerima kehadiran listrik.

Tokoh adat Gumantar, Yurdin, yang pernah menjadi kepala dusun (Kadus) selama 22 tahun mengatakan jika listrik itu tidak mengubah kampung tradisional. Seperti halnya mereka menerima kehadiran teknologi baru lainnya : motor, handphone, radio, TV. Asalkan rumah-rumah di dalam kompleks itu terjaga bentuk keasliannya, mereka tidak melanggar adat.

Kompleks yang dikelilingi pagar tanaman hidup itulah satu-satunya kampung tradisonal yang tersisa. Di kampung tradisional lainnya, yang masih satu Desa Gumantar, Tenggorong misalnya, sudah banyak berdiri rumah permanen. Rumah permanen itu banyak dimulai oleh keluarga buruh migran.

Walaupun sudah ada listrik, tapi masih dibatasi di beberapa tempat. Misalnya di Bale Pegalan. Rumah kosong itu tidak sembarangan dijadikan sebagai pusat memulai berbagai ritual adat. Pemilihan rumah itu berdasar nilai historis. Bale Pegalan itu dikenal juga sebagai bangar desa. Bangar desa itu merupakan induk permulaan berdirinya sebuah komunitas adat. Di zamannya, bangar desa itu adalah bangunan pertama yang dibangun. Rumah pertama leluhur masyarakat adat Gumantar. Cikal bakal perkampugan masyarakat adat Gumantar dimulai dari bangunan itu.
desa tradisional, kampung tradisional, kampung adat lombok, gumantar, lombok
Bangunan itu tidak boleh diubah. Bentuknya saat ini merupakan bentuk sejak awal dibangun. Rumah-rumah warga boleh saja berubah, mengikuti perkembangan zaman. Modernitas boleh masuk ke rumah warga, tapi bangar desa itu harus tetap dipertahankan. Tapi tetap saja, bagi yang ingin rumah modern, tetap harus diluar kompleks pagar.

Sebagai rumah yang ‘’khusus’’ di masyarakat adat Gumantar, rumah itu tidak boleh dimasuki semua orang. Hanya para tokoh adat yang boleh masuk. Warga umum biasanya masuk ketika para tokoh adat rapat dan meminta bantuan. Selain itu rumah itu bisa dimasuki hanya saat diperbaiki. Seluruh warga bisa memasuki bagian dalam rumah itu saat membongkar dinding dan atap. Begitu juga saat memasang kembali mereka bisa masuk. Tapi tetap harus ada pengarahan dari para tokoh adat

Untuk membuka pintu Bale Pegalan itu, hanya mangku yang pertama membuka. Begitu juga untuk menutup pintu itu. keteraturan tugas itu sudah diatur secara turun temurun. Seluruh pranata adat masih ada dan berfungsi di Desa Beleq Gumantar. Mangku mengurus aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan ritual adat, penghulu yang berkaitan dengan urusan ibadah, raden bertugas sebagai mantri/tukang sunat, pemekel berkaitan dengan hukum adat, dan turun berkaitan dengan administrasi. Itulah sebabnya jabatan turun itu selalu melekat di kepala dusun (Kadus) yang diberikan secara turun temurun.

Seluruh kegiatan adat dipusatkan di Desa Beleq. Seperti kegiatan maulid adat. Gamelan dikeluarkan dari Desa Beleq, dimandikan ke mata air di hutan adat, kembali ke Desa Beleq. Kemudian anak-anak, dewasa, orang tua, menari mengiringi gamelan itu. Setelah malam, barulah kegiatan menabuh gamelan dan menari itu dilanjutkan di kampung-kampung lainnya.

Malam harinya barulah kegiatan di pusatkan di masjid kuno Gumantar, letaknya di Dusun Gumantar, sekitar 1,5 kilometer dari Desa Beleq. Di depan masjid kuno digelar peresean, seperti halnya di Bayan dan Sesait. Tapi di samping peresean, malam itu, selama semalam suntuk musik pengiring peresean juga diikuti tarian. Tua, muda, anak-anak, menari sepanjang malam.

Keberadaan bale pegalan di Desa Beleq juga yang membuat kompleks itu spesial. Hampir semua kegiatan adat dipusatkan di tempat itu. Misalnya kegiatan pegawe gumi (syukuran atas hasil panen), begawe beleq (pesta secara kolektif), dan maulid. Begitu juga acara-acara lainnya selalu dipusatkan di Desa Beleq. Peran sentral Desa Beleq inilah yang membuat para tokoh adat, masyarakat Desa Beleq tetap konsisten menjaga keaslian kompleks itu.
desa tradisional, kampung tradisional, kampung adat lombok, gumantar, lombok

JUMAYAR, 30 tahun, adalah generasi muda Desa Beleq Gumantar yang cinta dengan tradisinya. Setiap acara adat, pria beranak satu ini sering terlibat. Sebagai orang yang terdidik (dia mengenyam pendidikan di kampus), Jumayar cukup dipercaya.

Tapi, Jumayar, yang orang tuanya tinggal di dalam kompleks perkampungan tradisional itu, tak bisa lagi tinggal. Maklum saja, sebagai keluarga baru, mereka membutuhkan rumah. Sementara lahan di dalam kompleks perkampungan tradisional itu terbatas. rumah peninggalan orang tuanya juga tidak mungkin menampung banyak keluarga. Jumayar pun membangun rumah, tak jauh dari perkampungan tradisional. Karena dia membangun di luar kompleks, Jumayar boleh membangun permanen.

Di Desa Gumantar, ada tiga dusun yang sebelumnya diketahui memiliki perkampungan tradisonal. Kampung itu ada di Dusun Gumantar, Dusun Desa Beleq dan Dusun Tenggorong.

Kini di Dusun Gumantar dan Tenggorong tidak dijumpai kompleks permukiman tradisional. Kompleks perkampungan tradisional terakhir bertahan tahun 2010. Setelah itu banyak berdiri bangunan permanen.

Di Dusun Gumantar, tempat Masjid Kuno Gumantar berdiri, rumah tradisional bersisian dengan rumah modern. Tembok bata, atap genteng atau seng. Ada juga rumah masih mempertahankan pagar bambu, tapi atapnya seng. Lantai semen. Sebutan permukiman tradisional pun sepertinya tidak layak lagi dilekatkan pada Dusun Gumantar itu.

Patra adalah salah seorang warga Tenggorong yang sebelumnya tinggal di rumah tradisional. Tapi sejak tahun 2012 dia membangun rumah permanen. Rumah itu diapit oleh rumah-rumah tradisional, yang tiap tahun berkurang.

Tetangga Patra, Sumajan juga tergoda untuk mengganti rumahnya. Masih mempertahankan dinding bambu dan model ‘’dalam’’ rumah. Tapi atapnya sudah menggunakan seng. Sementara berugak (semacan gazebo) masih tegak di depan rumahnnya.
“Sulitnya bahan menjadi salah satu faktor yang membuat warga mengganti rumah mereka,’’ kata Yurdin.

Bahan yang paling sulit dicari adalah ilalang. 1 pikul ilalang kering dibeli dengan harga minimal Rp 60 ribu. Untuk perbaikan 1 atap rumah membutuhkan minimal 40 pikul. Sehingga untuk perbaikan 1 atap rumaha membutuhkan minimal Rp 2,4 juta. Cukup mahal bagi masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

‘’Ilalang juga sulit dicari,’’ kata Jumayar.

20 tahun silam masih banyak kebun, ladang yang ditanami ilalang. Lambat laun kebun dan ladang ilalang itu hilang. Berganti dengan tanaman lain. Ilalang yang dibeli saat ini biasanya dari ladang yang tidak produktif untuk tanaman lain. Jumlahnya terbatas. Untuk renovasi rumah di Desa Beleq itu, warga perlu mengumpulkan ilalang hingga setahun lebih. Menunggu ilalang cukup.

‘’Kami datangkan dari luar Gumantar,’’ kata Jumayar menjelaskan ilalang yang banyak disimpan di samping berugak di Desa Beleq.(*)

















0 komentar:

Posting Komentar