Jumat, 29 Januari 2016

Mashur, Potret Nasib Guru Honorer di Sekolah Terpencil




guru terpencil


Seandainya para guru honorer mogok mengajar lantaran “upah” yang tidak manusiawi, entah apa jadinya pendidikan di negeri kita. Mashur, salah seorang guru honorer di sekolah terpencil bisa jadi mewakili kisah para guru honorer di belahan Nusantara lainnya.

***

Hari belum zuhur, tapi sekolah itu tampak lengang. Siswa lebih awal dipulangkan. Sekolah-sekolah yang ada di daratan Pulau Lombok, pukul 11.00 Wita pun masih terlihat aktivitas belajar mengajar. Siswa masih berkeliaran di halaman sekolah lengkap dengan seragam pramuka mereka.

Tapi, Sabtu itu (23/1) sekolah yang berada di Gili Gede, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat itu sudah sepi. Hari Sabtu siswa memang lebih awal dipulangkan. Selain itu, jika lepas zuhur, jika hujan turun disertai angin yang berhembus dari timur, para guru di sekolah itu butuh nyali untuk menyeberangi lautan.

Sebagai gambaran, saya menumpang perahu berkapasitas 15, tapi hanya diisi 9 orang. Berulang kali penumpang menarik nafas panjang, sesekali berteriak melihat ombak menggulung. Ombak di perairan itu sepertinya marah. Air membasahi pakaian penumpang. Air masuk dalam perahu. Kepulangan lebih awal para guru di SDN-SMPN Satap 2 Sekotong hari itu lumrah saja.

“Kalau angin timur (Angin yang berhembus dari timur, red) ombak memang besar,’’ kata Mashur, satu-satunya guru yang tinggal di Gili Gede. Mashur tinggal di Gili Gede karena dia putra asli pulau itu.

Dermaga umum penyeberangan ke Gili Gede ada di Tembowong. Hanya butuh waktu 15 menit. Tapi sekolah di Gili Gede berada di bagian lain pulau itu. Jadi perahu harus mengitari pulau itu terlebih dahulu. Dengan menaiki perahu nelayan bermesin 25PK, butuh waktu 30 menit sampai ke sekolah. Sekolah itu persis berada di depan pesisir pantai.

Mashur adalah satu diantara 12 guru honor di sekolah itu. Guru negeri hanya 4 orang. Itu termasuk kepala sekolah. Jumlah siswa untuk SD 157 orang, sementara SMP 37 orang.Mashur mengajar di SMP.

Jumlah siswa SMP memang sedikit. Tapi, sekolah SMP berbeda dengan SD. Sebanyak-banyak murid SD, mereka tetap enam kelas. Satu kelas diampu satu orang guru sebagai wali kelas. Sementara SMP, berapapun jumlah siswanya tetap membutuhkan guru mata pelajaran. Dan inilah yang menjadi masalah di Gili Gede. Tak semua mata pelajaran memiliki guru.

Mashur yang jebolan sarjana pendidikan Pendidikan Kewarganegaraan harus mengajar mata pelajaran lainnya. Dia juga mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Selesai mengajar IPA, yang jauh dari pendidikan formalnya, Mashur pindah ke kelas lainnya mengajar Pendidikan Agama Islam (PAI). Hari lain, sebelum masuk kelas mengajar satu diantara tiga mata pelajaran itu, lelaki kelahiran 1979 ini membimbing siswa siswa Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes). Pelajaran olahraga. Jadi dalam seminggu tak ada waktu lowong Mashur. Dia mengajar penuh empat mata pelajaran.

guru terpencil

Mashur sadar mengajar empat mata pelajaran tidak akan maksimal. Apalagi dia lulusan Pendidikan Kewarganegaraan yang harus mengajar IPA. Bidang yang sangat jauh. Tapi mau tidak mau Mashur “terpaksa” mengajar pelajaran lain.

Dia tidak sendiri. Guru lainnya, yang juga berstatus honor, Nasri Rahman juga mengajar ganda. Selain mengajar Bahasa Inggris, guru kelahiran 1986 itu mengajar juga Teknologi Informatika dan Komputer (TIK).

Meminta guru SD mengajar ke SMP juga tidak memungkinkan. Para guru di SD sudah pas jumlahnya. Mereka juga tidak kalah padat mengajar di kelas. Tapi karena kondisi yang memaksa, Sahabudin Muzakkir, guru SD mengajar Matematika di SMP.

“Kalau tidak merangkap begitu kasihan siswa SMP. Mereka tidak bisa belajar,’’ kata Mashur. 

Seluruh guru mata pelajaran di SMP berstatus honorer. Hanya kepala sekolah yang merangkap kepala SD yang negeri. Dengan kesibukan mengurus dua sekolah, berat rasanya meminta kepala sekolah untuk mengajar penuh di SMP yang kekurangan guru. Mengangkat guru honor adalah pilihan. Walaupun di belakangnya masalah muncul.

Dengan siswa yang berjumlah 37 orang, dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang diterima begitu kecil. Sementara meminta sumbangan wali murid mustahil dilakukan. Anak-anak itu mau bersekolah saja Mashur bersyukur. Hampir semua siswa adalah anak nelayan miskin. Membebani mereka dengan berbagai “sumbangan” yang menjadi “tradisi” sekolah-sekolah di kota bisa-bisa membuat mereka enggan bersekolah.

Dengan kondisi keuangan sekolah yang pas-pasan, dan aturan terbaru dana BOS maksimal 15 persen boleh dipakai untuk gaji, maka guru-guru honorer di SMP di Gili Gede harus rela digaji rendah. Dalam sebulan, Mashur, yang mengajar empat mata pelajaran digaji Rp 62 ribu per bulan. Uang itu diberikan tiap tri wulan.

“Kalau mengandalkan honor guru tidak bisa makan. Apa yang bisa dibeli Rp 62 ribu,’’ kata Mashur yang memiliki dua orang anak itu.

Untuk menyiasati kebutuhan rumah tangga, Mashur juga bekerja sebagai staf desa. Dan semua guru honor di sekolah itu memiliki pekerjaan lain. Yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai pekerjaan utama. Mengajar dengan honor Rp 62 ribu per bulan dianggap mereka sebagai pengabdian. Mashur dan beberapa guru honorer lahir dan besar di Gili Gede.

Jika Mashur dan guru honor lainnya berhenti mengajar lantaran upah yang tidak manusiawi itu, mungkin saja sekolah itu (SMP) bubar. Para guru honorer dari luar berpikir berpuluh-puluh kali mengabdi di sekolah itu. Bukan sekadar gaji yang jauh dibawah gaji “tukang bikin kopi” di kantor-kantor pemerintah, tapi risiko dihantam ombak, dan biaya perjalanan yang tidak cukup ditutupi dengan upah jadi honorer.

guru terpencil


Pemerintah Lombok Barat tidak menyediakan perahu bagi guru yang mengajar di Gili Gede. Berbeda misalnya dengan perhatian pemerintah Lombok Timur yang menyediakan perahu bagi guru mereka yang mengajar di Gili Beleq. Perahu itu bisa diibaratnya sebagai “perahu dinas”.

Guru di Gili Gede menumpang di perahu nelayan. Mereka sudah memiliki langganan. Tidak gratis. Mereka juga sangat tergantung jadwal beroperasinya perahu nelayan itu. Tapi, kata Mashur, para guru di Gili Gede selalu datang pagi.

“Ada guru di sini tinggal di Cakranegara Mataram. ada juga tinggal di Gerung, tapi selalu datang pagi,’’ kata Mashur.

Menurut dia, pemerintah semestinya punya kebijakan khusus. Guru negeri di Gili Gede, diberikan tunjangan khusus. Guru honor diberikan honor khusus. Sebab mengajar di tempat terpencil itu butuh pengorbanan lebih besar dibandingkan mengajar di pusat kota. Dulu ada program guru terpencil. Tapi belakangan program itu dihapus.

“Saya berharap sekali para penentu kebijakan bisa berkunjung ke sekolah ini biar tahu bagaimana perjuangan para guru,’’ katanya. (jajarkarang)

Sekolah Petiwung : Potret Marjinal Pendidikan di Kawasan Wisata


sekolah terpencil, sekolah kawasan wisata, pantai kuta
 
Destinasi wisata pantai di Pulau Lombok sudah kesohor hingga mancanegara. Tapi sayang, keindahan pantai dan gemerincing rupiah yang dikeruk dari kawasan itu tak sebanding dengan kehidupan masyarakatnya. Potret masih termarjinalnya masyarakat kawasan wisata bisa dilihat dari Sekolah Petiwung. Sekolah yang bertetangga dengan kawasan ITDC, kawasan Pantai Kuta, Kabupaten Lombok Tengah.

***

Lanimah berulang kali menenangkan murid-muridnya pada Senin pagi (18/1). Beberapa anak melapor jika dia diganggu temannya. Anak lainnya berulang kali bertanya dimana dia harus duduk. Maklum pada pagi menjelang siang itu, murid kelas 1 dan murid kelas 2 digabung dalam satu kelas. Hari itu mereka akan belajar mewarnai dan menggambar.

Menggunakan bahasa Sasak dan bahasa Indonesia, Lanimah meminta mereka tenang. Fauziah, guru kelas 1 yang belakangan datang membantu meminta murid yang memanjat “tembok” ruang kelas agar segera turun. Dia meminta mereka duduk di bangku dengan tertib. Murid kelas 3 dan kelas 4 diminta ke ruang lainnya. Ada tugas lain menanti mereka.

Sehari-hari Lanimah yang mengajar di kelas 2 dan Fauziah yang mengajar di kelas 1 mengajar dengan bahasa Indonesia dan bahasa Sasak. Tidak semua muridnya lancar berbahasa Indonesia. Mereka juga harus ekstra sabar, murid-murid mereka sangat aktif. Menaiki bangku, duduk di “tembok” kelas, berkejeran di dalam kelas adalah keseharian mereka. Bahkan ketika duduk belajar, murid mereka bisa saja tiba-tiba berhamburan keluar ketika pedagang bakso cilok melintas.

Aksi duduk di “tembok” ruang kelas, bahkan beberapa kali masuk ruang kelas tidak melalui pintu menjadi hal biasa di sekolah itu. Sekolah itu, MI Nurul Haq NW Pogem memiliki bangunan semi permanen. Hanya ruang guru yang merangkap perpustakaan yang ditembok batako. Sisanya “ditembok” dengan bambu.

sekolah terpencil, sekolah kawasan wisata, pantai kuta


Batangan bambu dipotong dengan tinggi 1,5 meter. Potongan bambu itulah yang kemudian dijadikan “tembok” kelas 3 dan kelas 4. Sementara kelas 1 dan kelas 2 “ditembok” menggunakan pagar bedek. Sebagian bedek itu sudah bolong. Selebihnya, seluruh ruangan di kelas-kelas itu terbuka. Hanya 1/3 bagian saja yang disekat.

“Kalau musim panas begini enak ada udara masuk. Tapi kalau musim hujan air menggenangi ruang kelas,’’ kata Fauziah.

Sekolah ini dibangun pada tahun 2011. Karena keterbasan dana, sekolah itu pun dibangun seadanya. Bangunan kelas 1 dan kelas 2 memakai bedek, itu pun hanya dipagari 1/3 dari tinggi bangunan. Atapnya memakai asbes. Lantai berupa pelesteran semen kasar. Dengan kondisi bangunan ini, sekolah yang belakangan lebih terkenal dengan nama Sekolah Petiwung “dinobatkan” sebagai sekolah alam. Bangunan kelasnya memang bernuansa alam. Walaupun kondisi itu lebih disebabkan kondisi kekurangan dana.

“Yang penting anak-anak bisa bersekolah. Mudah-mudahan ke depan bangunan ini lebih bagus,’’katanya.

sekolah terpencil, sekolah kawasan wisata, pantai kuta


Sekolah ini berdiri di kampung Petiwung. Itulah yang membuat madrasah itu dikenal dengan Sekolah Petiwung. Nama Petiwung sendiri cukup dikenal lantaran salah satu basis masyarakat yang kerap berhadap-hadapan dengan pihak Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC). Perusahaan negara yang berhak atas pengelolaan kawasan pantai berpasir putih di kawasan Pantai Kuta. Petiwung adalah “tetangga” ITDC.

Berada di ring kawasan wisata, tak serta merta membuat kondisi Petiwung baik. Akses jalan ke dalam kampung itu berupa jalan tanah. Beruntung akses jalan dari Pantai Kuta menuju Teluk Awang yang melintas di depan kampung itu sudah diaspal, hotmix. Tapi jika masuk ke dalam Petiwung kondisinya jauh berbeda.

Keberadaan MI Nuruq Haq Pogem itu juga sebagai respon masyarakat atas kurangnya akses pendidikan. Sekolah negeri terdekat cukup jauh dari kampung itu. Tak ada kendaraan umum. Akhirnya warga bernisiatif membuka sekolah swasta. Muridnya sudah sampai kelas 4. Seluruh murid berjumlah 55 orang.

sekolah terpencil, sekolah kawasan wisata, pantai kuta

sekolah terpencil, sekolah kawasan wisata, pantai kuta


Setali tiga uang, kondisi sekolah yang seadanya itu membuat kesejahteraan guru juga seadanya. Lanimah menuturkan, gaji yang mereka terima sebagai guru honor tak cukup untuk sekadar membeli bensin motor yang sehari-hari dipakai. Hanya Rp 100 ribu per bulan. Itu pun dibayar sekali 3 bulan, dan lebih sering sekali 6 bulan.

“Kami mengajar bukan karena mengharap gaji, kami ingin anak-anak kami tetap bersekolah,’’ katanya.

Fauziah, guru kelas 1 yang saat ini sedang kuliah di Universitas Terbuka (UT) mengatakan kegiatan mengajar sebagai aktivitas yang menyenangkan. Itu lebih baik hanya sekadar duduk di rumah. Apalagi saat ini dia memiliki anak berusia 5 tahun, yang sebentar lagi masuk SD. Sambil mengasuh anaknya, dia tetap mengajar. Anaknya pun punya teman bermain. Jika sudah cukup umur, dia akan memasukkan anaknya secara resmi di sekolah tempatnya mengajar.

Sebagai sekolah yang berada di kampung tetangganya ITDC, tak sedikit pun kecipratan. Beberapa kali pejabat negara mengunjungi ITDC, kawasan sekitarnya dipoles demi menyambut sang pejabat. Tapi kondisi Sekolah Petiwung tetap seperti itu. Bantuan justru datang dari para relawan yang prihatin dengan keadaan sekolah itu.

Kondisi sekolah ini juga menjadi gambaran kondisi masyarakat di kawasan wisata Pantai Kuta. Masyarakat kurang dilibatkan dalam pembangunan wisata. Masyarakat akhirnya menjadi penonton di tanah mereka sendiri. Konflik berkepanjangan antara masyarakat dengan penguasa lahan tak kunjung selesai.

Kekayaan dari sektor wisata, tak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat. Sekolah yang dibangun “seadanya” itu menjadi potret bahwa manisnya pembangunan pariwisata belum dinikmati oleh masyarakat lokal. Banyak hotel, villa, restoran yang dibangun mewah. Tapi kondisi Sekolah Petiwung tetap seperti itu. Sederhana. Sesederhana pikiran masyarakat bahwa mereka juga berhak atas tanah leluhur yang kini dikuasai investor.

“Sekolah ini kan sudah ada izinnya, tentu pemerintah tahu keberadaannya,’’ kata Lamun, guru Bahasa Indonesia.

sekolah terpencil, sekolah kawasan wisata, pantai kuta
***

Anak-anak itu berhamburan keluar kelas begitu tahu siapa tamu yang keluar dari dalam mobil. Aisyah Odist, salah satu penumpang mobil Avanza hitam itu sudah dikenal anak-anak itu. Rekan-rekan Aisyah yang lain, Rina Pugh, Cecep, Wayan Andriani pun dikerubungi anak-anak Sekolah Petiwung. Satu per satu anak-anak itu menyalami dan mencium tangan mereka.

Hari itu, kelas dibagi menjadi dua. Kelas 1 dan kelas 2 digabung di satu ruangan. Mereka akan mengikuti kelas menggambar dan mewarnai. Relawan dari Republik Ceko, Andrea dan Cecep membagikan kertas gambar dan pensil warna. Hari itu mereka menggambar apa pun yang mereka inginkan. Bebas.

Anak-anak bergembira. Ada yang menggambar gunung, pantai, atau sekadar mencoret kertas gambar. Guru mereka Lanimah dan Fauziah dengan sabar mendampingi. Membimbing jika ada murid yang diam, tidak menggambar.

 Ruang kelas berikutnya, kelas 3 dan 4 digabung menjadi satu. Hari itu mereka akan mewarnai daun kering. Daun-daun kering itu dikumpulkan Aisyah Odist, seorang aktivis lingkungan.

Dari daun kering itu, Aisyah bersama Cecep menunjukkan daun berwarna yang sudah jadi. Alangkah indahnya. Daun itu seperti kupu-kupu. Anak-anak pun bertambah semangat. Hanya dengan melihat sekilas gambar itu, mereka berkreasi dengan aneka warna. Tak takut tangan kotor. Mereka juga tidak terpaku pada satu warna. Mereka berkesperimen dengan berbagai warna.

“Daya imajinasi mereka lebih baik. Kami tak ingin mengarahkan harus mewarnai dengan warna dan model apa,’’ kata Rina Pugh.

Ruang kelas begitu riuh. Anak-anak yang mewarnai daun kering itu tak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka begitu karya mereka usai. Ada yang mengangkat tangan, lompat, berlarian, dan berteriak gembira. Apalagi ketika para relawan memuji karya mereka, anak-anak itu sepertinya tak ingin acara mewarnai daun kering itu berakhir hari itu.

“Kami akan pamerkan karya mereka ini,’’ kata Aisyah.

Hari itu, sehari penuh, seluruh ruang kelas dikuasai para relawan. Para guru hanya membantu. Para relawan lah yang mengajar. Mengajar kerajinan tangan dan menggambar. Anak-anak menyambut gembira. Para guru dapat tambahan ilmu. Mereka tambah semangat untuk mengajar.

Para relawan yang datang bukan sekali itu mereka mengajar murid-murid Sekolah Petiwung. Aisyah, sebelumnya pernah bertandang ke sekolah itu. Mengajar pengelolaan sampah. Bukan sekadar mengolah sampah mereka, anak-anak itu bahkan berburu sampah di kampung. Mereka mengumpulkan bungkus kopi dan sampah plastik lainnya. Aisyah akan mengajar mereka memanfaatkan sampah itu menjadi barang berharga.

Dengan cara melihat langsung pemanfaatan sampah, anak-anak itu secara tidak langsung telah berbuat nyata untuk lingkungan. Mereka tak lagi membuang sampah sembarang. Malahan mereka mengoleksi sampah yang mereka jumpai.

Lain lagi dengan Andrea. Perempuan dari Republik Ceko itu sudah seperti menjadi guru tetap di Sekolah Petiwung. Semua murid mengenalnya. Tak ada jarak antara mereka. Anak-anak itu akrab dengan Andrea seperti mereka akrab dengan bapak ibu guru mereka. Mereka menghormati Andrea seperti menghormati guru-guru sekolah mereka.

“Ibu Andrea banyak membantu sekolah ini, ruang kelas yang kami pakai bantuan Ibu Andrea dan teman-temannya,’’ kata Lanimah, guru Sekolah Petiwung.

sekolah terpencil, sekolah kawasan wisata, pantai kuta


Kehadiran para relawan ke sekolah terpencil tersebut sangat membantu para guru. Relawan itu memberikan motivasi pada anak didik mereka. Anak-anak semangat sekolah. Bahkan ada beberapa anak yang sebelumnya sekolah di tempat lain, pindah ke sekolah yang ruang kelasnya tak bertembok itu. Anak-anak senang dengan banyaknya kegiatan belajar tambahan.

Lanimah juga menyediakan teras rumahnya untuk belajar tambahan. Pelajaran bahasa Inggris. Rumahnya juga menjadi ruang baca, menggambar bagi anak-anak sekitar ketika pulang sekolah. Semangat Lanimah ini, katanya, tak lepas dari dorongan para relawan. Dia yakin masih banyak orang baik yang peduli dengan Sekolah Petiwung.

Lamun, guru Bahasa Indonesia mengakui kepedulian para relawan membuat guru-guru di Petiwung semangat mengajar. Dengan gaji Rp 100 ribu per bulan, mustahil mengandalkan hidup dari mengajar saja. Tapi mereka tak pernah malas mengajar, kehadiran para relawan yang kerap datang ke Petiwung menjadi cambuk mereka untuk mengabdi.

“Kami sedih justru kepedulian pemerintah yang kurang,’’ katanya.

Berada di kawasan wisata, mestinya sekolah-sekolah di kawasan itu memiliki fasilitas yang baik. Walaupun sekolah tempatnya mengajar berstatus swasta, bukan berarti pemerintah lepas tangan. Kehadiran sekolah itu memungkinkan anak-anak Petiwung tetap sekolah. Mereka tidak putus sekolah lantaran jarak ke sekolah negeri cukup jauh.

“Tak berharap banyak, yang penting ada perhatian ke sini,’’ ujarnya. (*)