Jumat, 24 Juni 2016

Amaq Raya, Maestro Tari yang Jadi Pemulung



Amaq Raya

Habis manis sepah dibuang. Pribahasa ini sepertinya tepat untuk menggambarkan sosok Muhammad Saleh atau yang akrab disapa Amaq Raya. Seniman dari Desa Lenek, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur ini dikenal sebagai salah seorang maestro tari Lombok. Namun, di usia tuanya, hidup Amaq Raya terlunta. Untuk sekadar bertahan hidup, dia menjadi pemulung. Seluruh alat-alat musiknya pun sudah habis. Dokumen perjalanan berkesenian, yang menjadi bukti sejarah hidupnya, pernah dipinjam pejabat, tidak pernah kembali. Sanggar yang pernah didirikannya pun hanya menyisakan nama. Tapi semangat berkeseniannya tidak pernah pupus.


*****
Ditemani sahabat dari Rumah Budaya Paer Lenek, saya menyusuri jalan tidak mulus menuju rumah sang maestro. Hari sudah beranjak malam. Awalnya sempat ingin berkunjung pada sore. Tapi, dari kontak yang menjadi penghubung, Amaq Raya belum pulang. Sore hari dia biasanya masih bekerja.
Rumah itu tampak temaram, walaupun ada lampu listrik. Rumah itu masih baru. Tampak dari tembok bata yang belum diplester. Warna tembok bata itu juga belum terlalu kusam.

Di dalam rumah berukuran kira-kira 6X4 meter itu, Amaq Raya sudah menunggu. Ditemani istrinya, Salmah dan salah seorang cucu lelakinya. Belum sempat saya bertanya, Amaq Raya menyodorkan sebuah map biru.

“Saya sudah tidak bisa mendengar jelas,’’ katanya tersenyum.

Amaq Raya yang tidak tamat SD, tidak bisa membaca apa yang tertera di dalam map itu. Di dalam map itu, berisi surat dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Isinya tentang bantuan dana bagi para maestro seniman sebesar Rp 7,5 juta. Suratnya tahun 2011. Di dalam itu juga dikliping tulisan tentang Amaq Raya, dan beberapa lembar foto kunjungan pejabat dan sahabat di kediamannya.

Awalnya saya canggung juga bertanya dengan cara menempelkan mulut di telinga Amaq Raya. Tapi Amaq Raya sendiri meminta, di usianya yang 75 tahun lebih, dia sudah tidak jelas lagi mendengar
.
“Tapi kalau nembang dan menari saya masih bisa,’’ katanya memperagakan salah satu gerakan tari.

Di usia yang sudah tidak muda itu, Amaq Raya masih jelas mengingat setiap gerakan tari. Bukan sekadar tari-tarian yang diciptakan atau pernah dia gubah, tapi juga beberapa tari tradisional Lombok yang kerap dipentaskan.


amaq raya, maestro tari lombok
“Kesalahan sering di sini, terlalu dilipat tangannya. Ini bisa mengubah makna tari,’’ kata Amaq Raya memperagakan salah satu tempat kekeliruan gerakan dalam Tari Gandrung.

“Kalau saya yang latih, saya paksa harus diubah. Memang lelah, tapi itu cara yang benar,’’ katanya melanjutkan.

Amaq Raya memang dikenal sebagai pelatih yang cukup keras. Beberapa seniman senior di Lenek yang pernah saya temui mengakui ketegasan dan ketelitian Amaq Raya. Dia belum puas ketika gerakan tari itu tidak tepat. Sekadar bergeser hanya beberapa derajat saja, Amaq Raya pasti menegur.

Sebagai seorang koreografer tari-tari tradisional Lombok, Amaq Raya sangat menjaga detail. Tari tradisional itu memiliki makna di balik gerakannya. Makna itulah yang harus dipertahankan. Caranya dengan menjaga orisinalitas setiap gerakan tarian itu.

Di masa mudanya, Amaq Raya cukup populer sebagai pencipta tari maupun seorang penggubah. Salah satu tarian yang cukup dikenal adalah Tari Gagak Mandi. Tarian ini diciptakan Amaq Raya ketika baru beranjak dewasa.

“Saya masih ingat saya menciptakan gerakannya tahun 1956,’’ katanya.

Tarian itu menggambarkan aktivitas burung gagak yang sedang mandi. Awalnya pada hari Jumat pagi, Amaq Raya hendak mandi ke sungai Shinta di Lenek. Saat hendak turun mandi, Amaq Raya terkejut melihat pepohonan di sekitar sungai itu penuh dengan burung gagak.

Amaq Raya mengintip burung gagak yang jumlahnya mencapai ratusan itu. Lalu dia melihat gagak-gagak itu mandi. Dia memperhatikan kepala gagak saat menyelam, ketika dibasahi, dan gerakan badan gagak yang mengibaskan air. Amaq Raya urung mandi di tempat itu.

amaq raya, maestro tari lombok
Tari Gagak Mandi ciptaan Amaq Raya

Dia pulang. Dia terus memikirkan adegan burung gagak yang sedang mandi itu. Pada hari itu juga, Amaq Raya mulai menyusun sebuah gerakan tari. Dia meniru gerakan kepala, badan, sayap gagak. Akhirnya setelah melakukan perenungan lama, sempurnalah gerakan Tari Gagak Mandi. Kini, tarian ini menjadi tarian “wajib” di semua sanggar kesenian yang ada di Lenek.

Berkat Tari Gagak Mandi, nama Amaq Raya melejit. Dia kerap diundang pentas tari di luar kampung, di tingkat kabupaten, di provinsi. Lalu semakin melejit, dia diundang tampil di berbagai acara nasional. Dia pernah menari khusus untuk Presiden RI pertama,  Ir Soekarno. Dia juga pernah menghibur Presiden RI kedua Soeharto. Di tahun 1988, Amaq Raya menjadi salah satu anggota rombongan muhibah kesenian Indonesia ke Jepang. Dia pentas tari dan musik selama 15 hari di negeri matahari terbit itu.


amaq raya, maestro tari lombok
Amaq Raya dan Istrinya
Amaq Raya punya kenangan indah tak terlupakan dengan presiden Soekarno. Dia tidak ingat tahun berapa persisnya. Saat itu dia membawakan Tari Tandak Geruk. Tentu saja beberapa sudah dia gubah menjadi bentuk yang lebih indah. Di dalam tarian ini dia memasukkan aktivitas di sawah. Sambil memperagakan setiap gerakan tarian itu, sekadar kegiatan mencangkul pun terlihat indah diperagakan Amaq Raya. Gerakan membasuh wajah setelah bekerja di sawah pun begitu dihayati oleh Amaq Raya.

“Presiden Soekarno mendekati saya setelah itu. Dia berpesan tarian tradisi ini harus dilestarikan,’’ kata Amaq Raya.

Disamping tarian tersebut, Amaq Raya juga menggubah Tari Pakon (tarian untuk pengobatan), Tari Gending Segara Anak, Tari Semar Geger, Tari Kembang Jagung yang pernah dipentaskan ketika Presiden Soekarno datang ke Lombok.

“Saya tidak ingat berapa kali sudah pentas ke luar daerah,’’ katanya saat ditanya intensitasnya pentas di luar NTB.
amaq raya, maestro tari lombok

Begitu juga ketika memainkan gending, menembang, harus tepat. Bagi Amaq Raya, memainkan alat musik gending itu ibarat orang yang mengaji. Ketika suara bagus, bacaan tepat orang akan senang mendengar. Begitu juga ketika memainkan gending, kombinasi dan keras-lunaknya pukulan juga harus tepat. Bukan sekadar sembarang pukul, asal mengeluarkan bunyi, seperti beberapa musik tradisi yang belakangan menjadi hiburan jalanan.

“Kalau pukulan gamelan itu tepat, enak didengar. Perasaan akan tenang,’’ katanya.
Begitu juga dengan pukulan gong. Bukan sekadar ketepatan waktu memukul, tapi juga cara memukul, kekuatan tangan dan arah pukulan akan menghasilan kombinasi yang tepat.

Hasil perenungan dan komposisi yang tepat akan menghasilkan karya yang abadi. Selalu dikenang zaman. Bagi para pencinta seni tradadisi Lombok, tentu saja tidak asing dengan Pemban Selaparang. Boleh dibilang dari seluruh karya gending dan lagu tradisional Lombok, Pemban Selaparang ini adalah masterpiece. Komposisi lagu dan gending ini adalah salah satu gubahan Amaq Raya.

“Untuk liriknya sahabat saya Dane Rahil yang menciptakan,’’ katanya.

Belum ada karya sejenis yang bisa mengalahkan kepopuleran Pemban Selaparang ini. Dalam berbagai pentas budaya, acara radio, TV tentang kesenian Lombok, menjadikan Pemban Selaparang ini sebagai pembuka. Tidak terbilang berapa kaset, kelompok kesenian yang membawakan Pemban Selaparang ini. Karya Amaq Raya dan Dane Rahil (alm) ini menyebar di seantero Lombok.

Di sela-sela obrolan, tanpa diminta, lalu Amaq Raya tiba-tiba menyanyikan tembang Pemban Selaparang itu. Dia menutup matanya. Kepalanya mendongak, jari-jarinya tidak berhenti bergerak, seperti memainkan alat musik. Di usia yang sudah tidak muda lagi, suara Amaq Raya masih bisa dengan indah menyanyikan lagu itu. Sesekali dia batuk dan mengambil nafas.

“Nafas saya tidak sekuat dulu,’’ katanya di akhir lagu.

Amaq Raya mengambil nada-nada itu dalam takepan bel. Dia memasukkan ke dalam gamelan. Mencoba beberapa kali, meresapai setiap nada. Sampai akhirnya menjadi komposisi  yang indah. Kejeniusan sahabat dan rekannya Dane Rahil, terciptalah Pemban Selaparang.

“Kami masih muda saat itu,’’ kenangnya.
amaq raya, maestro tari lombok
Gelar sebagai maestro tari tak membuat kehidupan Amaq Raya lebih baik
Di masa mudanya itu, Amaq Raya dan sahabatnya Dane Rahil itu sudah menjadi buah bibir. Mereka dianggap sebagai maestro kesenian Lombok. Sanggar yang digagas Dane Rahil, Sangar Gendit Mas, maupun sanggar yang dikelola Amaq Raya, Sanggar Seni Kayangan Sasak cukup populer. Puncaknya tahun 1988 mereka dikirim ke Jepang untuk pentas seni dan budaya.

Amaq Raya menggantungkan hidupnya dari berkesenian. Seluruh hasil pentas lokal maupun nasional mampu untuk menghidupi keluarganya. Dia memiliki enam orang anak, menjadi penerus berkesenian. Tapi sayang, di usia senjanya, hidup Amaq Rahil tidak elok terdengar. Dia jauh dari aktivitas berkesenian. Dia tidak lagi melatih khusus orang-orang untuk menari atau menabuh gending. Bukannya pensiun, tapi kemiskinanlah menjadi penyebab.

“Saya tidak punya alat. Hanya itu yang tersisa, Gendang Wayang,’’ katanya menunjuk gendang yang tersimpan di atas lemari.  Gendang itu hanya satu-satunya alat kesenian yang dimiliki Amaq Raya.
Semua alat kesenian yang pernah dimiliki lengkap rusak. Lenyap. Seperti tidak ada bekas. Amaq Raya tidak bisa lagi melatih. Tidak bisa tampil. Padahal jiwanya masih membara agar tetap eksis di jalur kesenian. Tangan dan jari lentiknya saat menari masih sempurna diperagakan di usia tuanya. Walaupun pendengarannya kurang, tapi masih peka untuk menilai kekeliruan pukulan gending.

“Saya ingin menghabiskan waktu saya sebenarnya untuk meneruskan ilmu saya. Tapi tidak bisa. Saya sudah tidak punya apa-apa,’’ katanya .

Bahkan sekadar untuk bertahan hidup, Amaq Raya sudah lama menjadi pemulung. Dia keliling kampung, bahkan keluar Desa Lenek untuk mengais karton, bekas-bekas kaleng minuman. Barang rongsokan itu dia jual untuk mempertahankan asap dapur. Dia juga kadang menjadi buruh pembuatan bata, saat tenaganya masih kuat menjadi pemecah batu.

amaq raya, maestro tari lombok
Beberapa orang yang pernah dilatih dan tahu perjalanan kesenian Amaq Raya mengaku prihatin. Tapi mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Berkesenian tidak bisa menjadi jaminan hidup, di tengah ketidakpedulian pemerintah pada para seniman tradisional. Pemerintah lebih loyal mengeluarkan dana tidak sedikit untuk program - yang  katanya promosi- daripada membina para seniman. Mereka tidak sadar, seni musik, lagu, tarian yang dipromosikan itu memikiki pencipta yang kini hidupnya melarat.

“Pemerintah mengeluarkan ratusan juta untuk acara-acara seremonial atau pemilihan model-model cantik dan gagah yang konon menjadi duta budaya dan pariwisata. Saya tidak tahu model-model itu apakah memang ada kontribusinya bagi kemajuan budaya dan pariwisata kita,’’ kata Lalu Saparudin Aldi, salah satu pegiat kesenian tradisi di Lenek.(*)

2 komentar: