Minggu, 10 April 2016

Uswatun Hasanah, Bidan di Desa Terpencil Sumbawa

bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa

Ada empat faktor yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat:  lingkungan, pelayanan kesehatan, perilaku, dan genetik. Bagi mahasiswa kesehatan masyarakat, empat faktor yang dikemukakan Hendrick L Blum tersebut menjadi makanan sehari-hari, sejak semester 1 hingga semester akhir. Sering menjadi perdebatan faktor manakah yang paling dominan. Kisah di bawah ini, mungkin saja menjadi tambahan satu faktor lagi : ketulusan.


*****

Bayangan fasilitas lengkap dan akses yang mudah buyar begitu Uswatun Hasanah ditempatkan di Desa Tepal, Kecamatan Batulanteh, Kecamatan Sumbawa. Untung saja, masyarakat tempatnya bertugas sebagai bidan pegawai tidak tetap (PTT) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sangat ramah.

Pagi itu perempuan yang biasa disapa Bidan Us tersebut sedang memeriksa kantong kartu kontrol persalinan. Di dalam kantong yang terbuat dari kertas karton itu, terdapat kartu nama ibu hamil. Ada yang berwana hijau, ada juga merah. Merah menunjukkan pemilik kartu itu harus mendapat perhatian lebih. Mereka termasuk perempuan hamil dengan risiko tinggi.

“Ini ada ibu hamil usia 31 tahun, anaknya sudah tujuh,’’ katanya memberikan contoh pemilik kartu merah.

Sabtu pagi (2/5) itu, Bidan Us sendirian di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Tepal, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa. Ketika saya menemuinya, dia baru saja selesai mengisi bak mandi. Itu rutin dilakukan setiap pagi. Maklum, aliran air ke Pustu itu tidak lancar. Air diambil dari pipa yang ditampung dalam ember. Lalu satu per satu ember dibawa ke dalam kamar mandi pustu.


bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa

Pagi itu, Bidan Us merasa tidak enak badan. Sehari sebelumnya, dia mengeluh pusing. Badannya masih terasa lemas. Badannya meminta istirahat setelah melakukan perjalanan ke Dusun Riu untuk memeriksa pasien beberapa hari sebelumnya.

Walaupun masih satu desa dengan Tepal, akses menuju Dusun Riu tidak mudah. Harus melewati hutan, jalan rusak, menanjak, dan sangat licin kala hujan. Meski ada angkutan ojek, namun perjalanan kaki lebih banyak. Sangat menguras tenaga. “Tenaga terkuras di perjalanan,’’kata bidan kelahiran 1990 ini.

Bidan Us satu-satunya petugas kesehatan yang ditempatkan pemerintah di desa dengan ketinggian 847 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu. Pustu itu seharusnya juga memiliki perawat. Terakhir ada perawat di pustu ini tahun 2014 lalu. Setelah menikah, perawat itu tidak pernah kembali lagi ke Tepal.

Menurut cerita warga Tepal, sudah sering pemerintah tidak menempatkan perawat di Pustu Tepal. Karena satu-satunya petugas kesehatan di desa terpencil itu, Bidan Us harus siap juga melayani pasien lainnya.

Setelah merapikan tempat kerjanya, Bidan Us siap-siap mengunjungi pasien di Talagumung, tempat paling terpencil di Desa Tepal. Selama bertugas di Tepal, dia belum sempat ke daerah itu. Dia tidak berani sendirian. Apalagi akses menuju tempat itu, harus melewati hutan dan beberapa bukit dengan berjalan kaki.

bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa

Untungnya pagi itu, tiga orang pemuda Tepal akan berangkat ke Talagumung. Satu di antara pemuda itu adalah seorang ayah dengan balita 5 bulan. Bidan Us kebetulan ingin memeriksa kondisi balita itu.

Kesepakatan bulat. Bidan Us akan berangkat ke Talagumung. Semua kebutuhan obat-obatan standar, dan tentunya alat kontrasepsi dimasukkan dalam tas. Tiga pemuda itu membagi diri. Ada yang membawa tas obat-obatan, ada yang membawa bekal. “Sebenarnya saya masih agak kurang sehat, mas. Tapi mau bagaimana lagi, pasien di sana harus tetap saya lihat,’’ kata bidan dari Rhee, Sumbawa, ini.

Bidan Us mengira, jalan kaki menuju Talagumung itu ditembus dengan mudah. Baru saja meninggalkan pusat desa, 15 menit jalan kaki, jalan langsung menurun. Kemiringannya 45 derajat, yang panjangnya ratusan meter. Masalahnya jalan itu belum kering benar. Jalan itu masih licin. Dia harus jalan ekstra hati-hati agar tidak terjatuh.

Perjalanan makin menantang ketika harus melewati sungai. Beruntung saat itu sungai dalam kondisi normal. Sungai selebar 10 meter itu airnya cukup tenang. Bidan Us membasuh wajahnya di sungai itu, sekaligus memastikan tas obat-obatan aman.


bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa
Baru 15 menit beranjak dari sungai itu, tiba-tiba langit hitam. Hujan langsung turun. Rombongan pun berteduh di salah satu gubuk. Sang penunggu gubuk, seorang perempuan tua menawarkan mentimun pada Bidan Us. Dia juga menawarkan meminjamkan jas hujan. “Kita tetap lanjutkan perjalanan, niat sudah bulat untuk ke Talagumung,’’ kata Bidan Us ketika ditawarkan opsi untuk kembali mengingat perjalanan berikutnya lebih berat.

Sungai yang dilewati itu rupanya bukan satu-satunya sungai. Ada dua sungai besar, dan tiga sungai kecil. Saat musim hujan sungai kecil itu cukup menghalangi.

Beberapa kali rombongan harus istirahat. Tanjakan terjal menguras tenaga mereka. Sementara tiga orang pengiringnya masih nampak segar. Maklum mereka terbiasa menjelajah hutan. Bekerja di kebun, membuat badan mereka beradaptasi dengan kondisi alam. Beda dengan Bidan Us yang lama kuliah di Jogjakarta, hidup di perkotaan, baru kali ini dia melewati alam yang baginya sangat ganas.

Setelah melewati hutan lebat yang penuh lintah, kebun kopi, dan beberapa bukit terjal, mereka akhirnya sampai di Talagumung. Tanpa basa basi, Bidan Us minta izin pada pemilik rumah yang berada di mulut gang kampung itu. Dia langsung berbaring. Dari Pustu Tepal ke Talagumung, dia menghabiskan waktu 3 jam.

“Minta tolong kasih tahu warga lainnya saya tunggu di rumah ini saja,’’ kata Bidan Us meminta agar para perempuan kumpul di salah satu rumah. Dia merasa tidak kuat keliling ke semua rumah. Anggap saja, rumah tempatnya singgah itu sebagai pos pelayanan terpadu (Posyandu).

“Kami sangat bahagian ibu bidan datang. Ini pertama kali kami didatangi petugas kesehatan sejak kampung ini dibangun,’’ kata Kepala Kampung Talagumung HM Amin.

Talagumung, saat ini disiapkan menjadi dusun baru. Kampung ini dikeliliingi bukit dan hutan. Ada 27 kepala keluarga (KK) yang tinggal di kampung ini. Listrik adalah mimpi bagi warga kampung yang semuanya berprofesi sebagai petani ini. Ada tiga orang guru honorer di SD Filial kampung ini, tapi mereka juga seorang petani.

bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa
Setelah energinya pulih, Bidan Us mulai melayani warga. Ibu-ibu konsultasi soal alat kontrasepsi. Hari itu Bidan Us melayani pemasangan alat kontrasepsi. Dia merasa senang, karena kesadaran ibu-ibu di kampung terpencil itu ber-KB cukup tinggi. Pengakuan mereka, memiliki banyak anak cukup merepotkan.

Bapak-bapak juga tidak mau ketinggalan. Mereka memeriksakan kesehatan. Walaupun secara khusus dididik menjadi bidan, Us tahu sedikit tentang persoalan kesehatan lainnya. Dia lebih banyak memberikan nasehat, dan para bapak-bapak hanya bisa mengangguk. Bidan Us banyak berkomunikasi menggunakan bahasa Sumbawa. “Senang rasanya kalau ibu-ibu mau pasang alat kontrasepsi,’’ katanya.

Kehadiran Bidan Us di kampung itu disambut antusias. Anak-anak SD berkumpul di rumah yang dijadikan posyandu sementara itu. Anak-anak kecil berdatangan. Mereka penasaran dengan tenaga kesehatan yang datang. Dalam hitungan menit, rumah itu sudah penuh.

Warga yang senang dengan kedatangan Bidan Us rupanya menyiapkan kado spesial. Ketika Bidan Us baru tiba, pemilik rumah langsung menyembelih ayam. Bidan Us merasa terharu atas kebaikan tuan rumah. Bidan Us makan dengan lahap. Perjalanan 3 jam jalan kaki membuatnya lapar.

Saat makan tiba-tiba hujan kembali turun. Para bapak-bapak yang kumpul di rumah itu sepertinya rapat. Belakangan mereka merapatkan apakah Bidan Us harus menginap atau tidak. Pasalnya hujan saat itu sangat lebat. Tidak ada kepastian kapan akan berakhir. Raut muka Bidan Us juga terlihat pucat. Dia tidak membawa perlengkapan untuk menginap. Selain itu, di tetangganya di Pustu Tepal, dia meminta izin untuk kembali. Setidaknya jam lima sore sudah tiba lagi di Pustu Tepal.

Bidan Us mendesak kembali. Walaupun hujan. Warga kampung juga tidak bisa melarang. Mereka malahan membekali dengan pisang, satu-satunya camilan yang ada di kampung itu. Selain itu, salah seorang pemuda juga akan ikut mengantar. Menambah rombongan. Tuan rumah meminjamkan senter, jaga-jaga jika kemalaman di perjalanan. Dia mempekirakan, perjalanan pulang akan lebih sulit. Hujan membuat jalan lebih licin.


bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa
Benar saja, ketika kembali pulang perjalanan terasa lebih lama. Tenaga terkuras saat berangkat. Perjalanan pulang, jalan yang sebelumnya tidak teralu licin, benar-benar menjadi licin. Banyak kubanyan. Dan yang dikhawatirkan terjadi juga, sungai besar yang dilewati meluap.

Sungai terakhir yang dilewati paling parah. Di jalur yang dilewati berangkat, air sudah mencapai paha. Alirannya sangat deras. Pemuda yang mengiringi Bidan Us menilai tidak aman. Dicari jalur lain, akhirnya ketemu titik yang tidak terlalu dalam. Tapi air keras. Apalagi waktu sudah malam.  “Menegangkan, keras sekali airnya,’’kata Bidan Us ketika berhasil menyeberangi sungai itu.

Ketika melewati sungai itu, jam rupanya sudah menunjukkan jam 7 malam. Beberapa tetangga panik. Bidan Us izin untuk kembali jam lima sore. Saat itu juga, Kaur Umum Desa Tepal, Hartono mengutus dua orang pemuda desa untuk menjemput. Dimanapun bertemu rombongan Bidan Us harus kembali melapor. Hartono membekali mereka dengan makanan dan minuman.

Rombongan penjemput dan rombongan Bidan Us akhirnya bertemu di persimpangan jalan menuju Batu Rotok. Semua bernafas lega. Dua orang penjemput menuturkan kekhawatiran para tetangga Bidan Us. Akhirnya rombongan besar mengawal Bidan Us sampai ke Pustu Tepal. Tepat 4,5 jam dia menempuh perjalanan pulang. Hanya sekadar memasang KB, dia harus jalan kaki 7,5 jam. Itu pun belum selesai, masih ada tugas dua hari lagi, para pasien di kampung itu rupanya memesan kontrasepsi pil. Sementara stok di Pustu habis. Artinya Bidan Us harus ke Sumbawa. Butuh dua hari perjalanan pergi-pulang untuk sekadar menjemput pil KB.

bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa

******

Suatu hari Bidan Us membawa beberapa kotak obat-obatan dari Kota Sumbawa. Di antara kotak-kotak itu, yang paling dijaga kotak tempat penyimpanan vaksin. Pekan depannya, akan digelar imunisasi di Puskesmas Pembantu (Pustu) Tepal, tempat ia tinggal.

Bidan Us kembali ke Tepal dengan menumpang mobil. Mobil yang bisa melewati jalanan menuju Tepal hanya mobil berpenggerak 4X4. Rata-rata menggunakan mobil Toyota Hardtop. Itulah sebabnya, semua  mobil yang naik ke Tepal disebut Hardtop, walaupun mereknya bisa saja bukan keluaran pabrikan Toyota itu.

Dari Kota Sumbawa, perjalanan menuju Tepal melewati daerah Semongkat. Tempat ini merupakan Taman Wisata Alam (TWA). Hutan dan air yang jernih menjadi andalan. Melewati jalan ini, Bidan Us ingat, itu perjalanan yang menyenangkan. Jalannya mulus di tengah hutan yang rimbun.

Tapi begitu memasuki kawasan Batu Dulang, siksaan mulai terasa. Jalan aspal sudah amblas. Tebing curam di sisi kiri - kanan jalan membuat Bidan Us khawatir. Apalagi di beberapa titik, tanjakannya cukup curam. Kondisi jalan seperti itu berakhir di Dusun Punik, kampung terakhir sebelum masuk kawasan hutan.

Perjalanan dari Punik itulah yang menyiksa. Jalan tanah menanjak dan licin. Di banyak titik, kubangan lumpur kedalamannya bisa mencapai lutut. Saat hujan, bisa merendam sepeda motor.

Mobil yang ditumpangi Bidan Us bergerak lambat. Di beberapa tempat harus dibantu. Roda diganjal dan ditaburi sekam. Sekam itu digunakan untuk merekatkan ban dengan tanah yang sangat licin. Nyali Bidan Us sempat ciut dengan kondisi jalan itu. Selain memikirkan keselamatan dirinya, dia juga memikirkan obat-obatan yang dibawa. Takut pecah.

Kekhawatiran Bidan Us, hardtop yang ditumpangi mogok menjadi kenyataan. Di tengah perjalanan dari Punik menuju Tepal, mobil itu mogok. Sementara hari menjelang sore. Bidan Us panik, di dalam kotak obat itu dia membawa vaksin yang harus dijaga kondisinya tetap dingin.

Saat itu pengendara motor melintas. Bidan Us memberanikan diri dibonceng. Dia menuju kampung terdekat, Dusun Pusu. Beruntung di Pusu ada warga yang memiliki kulkas tempat menyimpan sayur dan lauk pauk. Untung ada es batu. Bidan Us membawa es batu itu, kembali ke tempat hardtop mogok. Dia lega, walaupun malam itu dia harus menginap di tengah hutan sambil menunggu mobil kembali jalan, tapi vaksin terselamatkan.


bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa

“Itu pengalaman paling mendebarkan. Yang saya pikirkan vaksin itu,’’ kata Us mengenang pengalaman bermalam di tengah perjalanan.

Perjalanan panjang, memakan waktu setengah hari dengan kondisi jalan jelek dilakoni Bidan Us hampir setiap minggu. Setidaknya dia harus rutin mengambil obat-obatan. Misalnya saja, seperti pesanan warga Talagumung yang meminta pil KB. Dia harus mencari cara agar tidak perlu ke Kota Sumbawa mengambil pil KB.

Belum lagi dia harus membuat laporan secara berkala. Bidan Us masih bisa menalangi ongkos, tapi membayangkan perjalanan yang melelahkan itu, nyalinya keder. Solusinya, dia menitip daftar obat-obatan maupun laporan pada tukang ojek, penjual ikan, atau warga yang kebetulan akan ke Sumbawa.

“Sekarang malah ada warga yang melapor kalau mau ke Sumbawa. Apakah saya mau nitip atau tidak,’’ tuturnyanya. “Orang di sini baik-baik,’’ sambungnya.

Bidan Us menganggap orang-orang itu sebagai mitra kerja. Tanpa mereka, dia tidak bisa membayangkan melewati hutan dengan jalan hancur untuk sekadar mengirim laporan. Sementara di Tepal tidak ada sinyal telepon seluler. Sinyal dicari di beberapa titik, di perbukitan. Dalam seminggu, Bidan Us kadang hanya dua kali mencari sinyal. Sekadar membaca SMS yang masuk, atau mengirim SMS ke keluarganya untuk mengabarkan kondisinya.

“Ibu saya paling khawatir. Malahan pernah ibu di sini menemani sampai seminggu,’’ kata bidan yang masih gadis ini.

Bidan Us juga belajar kearifan lokal masyarakat Tepal. Walaupun secara medis dia banyak tidak setuju dengan dukun beranak, yang di Tepal disebut tamang. Tapi dia harus merangkul mereka. Mereka adalah orang-orang yang sangat dipatuhi ibu-ibu di kampung tersebut.

bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa
Persalinan di Tepal masih banyak ditolong tamang. Walaupun ada bidan, tamang tetap harus ada ketika proses persalinan. Tamang memiliki kewajiban selama tiga hari untuk mengurus ibu yang melahirkan. Segala keperluannya dilayani tamang. Proses ini dikenal dengan tamang miri.

“Masalahnya selama proses itu para ibu nifas (selesai melahirkan) banyak pantangan, terutama makanan. Mereka hanya dikasih makan lauk garam dan asam,’’ kata Bidan Us.

Kebiasaan itu tentu saja keliru. Ibu yang baru melahirkan seharusnya diberikan makanan bergizi. Sehabis banyak pendarahan, asupan makanan sangat penting. Belum lagi mereka harus menyusui. Tapi jika langsung membantah anjuran tamang, Bidan Us akan berhadap-hadapan dengan para tamang, yang sangat didengar oleh masyarakat.

Untuk menyiasati ini, Bidan Us berbicara dengan baik-baik. Misalnya saja dia menjelaskan secara medis kondisi tubuh perempuan setelah nifas. Dia menjelaskan apa saja yang bisa dilakukan agar kondisi cepat pulih. Pada kondisi ini, biasanya ibu nifas akan mengikuti saran Bidan Us, makan apa saja. Tamang pun tidak akan keberatan.

“Saya tidak mau menyinggung mereka. Harus pelan-pelan pendekatannya,’’ katanya.



bidan desa, desa terpencil, desa tepal, sumbawa
Begitu juga dengan masa menyusui. Walaupun bayi mereka baru berusia beberapa bulan, sudah mulai dijejali dengan makanan tambahan. Padahal cukup dengan ASI saja. Belum lagi masa menyusui yang terlalu cepat selesai. Anak mereka belum genap setahun sudah kembali hamil. Tidak heran ada seorang ibu yang sudah memiliki 7 anak pada usia 31 tahun. “Mereka selalu bilang sudah terbiasa,’’ katanya menirukan ucapan ibu-ibu di Tepal.

Bertugas di daerah terpencil seperti Tepal memang butuh resep tersendiri bagi Bidan Us. Sebelumnya dia pernah menjadi bidan di Rhee. Daerah ini pusat kecamatan. Akses jalan dekat. Tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat sudah baik. Tidak sulit untuk menjelaskan pada mereka tentang berbagai persoalan kesehatan. Berbeda denga Tepal. Bidan Us banyak belajar dari kearifan masyarakat sekitar. Walaupun apa yang disampaikan benar, tapi caranya keliru bisa-bisa mendatangkan musuh.

Bertugas di Tepal juga mengajarkan Bidan Us tentang begitu timpangnya pelayanan kesehatan. Tidak perlu jauh-jauh mengambil contoh. Pelayanan kesehatan di dalam Kabupaten Sumbawa saja banyak berbeda. Seperti di Tepal yang tidak memiliki perawat. Tentu saja, kondisi ini mengkhawatirkan Bidan Us jika terjadi kondisi gawat darurat. Apalagi akses transportasi keluar dari Tepal sangat sulit. Bidan Us sadar, kesehatan juga sangat ditunjang dengan ketersediaan infrastruktur jalan.

“Dulu ada pasien sesak nafas kambuh. Di sini tidak ada tabung oksigen, mau dirujuk justru makin berbahaya. Untung saja dia kembali cepat pulih,’’ kata Bidan Us.

Menurutnya, pelayanan kesehatan mestinya sama di semua tempat. Daerah terpencil dengan kota harus sama dalam sisi fasilitas dan tenaga kesehatan. Tapi kondisi yang dialami Bida Us di Tepal saat ini, menjadi cerminan bahwa pelayanan kesehatan belum merata di semua tempat. (*)




3 komentar:

  1. luar biasa dan menyentuh, sangat.... anak sai Ibu Bidan ta pang Rhee gras sate ku lalo bakatoan ko Ina Bapak ana.

    BalasHapus
  2. Bidan Us adalah sosok orang yang sangat bersahabat dan berbudi pekerti, selain memiliki budi yang baik bidan Us juga memiliki paras yang manis dan menawan. Saya mengenal beliau ketika saya mengalami kecelakaan saat kami naik ke Dusun Talagumung Desa Tepal dalam mengembang misi kebangsaan yaitu Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Naasnya kecelakaan menimpa saya ketika melewati turunan yang sangat curam setelah Desa Tepal.
    Dengan keadaan kaki yang terluka saya tetap melanjutkan perjalana menuju Talagumung bersama rombongan dan yang menjadi titik permasalahan adalah perjalanan pulang menuju Sumbawa karena kondisi saya tidak memungkinkan untuk menunggangi motor tetapi berkat bantuan dari bidan US, saya bisa menunggangi motor dan melanjutkan perjalanan pulang menuju Sumbawa.
    Terima kasih banyak Bidan Us atas bantuannya hari itu walaupun sudah setahun lebih ibu Us tidak akan saya lupakan.

    BalasHapus
  3. bidan Us adalah sosok yang sangat bersahabat.
    terima kasih ibu Bidan atas bantuannya kemarin walaupun sudah setahun lebih bantuan ibu bidan tetap saya ingat d

    BalasHapus