Senin, 24 Agustus 2015

Liburan ke Pulau Tak Berpenghuni

pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Bagi Anda yang ingin liburan membutuhkan ketenangan, pilihan mengunjungi pulau-pulau kecil (gili) tak berpenghuni di perairan selatan Lombok Timur adalah pilihan tepat. Tak ada penduduk, wisatawan yang datang terbatas. Jika menginap, Anda bisa menjadi raja di pulau-pulau itu. Dalam tulisan kali ini, saya membahas pulau-pulau yang ada di Kecamatan Jerowaru dan Kecamatan Keruak
***********
 KETIKA rombongan kami sampai, 10 orang wisatawan lebih dulu tiba. Mereka sibuk mengabadikan gambar dengan berbagai pose. Mereka tersenyum. Mereka melompat. Mereka memungut bintang laut, kemudian melepas kembali ke perairan. Gambar favorit adalah mereka berdiri di tengah pulau itu, sementara kapal mejauh. Jepret. Jadilah foto itu akan menjadi foto terbaik. Berdiri sendiri di sebuah gundukan pasir putih. Dikelilingi laut biru. 10 orang wisatawan itu berbahasa Melayu. Mereka wisatawan dari Malaysia. Hari itu kami bertemu di Pulau Pasir. Pulau yang kini sedang naik daun.

Pulau pasir merupakan pulau kecil yang seluruh permukaannya terdiri dari hamparan pasir putih. Tidak ada tanah dan pohon yang hidup di pulau ini. Tidak memungkinkan dijadikan tempat tinggal. Apalagi pada waktu tertentu, air pasang, seluruh hamparan pulau ini nyaris tenggelam. Pulau Pasir paling luas sekitar 5 hektare, biasanya pagi hingga siang. Saat itulah momen terbaik mengunjungi pulau yang masuk dalam wilayah Desa Maringkik, Kecamatan Keruak, Lombok Timur ni.

Bentuk pasirnya membentuk garis-garis bergelombang dengan satu titik puncak di bagian tengah. Garis-garis itu terbentuk oleh air laut yang surut-pasang. Jika dibadikan dengan lensa yang cukup lebar, garis itu membentu pola yang memikat para fotografer. Karena keunikan inilah, banyak pelancong kepicut mengunjungi Pulau Pasir. Tapi tenang saja, Pulau Pasir tidak akan pernah seramai Pantai Pink. Selain akses ke sana hanya melalui kapal, yang harus disewa Rp 500 ribu – Rp 750 ribu, artinya dikunjungi pelancong berkantong cukup tebal.

pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Tak jauh dari Pulau Pasir, hanya sekitar 200 meter ada Gili Kere. Disebut juga Gili Bembek (kambing). Dinamakan Pulau Kambing lantaran pulau itu kerap dijadikan lokasi pengembalaan kambing, atau menjadi kandang kambing warga Gili Maringkik, yang juga tak jauh dari Pulau Pasir.

Gili Bembek ini bisa dihuni. Terbentuk dari karang. Di atas lautan seperti puncak gunung yang muncul dari dasar laut. Jika berdiri dari Gili Bembek, Pulau Pasir nan eksotis itu adalah pemandangannya. Di sisi lain, Gili Maringkik bisa terlihat jelas. Karena kalah pesona oleh Pulau Pasir, Gili Bembek sangat jarang dikunjungi wisatawan. Nah di sinilah tempat asyiknya bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana sepi. Anda bisa menginap di Gili Bembek, tentu saja setelah bekerjasama dengan nelayan sekitar yang akan mengantar dan menjemput keesokan harinya.
pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Di dalam gambar itu terlihat sebuah daratan. Sepintas seperti menyatu dengan Lombok. Sebuah Tanjung.Dalam pelajaran geografi di bangku sekolah didefinisikan sebagai daratan yang menjorok ke laut. Tapi dalam peta itu, sambungan antara pulau Lombok dengan daratan itu terlihat samar, seperti sebuah benang tipis. Tidak menyatu, tapi juga tidak terputus total. Seperti ada daratan ‘’tipis’’ yang menghubungkan dua daratan itu.

Di dalam peta, daratan yang terhubung oleh garis tipis dengan Lombok itu masuk di kawasan hutan Sekaroh. Dalam sebuah liburan dari jalur darat, kami harus ‘’meraba’’ jalur. Tidak ada petunjuk jalan menuju daratan yang ditunjuk dalam peta itu. Jalan aspal memang ada di Sekaroh, tapi ujung jalan itu menuju Tanjung Ringgit , ujung lain menuju lokasi pembudidayaan mutiara. Tanpa petunjuk jalan, harus mencari celah jalan setapak diantara pepohonan. Panas terik hari itu, sejuk oleh pepohonan.

 pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Hanya berbekal ingatan pernah berkunjung ke tempat itu, jalan akhirnya kami temukan. Jalan setapak di tempat itu terlihat berbeda dengan tempat lainnya. Menunjukkan jalan itu sering dilewati kendaraan. Pelajaran sederhana dari pramuka, untuk mencari jejak yang kerap dilewati. Orang-orang di daratan dalam peta itu pasti sering lewat jalan setapat tersebut.
Perjalanan lima menit di dalam kawasan hutan itu, akihirnya tiba juga di tepi Pulau Lombok. Dari kejauhan terbentang hamparan pasir putih agak kekuning-kuningan. Di sisi kiri-kanan pasir putih itu air laut biru. Di bagian ujung hamparan pasir putih itu berdiri rumah-rumah panggung. Di ujung perjalanan, rombongan kami berdecak kagum melihat pemandangan di depan mata yang terbentang. Inilah yang disebut Gili Sunut.

Pulau seluas 7,5 hektara itu terpisah dengan Pulau Lombok. Jaraknya sekitar 300 meter. Tapi pada kondisi air laut surut, pasir putih naik ke permukaan. Seolah-olah air laut persis di tengah pulau yang menghadap ke Lombok terpisah, seperti cerita Nabi Musa membelah lautan. Air laut memang terbelah, ke kiri-kanan pulau. Di tenganya hamparan pasir putih selebar 50 meter membentang. Pasir putih itulah yang terlihat samar-samar menghubungkan Pulau Lombok dengan Gili Sunut.

Gili Sunut merupakan pulau karang. Dikelilingi oleh pasir putih, dan ajaib, pada sisi pulau yang menghadap ke Lombok terbentang pasir putih yang luas. Seperti atol di tengah lautan. Biasanya air laut itu ‘’terbelah’’ pada siang hari. Warga yang tinggal di pulau bisa jalan kaki kepulau Lombok. Pada kondisi air laut pasang,harus naik perahu.

Keindahan Gili Sunut rupanya lama dimonitor para investor. Tidak pernah dipromosikan pemerintah, Gili Sunut banyak menimbulkan penasaran ketika dibidik melalui peta satelit. Garis tipis yang menghubungkan antara Lombok dengan Sunut itulah yang membuat penasaran. Decak kagum keluar dari bibir setelah mereka melihat langsung ke lapangan.

pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Tidak lama kemudian, tahun 2009 lalu, investor asing ingin mengelola pulau itu menjadi kawasan pariwisata. Tidak berselang lama setelah menyatakan minat itu, investor itu langsung merencanakan pengembangan pulau yang dihuni 95 KK itu. Di jejaring dunia maya, gambar rencana pengembangan Gili Sunut sudah terpampang. Tiga tahun lalu, satu persatu penduduk Gili Sunut pindah ke daratan Pulau Lombok. Kini Gili Sunut adalah pulau tanpa penghuni.

Mengunjungi Gili Sunut saat ini serasa mendatangi pulau “hantu”. Bekas bangunan yang ditinggalkan warga seperti sebuah kota mati. Masjid masih bisa dikenali. Tak dirobohan. Tak mungkin dipindahkan. Bekas pondasi rumah masih terlihat. Beberapa rumah juga masih berdiri, dengan kondisi kotor. Petak-petak halaman masih bisa dikenali, walaupun sebagian mulai ditutupi ilalang lebat. Menelusuri bekas perkampungan itu seraya memasuki kota mati.

Gili Sunut memang bisa ditempuh melalui jalur darat. Tapi kini mulai banyak yang mengunjungi lewat jalur laut. Sekalian mengunjungi pulau-pulau kecil lainnya di kawasan selatan Lombok Timur, tepatnya wilayah Kecamatan Keruak dan Kecamatan Jerowaru.

Bersebelahan dengan sisi jalan pasir yang membelah lautan, Gili Sunut memiliki padang ilalang yang cukup luas. Saat musim kemarau, ilalang itu kering. Berwarna coklat. Saat mulai dibasahi hujan, kembali hijau. Saat itulah waktu terbaik untuk mengabadikan eksotisme padang ilalang dengan latar laut biru nan luas. Berkemah di padang ilalang, atau juga di pesisir pantai di Gili Sunut bisa menjadi momen liburan paling romantis.

pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
USAI menyantap makan siang : kepiting dan udang bumbu santan pedas, ikan bakar, dan pelecing, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan kami berikutnya Gili Petelu. Gili ini tidak sepopuler Gili Sunut dan Pulau Pasir. Tapi jangan salah, berkunjung ke gili ini bisa membuat anda malas untuk beranjak.

Mendekati Gili Petelu, mata dimanjankan dengan air laut yang jernih. Di beberapa titik terdapat karang yang masih terjaga. Ini adalah bonus liburan ke Gili Petelu. Menyelami keindahan dasar laut, sekaligus merasakan sensasi sebagai pemilik pulau.

Gili Petelu terdiri dari dua pulau utama. Ya dua pulau. Pulau yang satu dengan yang lainnya dipisahkan oleh laut ketika air pasang. Saat air surut, kedua pulau itu dihubungkan oleh jalan pasir. Seperti jalan antara Pulau Lombok dengan Gili Sunut.

Gili Petelu adalah pulau karang. Tidak banyak pepohonan besar. Dipenuhi ilalang. Dan ini yang membuat pelancong jatuh cintah : berdiri di salah satu tonjolan karang yang memisahkan dua pulau utama itu. Dengan latar langin biru dan awan putih, rasa-rasanya malas untuk beranjak.

Sayangnya keindahan Gili Petelu ini mulai dirusak oleh ulah sejumlah wisatawan tidak bertanggungjawab. Bungkus makanan ringan, botol bekas air minum menjadi sampah. Pelancong yang datang tak membawa kembali sampah mereka. Sampah itu mulai merusak mood kami. Seperti di Pantai Pink yang sudah terlanjur dikotori sampah, kondisi Gili Petelu juga mulai mengkhawatirkan. 


pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Gili Sunut, Pulau Pasir, Gili Petelu adalah tiga pulau tak berpenghuni yang paling dikenal. Di media sosial, tiga pulau ini paling sering diposting. Begitu juga di ulasan blog, tiga pulau ini menjadi favorit para blogger.

Sebenarnya di kawasan selatan Lombok Timur ini masih banyak pulau yang tak berpenghuni. Sayangnya belum semua pulau itu memiliki nama. Beberapa nelayan yang pernah kami tanya, jawaban mereka berbeda tentang nama pulau. Seperti penamaan Gili Kere dan Gili Bembek itu. Begitu juga dengan Pulau Pasir, diberikan nama seperti itu lantaran berupa gugusan pasir. Pulau pasir seperti ini juga ada di Kecamatan Sambelia Lombok Timur, tak jauh dari Gili Kondo.
pulau pasir, pulau maringkik, gili sunut, gili bembek, pulau tak berpenghuni
Di kawasans selatan Lombok Timur, tepatnya di Desa Batunampar dan Desa Batunampar Selatan terdapat juga Pulau Pasir. Tapi tidak seluas Pulau Pasir yang bertetangga dengan Gili Maringkik itu. Begitu juga di Batunampar Selatan itu ada pulau kecil tak berpenghuni.

“Ini sebenarnya menjadi potensi pariwisata. Mengunjungi pulau-pulau kecil itu,’’ kata Kepala Desa Batunampar Selatan Mahnan Rasuli.

Kabupaten Lombok Timur memang terkesan setengah hati membangun pariwisata. Kawasan selatan yang memiliki pantai pasir putih, panjangnya berkilo-kilometer adalah potensi besar yang belum terjamah. Akses jalan menuju kawasan pantai itu tidak semuanya bagus. Apalagi fasilitas pendukung. Akhirnya pantai-pantai itu belum bisa memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah. (*)



1 komentar: