Rabu, 19 Oktober 2016

Mangku Sakti ; Hidden Paradise Sembalun

Mangku Sakti, Sembalun, Air Terjun Lombok, Air Terjun Mangku Sakti

Lombok kaya dengan air terjun. Air terjun yang mulai naik daun dalam tiga terakhir adalah Mangku Sakti. Terletak di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Air terjun ini makin banyak dikunjungi setelah beberapa acara liburan dari televisi nasional menjadikan Mangku Sakti sebagai lokasi syuting.



*******

Beberapa diantara rombongan kami harus rela menahan penasaran semalaman. Rencana berkunjung ke Mangku Sakti harus ditahan keesokan harinya. Hari pertama kami tiba di Desa Sajang, Sembalun, kami menginap di villa salah seorang teman. Tapi kami tak menyesal menginap di villa yang saat kami berkunjung ke sana, rerumputan dan ilalang sedang hijau. Dengan view Gunung Rinjani, acara menginap itu mejadi pengalaman yang tak kalah seru.

Villa sederhana, yang sebagian dindingnya berupa kayu berdiri di tengah padang rumput dan ilalang. Listrik berasal dari generator. Jauh dari permukiman. Dan di belakang villa itu hamparan luas kebun apel dan leci. Di beberapa tempat, pemilik villa ( yang sebenarnya lebih tepat disebut gubuk) membangun kandang ternak. Jauh dari perkampungan.

Dan ini dia pemandangan yang membuat kami tak menyesal harus menghabiskan semalam di sana : ilalang yang sedang hijau, dengan bunga lembut. Sore, saat kabut mulai menutupi sebagian keangkuhan Rinjani, berada di tengah padang ilalang - yang menjadi bagian halaman villa - seperti berada di dimensi lain. Tak ada suara, hanya ada desiran angin halus yang menyapa dedaunan. Bebera teman perjalanan harus kami rayu agar beranjak dari tempat itu. Sebab masih ada keindahan lain yang harus kami nikmati sore itu, sebelum malam memeluk tubuh lelah kami setelah perjalanan jauh dari Mataram.

Di belakang rumah, hamparan kebun apel menjadi pemandangan lain. Ini godaan baru lagi. Air kabut yang sebelumnya menutupi kawasan itu masih menempel di kulit hijau apel. Sebagian apel lainnya sudah mulai memerah. Ibarat pipi yang baru saja dilapisi make-up tipis. Menggoda untuk dipegang, dan tentu saja untuk mencicipi. Tak terlalu manis, tapi sensasi manis dan asam pada buah segar itu memberikan kesegaran pada tubuh kami. Rasa asam seperti meletus di dalam mulut. Membuat kami harus menelan ludah.

Selesai mencumbui apel, kami disuguhkan lagi dengan buah leci. Langsung di pohonnya. Diantara kami ada yang baru kali pertama melihat buah putih itu. Ternyata kulitnya merah menyala. Pohonnya yang rindang menjadi penyejuk kawasan itu kala kemarau.


Mangku Sakti, Sembalun, Air Terjun Lombok, Air Terjun Mangku Sakti
Langit sudah malam. Sambil menikmati hidangan makan malam : ayam bakar dengan nasi masih panas, kami meraba-raba bagaimana perjalanan esok ke Mangku Sakti. Rasanya tidak sabaran untuk menuju ke air terjun itu. Beberapa foto yang beredar di media sosial benar-benar menjadi racun. Racun yang sudah masuk ke otak kami, dan penawarnya harus kami basahi tubuh di air terjun itu.

Tapi lagi-lagi, pagi itu, ketika bau kopi menyebar ke setiap sudut ruangan setelah diseduh, kami harus menunda barang sejenak perjalanan. Sarapan juga belum siap. Perjalanan ke Mangku Sakti akan cukup melelahkan dari tempat kami menginap. Memang hanya 3 km. Tapi perjalanan dengan medan cukup sulit, dan ditambah dengan jalan kaki akan menguras tenaga.

“ Ayok Kak Iti giliran dong,’’ kata Ifath kepada perempuan yang duduk di kursi kayu itu.

Pagi itu, perempuan berambut panjang, ikal, dan murah senyum itu, Fitri, tak bosan minta difoto. Duduk di kursi kayu dengan latar Gunung Rinjani membuatnya hampir lupa jika perjalanan ke Sembalun saat itu untuk ke Mangku Sakti.

Saat matahari pagi menyentuh pucuk ilalang yang masih basah oleh embun semalam adalah saat-saat romantis di tempat kami menginap itu. Udara masih segar. Rinjani benar-benar terlihat gagah. Jika sore sebelumnya sebagian tertutup kabut, pagi itu Rinjani terlihat sempurna. Dia seolah memanggil untuk kami taklukkan. Tapi perjalanan kali ini, kami cukup mencumbui airnya. Mangku Sakti adalah salah satu air terjun yang bersumber dari limpahan air Rinjani.


**********



Mobil bak terbuka yang sudah dimodifikasi itu meraung-raung saat menanjak di jalan yang licin. Tanjakan itu sebenarnya tak terlalu tinggi. Tapi lantaran basah, dan masih tanah, jalan menjadi licin. Sementara gigi-gigi roda kendaraan roda empat itu sudah mulai halus.

Perjalanan dari tempat kami menginap ke Mangku Sakti sekitar 30 menit. Ya kami memang naik mobil yang tangguh, sehingga bisa parkir di tempat parkir sepeda motor. Rombongan pelesiran lainnya yang menggunakan mobil biasa harus parkir jauh. Mobil mereka tidak kuat untuk menembus medan.

Jalan tanah yang luar biasa licinnya saat hujan, dan di beberapa titik berlumpur menjadi tantangan ke Mangku Sakti. Saat musim kemarau, tantangannya debu tebal. Tidak mudah untuk mencapai lokasi.

Kami sampai di shelter peristirahatan. Di tempat itu dibangun berugak (gazebo). Tempat itu halamannya cukup datar. Dijadikan tempat parkir. Sebab perjalanan berikutnya harus jalan kaki. Tidak bisa dilewati kendaraan.

Melewati kawasan hutan yang tak terlalu lebat, perjalanan dari tempat peristirahatan menuju air terjung ditempuh dalam waktu 30 menit. Kami menikmati setiap perjalanan. Walau rasa penasaran sejak sehari sebelumnya, tapi kami ingin perjalanan ini bukan sekadar melihat, foto-foto, lalu pulang. Hakikat perjalanan menjelajah alam adalah untuk menyerap energi. Mensyukuri karunia Tuhan atas keindahan yang diturunkan ke Lombok. Perjalanan ke Mangku Sakti adalah perjalanan mensyukuri sebagian nikmat Tuhan.

Suara air yang sayup-sayup kami dengar membuat gaduh rombongan. Air sudah dekat. Air sudah dekat. Hore sudah sampai. Kami, para lelaki dan perempuan dewasa, seperti kembali ke dunia anak-anak. Membincangkan air terjun yang sesaat lagi akan kami sentuh.


**********


Mangku Sakti, Sembalun, Air Terjun Lombok, Air Terjun Mangku Sakti
MANGKU SAKTI, air terjun itu kokoh di hadapan kami.  Airnya yang deras membentur batu dan kolam dibawahnya menghasilkan gelegar. Itulah suara yang kami dengar dari jarak cukup jauh.

Dengan ketinggian sekitar 20 meter, dengan lebar limpasan air sekitar 3 meter, air terjung Mangku Sakti termasuk air terjun besar. Beberapa air terjun di Lombok, airnya tidak sederas Mangku Sakti. Derasnya Mangku Sakti ini menjadi pertanda jika di bagian hulu alam masih terjaga. Hutan yang lebat lebih banyak menampung air. Air itulah yang kemudian dialirkan menjadi sungai dan di beberapa tempat menjadi air terjun.

Bebatuan yang berwarna krem dan air jernih menjadi perpaduan sempurna. Batu-batu yang berserakan, barangkali bekas letusan Gunung Samalas (nama lain Rinjani), tersebar di sepanjang sungai. Ketinggian air tidak sampai menutupi batu itu. Batu-batu yang berserakan itu jualah yang menambah daya pikat Mangku Sakti.

Ada juga bebatuan besar. Terbelah oleh air. Air jernih agak keputihan mengalir di sela-sela batu itu. Mereka meliuk mengikuti lekukan batu. Di beberapa titik menjadi sebuah air terjun mini. Sunyi. Hanya ada suara Mangku Sakti.


Mangku Sakti, Sembalun, Air Terjun Lombok, Air Terjun Mangku Sakti
Air sungai tidak terlalu deras. Aman untuk mandi. Bisa dengan mudah berpegangan di bebatuan yang berserakan. Begitu juga dengan kolam tempat Mangku Sakti menumpahkan energinya, tidak terlalu dalam. Pas untuk berendam. Tapi tentu saja tidak bisa terlalu lama. Air Mangku Sakti begitu dingin.

Perjalanan kami menggunakan mobil dan jalan kaki, dihitung perjalanan sehari sebelumnya dari Mataram terbayarkan dengan keindahan Mangku Sakti. Tidak mengecewakan. Apa yang ramai diperbincangkan di media sosial benar apa adanya. Apa yang digosipkan sebagai surga tersembunyi di Sembalun, boleh dibilang iya. Air terjun sebagai penguji adrenalin, memang tepat. Sebab perjalanan menuju lokasi adalah tantangan terbesar ke Mangku Sakti.

Mangku Sakti menyeruak diantara celah-celah dinding batu yang dipenuhi pepohonan hijau. Jika diamati dari jauh, sebuah pemandangan yang eksotis. Pepohonan hijau dengan batu berwarna krem. Lalu diantara celah-celah batu itu disemburkan air terjun Mangku Sakti. Itulah sebabnya banyak yang menuliskan kisah mereka ketika ke Mangku Sakti sebagai sebuah kunjungan keindahan di tempat tersembunyi. Tapi kini, Mangku Sakti tidak lagi bersembunyi.


Mangku Sakti, Sembalun, Air Terjun Lombok, Air Terjun Mangku Sakti
Mangku Sakti tidak sendiri. Dia memiliki “adik”. Warga setempat mengenalkannya sabagai Mangku Kodeq (kodeq = kecil). Air terjunnya tercipta dari aliran air yang membelah bebatuan. Di tempat lainnya ada juga air terjun Kuda Sembrani. “Adik” Mangku Sakti lainnya. Mengeksplore kawasan itu butuh seharian penuh agar bisa merasakan setiap sudut keindahannya.

Tapi tak butuh waktu lalu untuk merusak keindahan itu. Ketika baru memasuki sungai Mangku Sakti, mata saya langsung tertuju dengan tebing-tebing sekitar Mangku Sakti yang rimbun oleh pohon pisang. Pohon pisang yang berada di dalam kawasan hutan adalah bencana. Itu menjadi sinyal bahwa perambahan mulai dilakukan. Pohon ditebang, pisang ditanam. Salah satu anggota rombongan kami, Ifath, seorang forester, meyakinkan jika Mangku Sakti itu masuk dalam kawasan. Kawasan yang terlarang untuk tanaman pisang.

Begitu juga dengan sampah plastik. Tak semua pelancong benar-benar mencintai Mangku Sakti. Mereka datang membawa makanan. Pulang tampa membawa apa-apa. Bungkus makanan ditinggalkan begitu saja. Disembunyikan diantara sela batu. Dibuang begitu saja di perjalanan, atau bisa jadi dihanyutkan di aliran Mangku Sakti. Kadang di sini kami, para pecinta Mangku Sakti, menyesal mengabari ke publik keindahan Mangku Sakti.







0 komentar:

Posting Komentar