Senin, 24 Agustus 2015

Semangat Kemerdekaan dari Sekolah Terpencil


Jika melihat materi, barangkali sudah lama MI Nawwarul Uyun NW di Aro Inaq Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru tutup. Jika hanya melihat gaji, para guru di madrasah ini barangkali sudah lama berhenti mengajar. Tapi para guru di sekolah, yang kebetulan semuanya perempuan ini, tetap memilih mengabdi mendidik anak-anak mereka.

*********
Usia kehamilan Sri Wahyuni sudah tujuh bulan. Pada kehamilan anak keduanya ini, Sri, tetap pada aktivitas sehari-harinya. Di rumah menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga. Di sekolah dia kepala sekolah. Sri berumah di Desa Pare Mas. Jarak sekolah tempatnya mengajar ke rumah sekitar 8 km. Berada di daerah selatan Lombok Timur yang dikenal daerah kering, perjalanan dengan usia kandungan 7 bulan itu terasa berat. Dia berangkat sendiri. Suaminya, Murjiono, guru SD, mengajar tempat lain, yang jalurnya berbeda.

Jelang tanggal 17 Agustus lalu, Sri bertambah sibuk. Pada tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan, sekolah yang dipimpinnya akan menggelar upacara bendera. Upacara bendera bersejarah. Sejak berdiri, belum pernah sama sekolah sekolah itu menggelar upacara 17 Agustus. Apalagi upacara bendera hari senin. Tiang bendera pun tidak punya. Tiang bendera yang berdiri saat ini sumbangan donatur yang kebetulan sering lewat di jalan depan sekolah, jalan menuju kawasan Pantai Pink.
 
Sri merasa lebih bersemangat menyambut 17 Agustus kali ini. Selain menjadi hari bersejarah lantaran kali pertama menggelar upacara, petugas dan peserta upacara bendera di sekolah pada 17 Agustus juga istimewa. Petugasnya berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Tiga orang pengibar bendera berasal dari daerah yang berbeda, satu orang dari Lombok Tengah, satu orang dari Dompu, dan satu orang pengibar merupakan mahasiswa dari Bandung yang kini menempuh pendidikan di Taiwan.
 
Begitu juga dengan pembaca teks Proklamasi, berasal dari Medan Sumatera Utara. Pembaca UUD 1945 dari Mataram, pemimpin upacara dari Lombok Barat. Pembaca susunan upacara dua orang, satu orang presenter TV, satu orang dosen. Dirigennya seorang perempuan di Sumbawa Besar. 

“Kami sangat bersemangat dengan kehadiran para relawan. Ini menjadi motivasi kami para guru dan murid-murid kami,’’ kata Sri yang pada malam 17 Agustus, rumahnya kami pakai untuk menginap.

Selama ini Sri merasa pasrah dengan kondisi sekolah. Berada di jalur wisata selatan Lombok Timur tidak membuat sekolah ini membaik. Di kawasan selatan itu, kini mulai populer Pantai Pink, Jeeva Bloam, Tanjung Ringgit, Pantai Kaliantan, Pantai Cemara, dan jajaran pulau kecil tak berpenghuni. Investor sudah mulai membangun. Jalan sudah diperbaiki, sebagian hotmix.

Jika kondisi infrastruktur semakin membaik, kondisi MI Nawwarul Uyun justru makin memprihatinkan. Semua lantai ruang kelas bolong. Meja dan bangku tak lagi utuh. Jendela tak lengkap. Atap sudah mulai bocor. Jika hujan, air masuk ke dalam kelas.

“Beginilah kondisi sekolah kami,’’ kata Sri.

 
Sejak sekolah ini berdiri, Sri termasuk guru pertama. Itulah sebabnya dia dipercaya sebagai kepala sekolah. Yayasan tempat MI ini bernaung, Yayasan Ponpes Nawwarul Uyun NW berdiri tahun 2005. Dua tahun setelah yayasan berdiri, dibangunlan MI ini. Ruang kelas yang dibangun berjumlah 3 lokal. Bertahan hingga sekarang.

Menjadi kepala sekolah, kedengarannya prestisius. Tapi menjadi kepala sekolah di madrasah swasta, di tempat terpencil, di daerah yang sebagian besar penduduknya masuk kategori miskin menjadi tantangan berat. Kondisi itu setidaknya bisa dilihat dari fisik sekolah.
 
Jumlah murid MI Nawwarul Uyun 60 orang. Ada tiga lokal. Satu lokal diisi dua kelas. Ruang kelas disekat dengan tripleks. Di salah satu ruang kelas lainnya, disekat menjadi tiga. Dua untuk ruang kelas, satu ruang untuk guru. Para guru lebih banyak duduk di teras sekolah.
Semua guru di sekolah ini adalah perempuan. Kelas I dipegang oleh Suhaeni, kelas II Husna Julaeni, kelas III Baiq Yuliana, kelas IV Baiq Husnul Faizah, kelas V Masitah, kelas VI Emiliyawati. Tujuh perempuan perkasa inilah yang rela mengajar dengan pendapatan sangat rendah.

Tanpa menyebut berapa jumlah honornya, para guru perempuan di madrasah ini mengajar demi pengabdian. Tapi dari penuturan beberapa orang, guru di sekolah ini honornya tak lebih dari Rp 200 ribu per bulan. Itupun dibayarkan tiap triwulan. Itu kalau dana BOS cair. Dengan pendapatan kira-kira Rp 1 juta – Rp 1,5 juta per tahun, tentu saja tidak cukup untuk biaya hidup. Gaji habis untuk membeli bensin motor.

 

Bagi mereka gaji bukan segalanya. Sebagai ibu, Sri merasa begitu pentingnya pendidikan anak-anak. Dipilihnya madrasah ibtidaiyah (MI) agar memberikan pelajaran agama. Semangat itulah yang membuat Sri dan enam guru perempuan lainnya tetap bertahan dalam kondisi serba kekurangan itu.

Dana BOS memang satu-satunya andalan sekolah ini. Mengharapkan iuran dari orang tua sangat berat. Mau menyekolahkan putra putri mereka saja Sri sudah bersyukur. Sebab di kawasan itu masih ada anak yang tidak bersekolah. Bagi Sri, kehadiran mereka ke sekolah menjadi kebahagiaan yang tidak bisa dihargai dengan uang.

Sebagai kepala sekolah, tentu saja Sri mengharapkan sekolah yang dipimpinnya membaik. Bangunan membaik, fasilitas tersedia. Menurut Sri, seharusnya tidak boleh ada diskriminasi sekolah, sekolah negeri atau sekolah swasta, sekolah di kota atau sekolah di pelosok. Semua sekolah seharusnya diperlakukan sama, diberikan fasilitas yang sama.

“Walaupun ini jalur pariwisata, tapi kondisi sekolah di sini tidak membaik,’’ katanya.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nawwarul Uyun  H Taufik mengakui pihaknya belum bisa menyediakan fasilitas yang lebih baik. Ketika membangun yayasan pendidikan itu, alumni Ma’had Darul Quran Hadits (MDQH) Pancor ini, dia meniatkan agar anak-anak di kawasan selatan Lombok Timur itu bisa mengakses pendidikan yang dekat.

“Sekolah negeri di daerah selatan ini terbatas. Jarak ke sekolah cukup jauh. Itulah sebabnya kami membangun di pelosok,’’ katanya.

H Taufik memberikan apresiasi yang besar bagi guru-guru di MI Nawwarul Uyun. Walaupun semua gurunya perempuan, mereka tetap menjalankan kewajiban sebagai pendidik. Berada di daerah terpencil, tidak membuat guru-guru itu patah semangat. Dengan kondisi bangunan sekolah yang jelek tak menurunkan kualitas belajar.

“Para guru di sini memang luar biasa,’’ katanya.(*)







1 komentar:

  1. Masih cuma bisa mendoakan semoga adik2 sana tetap bisa sekolah dan melanjutkan pendidikannya, semoga 7 srikandi disekolah itu selalu dilimpahkan kesehatan dan kemurahan rwzeki, dan semoga bertambah banyak2 org hebat dan kece spt tmn2 yg selalu bisa punya cara unik utk memberikan apresiasi bagi org lain

    BalasHapus