Kamis, 03 Desember 2015

Cerita Kelas Inspirasi Sumbawa

kelas inspirasi sumbawa
9 November, sehari sebelum hari pahlawan, para relawan kelas inspirasi kembali berbagi inspirasi ke adik-adik SD. Kali ini perjalanan menginspirasi dilakukan di SD-SD di Kabupaten Sumbawa. Sejak awal saya memutuskan untuk ikut, tapi saya tidak mengajar di satu sekolah dan mendokumentasikan satu sekolah saja. Saya ingin melihat langsung seluruh kegiatan, saya akan mendatangi semua sekolah, dengan konsekuensi tidak bisa melihat penuh seluruh proses. Saya hanya ingin melihat seluruh semangat para relawan memberikan inspirasi di semua sekolah. Saya juga meniatkan untuk menulis cukup panjang – bukan saat ini – tentang kelas inspirasi.

EMI KURNIA LAZUARDI adalah pendidik di sebuah sekolah internasional. Siswanya para putra putri ekspatriat dan WNI. Di sekolah tempatnya mengajar, semua kebutuhan pembelajaran terpenuhi. Saya pernah berkunjung ke sekolah itu, penataan sekolah, ruang kelas, interaksi guru-siswa, interaksi siswa ekspatriat dan siswa lokal terasa menyenangkan.

Emi meminta izin khusus agar bisa mengajar di Kelas Inspirasi Sumbawa. Dia tahu, sekolah yang akan dikunjungi di Sumbawa serba kekurangan. Fasilitas pembelajaran masih kurang, kemampuan berbahasa (Indonesia) pun masih kurang. Boro-boro berbahasa Inggris. Tapi justru itulah yang menjadi tantangan bagi dara yang merayakan ulang tahunnya yang ke-27, seminggu setelah kelas inspirasi.

Di SD tempatnya memberikan "inspirasi", SD Omo, Emi membawa beberapa alat peraga. Kebetulan saat kelas inspirasi 9 November, sehari sebelum hari pahlawan. Emi membawakan foto-foto para pahlawan. Tak semua murid mengenali foto-foto itu. Emi memulai mengenalkan diri dengan tebak foto para pahlawan, dan tentu saja sambil mengedukasi para murid-murid SD Omo. Perkenalan dengan permainan foto pahlawan menjadi pengantar bagi Emi mengenalkan profesinya, pendidik di sebuah sekolah internasional.

Emi adalah teman jalan saya. Kami janjian berangkat ke Sumbawa. Naik motor. Saya akrab dengan Emi setelah dia ikut kelas inspirasi di Tetebatu. Kebetulan saat itu saya sebagai penanggungjawab. Kebetulan juga saya mendokumentasikan kelas inspirasi di sekolah tempat jebolan Universitas Mataram ini mengajar. Beberapa kali kami ketemu, nonton teater, pertunjukan tari di Taman Budaya. Kami pernah sama-sama terlibat kegiatan 17 Agustus-an di Jerowaru Lombok Timur. Ketika mengajaknya jalan bareng ke Sumbawa, Emi langsung mengiyakan.

Perjalanan ke Sumbawa kami isi dengan ngobrol lepas. Tak ada pembahasan utama. Apa saja yang kami lihat, kami komentari. Apa yang menjadi isu, kami bahas. Sesekali membahas apa yang akan dia ajarkan ketika di kelas nantinya.

Kami sebenarnya janjian dengan teman relawa lainnya, tapi ketimbang menunggu, dan toh akan bertemu juga nantinya, kami berdua duluan naik kapal. Kami menunggu, sambil istirahat di Afamart Poto Tano. Kami akhirnya bertemu Oliv, Sika, Agus, Surya (lain kali saya ceritakan tentang mereka). Di belakang kami masih ada Erni Suryana, yang sebenarnya sudah diajak Emi barengan, tapi dia ada kegiatan lain. Sebelumnya dia juga pernah BBM saya kalau ada temannya yang lain akan ikut. Jadi kami putuskan, biarkan bidan jebolan Yogyakarta itu jalan sendiri. Toh dia sudah terbiasa bepergian. hehehehe

kelas inspirasi sumbawa

SUBHAN. Dia didaulat menjadi pembina upacara saat kelas inspirasi di SDN 1 Penyaring. Tak sembarangan lho kepala sekolah memberikan kesempatan pada tamu mereka menjadi pembina upacara.

Subhan, sarjana pendidikan, pernah melakoni bebagai profesi. Pernah menjadi tenaga survei yg nyatat meteran listrik, menjadi pendidik dan sejumlah pekerjaan lainnya.

Subhan yang dipercaya sebagai koordinator KI Sumbawa di SDN 1 Penyaring sudah kenyang pengalaman memfasilitasi kegiatan anak. Tak heran suasana perkenalan, ice breaking di SDN 1 sangat meriah. Anak-anak begitu antusias. Mereka menikmati yel-yel yg dibuat Subhan. Pokoknya kalau satu kelompok dengan pemuda jomblo ini dijamin beres. Tak kekurangan ide utk menghidupkan suasana.

Permainan atau ice breaking memang penting di kelas inspirasi. Programnya hanya setengah hari. Kalau kurang akrab dg siswa siswi bakalan susah masuk materi intinya. Makanya menjadi tradisi si kelas inspirasi saling berbagi permainan.

Setelah akrab barulah materi inti masuk, menjelaskan profesi. Boleh juga menggunakan simulasi, gambar, video, cerita, yang pasti harus dalam suasan menyenangkan. Tak semua relawan pengajar memiliki stok atau pengalaman menjadi fasilitator, dan disanalah pentingnya panitia yang membantu. Termasuk juga berperan menjadi penerjemah bahasa lokal. Anak kelas 1 kurang lancar bahasa Indonesia.

Relawan pengajar tidak bisa sama sekali bahasa Sumbawa. Jadi peran yang dimainkan Subhan, Lulu Ws, Herjunot AJie, Rina Yulianti, Samsun Hidayat, Febriyan Anindita II dan suporting tim kelas inspirasi sangat mendukung kelancaran acara. Tanpa mereka kelas insprasi, rasanya sulit terlaksana. Mengurus hal teknis, persiapan, termasuk juga menjadi penghibur para relawan dan siswa siswi, menjadi guide, sampai membantu menyiapkan kebutuhan para relawan pengajar. (Cat : asalkan tidak meminta Subhan menguruskan badan dalam waktu cepat aja, yang lain pasti bisa)

kelas inspirasi sumbawa

NARSIH. Dari logatnya sudah bisa ditebak dia berasal dari Jawa. Narsih, staf KPU ini berasal dari Yogjakarta. Sekarang dia bertugas di Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Menjadi relawan pengajar di SD menjadi tantangan tersendiri bagi Narsih. Menjelaskan apa pekerjaan KPU butuh metode yang gampang dicerna. Dan akhirnya ketemu.

Hiruk pikuk Pilpres 2014 bukan hanya menjadi milik orang dewasa, anak-anak yang setiap hari menonton TV tahu juga tentang pemilihan itu. Narsih pun membuat simulasi pemilihan presiden. Mulai dari kampanye calon presiden, hingga pemgaturan TPS. Anak-anak SD Ai Limung bermain peran sebagai capres dan KPU. Mereka menikmati permainan peran itu.

Pengalaman kelas inspirasi selama ini, anak-anak di SD terpencil memiliki pengetahuan yang terbatas tentang profesi apa yang mereka cita-citakan. Menghadirkan profesi yang beragam, bisa memberikan inspirasi bagi adik-adik.

Bagi Narsih sendiri pengalaman menjadi relawan di Sumbawa tak akan terlupakan. Memiliki kawan baru, bisa berbagi pengalaman dengan relawan dari berbagai daerah dan profesi berbeda, dan tentu saja bisa mengenali lebih luas keberagaman Indonesia.
Narsih : ini makanannya pedes ya ? Narsih memelototi cabe merah yang mengapung di kuah sepat yang disajikan...

Pak kepala sekolah pun mencontohkan cara menyajikan sepat, apa fungsi cabe merah itu. Narsih tersenyum puas. Dan perut kami para relawan dari Lombok harus mengalah. Singang yang biasanya cukup pedas, pada malam kami menginap di rumah Lulu Ws harus mengikuti lidah Narsih. Tentu bakalan repot kalau mengikuti selera sambel orang Lombok.
Selain diskusi profesi, diskusi soal kuliner di daerah masing-masing tak pernah ketinggalan. Indonesia memang beragam. Indonesia kaya. Kami cinta Indonesia.




kelas inspirasi sumbawa
SAYA : bagaimana ceritanya bu dokter sampai ke Sumbawa ?
FEBBY : Saya pernah mendengar iklan radio tentang promosi susu kuda liar. Saya denger disebut tentang Sumbawa. Begitu ada program saya daftar ke Sumbawa

Percakapan kami di bawah pohon asam di Ai Limung. Sebuah dusun terpencil di Kecamatan Moyo Hilir. Ketika ada program kelas inspirasi, dokter yang asli Padang dan menyelesaikan kuliah kedokteran di Aceh ini mendaftarkan diri jadi relawan. Paling bersemangat.

Dari penuturan para guru di SDN Ai Limung, kami tahu kalau daerah itu kekurangam air bersih dan kekurangan tenaga kesehatan. Hanya bidan yang tinggal di pustu. Akses jalan tanah dan berbatu, berlumpur ketika hujan, membuat biaya berobat ke luar kampung ini jadi lebih mahal.
dokter Febby adalah dokter pertama yang berkunjung ke Ai Limung. Walaupun bkn datang utk pelayanan kesehatan, dokter Febby banyak memberikan inspirasi bagi adik-adik Ai Limung.

SAYA : kenapa tidak menetap di Sumbawa untuk selamanya. Bukankah orang Padang terkenal perantau.
FEBBY : Padang juga masih kekurangan dokter. Padang membutuhkan saya.

SAYA : Indonesia membutuhkanmu. Dan Sumbawa adalah bagian dari Indonesia.
Kami banyak ngobrol soal masakan padang, budaya, dan makanan khas Sumbawa. Orbolan panjang kami terhenti oleh sajian sepat dari para guru di SDN Ai Limung.


kelas inspirasi sumbawa
Ini cerita bidan Erni Suryana yang kami tinggalkan berangkat duluan :

Nelson (siswa keturunan Timor-Timur) tersenyum saat berperan sebagai pasien Siti (siswi keturunan Bugis) di SDN Omo. Bidan Erni Suryana adalah relawan kelas inspirasi yg datang dari Lombok dengan naik motor sendiri. Saya "mengerjainya" dg membiarkan dia datang sendiri. Toh, bidan jilbaber yg hobi mendaki gunung ini sudah teruji merantau ke Yogjakarta. Pada hari inspirasi, Nana-panggilan akrabnya- juga banyak belajar dari siswa yang berasal dari berbagai suku ini. Siswi yang sebelumnya hanya tahu profesi nelayan dan guru ini pun ingin menjadi bidan.

Cerita lainnya lain kali aja saya tulis dan posting..