Jumat, 07 Oktober 2016

Kerta : Sisi Lain Kemewahan Pariwisata

 

korban pariwisata, tergusur, marjinal, kapitalisasi pariwisata

 Tinggal di kawasan pariwisata Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara tidak membuat hidup Kerta lebih baik. Bersama istrinya dan enam orang anaknya, Kerta hidup terlunta-lunta. Pindah dari satu tanah kosong ke tanah kosong lainnya. Kadang membuat gubuk di pinggir pantai. Dia tidak terlahir sebagai orang terlantar. Keluarganya pernah memiliki tanah di kawasan pariwisata itu. Kini di tanah bekas milik keluarganya itulah Kerta menumpang. 


Sore itu langit cerah, matahari sebentar lagi tenggelam di balik perbukitan. Dari arah Pantai Medana, yang lebih dikenal dengan kawasan Oberoi itu, dua bocah bertelanjang dada bermain di pantai. Mereka main kejar-kejaran, tertawa, lalu berbaring di pantai. Kulit dua bocah itu legam, sebagian rambut merah. Ciri khas anak pantai. Kulit mereka sudah terbiasa dengan aroma air laut dan bermandi terik matahari.

Bocah bersaudara itu adalah Husnadi dan Apriadi. Mereka belum bersekolah. Husnadi yang lebih tua, lebih ceria. Dia bisa berbahasa Indonesia, ramah pada orang baru dikenal.  ‘’Minta difoto pak,’’ katanya menunjukkan gigi putihnya saat melihat saya menenteng kamera. Pertemuan dengan kedua bocah itu mengantarkan saya pada kisah keluarga mereka.

Dua bersaudara ini menghabiskan hari mereka di pinggir pantai. Pagi, siang, sore, bahkan malam hari mereka terbiasa bermain di pantai. Saat bulan purnama, mereka kadang tidur di pinggir pantai. Kedua orang tua mereka, Kerta dan Fatimah tidak khawatir mereka bermain sampai malam di pantai. Termasuk ketika dua putra mereka itu tidur di pinggir pantai.

‘’Sudah biasa pak,’’ kata sang bapak, Kerta saat itu.

Kedua putranya itu terbiasa tidur di pantai.Menginap hingga pagi. Kadang keduanya tidur di bawah pohon kelapa, tidak jauh dari gubuk reot mereka. Dua putranya itu sudah menyatu dengan alam. Sejak mereka belajar merangkak, orang tuanya sudah melepas di alam terbuka.

‘’Tidak pernah sama sekali sakit biar tidak pakai baju malam hari,’’ kata Kerta, lelaki dengan kulit legam dan panu hampir di seluruh badannya itu.

Husnadi dan Apriadi biasa tidur di alam terbuka karena kondisi. Kedua orang tua mereka tidak memiliki rumah. Tempat tinggal mereka di pesisir Pantai Medana tidak layak disebut rumah. Bangunan yang hanya berupa atap daun kelapa yang disandarkan di tembok pembatas itu lebih seperti gubuk tempat pengumpulan sampah. Saya sempat tertipu, mengira gubuk itu hanya tempat mengumpulkan barang bekas pemulung.

‘’Di sini kami tinggal, dua anak kami yang terakhir lahir di sini,’’ kata Kerta menunjuk gubuk reot itu.

Gubuk reot itu hanya berupa daun kelapa yang disusun. Untuk penyangga “atap” daun kelapa itu, Kerta memasang bambu dan kayu bekas. Satu sisi kayu dan bambu itu diletakkan di atas tembok, sisi lainnya diletakkan di tanah. Membentuk segi tiga siku-siku. Rangka segi tiga siku-siku itulah yang ditutupi dengan atap daun kelapa itu. Itulah rumah bagi Kerta dan keluarganya.

Gubuk reot itu dihuni delapan orang. Kerta, istrinya, dua orang putranya Husnadi dan Apriadi, dan empat orang putrinya Yulianti, Siti Maryam, Apri Anggraeni, dan Fauziah. Kerta dan istrinya tidak hafal berapa usia keenam anaknya itu. ‘’Berturut-turut lahirnya,’’ kata Kerta.

Di gubuk dengan ukuran 2 X 4,5 meter itulah delapan penghuni itu tinggal. Saat musim hujan, gubuk itu sangat berarti bagi mereka. Gubuk reot dan sempit itu menghangatkan badan mereka. Tidur berhimpitan membuat hangat, tidak perlu memakai selimut. Toh keluarga ini juga tidak memiliki cukup selimut.
Saat musim panas, langit cerah, Kerta dan dua orang putranya lebih sering tidur di luar gubuk. Menggelar tikar lusuh, mereka tidur nyenyak di alam terbuka. Beratap langit.

Untuk menghidupi enam orang anak dan istrinya itu, Kerta menjadi buruh serabutan dan nelayan. Nelayan yang hanya memiliki mesin ketinting, pernah diberikan saat dia tinggal di Desa Gondang, Kecamatan Gangga. Kerta tidak memiliki perahu. Setiap kali melaut dia meminjam perahu, meminjam alat pancing dan jaring. Hasilnya dibagi dengan pemilik perahu. Tidak pernah tentu berapa pendapatannya setiap kali melaut. Yang pasti saat cuaca buruk seperti saat ini Kerta libur melaut. Makan seadanya bersama istri dan enam anaknya sudah terbiasa bagi keluarga ini.

‘’Kami sehat semua walau makan nasi dan garam saja,’’ kata istrinya Fatimah.

Kerta adalah potret keluarga yang tak menikmati janji manis pariwisata. Tidak pernah memiliki rumah, sebab dia tidak pernah memiliki tanah. Pemerintah Lombok Utara memang getol menggelontorkan bantuan rumah kumuh, baik untuk renovasi atau membangun baru. Tapi sayang pemerintah terlalu kaku, syarat mendapatkan bantuan itu harus memiliki tanah. Orang-orang seperti Kerta selamanya tidak akan pernah mencicipi bantuan pemerintah itu.

Kerta tidak sendiri. Di kawasan Pantai Medana itu dia memiliki rekan yang nasibnya tidak jauh berbeda. Tapi diantara semua rekannya yang hidup terlantar itu, Kerta dianggap paling miskin. Tidak memiliki harta benda apapun.

Rekannya yang lain, walaupun menumpang tinggal di tanah milik orang masih memiliki rumah yang sedikit lebih layak. Setidaknya mereka juga menjadi penggarap tanah yang ditinggali. Sementara itu Kerta, bukan penggarap tanah. Dia tinggal di lahan kosong.

‘’Kalau pemilik tanah mau membangun ya kami terpaksa pindah lagi,’’ kata Fatimah, wanita dari Batujai Lombok Tengah itu.

Enam orang buah hati yang dilahirkannya itu terlahir saat Kerta dan Fatimah hidup dalam pengembaraan. Sejak menikah (Fatimah dan Kerta tidak ingat tahun menikah) pasangan pengantin ini hidup nomaden. Mereka tinggal di tanah-tanah kosong yang ditelantarkan investor atau pemilik tanah. Mereka pernah tinggal pesisir Pantai Papak, Desa Gondang, Kecamatan Gangga. Mereka pernah tinggal di pesisir Pantai Bangsal, Dusun Kandang Kaoq, Desa Tanjung, Kecamatan Tanjung.

****


korban pariwisata, tergusur, marjinal, kapitalisasi pariwisata
Sebenarnya Kerta terlahir bukan dalam keadaan miskin. Orang tuanya mewariskan tanah. Tapi sejak orang tuanya meninggal, Kerta yang memiliki banyak bersaudara itu menjual tanah warisan. Tanah di Medana seluas kurang lebih 82 are, tidak jauh dari gubuk Kerta saat ini adalah tanah orang tuanya.

‘’Kakak saya yang paling besar menjual, kami saudara yang lain tidak tahu. Saudara itu menghilang ke Sulawesi,’’ tutur Kerta.

Kerta dan saudaranya yang lain pernah menduduki tanah itu. Tanah itu warisan orang tua mereka. Tapi tanah itu telah berpindah tangan. Kerta dan saudaranya kalah. Mereka harus menerima tanah warisan itu jatuh ke tangan orang lain. Kerta tidak pernah sepeser pun mencicipi hasil penjualan tanah itu.

Selain Kerta, di kawasan Medana itu tinggal juga keluarga Maryam, ibu Ati, dan Kersah. Nasib mereka sama : menjadi pengembara dari tanah kosong yang satu ke tanah kosong lainnya. Menurut penuturan mereka, nenek moyang mereka dulu awalnya pemilik tanah di kawasan pantai Medana itu. Tapi tanah itu telah dijual. Anak cucu mereka kini menjadi penjaga di atas tanah milik nenek moyang mereka itu.

Sekitar 7 km dari Medana, ke arah Barat, kawasan Pantai Sire, Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, juga menyimpan kisah pilu para mantan tuan tanah. Kawasan Medana dan Sire memiliki keindahan yang sama, garis pantai nan elok. Yang membedakan warna pasir. Sire didominasi pasir putih.


korban pariwisata, tergusur, marjinal, kapitalisasi pariwisata

Ma’nun dan Sahrun nama dua lelaki itu. Pekerjaan mereka nelayan dan buruh serabutan. Saat ada proyek pembangunan, mereka menjadi buruh angkut, atau menjadi tukang (peladen). Beberapa proyek hotel di kawasan Sire, hasil tangan mereka.

Tinggal di kawasan pantai pasir putih dengan pemandangan sunset di Gili Air, dua pria ini mestinya bisa membangun dan memiliki fasilitas pariwisata. Seperti saudara mereka di tiga gili, ada yang memiliki warung, bekerja sama dengan orang asing membangun penginapan, dan berbagai usaha lainnya. Sementara Ma’nun dan Sahrun hanya bisa menjadi buruh di proyek pariwisata.

‘’Dulu tanah di golf itu milik keluarga kami, kurang lebih 80 are,’’ kata Ma’nun.

Ketika booming pariwisata di tahun 1980-an, banyak warga Sire dan Medana yang menjual tanah mereka. Ada juga yang menukar dengan ternak. Mereka yang telah menjual tanah, membeli tanah di perbukitan, agak jauh dari pantai. Tapi ada juga yang mengabiskan uang itu untuk belanja kebutuhan sehari-hari.

Kini, ketika kawasan pariwisata itu menggeliat, orang-orang seperti Kerta itu hanya bisa menjadi penonton. Tetesan rezeki dari proyek besar ke orang-orang kecil hanya sebatas di atas kertas dan pidato-pidato resmi. Kerta selalu menjadi orang yang kalah. (*)



7 komentar:

  1. Pariwisata selalu jadi jualan rezim atas nama pembangunan umum, kesejahteraan dll. Tapi rezim menulis dgn pulpen tak bertinta.

    BalasHapus
  2. Pariwisata selalu menjadi jualan rezim saat ini, mereka bilang u/ pembangunan umum, kesejahteraan, dll. Tapi itu bulsit demua, rezim menulis dgn pulpen tak bertinta.

    BalasHapus
  3. Cari pemilik tanah, minta izin buat bangunan di tanah itu... jika diizinkan,para pembaca dikoordinasi oleh penulis, membangunnya.

    BalasHapus