Jumat, 15 Juli 2016

Lebaran Adat : Tafsir Masyarakat Adat Atas Ritus Agama


lebaran adat, wetu telu, lebaran wetu telu
Komunitas masyarakat Wetu Telu di Kabupaten Lombok Utara (KLU) merayakan Idul Fitri dengan cara berbeda dengan umat Islam kebanyakan. Mereka berlebaran tiga hari setelah umat Islam lainnya berlebaran, yang jatuh pada tanggal 1 Syawal. Berikut catatan pengalaman saya ketika mengikuti Lebaran Adat tahun 2012 – 2016. Selama lima tahun mengikuti, saya mengunjungi lokasi perayaan di Labangkara, Sembagek, dan Semokan. Tiga dusun yang memiliki Masjid Kuno ini berada di Desa Sukadana, Kecamatan Bayan.


Hari masih pagi saat Raden Anggrita duduk mengenakan sapu’ (pengikat kepala khas Sasak) dan dodot (sarung) di berugak di belakang rumahnya. Hari itu, pemuda yang tercatat sebagai mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Mataram ini diberikan tugas besar oleh para tetua di gubug (semacam RT). Hari itu, dia menjadi perwakilan untuk mengantarkan pitrah ke Masjid Kuno Sukadana, sekitar 200 meter dari rumahnya.


Sebelum berangkat dia tak lupa mengingat kembali isi keranjang bambu besar yang diletakkan di atas berugak. Di atas keranjang itu, sajadah (alas yang dipakai sholat), menutupi isi keranjang.


Di bagian paling bawah, diisi beras. Lalu di atas beras ada kepeng bolong (uang logam berlubang di tengahnya). Beras itu dilapisi kain. Setelah itu di atas beras itu, disusun rapi tebu, pisang, dile jojor (lampu dari kapas dan jamplung), kelapa dan ubi, dan berbagai jenis hasil kebun lainnya. Anggrita mengingat, jumlah keseluruhan bawaannya itu : 2 gantang, 15 koyong.
Sesampai di depan Masjid Kuno, Anggrita mencuci kaki. 


Di atas masjid yang berdinding bambu dan berlantai tanah itu, seorang pria menyambut. Mengambil bawaan Anggrita. 


Di dalam masjid itu, sudah kumpul barang serupa. Keranjang bambu yang berisi beras dan aneka hasil bumi. Belasan pria mengenakan pakaian putih, sapu’ putih, sarung panjang, duduk di setiap sisi masjid itu. Sambil ngobrol, mereka menyulut rokok. Mereka rupanya masih menunggu temannya yang lain. Acara penyerahan pitrah hari itu, harus menunggu semua kiyai santri tiba di Masjid Kuno.


 
lebaran adat, wetu telu, lebaran wetu telu
Nursanep (kanan) dibantu adiknya mengisi keranjang pitrah

Barang bawaan Anggrita itu adalah zakat pitrah warga di gubub, Dusun Labangkara, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan. Hari itu, komunitas Wetu Telu di Sukadana memulai perayaan lebaran. Jika mengikuti penetapan 1 Syawal yang jatuh pada Senin (28/7/2014), maka hari itu adalah 4 Syawal. Komunitas Wetu Telu memang merayakan lebaran tiga hari setelah Idul Fitri.
Pitrah yang dibawa Anggrita hari itu, 2 gantang dan 15 koyong adalah zakat kolektif warga. Dalam komunitas Wetu Telu, zakat pitrah dikumpulkan secara kolektif, lalu diserahkan ke kiyai.
2 gantang itu adalah ukuran untuk beras. Ditakar dengan sebuah mangkuk terbuat dari batok kelapa. Jadi beras yang dibawa Anggrita, dua mangkuk.


Sementara koyong, sebutan bagi pitrah yang diserahkan oleh anak-anak. Bisa saja ada anak-anak yang datang menyerahkan zakat pitrah hanya berupa dua genggam beras.


“Anak-anak yang datang membawa ke rumah kalau koyong itu,’’ kata Anggrita.


Setelah para perwakilan pembawa pitrah kumpul, acara penyerahan pitrah dimulai. Para kiyai kagungan (penghulu, ketip, lebai, mudim) duduk di depan, dekat mimbar masjid. Satu persatu perwakilan gubug membawa bawaan mereka.


Para pembawa pitrah menyalami kiyai dan mengucapkan salam. Lalu mereka mengucapkan akad penyerahan pitrah. Ucapan itu, permintaan agar kiyai menerima pitrah itu. Para pembawa pitrah juga menyebutkan jumlah pitrah yang dibawa. Setelah mengucapkan akad itu, kiyai akan menerima. Lalu kiyai memimpin doa. Doa dalam bahasa Arab. 


Setelah doa, kiyai membuka isi keranjang itu. Hasil bumi seperti kelapa, tebu, jagung, ubi, akan dikelompokkan menjadi satu. Begitu juga dengan kepeng bolong yang dibawa dikumpulkan menjadi satu. Ada juga yang menyelipkan uang pecahan baru di atas beras. Kiyai memisahkan tersendiri uang itu.

 
lebaran adat, wetu telu, lebaran wetu telu
ziarah makam menjadi tradisi masyarakat Indonesia


Setelah isi pitrah dipisahkan, kiyai santri diminta untuk mengambil beras. Mereka diminta mengumpulkan beras itu menjadi satu. Salah seorang kiyai yang ada di dalam masjid mengingatkan, para pembawa pitrah dan kiyai santri untuk tidak meninggalkan masjid walaupun sudah selesai menyerahkan dan menerima pitrah.

Dalam keyakinan masyarakat Wetu Telu, zakat pitrah yang dibawa tidak harus berupa beras/makanan pokok seperti umat Islam kebanyakan. Seluruh hasil bumi bisa menjadi pitrah. Pitrah yang dibawa pada umumnya hasil kebun mereka. Itulah sebabnya, antara satu gubug dengan gubug lain, bisa berbeda jenis yang dibawa, tergantung apa yang mereka miliki saat itu. Selain itu, dalam komunitas Wetu Telu, pitrah itu dibagi untuk para kiyai. 


“Ada yang dibagikan ke anak yatim,’’ kata Anggrita, seraya menegaskan sebelum prosesi itu dimulai sudah didata anak-anak yatim yang akan diberikan pitrah itu.


10 kilometer dari rumah Raden Anggrita, Sabtu sore (9/7/2016) di sebuah perkampungan tradisional yang dikenal dengan Sembagek, Nursanep menyiapkan pitrah.Pitrah yang akan diserahkan Nursanep berupa mentimun, terong, kacang panjang, tebu, apel, pinang, nanas, jeruk, kurma, garam, tembakau, jagung. Begitu juga dengan para tetangganya. Pitrah yang akan diserahkan ke kiyai adalah makanan sehari-hari. Beberapa warga menaruh makanan ringan (snack) dan roti yang dibeli di kios. 


Untuk menampung pitrah itu, Nursanep dan seluruh warga Sembagek menggunakan keranjang. Karena khusus dibuat saat perayaan Lebaran Adat, warga menyebut keranjang itu sebagai keranjang pitrah. Bentuknya seperti tas wanita pada umumnya. Terbuat dari bambu. Ada yang satu biji, ada yang dua biji. Jika dua biji (berpasangan) maka itu menjadi tanda jika warga yang menyerahkan pitrah itu sudah berkeluarga.


“Saya pakai dua karena sudah menikah,’’ kata wanita dua anak itu menunjukkan keranjang pitrahnya.


 
lebaran adat, wetu telu, lebaran wetu telu
mengumpulkan pitrah secara kolektif

Di Semokan lagi lagi bentuk keranjang pitranya. Keranjang pitra di kampung yang berbatasan dengan kawasasan hutan Rinjani itu menampung pitrah secara kolektif. Keranjangnya lebih besar. Untuk mengangkutnya membutuhan dua orang laki-laki dewasa. 

Keranjang pitrah kolektif itu dikumpulkan dari satu keluarga besar. Misalnya jika ada orang tua yang memiliki enam anak yang sudah menikah, maka semua anak dan menantunya itu mengumpulkan pitrah di orang tuanya. Setelah semua pitrah terkumpul, barulah dimasukkan dalam keranjang besar itu. Isinya sama dengan di Sembagek, kebutuhan sehari-hari.
“Nanti yang menyerahkan ke kiyai orang yang dituakan,’’ kata Mindranom, salah satu amaq lokak (tokoh yang dituakan) di Semokan yang kebetulan rumahnya menjadi tempat pengumpulan kolektif pitrah dari keluarga besarnya.


Pada tahun 2016, perayaan Lebaran Adat akan dilakukan pada hari Minggu (10/7). Pemerintah melalui Kementerian Agama dan mayoritas Ormas Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri pada hari Rabu (6/7/2016).


Soal pelaksanaan lebaran yang dimulai 3 hari setelah perayaan Idul Fitri mayarakat muslim kebanyakan, para tokoh Wetu Telu tidak memberikan jawaban pasti. Beberapa tokoh yang pernah saya  temui di tempat-tempat komunitas Wetu Telu masih menjaga tradisi, mereka hanya berujar jika penetapan waktu itu sudah menjadi turun temurun.


“Dari nenek moyang kami memang seperti itu,’’ kata Raden Riawadi, tokoh masyarakat di komunitas Wetu Telu di Labangkara, Desa Sukadana.


Di Desa Sukadana sendiri, ada tiga lokasi pemusatan perayaan lebaran, yang belakangan dikenal dengan Lebaran Adat. Selain di Masjid Kuno yang ada di pusat Desa Sukadana, kegiatan serupa juga dilakukan di Masjid Kuno yang berada di dalam pawang (hutan) Semokan. Selain itu perayaan juga dilakukan di Sembagek. Sembagek ini adalah salah satu kampung tradisional di Sukadana yang masih terjaga. 


Seluruh rumah di kampung yang dikelilingi hutan ini masih mempertahankan bentuk aslinya. Rumah panggung dengan dinding bedek, di depan rumah berdiri berugak tempat menerima tamu. Dibandingkan Masjid Kuno lainnya, keberadaan Masjid Kuno di pawang Semokan itu memang terpencil. Berada di dalam hutan adat yang masih lebat. 

Kegiatan penyerahan pitrah ini bisa berlangsung hingga malam hari. Seluruh hasil bumi yang dikumpulkan kemudian dipisahkan sesuai dengan jenisnya. Setelah semua pitrah terkumpul, para kiyai santri yang berpakaian putih dengan sapu’ (ikat) kepala putih menggelar sholat sunat dua rakaat. Barulah hasil pitrah itu dibagi-bagikan. Ada yang diberikan untuk warga, ada juga bagi para kiyai santri.


Di Masjid Kuno di Labangkara, warga berdatangan menyerahkan pitrah sejak siang hingga malam hari. Di Sembagek dan Semokan warga datang mulai sore hari. Khusus di Semokan, warga yang membawa pitrah ramai berdatangan setelah matahari tenggelam. Di Semokan, Masjid Kuno berada di tengah hutan. Listrik terlarang di kawasan itu. 


Warga yang membawa pitrah masuk masjid, melewati hutan yang cukup lebat hanya dengan menggunakan penerangan dile jojor (lampu yang terbuat dari campuran kemiri dan kapas yang ditumbuk).  Sambil kiyai menerima pitrah, terdengar dari dalam masjid suara bedug. Saat saya berkunjung ke dalam kompleks Masjiud Kuno hanya samar-samar terlihat aktivitas menyerahkan pitrah itu. 


Penyerahan pitrah ini biasanya berlangsung hingga tengah malam. Setelah selesai penyerahan pitrah para kiyai – santri kembali ke tempat mereka dan kembali keesokan harinya untuk puncak perayaan Lebaran Adat.
 


lebaran adat, wetu telu, lebaran wetu telu
berangkat menuju Masjid Kuno Semokan
 
 
****************
 


Ketika para kiyai dan perwakilan mengurus pitrah, seluruh warga di kampung bersiap-siap menyambut lebaran. Kesibukan nampak sejak pagi di rumah-rumah penduduk. Anak-anak, remaja, dewasa, orang tua tampak hilir mudik di depan rumah mereka. Masing-masing gubug ramai oleh aktivitas warga. Anak-anak yang bermain di halaman menerbangkan debu yang tak pernah tersentuh hujan sejak dua bulan lalu.

Setelah seluruh pitrah terkumpul dan dibagikan, para kiyai di komunitas Wetu Telu bersiap melakukan sholat Idul Fitri. Pelaksaan sholat sama seperti sholat Idul Fitri pada komunitas muslim kebanyakan. Hanya saja, sholat Idul Fitri di komunitas Wetu Telu hanya diikuti kiyai - santri.


Satu persatu para pria berbaju putih, mengikat kepala dengan kain putih  (sapu’) memasuki halaman Masjid Kuno. Belakangan Masjid Kuno itu diberikan nama Nurul Iman. Hari itu, para kiyai itu akan melangsungkan sholat Id. 


Sebelum masuk ke dalam Masjid Kuno, satu persatu kiyai itu melakukan wudhu di depan masjid kuno. Air untuk wudhu itu dibawa oleh para kiyai dalam wadah ceret (wadah air terbuat dari tanah liat). Mereka membaca doa sebelum melakukan wudhu. 


Dalam kegiatan ibadah, para kiyai tetap memakai pakaian adat Sasak. Mengenakan sapu’ dan dodot (sarung panjang).


Pelaksaan sholat Idul Fitri di komunitas Wetu Telu biasanya dilakukan pada siang hari. Seluruh kiyai santri, kiyai kagungan dan toa’ loka’ harus kumpul. Setelah kumpul seluruhnya, rangkaian  sholat Idul Fitri dimulai.


Sebelum duduk di tikar pandan di dalam Masjid Kuno, para kiyai itu melakukan sembahyang sunat dua rakaat. Selama kegiatan sembahyang ini, tidak boleh ada yang berbicara sedikit pun. Jika berbicara mereka akan dikenakan denda. Denda itu berupa kepeng bolong (uang bolong di bagian tengahnya). Tidak sekadar denda kepeng bolong, bagi yang melanggar harus mengulang dari awal rangkaian ritual. Berangkat dari rumah, wudhu di depan masjid kuno, sembahyang sunat dua rakaat dan kembali duduk.


20 orang kiyai santri kumpul, sholat Idul Fitri pun dimulai. Diawali dengan pemukulan beduk. Dalam kegiatan sholat Idul Fitri pada Lebaran Adat ini, Amaq Loka’ yang bertugas memukul beduk . Cara membedakanya mudah, dia mengenakan sapu’ warna hitam dan tidak ikut sholat Idul Fitri.


 
lebaran adat, wetu telu, lebaran wetu telu
para kiyai - santri usai sholat Idul Fitri

Beduk yang berada di dalam Masjid Kuno, di sisi utara bagian belakang dipukul beberapa kali sebagai penanda persiapan sholat. Usai pemukulan beduk itu, salah seorang kiyai santri berdiri membaca takbiran. Takbir yang dibaca sama seperti takbir yang dikumandangkan di masjid-masjid (modern). Hanya irama membacanya saja yang berbeda, pembacaan takbir itu mirip seperti orang nembang, membaca lontar. 

Sholat Idul Fitri pada Lebaran Adat itu dua rakaat. Pada rakaat pertama 7 takbir dengan 6 tasbih, rakaat kedua 5 takbir 4 tasbih. Imam yang disebut mudim membaca Alfatihah lalu dilanjutkan dengan salah satu ayat Alquran. Cara mengajinya pun mirip seperti orang nembang
Khutbah dalam pelaksanaan Sholat Id Lebaran Adat seluruhnya menggunakan bahasa Arab. Khatib membaca materi khutbah yang ditulis dalam sebuah kertas peninggalan para leluhur mereka. 


Usai sholat Idul Fitri pada Lebaran Adat sebanyak 2 rakaat,  para kiyai santri mengumpulkan kepeng bolong. Uang itu semacam ‘’amal’’ yang dikumpulkan. Ada juga uang dari hasil denda jamaah yang melanggar aturan.


Kemudian acara dilanjutkan dengan khutbah. Salah seorang jamaah berdiri mengambil tongkat yang lebih mirip seperti tombak. Ketika memegang tombak itu, pria itu menusukkan ujung tombak itu ke perutnya. Barulah dia memimpin takbir dan diikuti oleh jamaah yang lain.
Khatib kemudian berdiri. Si pembawa tongkat kemudian menuntun khatib naik ke tempat khutbah. 


Cara menuntunya pun unik. Khatib menginjak punggung kaki si pembawa tongkat. Sambil membaca doa tertentu, kemudian dipapah hingga naik ke podium (mimbar).
Setelah naik ke mimbar, khatib membaca takbir diikuti oleh jamaah yang lain. Selanjutnya khatib membuka gulungan kertas yang merupakan peninggalan para nenek moyang masyarakat Sukadana. Gulungan kertas itu berisi materi khutbah, ditulis dengan huruf arab. Khatib pun membaca seluruh isi dalam gulungan itu tanpa jeda. 


Usai membaca khutbah itu, kegiatan sholat Idul Fitri pada Lebaran Adat pun berakhir. Seluruh jamaah saling salaman sambil mengucap Assalamualaikum antara jamaah yang satu dengan yang lainnya.


Usai melaksanakan sholat Idul Fitri, para kiyai santri membagi diri. Mereka harus mengikuti undangan ke gubub-gubug. Para kiyai santri ini berangkat sesuai dengan daerah yang diberikan, termasuk juga kiyai santri yang ditugaskan untuk ziarah ke kuburan.
Warga yang memiliki hajatan rowah pada Lebaran Adat itu menerima kedatangan kiyai santri. Mereka menyuguhkan makanan terbaik  dan sama-sama menikmati hidangan itu.

 

*******
 

 
lebaran adat, wetu telu, lebaran wetu telu
menyembelih kambing


 Persiapan hidangan pada Lebaran Adat juga merupakan momen penting. Ketika para kiyai melaksanakan sholat, warga lainnya sibuk menyiapkan bahan makanan untuk rowah, sepulang kiyai sholat di Masjid Kuno.

Perayaan-perayaan adat yang digelar masyarakat selalu diiringi dengan rowah (pesta). Begitu pula dalam ritual Lebaran Adat, menggelar rowah merupakan bagian tidak terpisahkan.
Untuk menyiapkan bahan makanan pada saat rowah itu tidak boleh sembarangan. Ayam yang akan dimasak harus disembelih di halaman Masjid Kuno. Orang yang menyembelihnya pun harus dari kalangan santri. Berapa pun jumlah ayam yang akan disembelih, harus dilakukan oleh santri itu.


Santri yang ditunjuk menjadi penyembelih ayam pada kegiatan Lebaran Adat yang pernah saya ikuti di Labangkara adalah Candrawati dan Sapti. Jauh hari sebelum kegiatan Lebaran Adat, dua orang ini sudah menyiapkan pisau terbaik mereka untuk proses penyembelihan. Pisau harus yang paling tajam dan kuat, mengingat jumlah ayam yang akan dipotong cukup banyak. Mencapai ratusan.


Sekitar pukul 07.00 Wita, Candrawati dan Sapti sudah menyiapkan diri. Mengenakan baju putih, sapu’ (ikat kepala) putih kedua pria yang masuk dalam kelompok pranata adat ini menuju masjid kuno, tanpa mengenakan sandal.


Sesampai di Masjid Kuno, kedua orang ini melakukan ritual wudhu. Wudhu mereka sedikit berbeda dengan cara wudhu umumnya, jika pada wudhu pada umumnya membasuh rambut. Santri juru sembelih ini hanya mengusap air di kening mereka sambil membaca doa-doa. Pun demikian dengan ketika membasuh kaki, sekadar menyiramkan pada kaki yang tidak mengenakan sandal itu. Praktis kaki yang basah itu cepat kotor lantaran halaman masjid yang berdebu.

lebaran adat, wetu telu, lebaran wetu telu
tradisi ziarah makam saat Lebaran Adat

Tanpa dikomando, warga yang masuk dalam bagian masyarakat adat Sukadana datang membawa ayam-ayam yang akan disembelih. Warga yang membawa itu harus mengenakan sarung dan sapu’. Ada yang membawa dua ekor, lima ekor, satu karung bahkan belasan ekor. Tergantung dari kemampuan anggota keluarga. 

Setiap selesai menyembelih satu ekor ayam, pisau yang dipakai untuk menyembelih harus dicuci dulu dengan air yang disimpan di dalam ceret (terbuat dari tanah liat), ada asisten khusus yang menuangkan air itu. Ayam-ayam yang dipotong itu dilepas di sekitar halaman Masjid Kuno. Setelah mati barulah dibawa keluar dari Masjid Kuno. 


‘’Ini sudah menjadi tradisi sejak dulu,’’ kata Candrawati menjelaskan alasan pemotongan ayam dilakukan di depan Masjid Kuno.


Pemotongan ayam secara kolektif di Masjid Kuno itu juga untuk meringankan beban masyarakat. Dikatakan Candrawati, jika pemotongan ayam dilakukan di masing-masing rumah, warga harus menyiapkan dulang bagi santri yang memotong. Isi dulang itu beras, sirih dan berbagai perlengkapannya dan kepeng bolong. 


‘’Itu semacam denda,’’ katanya.


Setelah ayam-ayam itu habis disembelih, warga kembali ke rumah. Barulah selesai penyembelihan ayam itu dilakukan penyembelihan kambing atau sapi. Untuk penyembelihan ayam dan sapi itu dilakukan di rumah masing-masing warga yang memiliki hajatan.


Ada kelonggaran bagi warga yang kelupaan membawa ayamnya ke Masjid Kuno. Ayam-ayam yang kelupaan itu bisa disembelih di rumah masing-masing. Tapi itu harus dipastikan dulu ritual penyembelihan di depan Masjid Kuno sudah usai.


Kebersamaan masyarakat tampak dalam proses menyiapkan bahan makanan dalam Lebaran Adat. Semua tamu, termasuk wisatawan sekalipun pasti merasakan sambutan hangat warga. Hari itu lebaran, semua bergembira.


Segelas kopi hitam dengan jeje tujak (ketan ditumbuk) plus poteng (tape dari ketan) menjadi sarapan pagi yang disuguhkan tuan rumah. Bukan sekali saja makanan tradisional itu disuguhkan, namun tiap kali singgah ke berugak warga untuk melihat persiapan Lebaran Adat, selalu ada makanan itu. Pantang untuk menolak makanan itu.


Kaum pria sibuk mengupas kelapa dengan sebuah linggis. Beberapa orang lainnya mengupas buah nangka muda yang akan dijadikan sarung. Uniknya, saat mengupas kelapa dan nangka ini para pria dewasa ini mengenakan sarung dan sapu’.


 
lebaran adat, wetu telu, lebaran wetu telu
membawa makanan ke Masjid Kuno

Sementara itu para perempuan menyiapkan bumbu-bumbu. Kemiri menjadi ciri khas dalam setiap bumbu masakan. Pala, bawang putih, bawang merah dikupas oleh anak-anak perempuan. Yang lebih dewasa membantu menumbuk campuran ragi-ragian itu.

‘’Kebersamaan tumbuh di antara masayarakat dalam kegiatan ini,’’ kata Raden Riawadi, salah seorang tokoh masyarakat.


Bahan makanan itu dimasak di masing-masing gubug (kampung). Beberapa rumah yang ada di gubug itu memasak secara kolektif. Aktivitas memasak itu dilakukan di halaman rumah. Nantinya setelah makanan siap dan kegiatan sholat Idul Fitri usai digelar, para kiyai santri akan mengunjungi gubug itu. Mereka dijamu oleh tuan rumah di gubug itu.


Ayam yang sudah disembelih di halamam Masjid Kuno mulai dibersihkan. Semua bahan makanan itu harus siap pada siang harinya. Usai pelaksaan sholat bahan makanan itu diharapkan sudah selesai dikerjakan. Nantinya makanan itu akan kembali dibawa ke Masjid Kuno.


Dalam setiap kegiatan adat, kerja sama antar masyarakat masih terjaga hingga kini. Tidak ada warga yang menganggur, semua memilik peran masing-masing. Para kiyai santri menyiapkan dan melaksanakan ritual agama-adat, warga lainnya menyiapkan berbagai keperluan. 


Dulunya, ketika masih tradisional kebersamaan itu lebih terasa. Seluruh bahan makanan dan ragi-ragian yang disiapkan semuanya diolah secara manual. Misalnya saja untuk memarut kelapa, dulu butuh banyak orang untuk memarut kelapa dalam jumlah banyak. Sekarang cukup dengan mesin pemarut kelapa bisa lebih efektif. Dampaknya, warga tidak lagi berkumpul untuk memarut kelapa.


Padahal dalam kegiatan memarut kelapa itu, terjadi obrolan antara warga yang satu dengan lainnya. Sambil bercanda mereka memarut kelapa itu. Keakraban makin terasa saat berkumpul itu. Namun kebersamaan itu hanya mejadi cerita masa lalu, mesin telah memutus kebersamaan itu.


Tak sekadar berkumpul, ada proses transformasi nilai ketika berkumpul itu. kelompok tua memberikan penjelasan pada kelompok muda terkait dengan berbagai ritual adat itu. Sayangnya kelompok muda, perlahan mulai meninggalkan dan melupakan tradisi itu. 


‘’Sangat jauh berbeda dibandingkan dengan zaman saya dulu. Sekarang justru banyak dampak negatif dari kemajuan itu,’’ kata Raden Riawadi. Dia menyebut gempuran TV dan Handphone banyak mengubah prilaku kaum muda.


Lebaran Adat itu menjadi ajang berkumpul bagi seluruh anggota masyarakat. Dalam setiap rangkaian prosesi itu, masyarakat berkumpul dan terjadi interaksi. Itulah pula yang membuat tradisi Lebaran Adat itu masih kuat dipegang hingga saat ini. Selama masih ada anak-anak muda yang mengikuti, kelak tradisi itu akan tetap hidup. Termasuk juga pelaksaan yang selalu tiga hari setelah Idul Fitri 1 Syawal. (*)


lebaran adat, wetu telu, lebaran wetu telu
para pewaris tradisi


1 komentar: