Jumat, 22 April 2016

KAPUNG; Pelesir Bersama ala Rembitan



kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah

 Dalam setahun, ada satu hari bagi seluruh warga Rembitan, Kecamatan Pujut,Kabupaten Lombok Tengah meninggalkan kampung halaman. Mereka menghabiskan waktu di Pantai Kuta, 7 kilometer (km) dari desa itu. Hari itu dikenal dengan Kapung.


****

SENIN PAGI, 2 November 2015, seorang pria tua jalan mondar mandir di Dusun Rembitan I. Mengenakan sarung dan baju biru, pria itu ditemani seorang yang lebih muda. Pada hari sepagi itu,pria itu, Lalu Rusman, 73 tahun memiliki tugas khusus. Sebagai belian (dukun) dia harus memastikan seluruh acara yang akan dihelat hari itu aman. Aman secara spiritual. Tidak ada gangguan makhluk halus.

Dia menaburkan moto’seong (beras yang digoreng tanpa minyak) di jalan kampung yang dilewati. Empat jalan dusun yang ditaburi moto’ seong itu, Dusun Rembitan I, Dusun Rembitan II, Dusun Rembitan III, dan Dusun Rembitan IV. Moto’ seong itu sebagai “syarat” agar seluruh kampung selamat, dan tidak ada gangguan.

Setelah menaburkan moto’ seong di jalan-jalan utama kampung, dia melanjutkan perjalanan ke Pantai Kuta. Sekitar 7 km ke arah selatan dari Rembitan. Di paling ujung sebelah barat, Lalu Rusman mendirikan tenda. Dibantu oleh para kerabatnya. Dari tenda itu, dia kemudian berjalan di sepanjang pantai berpasir putih itu. Dia kembali menaburkan moto’ seong. Hari itu, Lalu Rusman yakin tidak akan ada masalah dalam acara yang dihelat tahunan warga di empat dusun itu.

 kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah
Sementara itu dari rumah-rumah warga di empat dusun di Desa Rembitan itu, kesibukan tampak lebih ramai. Lain dari hari biasanya. Sebagian besar perlengkapan dapur dikeluarkan. Panci, tempat nasi,baskom, termos penyimpanan air panas,gula,kopi ditaruh di halaman rumah. Mereka beberapa kali harus menghalau anak-anak kecil yang bermain di sekitar perlengkapan memasak itu, yang semuanya sudah terisi aneka lauk pauk. Tapi namanya anak-anak, mereka tetap bermain. Kejar-kejaran, dan meneriakkan “ lalo kapung”, yang artinya “pergi kapung”. Kata yang tidak lumrah di kosakata bahasa Sasak.

Hari itu, Senin 2 November, atau  masuk dalam bulan keenam penanggalan Sasak, warga empat dusun di Desa Rembitan itu melangsungkan tradisi kapung. Di seluruh Lombok, hanya empat dusun di Desa Rembitan itu yang  menggelar tradisi itu.

“Bisa dikatakan sebagai selamatan kampung,’’ kata tokoh masyarakat Rembitan, HL Sidik.


kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah
Sehari dalam setahun, seluruh warga meninggalkan kampung halaman mereka. Belian yang sejak pagi buta menabur moto’ seong itu menjadi tanda hari itu sudah siap melangsungkan kapung. Setelah semua siap, seluruh warga meninggalkan rumah mereka untuk menghabiskan waktu di Pantai Kuta. Hanya beberapa orang yang berjaga di kampung. Memastikan agar rumah yang dikosongkan aman. Tidak dimasuki pencuri. Selain itu semua orang harus pergi ke pantai.

Tradisi bersih kampung sudah lumrah di desa-desa di Pulau Lombok. Berbagai acara digelar dalam bersih desa itu. Tapi khusus di Rembitan, acara dilaksanakan di Pantai Kuta. Desa harus ditinggalkan.
Acara dimulai sejak tiga minggu sebelumnya. Para tokoh masyarakat, tokoh adat berkumpul untuk membahas rencana kapung. 

Mereka mengamati alam sekitar, memastikan hari tepat untuk melangsungkan kapung. Cara paling sederhana melihat pohon boro dan randu (kapuk). Jika dua pohon itu sudah berbunga, maka saat itu masuk bulan keenam dalam penanggalan Sasak. Dan biasanya setelah muncul bunga pohon enep (pohon lokal), itu sudah masuk bulan ketujuh penanggalan Sasak. Para tokoh masyarakat yang terlatih membaca alam tak pernah meleset menentukan bulan keenam dan hari baik saat kapung.

Selain mengamati kondisi di kampung, beberapa tokoh juga pergi ke Pantai Kuta. Memastikan air laut dalam keadaan baik. Saat hari kapung, tak boleh ada gelombang besar. Air surut, tapi bukan kering seperti saat mada’(saat seluruh air laut di pinggiran surut total dan warga mencari ikan dan kerang-kerangan). Air laut tetap ada, tapi aman dari ombak. Apalagi pada acara kapung banyak anak-anak yang akan bermain di laut. Untuk itulah selama tiga minggu itu, laut diamati dan akan dipastikan hari apa yang paling tepat melangsungkan kapung.
kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah

 Setelah hari kapung dipastikan, para tokoh akan mengumumkan ke seluruh warga. Tidak melalui pengeras suara. Tapi dari cerita mulut ke mulut. Kerabat yang merantau keluar Desa Rembitan dihubungi melalui telepon. Biasanya mereka selalu pulang “mudik” saat pelaksanaan kapung.

Sehari sebelum kapung lah tempat keramaian kampung.Seluruh rumah memasak masakan terbaik. Tapi ada makanan yang tak boleh absen : tekel.  Ketan yang dibungkus daun kelapa, dan di dalam ketan itu ditaruhkan pisang. Setelah itu direbus, hingga ketan matang. Selain tekel, boleh membawa makanan apa saja.
Tak ada zikir bersama. Doa dilangsungkan di rumah masing-masing. Tak ada acara khusus juga, selian para belian yang tentunya tetap berkeliling kampung. Menebar moto’seong dan mendoakan agar kampung selamat. Mendoakan agar seluruh warga Rembitan sehat.

“ Dalam tradisi-tradisi selamatan kampung di Lombok dan acara apapun, sudah menjadi ciri khas rowah (pesta),’’ kata sejarawah Islam di Lombok, Dr Jamaluddin.
kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah


kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah

kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah
Setelah semua makanan siap, warga pun berangkat ke pantai. Di pantai, acara mereka makan-makan, mandi,dan ngobrol. Termasuk menjadi ajang silaturahmi keluarga besar. Barangkali inilah pelesiran terbesar, empat dusun sama-sama meninggalkan kampung halaman. Membangun tenda,makan bersama, mandi bersama, seharian di Pantai Kuta.

“Selamatan kampung tidak mesti membuat acara besar-besaran di kampung. Meninggalkan kampung halaman sebagai simbol membersihkan kampung.Penyakit –penyakit dikeluarkan, kemudian kembali ke kampung dalam kondisi bersih,’’ katanya.

Dalam tradisi di berbagai tempat, membersihkan badan di laut, mata air, sungai, menjadi simbol penyucian diri. Misalnya tradisi tolak bala masyarakat di Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno, pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, mereka membersihkan diri dengan menceburkan diri ke laut. Tradisi itu kemudian dikenal dengan mandi safar. Bagi masyarakan Sasak, tradisi itu dikenal dengan rebo bontong. Mereka akan membersihkan diri ke pemandian umum, dan biasanya sungai.

Bagi masyarakat Rembitan, simbol penyucian diri itu dengan mandi laut. Mereka mandi bersama. Berbagi makanan, dan melupakan semua masalah yang pernah terjadi di kampung.

“Seperti lebaran, keluarga kami dari jauh pulang kalau ada kapung,’’kata HL Sidik.
Kapan tradisi kapung ini dimulai ?

Mantan kepala desa ini mengatakan, tidak ada yang tahu kapan dimulainya tradisi kapung. Yang pasti, sejak dia kecil sudah dilangsungkan tradisi kapung.

kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah
Ada satu cerita di dalam naskah Rengganis. Di dalam naskah kuno itu, kata pria yang akrab disapa Mamiq Sidik, dituturkan seorang  putra bangsawan bernama Raden Ariya Rapatmaja dihanyutkan ke laut. Ketika itu dia masih bayi, baru dilahirkan. Dia dimasukkan dalam kotak kayu dan dihanyutkan mengikuti arus laut.
Pada saat itu warga yang sedang belangon, yang bias diartikan liburan, melihat peti kayu itu. Mereka membukanya, dan terkejut menemukan seorang bayi. Bayi itu pun selamat.

Prosesi penyelamatan pada saat belangon itulah yang menjadi asal muasal kapung. Belangon sama artinya dengan kapung, yang bisa dimaknai melepaskan pikiran susah jadi senang. Liburan ke pantai bisa menjadi cara melepaskan pikiran. Melepaskan semua penyakit dan kepenatan selama di kampung halaman. Selain dimaknai sebagai selamatan kampung, kapung juga merupakan acara pelesiran bersama warga Rembitan. (*)



Rabu, 20 April 2016

Zimat Ilmu Kebal Dari Lombok

naskah kuno, naskah lontar, naskah kuno lombok, nyaer

Lombok kaya dengan literatur. Ada yang masih berupa tulisan di atas lontar, ada juga yang sudah ditulis di atas kertas. Banyak pelajaran yang bisa didapat dari warisan leluhur itu. Tapi sayang, tak sedikit yang kondisinya mengenaskan.

****
Matahari belum menyengat ketika rombongan kami tiba di Dusun Rembitan I Desa Rembitan Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah (Loteng). Sepanjang perjalanan, peneliti dari  Pusat Penelitian Pengembangan Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama, Alfan Firmanto dan Tantowi Jauhari bercanda dengan sejarawan dari IAIN Mataram, Dr Jamaludin. Sesekali, Jamaludin yang sekaligus menjadi penunjuk jalan memencet beberapa nomor di HP nya.

Di seberangan telepon, orang yang dihubungi mengatakan, dia sudah lama menunggu. Kebutuhan para peneliti sudah disiapkan tuan rumah. Begitu juga buah tangan yang akan dibawa ke rumah yang akan dikunjungi tersedia di bagian belakang mobil.

Tuan rumah, H Lalu Sidik menyambut dengan senyum. Di rumah sederhananya itu, mantan kepala Desa Rembitan ini menggelar tikar di terasnya. Alfan menyiapkan perlengkapan utamanya, kamera digital Canon EOS 7D, tripot khusus, laptop dan beberapa pendukung.

“Jangan mulai bekerja dulu, ini harus dinikmati,’’ kata HL Sidik menyodorkan kopi hitam pekat pada rombongan.

naskah kuno, naskah lontar, naskah kuno lombok, nyaer
Mamiq Sidik,panggilannya, adalah tuan rumah yang ramah. Tak sekadar menyeduhkan kopi, beberapa jenis kue juga disuguhkan pada tamu dari Jakarta. Setelah mengobrol 35 menit, barulah kegiatan utama, mendokumentasikan naskah kuno dimulai.

Mamiq Sidik mengeluarkan lima buah naskah yang tertulis di atas lontar. Naskah itu dipinjam dari kerabatnya di Desa Rembitan. Selain Mamiq Sidik, menjelang siang, ikut bergabung Lalu Tinggil, salah seorang pembaca naskah dari Rembitan.

“Kami tidak bisa membaca yang aksara kuno seperti ini. Kami butuh orang-orang yang terbiasa membaca,’’ kata Dr Jamaludin yang menulis disertasi tentang sejarah Islam di Lombok berdasarkan naskah kuno.

Ada lima naskah yang dikeluarkan Mamiq Sidik. Setelah dibaca, naskah-naskah itu berjudul puspakarma, rengganis, purwadaksi, jabal kaf, dan anakidung. Saya hanya duduk menyimak ketika Lalu Tinggil membaca naskah-naskah itu.

naskah kuno, naskah lontar, naskah kuno lombok, nyaer

 Naskah anakidung paling menjadi perhatian tim peneliti. Naskah yang panjangnya seukuran jari telunjuk orang dewasa itu dibungkus kain putih. Beberapa kali Mamiq Sidik juga meminta naskah itu sebaiknya belakangan dibuka.

“Sebenarnya ini lima lapis bungkus kain putihnya, saya hanya bawa yang satu lapis,’’ katanya membuat penasaran.

Beberapa jam selanjutnya, Alfan sibuk dengan pekerjaannya. Membuka satu persatu lembaran lontar, merekam dalam format foto. Pekerjaan melelahkan, mengingat naskah lontar yang akan didigitalisasi ukurannya kecil. Presisi kamera harus bagus. Fokus harus tepat agar tidak ada huruf yang kabur terlihat.

“Kalau naskah dalam bentuk kertas lebih mudah, dua lembar sekali foto. Kalau lontar satu lembar justru dua kali foto,’’ katanya.

Istirahat sholat dan makan siang, Alfan baru menyelesaikan dua naskah. Hingga menjelang sore, barulah lima naskah itu diselesaikan. Terakhir, naskah anakidung yang paling sulit direkam. Naskah anakidung ini berbeda dengan naskah lainnya, yang bercerita tentang nasihat sehari-hari. Anakidung itu lebih berisi doa-doa.

“Kalau yang punya yakin, tidak mempan dengan segala senjata,’’ kata L Tinggil menjelaskan fungsi lain naskah anakidung itu.

Lelaki yang hanya bersekolah sampai kelas 4 sekolah rakyat (SR)/SD itu memang tidak menjelaskan panjang lebar isi anakidung. Dia sepertinya segan, mengingat isi naskah itu berupa lafal untuk kesaktian. Cukup diselipkan di pinggang, si pemegang naskah itu tidak akan didekati oleh makhluk halus. Termasuk tak mempan segala jenis senjata besi.

“Orang yang megang bisa mengobati penyakit akibat makhluk halus,’’ ujarnya.
naskah kuno, naskah lontar, naskah kuno lombok, nyaer

Pekerjaan medokumentasikan naskah kuno, dalam lembaran lontar itu memang cukup melelahan. Sehari, hanya lima naskah yang diselesaikan. Dr Jamaludin, sebagai penunjuk jalan terpaksa membatalkan untuk bertemu dengan pemilik naskah lainnya. Cukup kerepotan untuk mendigitalisasi naskah jika hari sudah gelap.
Selain lima naskah tersebut, sebenarnya masih ada lagi naskah kuno. Sayang, kedatangan tim peneliti tidak tepat. Naskah itu  hanya bisa keluar pada bulan maulid. Itupun bertepatan dengan perayaan maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awwal pada kalender Hijriyah. Untuk mengeluarkan naskah itu, pemegang naskah harus menggelar rowah (pesta). Barulah naskah yang sebenarnya berisi kisah yang berkaitan dengan kehidupan Rasulullah itu bisa dikeluarkan.

“Bagi peneliti mungkin naskah itu layaknya sebuah benda biasa yang akan diteliti, tapi bagi masyarakat itu sakral,’’ kata Dr Jamaludin.

Jamaludin yang menulis tentang sejarah Lombok berdasarkan sumber naskah kuno pernah harus mengeluarkan kocek jutaan rupiah. Saat itu, naskah yang akan dia pelajari hanya bisa keluar pada bulan tertentu dan harus ada syukuran.

“Saya belikan kambing dan biayai rowahnya,’’ kata doktor sejarah peradaban Islam ini.

*****
naskah kuno, naskah lontar, naskah kuno lombok, nyaer
Naskah-naskah kuno yang disimpan masyarakat bisa menjadi sumber sejarah Lombok, khususnya sejarah Islam. Sayangnya, tidak semua orang bisa membaca tulisan aksara kuno yang dulu populer dengan sebutan hanacaraka itu. Belum ada upaya pemerintah di NTB, khususnya di Lombok agar naskah itu bisa diketahui semua orang.

Lalu Tinggil, 64 tahun, terbata-bata ketika menjelaskan isi naskah kuno itu. Mulutnya komat kamit, sesekali mengeluarkan suaranya yang sedang nyaer. Layaknya orang menyanyi, pria yang hanya sekolah sampai kelas 4 sekolah rakyat (SR)/SD itu terlihat serius. Selang beberapa menit, dia menjelaskan arti apa yang dia baca.
“Ini tentang nasehat sehari-hari,’’kata Lalu Tinggil menjelaskan ketika membaca naskah purwadaksi.

Naskah kuno yang didokumentasi hari itu, puspakarma, purwadaksi dan jabal kaf berisi nasehat. Sementara naskah anakidung berisi rajah dan doa-doa untuk kekuatan. Semua aksara dalam naskah itu, masih menggunakan aksara kuno, bukan huruf latin atau arab melayu.

Naskah kuno yang disimpan masyarakat memang banyak berisi nasehat sehari-hari. Tentu saja, itu terinspirasi dari ajaran para ulama. Kemudian, oleh masyarakat Sasak, para tokoh dalam cerita di dalam naskah itu dibuat dalam nama tokoh lokal.

“Memang penuh kiasan,’’ katanya.
naskah kuno, naskah lontar, naskah kuno lombok, nyaer

 Misalnya saja cerita di jabal kaf. Salah seorang pembesar dengan angkuh mengatakan bisa mengalahkan raksasa hanya dalam waktu 8 hari. Lantaran terlalu sombong akhirnya dia dihukum hingga 80 tahun. Belakangan hukuman berkurang menjadi 18 tahun.

“ Ini menjadi nasehat agar tidak sombong,’’ ujarnya.

Kisah dalam naskah itu memang banyak disadur dari kisah-kisah dari Jawa. Dalam proses penyadurannya, tokoh dan nama tempat bisa berubah. Sebagai contoh sederhana, cerita Cupak Gerantang yang populer di Lombok, merupakan kisah Panji di Jawa. Di tempat lain ada juga cerita serupa, tapi dengan nama tokoh yang berbeda.

“Latar belakang penyalin naskah juga memengaruhi, satu naskah yang sama judulnya tapi bisa lain ceritanya,’’ kata Dr Jamaludin.
naskah kuno, naskah lontar, naskah kuno lombok, nyaer

Naskah kuno tersebut sebenarnya menjadi catatan masa lalu. Di beberapa tempat, ada naskah kuno yang masih tertulis jelas riwayatnya. Ulama siapa yang menulis, dimana dia berguru, dan apa saja kitabnya yang pernah ditulis ada tercantum di dalam naskah kuno itu. Itulah sebabnya ketika menulis disertasi tentang sejarah Islam Lombok, Dr Jamaludin menjadikan naskah-naskah kuno itu sebagai sumber primer.

“Kalau kita gali semua, informasi sejarah tentang Lombok akan terang benderang,’’ ujarnya.

Sayangnya, upaya untuk menggali itu belum maksimal. Selain menyimpan di museum, pemerintah belum menunjukkan keseriusan dalam menggali sejarah dari naskah kuno itu. Selain itu upaya penyelamatan naskah kuno juga masih terbatas.

Selain itu, upaya mewariskan kemampuan membaca naskah kuno itu belum dilakukan. Pada tahun 1990-an, pemerintah pernah menjadikan pelajaran membaca dan menulis aksara kuno itu sebagai pelajaran di sekolah dasar (SD).

“Tapi sekarang tidak ada lagi pelajaran itu. Sudah lama dihapus,’’ katanya.

Akibatnya, generasi muda tidak bisa membaca, menulis, memahami isi naskah kuno yang tertulis dengan aksara Jawa kuno itu. Hanya beberapa orang tua saja yang masih bisa. Kemampuan itu mereka dapatkan secara turun temurun.

“Bahkan ada yang tidak bisa bisa membaca menulis latin, bahkan berbahasa Indonesia. Tapi membaca aksara kuno dan bahasa Jawa kuno sangat lancar,’’ kata Jamaludin.

naskah kuno, naskah lontar, naskah kuno lombok, nyaer
Menurutnya, pemerintah kabupaten dan provinsi harus sama-sama menjaga kelestarian naskah kuno itu. Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, pemerintah bisa memprogramkan pendokumentasian, mulai dari dokumentasi digital, alih aksara, alih bahasa, analisa konteks dan menyebarkan dalam bentuk cetakan.
Begitu juga dengan Dinas Pendidikan, bisa kembali mewajibkan sekolah-sekolah agar mengajarkan aksara kuno ini. Jika dipelajari sejak awal, tidak menutup kemungkinan kelak akan muncul ahli naskah kuno. Atau minimal, generasi muda mengenali aksara kuno yang pernah dipakai para leluhur mereka.(*)


Minggu, 10 April 2016

Uswatun Hasanah, Bidan di Desa Terpencil Sumbawa

bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa

Ada empat faktor yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat:  lingkungan, pelayanan kesehatan, perilaku, dan genetik. Bagi mahasiswa kesehatan masyarakat, empat faktor yang dikemukakan Hendrick L Blum tersebut menjadi makanan sehari-hari, sejak semester 1 hingga semester akhir. Sering menjadi perdebatan faktor manakah yang paling dominan. Kisah di bawah ini, mungkin saja menjadi tambahan satu faktor lagi : ketulusan.


*****

Bayangan fasilitas lengkap dan akses yang mudah buyar begitu Uswatun Hasanah ditempatkan di Desa Tepal, Kecamatan Batulanteh, Kecamatan Sumbawa. Untung saja, masyarakat tempatnya bertugas sebagai bidan pegawai tidak tetap (PTT) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sangat ramah.

Pagi itu perempuan yang biasa disapa Bidan Us tersebut sedang memeriksa kantong kartu kontrol persalinan. Di dalam kantong yang terbuat dari kertas karton itu, terdapat kartu nama ibu hamil. Ada yang berwana hijau, ada juga merah. Merah menunjukkan pemilik kartu itu harus mendapat perhatian lebih. Mereka termasuk perempuan hamil dengan risiko tinggi.

“Ini ada ibu hamil usia 31 tahun, anaknya sudah tujuh,’’ katanya memberikan contoh pemilik kartu merah.

Sabtu pagi (2/5) itu, Bidan Us sendirian di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Tepal, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa. Ketika saya menemuinya, dia baru saja selesai mengisi bak mandi. Itu rutin dilakukan setiap pagi. Maklum, aliran air ke Pustu itu tidak lancar. Air diambil dari pipa yang ditampung dalam ember. Lalu satu per satu ember dibawa ke dalam kamar mandi pustu.


bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa

Pagi itu, Bidan Us merasa tidak enak badan. Sehari sebelumnya, dia mengeluh pusing. Badannya masih terasa lemas. Badannya meminta istirahat setelah melakukan perjalanan ke Dusun Riu untuk memeriksa pasien beberapa hari sebelumnya.

Walaupun masih satu desa dengan Tepal, akses menuju Dusun Riu tidak mudah. Harus melewati hutan, jalan rusak, menanjak, dan sangat licin kala hujan. Meski ada angkutan ojek, namun perjalanan kaki lebih banyak. Sangat menguras tenaga. “Tenaga terkuras di perjalanan,’’kata bidan kelahiran 1990 ini.

Bidan Us satu-satunya petugas kesehatan yang ditempatkan pemerintah di desa dengan ketinggian 847 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu. Pustu itu seharusnya juga memiliki perawat. Terakhir ada perawat di pustu ini tahun 2014 lalu. Setelah menikah, perawat itu tidak pernah kembali lagi ke Tepal.

Menurut cerita warga Tepal, sudah sering pemerintah tidak menempatkan perawat di Pustu Tepal. Karena satu-satunya petugas kesehatan di desa terpencil itu, Bidan Us harus siap juga melayani pasien lainnya.

Setelah merapikan tempat kerjanya, Bidan Us siap-siap mengunjungi pasien di Talagumung, tempat paling terpencil di Desa Tepal. Selama bertugas di Tepal, dia belum sempat ke daerah itu. Dia tidak berani sendirian. Apalagi akses menuju tempat itu, harus melewati hutan dan beberapa bukit dengan berjalan kaki.

bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa

Untungnya pagi itu, tiga orang pemuda Tepal akan berangkat ke Talagumung. Satu di antara pemuda itu adalah seorang ayah dengan balita 5 bulan. Bidan Us kebetulan ingin memeriksa kondisi balita itu.

Kesepakatan bulat. Bidan Us akan berangkat ke Talagumung. Semua kebutuhan obat-obatan standar, dan tentunya alat kontrasepsi dimasukkan dalam tas. Tiga pemuda itu membagi diri. Ada yang membawa tas obat-obatan, ada yang membawa bekal. “Sebenarnya saya masih agak kurang sehat, mas. Tapi mau bagaimana lagi, pasien di sana harus tetap saya lihat,’’ kata bidan dari Rhee, Sumbawa, ini.

Bidan Us mengira, jalan kaki menuju Talagumung itu ditembus dengan mudah. Baru saja meninggalkan pusat desa, 15 menit jalan kaki, jalan langsung menurun. Kemiringannya 45 derajat, yang panjangnya ratusan meter. Masalahnya jalan itu belum kering benar. Jalan itu masih licin. Dia harus jalan ekstra hati-hati agar tidak terjatuh.

Perjalanan makin menantang ketika harus melewati sungai. Beruntung saat itu sungai dalam kondisi normal. Sungai selebar 10 meter itu airnya cukup tenang. Bidan Us membasuh wajahnya di sungai itu, sekaligus memastikan tas obat-obatan aman.


bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa
Baru 15 menit beranjak dari sungai itu, tiba-tiba langit hitam. Hujan langsung turun. Rombongan pun berteduh di salah satu gubuk. Sang penunggu gubuk, seorang perempuan tua menawarkan mentimun pada Bidan Us. Dia juga menawarkan meminjamkan jas hujan. “Kita tetap lanjutkan perjalanan, niat sudah bulat untuk ke Talagumung,’’ kata Bidan Us ketika ditawarkan opsi untuk kembali mengingat perjalanan berikutnya lebih berat.

Sungai yang dilewati itu rupanya bukan satu-satunya sungai. Ada dua sungai besar, dan tiga sungai kecil. Saat musim hujan sungai kecil itu cukup menghalangi.

Beberapa kali rombongan harus istirahat. Tanjakan terjal menguras tenaga mereka. Sementara tiga orang pengiringnya masih nampak segar. Maklum mereka terbiasa menjelajah hutan. Bekerja di kebun, membuat badan mereka beradaptasi dengan kondisi alam. Beda dengan Bidan Us yang lama kuliah di Jogjakarta, hidup di perkotaan, baru kali ini dia melewati alam yang baginya sangat ganas.

Setelah melewati hutan lebat yang penuh lintah, kebun kopi, dan beberapa bukit terjal, mereka akhirnya sampai di Talagumung. Tanpa basa basi, Bidan Us minta izin pada pemilik rumah yang berada di mulut gang kampung itu. Dia langsung berbaring. Dari Pustu Tepal ke Talagumung, dia menghabiskan waktu 3 jam.

“Minta tolong kasih tahu warga lainnya saya tunggu di rumah ini saja,’’ kata Bidan Us meminta agar para perempuan kumpul di salah satu rumah. Dia merasa tidak kuat keliling ke semua rumah. Anggap saja, rumah tempatnya singgah itu sebagai pos pelayanan terpadu (Posyandu).

“Kami sangat bahagian ibu bidan datang. Ini pertama kali kami didatangi petugas kesehatan sejak kampung ini dibangun,’’ kata Kepala Kampung Talagumung HM Amin.

Talagumung, saat ini disiapkan menjadi dusun baru. Kampung ini dikeliliingi bukit dan hutan. Ada 27 kepala keluarga (KK) yang tinggal di kampung ini. Listrik adalah mimpi bagi warga kampung yang semuanya berprofesi sebagai petani ini. Ada tiga orang guru honorer di SD Filial kampung ini, tapi mereka juga seorang petani.

bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa
Setelah energinya pulih, Bidan Us mulai melayani warga. Ibu-ibu konsultasi soal alat kontrasepsi. Hari itu Bidan Us melayani pemasangan alat kontrasepsi. Dia merasa senang, karena kesadaran ibu-ibu di kampung terpencil itu ber-KB cukup tinggi. Pengakuan mereka, memiliki banyak anak cukup merepotkan.

Bapak-bapak juga tidak mau ketinggalan. Mereka memeriksakan kesehatan. Walaupun secara khusus dididik menjadi bidan, Us tahu sedikit tentang persoalan kesehatan lainnya. Dia lebih banyak memberikan nasehat, dan para bapak-bapak hanya bisa mengangguk. Bidan Us banyak berkomunikasi menggunakan bahasa Sumbawa. “Senang rasanya kalau ibu-ibu mau pasang alat kontrasepsi,’’ katanya.

Kehadiran Bidan Us di kampung itu disambut antusias. Anak-anak SD berkumpul di rumah yang dijadikan posyandu sementara itu. Anak-anak kecil berdatangan. Mereka penasaran dengan tenaga kesehatan yang datang. Dalam hitungan menit, rumah itu sudah penuh.

Warga yang senang dengan kedatangan Bidan Us rupanya menyiapkan kado spesial. Ketika Bidan Us baru tiba, pemilik rumah langsung menyembelih ayam. Bidan Us merasa terharu atas kebaikan tuan rumah. Bidan Us makan dengan lahap. Perjalanan 3 jam jalan kaki membuatnya lapar.

Saat makan tiba-tiba hujan kembali turun. Para bapak-bapak yang kumpul di rumah itu sepertinya rapat. Belakangan mereka merapatkan apakah Bidan Us harus menginap atau tidak. Pasalnya hujan saat itu sangat lebat. Tidak ada kepastian kapan akan berakhir. Raut muka Bidan Us juga terlihat pucat. Dia tidak membawa perlengkapan untuk menginap. Selain itu, di tetangganya di Pustu Tepal, dia meminta izin untuk kembali. Setidaknya jam lima sore sudah tiba lagi di Pustu Tepal.

Bidan Us mendesak kembali. Walaupun hujan. Warga kampung juga tidak bisa melarang. Mereka malahan membekali dengan pisang, satu-satunya camilan yang ada di kampung itu. Selain itu, salah seorang pemuda juga akan ikut mengantar. Menambah rombongan. Tuan rumah meminjamkan senter, jaga-jaga jika kemalaman di perjalanan. Dia mempekirakan, perjalanan pulang akan lebih sulit. Hujan membuat jalan lebih licin.


bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa
Benar saja, ketika kembali pulang perjalanan terasa lebih lama. Tenaga terkuras saat berangkat. Perjalanan pulang, jalan yang sebelumnya tidak teralu licin, benar-benar menjadi licin. Banyak kubanyan. Dan yang dikhawatirkan terjadi juga, sungai besar yang dilewati meluap.

Sungai terakhir yang dilewati paling parah. Di jalur yang dilewati berangkat, air sudah mencapai paha. Alirannya sangat deras. Pemuda yang mengiringi Bidan Us menilai tidak aman. Dicari jalur lain, akhirnya ketemu titik yang tidak terlalu dalam. Tapi air keras. Apalagi waktu sudah malam.  “Menegangkan, keras sekali airnya,’’kata Bidan Us ketika berhasil menyeberangi sungai itu.

Ketika melewati sungai itu, jam rupanya sudah menunjukkan jam 7 malam. Beberapa tetangga panik. Bidan Us izin untuk kembali jam lima sore. Saat itu juga, Kaur Umum Desa Tepal, Hartono mengutus dua orang pemuda desa untuk menjemput. Dimanapun bertemu rombongan Bidan Us harus kembali melapor. Hartono membekali mereka dengan makanan dan minuman.

Rombongan penjemput dan rombongan Bidan Us akhirnya bertemu di persimpangan jalan menuju Batu Rotok. Semua bernafas lega. Dua orang penjemput menuturkan kekhawatiran para tetangga Bidan Us. Akhirnya rombongan besar mengawal Bidan Us sampai ke Pustu Tepal. Tepat 4,5 jam dia menempuh perjalanan pulang. Hanya sekadar memasang KB, dia harus jalan kaki 7,5 jam. Itu pun belum selesai, masih ada tugas dua hari lagi, para pasien di kampung itu rupanya memesan kontrasepsi pil. Sementara stok di Pustu habis. Artinya Bidan Us harus ke Sumbawa. Butuh dua hari perjalanan pergi-pulang untuk sekadar menjemput pil KB.

bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa

******

Suatu hari Bidan Us membawa beberapa kotak obat-obatan dari Kota Sumbawa. Di antara kotak-kotak itu, yang paling dijaga kotak tempat penyimpanan vaksin. Pekan depannya, akan digelar imunisasi di Puskesmas Pembantu (Pustu) Tepal, tempat ia tinggal.

Bidan Us kembali ke Tepal dengan menumpang mobil. Mobil yang bisa melewati jalanan menuju Tepal hanya mobil berpenggerak 4X4. Rata-rata menggunakan mobil Toyota Hardtop. Itulah sebabnya, semua  mobil yang naik ke Tepal disebut Hardtop, walaupun mereknya bisa saja bukan keluaran pabrikan Toyota itu.

Dari Kota Sumbawa, perjalanan menuju Tepal melewati daerah Semongkat. Tempat ini merupakan Taman Wisata Alam (TWA). Hutan dan air yang jernih menjadi andalan. Melewati jalan ini, Bidan Us ingat, itu perjalanan yang menyenangkan. Jalannya mulus di tengah hutan yang rimbun.

Tapi begitu memasuki kawasan Batu Dulang, siksaan mulai terasa. Jalan aspal sudah amblas. Tebing curam di sisi kiri - kanan jalan membuat Bidan Us khawatir. Apalagi di beberapa titik, tanjakannya cukup curam. Kondisi jalan seperti itu berakhir di Dusun Punik, kampung terakhir sebelum masuk kawasan hutan.

Perjalanan dari Punik itulah yang menyiksa. Jalan tanah menanjak dan licin. Di banyak titik, kubangan lumpur kedalamannya bisa mencapai lutut. Saat hujan, bisa merendam sepeda motor.

Mobil yang ditumpangi Bidan Us bergerak lambat. Di beberapa tempat harus dibantu. Roda diganjal dan ditaburi sekam. Sekam itu digunakan untuk merekatkan ban dengan tanah yang sangat licin. Nyali Bidan Us sempat ciut dengan kondisi jalan itu. Selain memikirkan keselamatan dirinya, dia juga memikirkan obat-obatan yang dibawa. Takut pecah.

Kekhawatiran Bidan Us, hardtop yang ditumpangi mogok menjadi kenyataan. Di tengah perjalanan dari Punik menuju Tepal, mobil itu mogok. Sementara hari menjelang sore. Bidan Us panik, di dalam kotak obat itu dia membawa vaksin yang harus dijaga kondisinya tetap dingin.

Saat itu pengendara motor melintas. Bidan Us memberanikan diri dibonceng. Dia menuju kampung terdekat, Dusun Pusu. Beruntung di Pusu ada warga yang memiliki kulkas tempat menyimpan sayur dan lauk pauk. Untung ada es batu. Bidan Us membawa es batu itu, kembali ke tempat hardtop mogok. Dia lega, walaupun malam itu dia harus menginap di tengah hutan sambil menunggu mobil kembali jalan, tapi vaksin terselamatkan.


bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa

“Itu pengalaman paling mendebarkan. Yang saya pikirkan vaksin itu,’’ kata Us mengenang pengalaman bermalam di tengah perjalanan.

Perjalanan panjang, memakan waktu setengah hari dengan kondisi jalan jelek dilakoni Bidan Us hampir setiap minggu. Setidaknya dia harus rutin mengambil obat-obatan. Misalnya saja, seperti pesanan warga Talagumung yang meminta pil KB. Dia harus mencari cara agar tidak perlu ke Kota Sumbawa mengambil pil KB.

Belum lagi dia harus membuat laporan secara berkala. Bidan Us masih bisa menalangi ongkos, tapi membayangkan perjalanan yang melelahkan itu, nyalinya keder. Solusinya, dia menitip daftar obat-obatan maupun laporan pada tukang ojek, penjual ikan, atau warga yang kebetulan akan ke Sumbawa.

“Sekarang malah ada warga yang melapor kalau mau ke Sumbawa. Apakah saya mau nitip atau tidak,’’ tuturnyanya. “Orang di sini baik-baik,’’ sambungnya.

Bidan Us menganggap orang-orang itu sebagai mitra kerja. Tanpa mereka, dia tidak bisa membayangkan melewati hutan dengan jalan hancur untuk sekadar mengirim laporan. Sementara di Tepal tidak ada sinyal telepon seluler. Sinyal dicari di beberapa titik, di perbukitan. Dalam seminggu, Bidan Us kadang hanya dua kali mencari sinyal. Sekadar membaca SMS yang masuk, atau mengirim SMS ke keluarganya untuk mengabarkan kondisinya.

“Ibu saya paling khawatir. Malahan pernah ibu di sini menemani sampai seminggu,’’ kata bidan yang masih gadis ini.

Bidan Us juga belajar kearifan lokal masyarakat Tepal. Walaupun secara medis dia banyak tidak setuju dengan dukun beranak, yang di Tepal disebut tamang. Tapi dia harus merangkul mereka. Mereka adalah orang-orang yang sangat dipatuhi ibu-ibu di kampung tersebut.

bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa
Persalinan di Tepal masih banyak ditolong tamang. Walaupun ada bidan, tamang tetap harus ada ketika proses persalinan. Tamang memiliki kewajiban selama tiga hari untuk mengurus ibu yang melahirkan. Segala keperluannya dilayani tamang. Proses ini dikenal dengan tamang miri.

“Masalahnya selama proses itu para ibu nifas (selesai melahirkan) banyak pantangan, terutama makanan. Mereka hanya dikasih makan lauk garam dan asam,’’ kata Bidan Us.

Kebiasaan itu tentu saja keliru. Ibu yang baru melahirkan seharusnya diberikan makanan bergizi. Sehabis banyak pendarahan, asupan makanan sangat penting. Belum lagi mereka harus menyusui. Tapi jika langsung membantah anjuran tamang, Bidan Us akan berhadap-hadapan dengan para tamang, yang sangat didengar oleh masyarakat.

Untuk menyiasati ini, Bidan Us berbicara dengan baik-baik. Misalnya saja dia menjelaskan secara medis kondisi tubuh perempuan setelah nifas. Dia menjelaskan apa saja yang bisa dilakukan agar kondisi cepat pulih. Pada kondisi ini, biasanya ibu nifas akan mengikuti saran Bidan Us, makan apa saja. Tamang pun tidak akan keberatan.

“Saya tidak mau menyinggung mereka. Harus pelan-pelan pendekatannya,’’ katanya.



bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa
Begitu juga dengan masa menyusui. Walaupun bayi mereka baru berusia beberapa bulan, sudah mulai dijejali dengan makanan tambahan. Padahal cukup dengan ASI saja. Belum lagi masa menyusui yang terlalu cepat selesai. Anak mereka belum genap setahun sudah kembali hamil. Tidak heran ada seorang ibu yang sudah memiliki 7 anak pada usia 31 tahun. “Mereka selalu bilang sudah terbiasa,’’ katanya menirukan ucapan ibu-ibu di Tepal.

Bertugas di daerah terpencil seperti Tepal memang butuh resep tersendiri bagi Bidan Us. Sebelumnya dia pernah menjadi bidan di Rhee. Daerah ini pusat kecamatan. Akses jalan dekat. Tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat sudah baik. Tidak sulit untuk menjelaskan pada mereka tentang berbagai persoalan kesehatan. Berbeda denga Tepal. Bidan Us banyak belajar dari kearifan masyarakat sekitar. Walaupun apa yang disampaikan benar, tapi caranya keliru bisa-bisa mendatangkan musuh.

Bertugas di Tepal juga mengajarkan Bidan Us tentang begitu timpangnya pelayanan kesehatan. Tidak perlu jauh-jauh mengambil contoh. Pelayanan kesehatan di dalam Kabupaten Sumbawa saja banyak berbeda. Seperti di Tepal yang tidak memiliki perawat. Tentu saja, kondisi ini mengkhawatirkan Bidan Us jika terjadi kondisi gawat darurat. Apalagi akses transportasi keluar dari Tepal sangat sulit. Bidan Us sadar, kesehatan juga sangat ditunjang dengan ketersediaan infrastruktur jalan.

“Dulu ada pasien sesak nafas kambuh. Di sini tidak ada tabung oksigen, mau dirujuk justru makin berbahaya. Untung saja dia kembali cepat pulih,’’ kata Bidan Us.

Menurutnya, pelayanan kesehatan mestinya sama di semua tempat. Daerah terpencil dengan kota harus sama dalam sisi fasilitas dan tenaga kesehatan. Tapi kondisi yang dialami Bida Us di Tepal saat ini, menjadi cerminan bahwa pelayanan kesehatan belum merata di semua tempat. (*)




Senin, 04 April 2016

Berebut Lahan Warisan Mandalika

pantai kaliantan, konflik lahan pariwisata, konflik pantai

64 kepala keluarga (KK) di Gubuk Kaput Lendang Pelisak Baru, Dusun Kaliantan, Desa Serewe, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran. Sebelum mereka memegang dokumen kuat kepemilikan tempat tinggal saat ini, trauma digusur masih terngiangan di benak mereka. Berhadapan dengan massa bersenjata tajam dari salah satu pamswakarsa. Saat terjepit, aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang membantu justru memanfaatkan mereka. Rakyat yang sengsara tega diperas oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab itu.

******
Puing bangunan masjid di pintu masuk kawasan wisata Tampah Bole – Kaliantan masih berdiri tegak. Mimbar tempat imam memimpin sholat masih terlihat dengan jelas, menjadi bukti bangunan itu masjid. Hanya tembok di sisi barat tempat mimbar itu saja yang tidak dirobohkan. Sementara sisa bangunan lain, tembok, atap sudah berpindah ke tempat lain. Sebagian ditinggal berserakan di tepi pantai berpasir putih itu.
Tanah lapang membentang dari ujung timur hingga barat di lokasi pelaksaan ritual Bau Nyale, yang saban hari digelar tiap akhir Februari. Di tanah padang rumput itu, beberapa pengembala kerbau, domba, kambing menjaga ternak mereka. Anak-anak dari kampung sekitar terlihat bermain bola. Beberapa ABG juga terlihat belajar naik sepeda motor.

Tidak ada lagi anak-anak bermain di tepi pantai yang terkenal dengan pasir putihnya itu. Tidak ada suara riuh para wanita yang berbincang di tepi pantai, menunggu suami mereka pulang melaut. Tidak ada suara musik cilokaq yang bisa terdengar di rumah-rumah warga perkampungan bagian selatan Lombok Timur. Debur ombak, suara angin, suara kambing yang merumput menjadi pengisi kawasan yang dulunya sempat ramai itu.
Keberadaan warga di Tampah Bole itu seakan tidak berbekas. Puing-puing masjid itu saja yang menjadi saksi bisu bahwa di kawasan itu pernah tinggal puluhan warga miskin. Mengandalkan hidup dari laut dan sawah tadah hujan. Sebagian menjadi pengembala, sebagian menjadi buruh yang menunggui ternak milik sang bos.



pantai kaliantan, konflik lahan pariwisata, konflik pantai
400 meter dari tempat itu, ke arah timur, melewati padang ilalang dan jalan berdebu, saya dan sahabat saya seorang aktivis perempuan menelusuri kampung tempat relokasi warga eks Tampah Bole itu. Sebelah kiri kanan jalan hanya ada padang ilalang, cukup jauh dengan laut. Cuaca terik di awal Juni 2012 itu, tidak terasa berkat angin yang berhembus cukup keras.

‘’Anda ini utusan siapa,’’ hardik salah seorang pria tua,  yang belakangan saya tahu bernama Amaq Waziah.
Pria yang berusia kira-kira 70 tahun ini sangat cepat mengenali orang ‘’luar’’. Begitu juga warga lainnya, para ibu-ibu, datang melihat saat saya duduk di berugak salah seorang warga yang ditokohkan, Sapar alias Amaq Anti.

‘’Warga disini masih kurang percaya pada orang luar,’’ kata Sapar menjelaskan. Setelah mendapat penjelasan, Amaq Waziah yang sebelumnya sempat membuat perasaan saya was-was akhirnya melunak. Bahkan dalam percakapan selanjutnya, dia banyak membuka tabir peristiwa Tampah Bole di akhir 2010 silam.

Menempati kampung tanpa fasilitas air bersih, mengandalkan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), belum seluruh eks Tampah Bole membangun rumah yang layak. Beberapa rumah terlihat belum berdiri tegak. Rumah lainnya sangat kecil dan tidak layak huni. Walaupun rumah awal mereka di Tampah Bole berdinding bedek (dindin dari anyaman bambu) dan beratap ilalang, setidaknya sedikit lebih layak dari ukuran.

 pantai kaliantan, konflik lahan pariwisata, konflik pantai
1,5 tahun warga menempati perkampungan baru itu. Perlahanan kampung baru itu mulai  hidup. Warga kembali ke aktivitas awal mereka, berladang, petani rumput laut, pengembala. Perlahan mereka memperbaiki gubuk-gubuk mereka. Tapi sisa-sisa trauma peristiwa 1,5 tahun silam itu masih membekas. Hingga kini belum ada kejelasan nasib mereka. Masih ada perasaan was-was peristiwa itu terulang kembali.

‘’Kalau datang lagi saya siap mati,’’ kata Inaq Senari,70 tahun, sambil memegang pisau, memperagakan cara berkelahi.

Wanita yang hidup sendiri itu sempat menjadi buah bibir di kampung lantaran aksi beraninya saat terjadi penggusuran di kampung mereka. Saat itu massa bayaran dari investor yang mengklaim sebagai pemilik tanah datang menggunakan truk, motor dan mobil bak terbuka. Membawa beberapa senjata tajam, mengenakan seragam khas organisasi mereka, warga diancam untuk merobohkan rumahnya. Tidak sekali mereka datang ke perkampungan warga.

Warga yang tinggal bertahun-tahun di atas tanah pengembalaan dan tempat ritual Bau Nyale, pesta rakyat menangkap cacing laut, diberikan peringatan berkali-kali. Merasa berhak juga tinggal di atas tanah itu, warga bertahan. Bahkan sempat dibicarakan untuk melakukan perlawanan. Sebagian kurang setuju melawan. Selain kalah massa, korban jiwa akan membawa masalah baru.

Inaq Senari lah yang melawan keras. Saat terjadi penggusuran paksa, wanita lanjut usia itu memegang pisau, menantang kelahi massa bayaran yang merobohkan rumah. Peristiwa haru saat perobohan masjid, Inaq Senari tidak kuat menahan emosi. Di depan matanya, rumah ibadah itu dirobohkan. Penuturan warga, Inaq Senari sempat mau membacok salah seorang anggota kelompok itu. Dicegah warga lainnya agar tidak berbuntut panjang.

‘’Kami kalah jumlah. Yang kami lawan ini organisasi besar,’’ kata Sapar.

Satu persatu rumah warga Tampah Bole dirobohkan. Tiang rumah semi permanen milik mereka ditarik, ditendang, hingga rata dengan tanah. Beruntung bagi yang sempat menyelamatkan barang-barang berhaga. Tanpa perlawanan berarti, seluruh perkampungan itu rata dengan tanah. Aparat keamanan yang datang terlambat, tidak bisa berbuat banyak. Di depan mata mereka, terjadi peristiwa premanisme.

Warga kocar kacir, setelah rumah mereka dirobohkan, mereka diminta meninggalkan tanah itu. Tanah itu milik investor, Masde Louise Sipahutar. Di belakang wanita ini ada suaminya yang berkebangsaan Belanda. Menguasai tanah di Tampah Bole seluas 8 hektare, serta di kawasan Tanjah-Anjah seluas 21 hektare.
Saat kondisi kocar-kacir itu, warga diungsikan ke Oleng, sekitar 7 km dari Tampah Bole, kini Oleng menjadi pusat Desa Serewe setelah mekar dari Desa Pemongkong.

Warga menjadi pengungsi di kampung halaman sendiri. Warga yang terusir itu, sempat membuat kehebohan. Mereka mendatangi Polres Lombok Timur. Meminta keadilan hukum dan meminta perlindungan. Mereka tidak tenang tinggal di tanah kelahiran mereka. Intimidasi masih membayangi mereka. Didampingi aktivis LSM, LH, warga memiliki harapan untuk mendapatkan hak mereka kembali.

‘’Tidak ada yang memiliki tanah ini. Kalau ada yang jual beli itu bohong,’’ kata Sapar.

Cukup lama warga terkatung-katung, hingga akhirnya, pemerintah mengambil sikap. Warga disiapkan lahan relokasi. Masing-masing warga diberikan tanah 1 are oleh Pemda Lombok Timur. Warga tidak ada pilihan lain, menerima lahan relokasi itu, walaupun dalam hati  mereka berat meninggalkan Tampah Bole.
Pindah ke lahan relokasi itu tidak mudah, dan tidak gratis. Warga yang saat itu dalam kondisi terjepit, diminta mengeluarkan uang masing-masing Rp 150.000. Sebagian warga yang dianggap tidak ikut berjuang sejak awal dikenakan biaya Rp 350.000. Uang itu akan digunakan oleh LSM yang mendampingi warga untuk membawa persoalan itu ke Jakarta. Warga yang dalam kondisi terjepit, terusir, diberikan harapan bisa kembali ke lahan lama mereka. LSM di pusat pasti akan membantu warga. Begitu ucapan manis dari LSM yang mendampingi warga.

Inaq Senari yang tidak memiliki uang seperser pun saat itu, terpaksa menjual ternaknya. Ayam, itik dijual demi mengeluarkan Rp 150.000 itu. Uang itu juga sekaligus sebagai ‘’tiket’’ masuk ke lahan relokasi yang sebenarnya diberikan gratis oleh Pemda.

‘’Belakangan kami sadar, kami ini ditipu. Kami memang bodoh,’’ kata Sapar.

 pantai kaliantan, konflik lahan pariwisata, konflik pantai
Belum pupus ingatan duit Rp 150.000 yang belum jelas keberadaannya, warga kembali dikejutkan dengan dana kompensasi masjid. Sebelum masjid di Tampah Bole dirobohkan, terjadi kesepakatan dengan perwakilan investor yang memegang sertifikat di lahan Tampah Bole. Warga akan diberikan uang untuk membangun masjid. Sebagai bentuk jaminan, janji itu dibuat di atas hitam putih, materai 6 ribu. Diteken tanggal 13 Januari 2011. Dari pihak warga sebagai saksi Amaq Sal dan Amaq Waziah. Dua orang buta huruf ini membubuhkan tanda tangan di atas kertas itu. Mereka tidak bisa membaca, tapi tahu kalau isi surat itu perjanjian untuk mengganti biaya pembangunan masjid.

‘’Sampai sekarang saya tidak pernah lihat uangnya,’’ kata Amaq Waziah.

Dalam surat itu tercantum besar dana yang diberikan Rp 80 juta. Belakangan menjadi pembicaraan warga, hingga akhirnya organisasi yang menggusur warga Tampah Bole itu membuat surat klarifikasi. Besar dana yang sebenarnya diberikan Rp 20 juta.

‘’Sampai sekarang tidak pernah kami terima uang,’’ kata Amaq Waziah, dibenarkan oleh beberapa warga lainnya.

Uang kompensasi pembangunan masjid itu adalah alasan warga mau pindah ke lahan relokasi. Bagi warga, kampung tanpa masjid/mushola, sama seperti kampung yang tidak memiliki identitas. Alasan warga bertahan di Tampah Bole pun  mempertahankan masjid. Setelah ada kepastian ganti rugi, barulah warga terpaksa mengalah.

‘’Orang-orang itu sudah menjual masjid, uangnya dimakan,’’ teriak Inaq Senari, saat kami membahas masjid itu.

Pengaca investor, Abdul Tayib mengakui sudah memberikan dana kompensasi perobohan masjid itu. Dana itu diberikan untuk membangun masjid yang baru di lahan relokasi.
‘’Kami berikan dua kali malahan,’’ katanya.

Mengenai dana itu yang tidak sampai ke tangan warga, Tayib mengatakan kurang tahu. Siapa orang dari pihak warga yang memegang uang itu juga tidak diketahuinya. Uang itu keluar dari kantong investor sesuai perjanjian dan permintaan warga.

‘’Kalau persoalan tidak sampai ke warga itu saya tidak tahu,’’ katanya.

*******

pantai kaliantan, konflik lahan pariwisata, konflik pantai

Bupati Kabupaten Lombok Timur HM Sukiman Azmy  (2008-2013) mengeluarkan statement yang melegakan warga Tampah Bole, saat pesta rakyat Bau Nyale, Februari 2012 lalu. Bupati menegaskan tanah yang ada di Tampah Bole itu adalah tanah ulayat. Tanah itu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat, tidak bisa dikuasai secara sepihak oleh kelompok-kelompok tertentu. Termasuk klaim sepihak oleh inevestor.

Pernyataan mantan Dandim 1615/Lotim itu bukan tanpa dasar. Jauh sebelum menjadi bupati, tanah yang berada di dekat pantai berpasih putih itu sudah dinyatakan sebagai tanah ulayat oleh warga. Tokoh masyarakat yang ada di kecamatan Jerowaru, tokoh ormas, tokoh agama, tokoh adat membuat surat kesepakatan masyarakat yang berisi pengakuan tanah itu sebagai tanah ulayat.

Pengakuan bersama itu diteken pada tanggal 27 April 2001. Atas dasar itulah, seluruh warga di kecamatan Jerowaru, bahkan sampai Kabupaten Lombok Tengah memanfaatkan tanah itu sebagai ladang pengembalaan.

Belakangan beberapa warga yang berladang dan mengembala membangun gubuk peristirahatan di kawasan itu. Sapar, salah seorang warga yang dianggap tokoh di permukiman itu menuturkan tokoh masyarakat lah yang meminta mereka tinggal di lahan itu. Dengan catatan tanah itu tidak boleh dikuasai sepihak, dan bukan mejadi hak milik.

‘’Kami memang minjam, tapi juga tanah itu tidak bisa milik satu orang,’’ katanya.

Lambat laun, para pemburu tanah di kawasan pariwisata masuk ke daerah selatan Lombok Timur. Tanah Tampah Bole itu masuk dalam salah satu daftar tanah yang menjadi buruan. Tanah lapang belasan hektar, berada di pantai dengan pasir putih terbaik. Pemandangan sunset dan sunrise yang memesona menjadi rebutan para pemburu tanah, baik broker tanah maupun investor langsung.



konflik lahan pariwisata, konflik pariwisata
Lantaran tanah di Tampah Bole itu tidak ada yang memiliki secara pribadi, belakangan terjadi permainan. Dibuatkan dokumen-dokumen kepemilikan tanah. Dalam dokumen yang saya peroleh dari mantan pejabat di tingkat kecamatan, orang yang mengurus dokumen itu banyak keluarga pejabat, termasuk pejabat itu sendiri. Cukup janggal, seorang yang masih muda, yang diduga anak pejabat memiliki lahan satu hektare di tempat itu.

‘’Mereka pernah mengurus dokumen itu ke BPN,’’ kata sumber itu.

Tidak ada kabar dokumen yang diurus itu sudah keluar atau belum. Belakangan kembali ramai setelah salah seorang investor Masde Louise Sipahutar menguasai 8 hektare lahan itu. Kasus makin mencuat setelah Masde sebagai pemilik sah, dengan bukti memegang sertifikat, menggusur paksa warga yang tinggal di dalam lahan itu.

‘’Orang ini tidak punya tanah di sana,’’ kata sumber koran ini menunjuk nama orang yang di dalam daftar disebut-sebut memiliki tanah, lalu menjual ke investor.

Diduga ada permainan pembuatan dokumen kepemilikan tanah di lahan itu. Oknum tertentu yang memiliki kewenangan untuk mengurus dokumen-dokumen untuk pembuatan sertifikat membuat surat keterangan. Tujuannya agar tanah di Tampah Bole itu bisa dijual secara sah, berdasar dokumen yang dibuat.
Data yang disodorkan sumber itu, cukup mengejutkan. Orang-orang yang ikut meneken Surat Kesepakatan Masyarakat (SKM) terdata pula menguasai tanah di Tampah Bole itu. Sepanjang tahun 2003, tanah yang diklaim sebagai ulayat itu mulai dikavling-kavling. Hingga akhirnya dalam proses panjang, tanah itu beralih ke tangan investor.

Kuasa Hukum Masde Louise Sipahutar, Abdul Tayib heran dengan istilah tanah ulayat di Tampah Bole itu. Seandainya tanah itu betul-betul tanah ulayat, tidak mungkin warga memiliki SPPT dan sporadik. Berdasarkan sporadik itulah dibuatkan sertifikat yang kemudian, kliennya membeli tanah itu.

‘’Kami membebaskan pada 8 orang yang memiliki sertifikat,’’ kata Tayib.

Secara hukum, kliennya memiliki tanah itu secara sah. Membeli pada orang yang memiliki sertifikat. Jual beli dilakukan di hadapan notaris, serta melalui prosedur hukum yang sah.

‘’Bahkan klien kami sampai bayar double, ada pihak yang mengklaim tanah itu dia yang punya kami berikan kompensasi,’’ katanya.

Menurut Tayib, warga yang menjual tanah pada kliennya itu memiliki tanah secara sah. Tanah di Tampah Bole itu awalnya memang ladang pengembalaan sejak tahun 1970 an. Dalam proses perjalanannya, warga berladang bahkan bermukim di sekitar lahan itu.Warga pun mengurus surat-surat penguasaan tanah itu.
Sebagai bukti, saat pengajuan sporadik ke kantor desa, pihak desa melayani. Hingga akhirnya keluarlah sertifikat hak  milik.

‘’Kami membeli secara sah,’’ katanya.

******


Nama Masde Louise Sipahutar mendadak terkenal di Lombok Timur. Itu setelah dia diduga mengerahkan massa dari salah satu pamswakarsa di Lombok Timur untuk membersihkan lahan yang dikuasai di Teanjah-Anjah dan Tampah Bole. Ditemui di kediamannya di Mataram, penasehat hukumnya Abdul Tayib, SH, MH berbicara blak-blakan.

Kenapa harus mengerahkan pamswakarsa ?

Pada saat alat-alat negara tempat kami mengadu tidak memberikan pelayanan sebagaimana mestinya, akhirnya kami menggunakan kekuatan sipil.

Kelompok itu melakukan intimidasi dan diduga melakukan tindakan premanisme

Sebelum turun kami sudah memberikan peringatan pada masyarakat. Bukan hanya sekali, tapi berulangkali. Warga sebenarnya mau keluar, tapi ada provokator. Tapi selama ini tidak ada sampai terjadi kekerasan.
Tetap saja dalam eksekusi di lapangan, rumah warga dirobohkan paksa ?

Tidak sembarangan kami merobohkan. Saya sebagai penasehat hukum di pamswakarsa itu juga tidak sembarangan. Kami kaji aspek hukumnya. Jika kuat secara hukum baru kami bertindak.

Siapa provokator itu  ?

Saya tidak menyebut nama, dia itu mantan pejabat. Menggunakan jabatannya untuk mendekati investor lain, tapi demi kepentingan pribadi. Kami seperti diadu dengan warga. Mantan pejabat itu beberapa kali keluar negeri. Coba tanya darimana dananya.


konflik lahan pariwisata, konflik pariwisata
Apakah pejabat itu suruhan investor lain ?

Kasus di Teanjah-Anjah, pemerintah mengangkat investor lain yang mau membangun, tapi menekan kami. Ini kan tidak sehat. Ada permainan. Tanah kami dikuasai secara sepihak. Itulah sebabnya kami melakukan gugatan dan kami menang.

Apa indikasi ada permainan antara oknum mantan pejabat dan investor lain ?

Katanya pemda mau membangun permukiman rakyat. Saya tanya di dewan apakah ada anggaranya, ternyata tidak ada. Jadi kemungkinan pembangunan itu dananya dari investor yang punya kepentingan itu.
Klien anda dituding mendapatkan tanah dengan cara tidak benar ?

Sebelum membeli kami pelajari asal usul tanah itu dan kelengkapan dokumennya. Kami membeli tanah yang memiliki dokumen lengkap.

Kenapa belum membangun sampai sekarang, jangan sampai sekadar broker tanah ?

Bagaimana kami mau membangun kalau terus diganggu. Ada kekhawatiran klien kami akan dipersulit izinnya dengan kondisi saat ini.

Apa harapan pada pemerintah ?

Kami harap pemerintah bisa bersikap objektif, dan tidak mengeluarkan statement yang meresahkan dan cenderung provokatif.

*****
Kini setelah tahun 2016 lahan Tampah Bole masih dibiarkan kosong. Lahan itu masih menjadi ladang pengembalaan. Akhir Februari lalu menjadi pusat kegiatan Bau Nyale. Perkampungan warga eks Tampah Bole lebih tertata. Saya melihat ada listrik.