Kamis, 17 September 2015

Tepal; Keramahan Warga Desa Terpencil

tepal, sumbawa, terpencil, jelajah sumbawa

Berlibur tidak melulu mengunjungi tempat wisata tersohor. Mengunjungi desa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk kota adalah pelesiran petualangan. Warga yang ramah adalah liburan yang paling membuat betah. Pemandangan alam dan tradisi yang kaya adalah bonusnya.


Rencana kunjungan saya ke Tepal rupanya sudah bocor duluan. Sahabat perjalanan, Lulu WS, staf akademik di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) mengontak beberapa temannya. Terang saja, begitu ditahu saya wartawan, perbincangan awal dengan warga Tepal, Harun Altebas menjadi lebih serius. Alih-alih membicarakan tentang rencana mengunjungi tempat eksotis di desa terpencil itu, perbincangan lebih banyak menyangkut kondisi terpinggirkan masyarakat Tepal. 

Harun, seorang aktivis mahasiswa, di usianya 32 tahun sudah dipercaya menjadi Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Belakangan saya yakin pilihan warga Tepal tidak keliru mengangkat pria lajang itu. Harun menjadi motor penggerak protes warga Tepal, Baturotok, Bao Desa, dan Tangkan Pulit, Kecamatan Batulante yang menuntut keadilan pembangunan. Perjalanan 6 jam dari Kota Sumbawa ke Tepal, yang jaraknya hanya 60 km, menjadi gambaran beratnya tantangan tinggal di desa-desa terisolir itu.

Hanya motor jenis trail yang bisa menembus Tepal pada musim hujan. Saya berkunjung pada bulan Mei 2015. Sesekali hujan masih turun. Dari cerita Harun dan orang-orang yang pernah ke Tepal, perjalanan musim hujan sangat menyiksa.

Niat awal, ingin menyaksikan dari dekat suasana peringatan Hari Pendidikan 2 Mei di sekolah terpencil. SDN Tepal yang pernah saya saksikan videonya di Youtube, menarik untuk memotret kondisi sekolah terpencil. Tapi saya keliru. Harun membuka rahasia yang membuat saya memikirkan ulang rencana perjalanan ke Tepal : sebuah SD berdiri di tengah hutan dengan segala keterbatasannya.
tepal, sumbawa, terpencil, jelajah sumbawa

Saya dan Lulu akhirnya meminjam motor Harun. Motor bebek. Masih baru. Sedikit modifikasi. Ban yang dipasang cocok untuk jalan tanah. Tak ada yang berani memasang ban standar. Saya meyakinkan Harun bahwa saya cukup terlatih membawa motor untuk menembus Tepal.

Satu jam perjalanan dari Kota Sumbawa, jalan yang kami lewati mulai rusak parah. Di beberap tanjakan berbatu, Lulu terpaksa harus turun. Motor tidak kuat menjanjak. Kerikil membuat jalan lebih licin. Beberapa kali kami singgah mengambil nafas. Singgah menikmati segelas kopi di warung terakhir di Desa Batu Dulang. Di warung terakhir di Dusun Punik itu, pemilik warung tidak yakin kami akan bisa menembus Tepal. Apalagi langit sudah mendung.

Jalan yang diceritakan pemilik warung, Ibu Sabariah lumayan rusak. Ada kubangan, tapi masih bisa dilewati. Jalan tanah, berpasir, kerikil adalah kombinasinya. Tapi perjalanan itu menyenangkan. Kiri-kanan pohon masih tegak. Keringat tak sempat keluar, lantaran kalah oleh cuaca dingin.  

tepal, sumbawa, terpencil, jelajah sumbawa

tepal, sumbawa, terpencil, jelajah sumbawa
Belum habis menghirup kesegaran udara pegunungan, air terjun di pinggir jalan menggoda untuk disinggahi. Tak ada pejalan lain yang kami temui untuk sekadar menanyakan nama air terjun itu. Setelah sampai di Tepal, kami diceritakan kalau air terjun itu hanya berair saat musim hujan. Tak ada namanya. Lalu kami sepakat menamainya air terjun Punik lantaran dekat dengan Dusun Punik.

Awalnya saya sanksi dengan cerita orang-orang tentang jalan ke Tepal. Hampir dua jam perjalanan, masih dalam kondisi wajar. Memang beberapa titik memaksa Lulu turun dari boncengan. Tapi setelah kami bertemu dengan dua warga Tepal di tengah perjalanan, Haris dan Sutapran, barulah kami mulai was-was. Perjalanan hampir 2 jam itu baru permulaan. Kengerian jalan Tepal, sudah ada di depan mata.

Melihat kostum mereka saya jadi keder. Percaya diri menggunakan sandal gunung. Sementara keduanya, mengenakan sepatu boot. Dan kekhawatiran saya itu benar. 30 menit setelah perjalanan bersama, jalan Tepal yang “mengerikan” itu ada di depan mata.

Kubangan itu setinggi betis. Motor yang saya kendarai tidak bisa bergerak. Kami terjatuh. Kaki saya lecet. Lulu sudah setengah mandi lumpur. Mereka berdua sigap membantu. Termasuk membantu membawakan motor. Saya dan Lulu jalan kaki. Sutapran terlebih dahulu membawa motornya ke tempat datar dan aman, kembali turun untuk mengambil motor saya. Begitulah seterusnya dalam perjalanan. Beberapa kali Sutapran harus menjadi joki, saya membantu mendorong di belakang. Beberapa kali Sutapran yang mendorong. Perjalanan ke Tepal saat musim hujan bukan perjalanan yang aman jika sendiri.

Bukan karena keamanan, tapi karena kondisi jalan. Di beberapa titik, jalannya berbatu. Batu besar. Motor jalan di atas batu. Paling aman, mendorong motor di sela-sela batu itu. Jika memaksakan naik, dan selip sedikit saja, badan bisa terhempas di batu. Jalan lain, jalanan terjal, kerikil, sangat licin. Salah sedikit bisa terpelanting ke tebing yang cukup dalam. Mengerikan.

Jalan yang paling banyak adalah kubangan plus jalan tanah liat. Jalan ini luar biasa licinnya. Dan saya baru tahu mobil 4 X 4 yang naik ke Tepal harus membawa sekam. Sekam itu ditabur di jalan yang licin agar roda tidak mutar di tempat. Begitu seterusnya perjalanan kami. Saya melihat jam di handphone, berangkat dari Kota Sumbawa pukul 08.10 Wita, sampai ke pusat Desa Tepal pukul 14.36 Wita. 6 jam lebih. Ketika menemukan pancuran, saya membasuh kaki yang sudah tertutup lumpur. Barulah terasa sakitnya memar akibat beberapa kali jatuh. Di mata kaki, jari kaki, betis, terlihat kulit terkelupas dan merah-kebiruan. Terasa perih. Dan malam itu saya tiba-tiba membayangkan bagaimana orang Tepal yang sakit dibawa ke rumah sakit yang ada di Sumbawa.

tepal, sumbawa, terpencil, jelajah sumbawa
*********

KOPI panas langsung menyambut ketika baru bangun. Semalam tidur saya sangat nyenyak lantaran lelah. Rasa nyeri di betis masih terasa. Tapi kesegaran udara di Tepal membuat badan terasa cepat pulih. Apalagi tuan rumah tempat kami menginap Pak Hartono orang yang sangat ramah. Dia tidak pernah kehabisan cerita. Sesekali lucu, dan rasanya seperti teman lama yang sudah saling kenal. Ketika sarapan, kami diajak langsung ke dapurnya. Ayam kampung, sayur, nasi panas dan cuaca dingin membuat saya harus menambah satu piring lagi.

Pagi-pagi warga Dusun Tepal, Desa Tepal, tempat kami menginap sudah beraktivitas. Sebagian besar rumah berupa rumah panggung. Ada beberapa yang membangun rumah permanen, tapi itu bisa dihitung dengan jari. Membayangkan membawa material dari Kota Sumbawa saya tidak bisa membayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan.

tepal, sumbawa, terpencil, jelajah sumbawa
Rumah-rumah panggung di Tepal tertata rapi layaknya kompleks perumahan. Ada blok-blok yang dibatasi oleh jalan. Semua rumah menghadap jalan. Masing-masing rumah dipagari dengan kayu atau bambu. Jalan-jalan yang memisahkan blok itu sangat bersih. Begitu juga halaman tanah di depan rumah masing-masing. Walaupun banyak kambing berkeliaran, kotoran berserakan, tapi dengan cepat dibersihkan. Semua rumah di Dusun Tepal, hasil pengamatan saya, memiliki kamar mandi pribadi. Ada yang berada di halaman depan, ada yang di halaman belakang. Kamar mandi mereka pun cukup seragam ukuran dan bentuknya.

“Walaupun di kampung terpencil, masyarakat Tepal sadar dengan kebersihan,’’ kata Hartono. Walaupun beberapa warga masih buang hajat di kebun.

Beberapa rumah, termasuk rumah Pak Hartono, memiliki parabola. Ini yang membuat warga Tepal tidak ketinggalan informasi nasional dan mancanegara. TV di rumah Pak Hartono, ada belasan channel. TV membuka keterisoliran mereka dengan dunia luar. Lalu dari mana listriknya ?

“Ada pembangkit dari air (PLTMH,red),’’ kata bapak satu anak ini.

Listrik dihasilkan dari generator yang diputar oleh air. Di Tepal air berlimpah. Banyak sungai kecil, beberapa sungai besr, dan itu menjadi sumber energi berlimpah. Walaupun memungkinan setiap saat listrik tersedia, warga Tepal bijak menggunakan listrik. Hari Senin – Kamis, listrik hanya menyala malam hari. Hari Jumat – Minggu, dinyalakan sejak siang hari. Berada di ketinggian yang memungkinkan mudah menangkap sinyal TV satelit, listrik tersedia, dan memiliki uang membuat warga Tepal bisa memiliki barang-barang mewah. Kecuali kulkas tentunya.

Sebagian besar warga Tepal adalah petani. Pak Hartono, walaupun menjabat sebagai Kaur Umum Desa Tepal, dia memiliki kebun kopi dan belasan ternak sapi serta kambing. Harga kopi yang cukup tinggi menjadi penghasilan terbesar warga Tepal. Tak heran, beberapa warga mampu membangun rumah permanen, yang tentu saja membawa semen dari Kota Sumbawa membutuhkan lebih banyak biaya.

“Kalau sekali panen lagi bagus, bisa dapat ratusan juta petani di sini,’’ katanya.

tepal, sumbawa, terpencil, jelajah sumbawa
Harga 1 kilogram (kg) biji kopi kering Rp 23 ribu. Dari harga itu ongkosnya Rp 1.000 per kg. Pada musim hujan dan jalan sangat jelek, ongkos membengkak menjadi Rp 2.000 per kg. Ongkos yang sangat mahal. Tapi wajar dengan kondisi jalan ke Tepal. Hanya kendaraan perpenggerak 4 X 4 yang bisa naik Tepal. Pada musim kemarau, mobil jenis mini truk bisa naik. Tapi khusus untuk mobil yang masih bagus mesinnya.

“Kalau jalan bagus tentu biaya transportasi bisa dikurangi,’’ kata Ketua BPD Tepal, Harun.

Selain kopi, warga Tepal juga menanam aneka jenis sayuran. Tapi sebagian untuk konsumsi pribadi. Karena kopi tidak bisa setiap saat panen, warga Tepal harus pandai-pandai menyimpan uang dan membelanjakan. Sebab untuk berbelanja ke Kota Sumbawa butuh perjuangan berat. Ongkos kendaraan Rp 150 ribu.

Sayangnya ketika berkunjung ke Tepal belum musim panen kopi. Beberapa kebun kopi yang saya jumpai ketika berkunjung ke kampung Talagumung, kampung terjauh dari pusat desa, kopi masih muda. Kopi tumbuh subur di Tepal. Sepanjang perjalanan banyak kebun kopi baru dibuka. Dan sayangnya yang kebun itu dibuka dengan cara membabat hutan.

tepal, sumbawa, terpencil, jelajah sumbawa
****
SETELAH menghitung semua persiapan, saya memantapkan niat untuk mengunjungi SD Filial Talagumung. Perjalanan ditempuh dengan jalan kaki. Perjalanan yang cukup berat.Melewati hutan, dua sungai besar, kebun kopi, hutan yang basah dan penuh lintah, dan tentu saja hujan yang menghambat perjalanan.

Dari Tepal ke Talagumung, kami menghabiskan waktu 3 jam. Salah satu anggota rombongan kami, bidan Uswatun Hasanah, tidak terbiasa jalan jauh dan cepat. Apalagi dengan medan naik turun, dan becek.

Tak ada upacara Hari Pendidikan 2 Mei di SD Filial itu. Sekolah itu berupa bangunan dari papan. Atapnya dari bambu. Hanya ada satu ruangan. Bangunan sekolah ini ukurannya 6 X 5 meter. Disekat menjadi dua ruangan. Satu ruangan disisi tiga kelas. Kelas ganjil dan kelas genap. Sekolah itu hanya memiliki 16 siswa. Sekolah itu memiliki halaman yang sangat luas. Di tengahnya berdiri tiang bendera dari bambu. Saat saya berkunjung ke sekolah itu tanggal 2 Mei 2015, tak ada bendera berkibar. Hanya sebuah papan sekolah yang menjadi petunjuk jika bangunan itu benar-benar sebuah sekolah.

Karena kelelahan dan hujan, kami tidak bisa mengunjungi air terjun yang ada di Talagumung. Warga sempat menahan kami agar menginap. Mereka khawatir hujan lebat membuat air sungai meluap. Apalagi kami sudah kelelahan, tidak akan bisa jalan dengan cepat.

Tapi karena pertimbangan waktu kami tetap pulang, dengan dibekali baju hujan dan senter oleh warga Talagumung. Sebelumnya mereka menjamu kami dengan hidangan ayam bakar dan aneka sayuran segar. Plus, nasi yang kami makan berasal dari padi ladang yang diolah dengan cara ditumbuk. Ya ditumbuk dengan lesung. Pantasan berasnya tidak terlalu putih. Tak ada mesin penggilangan padi. Heuler keliling mustahil. Dan di kampung ini tidak ada listrik.

Benar saja kekhawatiran warga Talagumung. Ketika kembali dua sungai besar yang kami lewati meluap. Kami harus saling berpegangan agar bisa melewati arus sungai yang deras. Nyaris kami harus menginap di rumah-rumah tempat tinggal penjaga ladang.

Karena pulang malam, dan melapor akan kembali hari itu juga, warga khawatir. Pak Hartono mengutus beberapa pemuda untuk menjemput kami. Tak lupa Pak Hartono membekali mereka dengan makanan dan minuman. 4 jam lebih perjalanan pulang menguras tenaga kami. Dan kami benar-benar kehausan.

tepal, sumbawa, terpencil, jelajah sumbawa


******
Banyak objek wisata yang menarik yang sebenarnya bisa dikunjungi di Tepal. Selain air terjung Talagumung, di Tepal tedapat Situs Batu Tulis. Disebut Batu Tulis lantaran di atas batu itu terukir sebuah simbol.

Di batu yang bundar seperti lesung itu terdapat gambar gambar seperti orang yang ditombak. Ada petunjuk arah panah. Dan menurut Pak Hartono, batu tulis itu sebuah misteri yang hingga kini belum terpecahkan. Memang, Sumbawa kaya dengan peninggalan masa lalu. Ada sarkofagus (kuburan batu), batu tulis, batu gong, dan batu-batu yang banyak dihias aneka relief. Batu-batu itu menjadi bukti sejarah panjang Sumbawa yang masih belum digali. (*)















1 komentar:

  1. Sangat menginspirasi..
    Saya berharap dapat kembali Ke Tepal suatu saat..

    BalasHapus