Jumat, 22 April 2016

KAPUNG; Pelesir Bersama ala Rembitan



kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah

 Dalam setahun, ada satu hari bagi seluruh warga Rembitan, Kecamatan Pujut,Kabupaten Lombok Tengah meninggalkan kampung halaman. Mereka menghabiskan waktu di Pantai Kuta, 7 kilometer (km) dari desa itu. Hari itu dikenal dengan Kapung.


****

SENIN PAGI, 2 November 2015, seorang pria tua jalan mondar mandir di Dusun Rembitan I. Mengenakan sarung dan baju biru, pria itu ditemani seorang yang lebih muda. Pada hari sepagi itu,pria itu, Lalu Rusman, 73 tahun memiliki tugas khusus. Sebagai belian (dukun) dia harus memastikan seluruh acara yang akan dihelat hari itu aman. Aman secara spiritual. Tidak ada gangguan makhluk halus.

Dia menaburkan moto’seong (beras yang digoreng tanpa minyak) di jalan kampung yang dilewati. Empat jalan dusun yang ditaburi moto’ seong itu, Dusun Rembitan I, Dusun Rembitan II, Dusun Rembitan III, dan Dusun Rembitan IV. Moto’ seong itu sebagai “syarat” agar seluruh kampung selamat, dan tidak ada gangguan.

Setelah menaburkan moto’ seong di jalan-jalan utama kampung, dia melanjutkan perjalanan ke Pantai Kuta. Sekitar 7 km ke arah selatan dari Rembitan. Di paling ujung sebelah barat, Lalu Rusman mendirikan tenda. Dibantu oleh para kerabatnya. Dari tenda itu, dia kemudian berjalan di sepanjang pantai berpasir putih itu. Dia kembali menaburkan moto’ seong. Hari itu, Lalu Rusman yakin tidak akan ada masalah dalam acara yang dihelat tahunan warga di empat dusun itu.

 kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah
Sementara itu dari rumah-rumah warga di empat dusun di Desa Rembitan itu, kesibukan tampak lebih ramai. Lain dari hari biasanya. Sebagian besar perlengkapan dapur dikeluarkan. Panci, tempat nasi,baskom, termos penyimpanan air panas,gula,kopi ditaruh di halaman rumah. Mereka beberapa kali harus menghalau anak-anak kecil yang bermain di sekitar perlengkapan memasak itu, yang semuanya sudah terisi aneka lauk pauk. Tapi namanya anak-anak, mereka tetap bermain. Kejar-kejaran, dan meneriakkan “ lalo kapung”, yang artinya “pergi kapung”. Kata yang tidak lumrah di kosakata bahasa Sasak.

Hari itu, Senin 2 November, atau  masuk dalam bulan keenam penanggalan Sasak, warga empat dusun di Desa Rembitan itu melangsungkan tradisi kapung. Di seluruh Lombok, hanya empat dusun di Desa Rembitan itu yang  menggelar tradisi itu.

“Bisa dikatakan sebagai selamatan kampung,’’ kata tokoh masyarakat Rembitan, HL Sidik.


kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah
Sehari dalam setahun, seluruh warga meninggalkan kampung halaman mereka. Belian yang sejak pagi buta menabur moto’ seong itu menjadi tanda hari itu sudah siap melangsungkan kapung. Setelah semua siap, seluruh warga meninggalkan rumah mereka untuk menghabiskan waktu di Pantai Kuta. Hanya beberapa orang yang berjaga di kampung. Memastikan agar rumah yang dikosongkan aman. Tidak dimasuki pencuri. Selain itu semua orang harus pergi ke pantai.

Tradisi bersih kampung sudah lumrah di desa-desa di Pulau Lombok. Berbagai acara digelar dalam bersih desa itu. Tapi khusus di Rembitan, acara dilaksanakan di Pantai Kuta. Desa harus ditinggalkan.
Acara dimulai sejak tiga minggu sebelumnya. Para tokoh masyarakat, tokoh adat berkumpul untuk membahas rencana kapung. 

Mereka mengamati alam sekitar, memastikan hari tepat untuk melangsungkan kapung. Cara paling sederhana melihat pohon boro dan randu (kapuk). Jika dua pohon itu sudah berbunga, maka saat itu masuk bulan keenam dalam penanggalan Sasak. Dan biasanya setelah muncul bunga pohon enep (pohon lokal), itu sudah masuk bulan ketujuh penanggalan Sasak. Para tokoh masyarakat yang terlatih membaca alam tak pernah meleset menentukan bulan keenam dan hari baik saat kapung.

Selain mengamati kondisi di kampung, beberapa tokoh juga pergi ke Pantai Kuta. Memastikan air laut dalam keadaan baik. Saat hari kapung, tak boleh ada gelombang besar. Air surut, tapi bukan kering seperti saat mada’(saat seluruh air laut di pinggiran surut total dan warga mencari ikan dan kerang-kerangan). Air laut tetap ada, tapi aman dari ombak. Apalagi pada acara kapung banyak anak-anak yang akan bermain di laut. Untuk itulah selama tiga minggu itu, laut diamati dan akan dipastikan hari apa yang paling tepat melangsungkan kapung.
kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah

 Setelah hari kapung dipastikan, para tokoh akan mengumumkan ke seluruh warga. Tidak melalui pengeras suara. Tapi dari cerita mulut ke mulut. Kerabat yang merantau keluar Desa Rembitan dihubungi melalui telepon. Biasanya mereka selalu pulang “mudik” saat pelaksanaan kapung.

Sehari sebelum kapung lah tempat keramaian kampung.Seluruh rumah memasak masakan terbaik. Tapi ada makanan yang tak boleh absen : tekel.  Ketan yang dibungkus daun kelapa, dan di dalam ketan itu ditaruhkan pisang. Setelah itu direbus, hingga ketan matang. Selain tekel, boleh membawa makanan apa saja.
Tak ada zikir bersama. Doa dilangsungkan di rumah masing-masing. Tak ada acara khusus juga, selian para belian yang tentunya tetap berkeliling kampung. Menebar moto’seong dan mendoakan agar kampung selamat. Mendoakan agar seluruh warga Rembitan sehat.

“ Dalam tradisi-tradisi selamatan kampung di Lombok dan acara apapun, sudah menjadi ciri khas rowah (pesta),’’ kata sejarawah Islam di Lombok, Dr Jamaluddin.
kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah


kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah

kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah
Setelah semua makanan siap, warga pun berangkat ke pantai. Di pantai, acara mereka makan-makan, mandi,dan ngobrol. Termasuk menjadi ajang silaturahmi keluarga besar. Barangkali inilah pelesiran terbesar, empat dusun sama-sama meninggalkan kampung halaman. Membangun tenda,makan bersama, mandi bersama, seharian di Pantai Kuta.

“Selamatan kampung tidak mesti membuat acara besar-besaran di kampung. Meninggalkan kampung halaman sebagai simbol membersihkan kampung.Penyakit –penyakit dikeluarkan, kemudian kembali ke kampung dalam kondisi bersih,’’ katanya.

Dalam tradisi di berbagai tempat, membersihkan badan di laut, mata air, sungai, menjadi simbol penyucian diri. Misalnya tradisi tolak bala masyarakat di Gili Trawangan, Gili Air, Gili Meno, pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, mereka membersihkan diri dengan menceburkan diri ke laut. Tradisi itu kemudian dikenal dengan mandi safar. Bagi masyarakan Sasak, tradisi itu dikenal dengan rebo bontong. Mereka akan membersihkan diri ke pemandian umum, dan biasanya sungai.

Bagi masyarakat Rembitan, simbol penyucian diri itu dengan mandi laut. Mereka mandi bersama. Berbagi makanan, dan melupakan semua masalah yang pernah terjadi di kampung.

“Seperti lebaran, keluarga kami dari jauh pulang kalau ada kapung,’’kata HL Sidik.
Kapan tradisi kapung ini dimulai ?

Mantan kepala desa ini mengatakan, tidak ada yang tahu kapan dimulainya tradisi kapung. Yang pasti, sejak dia kecil sudah dilangsungkan tradisi kapung.

kapung, bersih kampung, pantai kuta, selamatan kampung, rembitan, lombok tengah
Ada satu cerita di dalam naskah Rengganis. Di dalam naskah kuno itu, kata pria yang akrab disapa Mamiq Sidik, dituturkan seorang  putra bangsawan bernama Raden Ariya Rapatmaja dihanyutkan ke laut. Ketika itu dia masih bayi, baru dilahirkan. Dia dimasukkan dalam kotak kayu dan dihanyutkan mengikuti arus laut.
Pada saat itu warga yang sedang belangon, yang bias diartikan liburan, melihat peti kayu itu. Mereka membukanya, dan terkejut menemukan seorang bayi. Bayi itu pun selamat.

Prosesi penyelamatan pada saat belangon itulah yang menjadi asal muasal kapung. Belangon sama artinya dengan kapung, yang bisa dimaknai melepaskan pikiran susah jadi senang. Liburan ke pantai bisa menjadi cara melepaskan pikiran. Melepaskan semua penyakit dan kepenatan selama di kampung halaman. Selain dimaknai sebagai selamatan kampung, kapung juga merupakan acara pelesiran bersama warga Rembitan. (*)



0 komentar:

Posting Komentar