Minggu, 04 Oktober 2015

Pulang Kampung ke Tetebatu



wisata, liburan, tetebatu, lombok, sawah, gunung, wisata desa
Udara bersih, kesegaran air, sawah hijau dengan latar Gunung Rinjani, keramahan warga membuat siapapun yang pernah ke Tetebatu ingin kembali lagi. Mereka serasa pulang kampung.


********

Sebuah pesan singkat masuk di HP butut Salman Hafiz, 30 tahun. Salah seorang kerabatnya meminta dia untuk menemani salah seorang tamu, perempuan muda dari Swiss. Perempuan itu ingin belajar kerajinan perak. Kerabatnya itu tidak lancar berbahasa Inggris. Salman yang pernah kuliah di jurusan Bahasa Inggris – namun tak selesai – pasti bisa menemani.

Salman langsung kontak dengan perempuan itu, Fabienne Goldner. Seorang mahasiswi yang sedang liburan ke Indonesia. Dia memilih Lombok. Ketika browsing tentang Lombok, dia melihat tentang kerajinan perak. Dia tertarik untuk belajar. Sambil mengisi liburan panjangnya, rasanya tidak cukup sekadar berkunjung dari satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya. Fabienne beruntung berkenalan dengan Salman. Salman tahu tempat perajin perak, dan Salman tidak asing dengan kerajinan itu. Sambil melihat cara pembuatan aneka kerajinan, seperti cincin, gelang, mata kalung, Salman menjadi penerjemah.

Sebenarnya banyak tempat melihat kerajinan perak. Tapi Salman meminta tamunya itu belajar di Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik. Hanya 2 kilometer (km) dari Tetebatu. Pertimbangannya sederhana, Salman kenal dengan perajin itu, dan ini kesempatan baginya mempromosikan Tetebatu. Fabienne setuju. Sambil belajar kerajinan perak, setiap hari dia menikmati berbagai spot menarik di Tetebatu.

wisata, liburan, tetebatu, lombok, sawah, gunung, wisata desa

Namanya singkat, Bas. Dia mahasiswa pascasarjana antropologi di negaranya, Belanda. Dia mendapat izin penelitian di Indonesia. Melalui supervisor di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dia memilih Lombok. Hasil browsing di internet, pria 29 tahun itu memilih Tetebatu sebagai tempatnya tinggal selama penelitian di Lombok. Padahal lokasi penelitiannya tersebar dari Kuta Lombok Tengah, Senggigi Lombok Barat, dan Gili Trawangan. Penelitiannya ada kaitan tentang pariwisata.

Bas tidak keliru memilih Tetebatu sebagai tempat bermukim sementara penelitian. Walaupun bolak balik ke Lombok Tengah, bahkan sampai Lombok Barat, dia menyempatkan pulang ke Tetebatu. Selama di Tetebatu dia menginap di salah satu penginapan sederhana milik warga di Orong Gerisak.  Bas selalu rindu kembali ke rumah itu.
“Orang-orang Tetebatu menyenangkan,’’ kata pria murah senyum itu ketika saya temui di Tetebatu.

Bagi Fabienne dan Bas, tinggal di Tetebatu ibarat pulang ke rumah sendiri. Mereka tak berjarak dengan warga setempat. Walaupun mereka wisatawan, warga menganggap mereka bagian dari keluarga. Bas sering diajak menginap ke rumah warga. Begitu juga ketika ada pesta, Bas selalu diundang. Dari sana dia belajar cara hidup orang Lombok. Memakai sarung dan bersila, posisi duduk yang selalu menyiksanya. Tapi keramahan warga itulah yang membuat Bas senang diundang.

Fabienne pulang ke Swiss dengan oleh-oleh cincin perak. Cincin sederhana itu begitu berkesan. Dia sendiri yang membuatnya. Walaupun tidak sehalus cincin buatan perajin, baginya itu sangat memuaskan. Dan itu berkesan sekali baginya. Empat bulan kemudian, Fabienne kembali ke Indonesia. Dia langsung memilih Tetebatu. Kali ini dia membawa ibunya. Udara sejuk Tetebatu cocok bagi ibunya yang sudah tidak muda lagi. Fabienne serasa pulang kampung.

*****

wisata, liburan, tetebatu, lombok, sawah, gunung, wisata desa

INILAH konsep wisata yang mulai digalakkan para pegiat wisata di Tetebatu dan Kembang Kuning. Wisatawan berinteraksi dengan warga sekitar. Wisatawan menyelami aktivitas warga. Dalam aktivitas tersebut, wisatawan memang tidak merogoh kocek. Tapi mereka betah tinggal di Tetebatu. Itu artinya makin banyak pemasukan bagi penginapan dan warung-warung makan yang mereka singgahi.

Saban hari, Musanif, Ketua Pokdarwis Kembang Kuning mengajak tamunya menyaksikan dari dekat proses pembuatan kopi. Bukan di cafe atau tempat khusus, tapi di halaman rumah warga. Agar rasa kampungnya terasa, dia meminta tamu itu memakai sarung. Tamu perempuan diminta memakai pakaian khas Sasak. Mereka layaknya pengantin.

Di halaman yang tak terlalu luas, tanpa ada paving itulah para bule itu melihat langsung proses pembutan kopi yang mereka nikmati setiap pagi. Ketika mereka diajak untuk mencoba langsung menggoreng, menumbuk, dan menghaluskan, mereka dengan senang hati mencoba. Saking semangatnya, mereka mencoba semua. Plus langsung memasak air dan menyeduh kopi buatan mereka sendiri. Tawa tak henti-hentinya ketika mereka bercerita tentang pengalaman kepanasan saat menggoreng, tangan yang pegal ketika menumbuk.

“Kita buat mereka nyaman tinggal di Tetebatu,’’ kata Musanif yang sekaligus Manajer Pondok Bulan, sebuah penginapan gaya cottages di Tetebatu.

Fadli, pegiat wisata lainnya juga tidak ragu membawa tamunya masuk sawah. Bahkan para tamu yang diajak itu diminta membuka sepatu. Tidak ada sepatu boot disiapkan. Mereka “dipaksa” untuk nyeker dan masuk ke kubangan lumpur. Mencoba mencabut bibit padi, dan ikut menanam di sawah yang sudah disiapkan.

wisata, liburan, tetebatu, lombok, sawah, gunung, wisata desa
Kaki yang geli karena kali pertama menginjak lumpur, tangan dan punggung yang pegal lantaran tak terbiasa membungkuk menjadi cerita para bule itu setelah kembali ke penginapan. Tentu saja mereka tak ikut menanam padi hingga tuntas. Sekadar beberapa menit, ada puluhan foto yang tersimpan di dalam memori kamera mereka. Fadli yakin, para tamunya itu akan membagikan foto “unik” itu ke media sosial.

“Cerita dari wisatawan langsung ke temannya cukup efektif untuk promosi,’’ katanya.

Sejalan dengan wisata yang mau hidup, Pokdarwis Tetebatu dan Kembang Kuning membenahi beberapa objek wisata. Sebenarnya objek wisata di Tetebatu tidak menjadi favorit. Ada air terjun, tapi air terjun itu kalah tenar dan kalah indah dibandingkan air terjun lainnya, seperti Benang Stokel, Benang Kelambu, Sendang Gile, dll. Air terjun di Tetebatu paling tinggi hanya 6 meter.

Air terjun kecil itu memang bukan tempat berlama-lama. Wisatawan hanya sekadar membasahi badan, atau mengikuti jalur hyking. Andalan Tetebatu dari sisi alam adalah hyking keliling desa.

Sawah yang masih hijau dan luas menjadi daya tarik wisatawan untuk menjelajahinya. Saat perjalanan itulah tamu dibawa ke air terjun. Beberapa air terjun kecil yang ada di Tetebatu adalah Tibu Purit, Tibu Topat, Tetebatu Waterfall. Perjalanan menembus air terjun mini itulah sensasi wisatanya. Melewati pematang sawah dan harus berendam di sungai. Layaknya pecinta alam.

wisata, liburan, tetebatu, lombok, sawah, gunung, wisata desa
Air terjun dari sungai yang masih alami membuat wisatawan betah berendam. Airnya masih jernih. Tidak ada sampah dan kotoran. Selain itu, suasana sekitar air terjun itu begitu sunyi.

Karena mulai ramai, jalur menuju air terjun itu diperbaiki. Tapi tetap mempertahankan keasliannya, jalan tanah. Ketika hujan jalan menjadi licin. Tapi tetap saja itu menjadi jualan berkunjung ke air terjun.

Selain air terjun kecil itu, di Desa Jeruk Manis (pemekaran Desa Kembang Kuning) air terjun Jeruk Manis menjadi daya tarik. Berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), pengunjung jalan kaki sekitar 30 menit. Treknya cukup datar. Dinaungi pepohonan, perjalanan dari pintu gerbang menuju air terjung terasa sejuk.

wisata, liburan, tetebatu, lombok, sawah, gunung, wisata desa
Belakangan ini ketika pendakian booming, jalur lama menuju Rinjani dari Tetebatu kembali “dihidupkan”. Di era boomingnya pariwisata, banyak wisatawan yang ingin melihat keindahan Danau Segara Anak mengambil jalan pintas dari Tetebatu. Rutenya dari Tetebatu menuju Timbanuh melewati persawahan. Lalu setengah hari perjalanan dari Timbanuh bisa sampai ke titik Pelawangan Timbanuh. Dari atas itulah bisa menikmati keindahan Gunung Baru Jari dan Segara Anak.

“Tidak direkomendasikan untuk turun ke Segara Anak, terlalu berbahaya,’’ kata Hayyi yang beberapa kali membawa tamu melewati rute Tetebatu – Timbanuh – Pelawangan Timbanuh.

Trek yang dilewati relatif beragam. Dari Tetebatu melewati persawahan. Lalu dari Timbanuh menuju Pelawangan Timbanuh melewati padang ilalang dan hutan yang tak terlalu lebat. Jika dibandingkan rute Sembalun, rute Timbanuh lebih pendek dan lebih landai.

“Banyak tamu yang hanya sekadar ingin melihat Danau Segara Anak. Pilihannya jalur Tetebatu – Timbanuh,’’ katanya.

Di penginapan-penginapan yang ada di Tetebatu juga memberikan pelayanan ekstra bagi tamunya. Di Pondok Bulan misalnya. Malam hari, para tamu berbaur dengan staf di penginapan tersebut. Mereka membuat api unggun, main gitar dan nyanyi bersama. Bagi pemilik penginapan, tamu yang menginap adalah bagian anggota keluarga. Jika mereka senang, waktu tinggal bisa lebih lama. Boleh saja mereka liburan ke pantai, tapi tetap malam hari akan kembali ke Tetebatu. Mereka pulang kampung.

wisata, liburan, tetebatu, lombok, sawah, gunung, wisata desa



Bangkitnya Pariwisata Tetebatu



Geliat pariwisata di Tetebatu dan Kembang Kuning mulai bangkit. Digerakkan oleh para pemuda yang tergabung dalam Kelompok Sadar Pariwisata (Pokdarwis) Tetebatu dan Pokdarwis Kembang Kuning, mereka aktif berpromosi melalui media sosial dan menjalin kerja sama dengan pihak travel. Selain itu, mereka juga aktif menggelar berbagai event, mulai dari pentas seni, peresean, pendakian bersama, dan mengajak langsung wisatawan terlibat dalam berbagai kegiatan masyarakat desa.

“Wisatawan senang dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di kampung,’’ kata pegiat wisata Tetebatu, Fadli.

“Sekadar menggoreng kopi saja, wisatawan asing senang dilibatkan,’’ sambung Ketua Pokdarwis Kembang Kuning, Musanif.

Sempat “tertidur” cukup panjang, kini pariwisata di Tetebatu dan Kembang Kuning boleh dikatakan bangkit kembali. Ini bisa dilihat dari kembali dibukanya beberapa penginapan. Dan yang membuat Fadli dan Musanif senang, wisatawan asing mulai kembali ke Tetebatu dan Kembang Kuning. Kehadiran mereka menjadi sinyal kuat jika pariwisata kembali ke dua desa di kaki Gunung Rinjani ini.

wisata, liburan, tetebatu, lombok, sawah, gunung, wisata desa
Di era 1990-an, Tetebatu kesohor hingga mancanegara. Wisma Soedjono, salah satu penginapan paling tua, seakan menjadi ikon Tetebatu. Namanya tercatat di dalam buku-buku pegangan pejalan. Ketika booming pariwisata, banyak bermunculan penginapan. Rumah-rumah penduduk disulap menjadi penginapan. Tak melulu penginapan mewah dengan beragam fasilitas, penginapan dari rumah bedek pun diburu. Wisatawan mencari sensasi tinggal di pedesaan.

Tiap pekan ratusan wisatawan asing mampir ke Tetebatu dan Kembang Kuning. Sekadar melepas penat, dan sebagian menginap. Mereka biasanya meneruskan kunjungan ke sentra kerajinan  Loyok (bambu), Rungkang (gerabah), Pringgasela (tenun), Penakak Masbagik (gerabah). Di Tetebatu dan Kembang Kuning mereka menikmati keindahan alam. Gunung Rinjani terlihat kokoh dari dua desa ini.
Bahasa Inggris seakan menjadi bahasa kedua di Tetebatu, setelah bahasa Sasak. Itu lantaran banyaknya wisatawan asing yang menginap dan berinteraksi dengan mereka. Tak sedikit juga orang asing yang tinggal cukup lama dan beberapa kembali lagi ke Tetebatu. Mereka betah dengan suasana pedesaan dan keramahan orang Tetebatu.

“Saya sampai diajak keliling Eropa sampai berbulan-bulan,’’ kenang Kusuma Adnan.

wisata, liburan, tetebatu, lombok, sawah, gunung, wisata desa
Kusuma dulunya guide dan pemilik Bale-Bale Cafe. Jangan tertipu dengan sebutan “cafe”. Pada dasarnya cafe itu adalah halaman rumahnya. Sangat sederhana. Di cafe sederhana itu, Kusuma menyediakan menu lokal, seperti pelecing, ayam bakar, tempe dan tahu goreng. Menariknya, wisatawan bisa langsung melihat dan mencoba memasak.

“Krisis ekonomi yang pertama kali menghajar pariwisata,’’ kata pria yang kini mejadi guide di Gili Trawangan ini.

Tahun 1997 wisatawan yang berkunjung ke Tetebatu mulai berkurang. Tahun 1998, ketika reformasi bergulir, pariwisata seakan runtuh. Wisatawan yang berkunjung, khususnya wisatawan asing, turun drastis. Kadang dalam beberapa hari tidak ada sama sekali wisatawan. Keamanan menjadi alasan mereka takut ke Indonesia.

Peristiwa bom Bali I dan boma Bali II kembali memukul pariwisata. Dilanjutkan dengan peristiwa 171 di Mataram, membuat rontok pariwisata. Padahal di Tetebatu kondisi aman-aman saja.

“Tapi citra di luar secara keseluruhan Indonesia tidak aman,’’ katanya.

Rontoknya pariwisata itu bisa dilihat dari keberadaan art shop di Desa Loyok. Ketika pariwisata berjaya, sepanjang jalan utama di Desa Loyok, art shop yang menjajajak kerajinan tangan dari bambu berderetan. Tapi begitu pariwisata lesu, art shop itu banyak yang tutup. Begitu juga di Rungkang, perajin gerabah gulung tikar lantaran sepinya orderan.

Di Tetebatu juga kena imbasnya. Banyak penginapan yang dulunya berjaya, hidup kembang kempis. Rumah makan tutup. Penginapan-penginapan terpaksa merumahkan karyawan mereka lantaran sepinya tamu. Banyak pemuda yang akhirnya memilih merantau ke Malaysia atau Kalimantan. Kusuma sendiri merasakan dampaknya, Bale-Bale Cafe tutup cukup lama.

“Sekarang ada harapan,’’  kata Kusuma yang kembali membangun sekaligus mulai membenahi Bale-Bale Cafe.

Harapan itu juga dirasakan Salman Hafiz, pengelola Lesehan Cahaya Tetebatu. Satu-satunya lesehan yang refresentatif di Desa Tetebatu dan Desa Kembang Kuning ini dibangun lantaran prediksi kebangkitan kembali pariwisata Tetebatu. Setiap pekan, tamu yang singgah mencicipi ikan bakar khas Tetebatu singgah di lesehatan tersebut. Wisatawan lokal pun demikian, mereka ramai-ramai liburan ke Tetebatu dan singgah mengganjal perut di Lesehan Cahaya Tetebatu.

“Pariwisata menggerakkan sektor ekonomi masyarakat,’’ katanya.

Salman yang lahir dan besar di Tetebatu merasakan ketika pariwisata booming dan terpuruk. Ketika booming, cukup mudah bagi remaja Tetebatu untuk mencari uang belanja. Mereka menjadi guide, menemani wisatawan jalan-jalan di sekitar Tetebatu. Anak-anak bisa mandiri bersekolah. Mereka tak perlu repot minta uang jajan ke orang tua. Salman juga merasakan ketika pariwisata lesu.

“Banyak yang lari ke Malaysia,’’ ujarnya.

wisata, liburan, tetebatu, lombok, sawah, gunung, wisata desa
Ketika pariwisata kembali bangkit, Salman kembali bergairah. Dia aktif mempromosikan pariwisata Tetebatu melalui media sosial. Hidup di zaman serba internet, potensi terbesar promosi adalah melalui media sosial. Terbukti cara ini ampuh. Banyak wisatawan yang secara pribadi kemudian menghubungi Salman. Memintanya menjadi guide.

“Saya pernah menemani orang Belanda sampai tiga bulan. Dia penelitian sambil liburan juga,’’ katanya.

Pernah menjadi wartawan media elektronik dan cetak, Salman banyak tahu tempat wisata di Lombok. Begitu juga sentra kerajinan khas Lombok. Dalam sebulan terakhir dia menjadi guide wisatawan dari Swiss yang belajar kerajinan perak.

“Kemana pun saya temani liburan, pokoknya pulang menginap di Tetebatu,’’ katanya. (*)

0 komentar:

Posting Komentar