Sabtu, 15 Juli 2017

Ketimbang Momot, Ara’an Merariq




pernikahan dini, pernikahan anak, merariq,merarik, lombok
SN, remaja yang menikah di usia dini.

Belum sempat menyiapkan lebaran topat, Kepala Desa Sekotong Timur H Achmad sibuk mendamaikan warga yang berseteru. Pemicunya, ada warganya yang menikah. Pernikahan ini menjadi masalah lantaran mempelai perempuan belum sempat mendaftar di bangku sekolah menengah pertama (SMP) setelah menamatkan sekolah dasar (SD) tahun ini.


******

Calon mempelai perempuan itu baru berumur 13 tahun. Usai libur lebaran dia akan mendaftar di salah satu SMP. Pada libur panjang lebaran, saat malam takbiran dia berkenalan dengan seorang pria. Masih satu desa. Pria yang pernah menikah dua kali itu baru saja pulang dari Malaysia. Pertemuan malam itu dilanjutkan lewat komunikasi handphone.

Belum seminggu Idul Fitri, tiba-tiba lelaki itu mengajak gadis 13 tahun itu merariq. Si gadis setuju. Tanpa pertimbangan matang, remaja itu mau dibawa merariq oleh si lelaki. Merariq adalah “kawin lari” dalam tradisi masyarakat Lombok.

Keluarga perempuan keberatan. Mereka tidak ingin putri mereka yang akan mendaftar SMP dibawa merariq. Memanggil pulang putri mereka bukan perkara mudah. Tradisi di Lombok, jika seorang perempuan sudah dibawa merariq, pantang dibatalkan. Akhirnya keluarga perempuan melapor ke staf desa, termasuk ke kepala desa. Pihak keluarga berharap desa bisa membantu menyelesaikan peliknya persoalan itu. Keluarga remaja itu ingin “blas”. Blas diartikan sebagai upaya membatalkan perkawinan. Dulu, di masyarakat Lombok sangat tabu pernikahan beda kasta. Perempuan dari golongan bangsawan harus menikah dengan lelaki bangsawan. Jika perempuan bangsawan itu menikah dengan lelaki biasa (jajarkarang), keluarganya bisa saja mengusir, tidak mengakui lagi sebagai bagian keluarga. Nah, untuk membatalkan pernikahan beda kasta itulah dilakukan “blas”. Kini blas dilakukan untuk membatalkan pernikahah dibawah umur.


pernikahan dini, pernikahan anak, merariq,merarik, lombok
Jalan menuju empat dusun di Desa Sekotong Timur
H Achmad tahu jika membatalkan sebuah pernikahan itu sangat berat. Bisa-bisa terjadi ketersinggungan keluarga mempelai. Tapi dalam kasus di desanya, keluarga perempuan keberatan. Selain itu  H Achmad juga tahu jika remaja putri itu masih terlalu belia. Secara hukum, pernikahan itu melanggar undang-undang. Si lelaki bisa dipidana. Tapi H Achmad ingin menyelesaikan dengan cara kekeluargaan. Dia tidak ingin menambah runyam masalah itu. Baru menjabat lima bulan sudah disibukkan dengan keributan. Di beberapa desa di Lombok, kerap terjadi keributan bahkan perang antarkampung gara-gara sebuah pernikahan. Tidak sedikit jatuh korban jiwa.

Pada hari itu, keluarga perempuan didampingi staf desa dan para aktivis yang berjuang untuk mencegah pernikahan anak menemui keluarga mempelai laki-laki. Jawaban yang didapatkan sudah diperkirakan. Selain itu, remaja perempuan itu juga tidak ingin membatalkan pernikahan. Menangis hingga pingsan. Tim ini menduga jika remaja putri ini kena pelet (guna-guna). Lewat negosiasi yang alot, akhirnya remaja putri itu berhasil diselamatkan. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, remaja putri itu diinapkan di rumah H Achmad.

“Kami berjaga dengan para pemuda untuk mecegah hal-hal yang tidak diinginkan,’’ kata Ahmad mengenang peristiwa sebelum lebaran topat itu. Belasan pemuda yang siaga dengan senjata selalu berjaga-jaga di sekitar rumah H Achmad. Menjaga perempuan yang “diblas” sama seperti menjaga emas berkarung-karung.

Kini remaja putri itu sudah siap masuk sekolah. Dia mau melanjutkan ke salah satu pondok pesantren (Ponpes). H Achmad berharap, kasus itu adalah kasus terakhir di desanya.

****

pernikahan dini, pernikahan anak, merariq,merarik, lombok
tim advokasi menelusuri kampung kantong pernikahan dini

Desa Sekotong Timur adalah salah satu kantong pernikahan dini atau pernikahan anak. Tidak ada angka pasti karena pernikahan dini tidak pernah tercatat. Mereka dinikahkan “dibawah tangan”. Menikah dini, jika mengacu pada UU Perkawinan, berusia 16 tahun kebawah. Sementara di UU Perlindungan Anak, usia 18 tahun ke bawah masih tergolong anak-anak. Atau bisa dikatakan, usia mereka masih bersekolah.

Saya berkenalan dengan remaja itu saat menemani sahabat dari aktivis perempuan yang mendampingi program pendewasaan usia perkawinan. Namanya SN. SN masih tergolonga anak-anak ketika menikah setahun silam. Dia mengaku usianya 16 tahun ketika menikah. Jika dihitung antara jarak dia menikah dengan tamat SD, SN, ketika menikah duduk di bangku kelas 3 SMP. Dia tidak melanjutkan sekolah. Tamat SD, dia dilarang melanjutkan sekolah oleh orang tuanya. Tidak ada yang membantu di ladang dan tidak ada yang menjaga adik bungsunya. Ketika orang tuanya ke ladang, dia bertugas mengasuh adiknya. Dia juga ikut membantu ke ladang ketika panen.

Dari raut wajah dan tingkahnya, SN memang seperti kebanyakan remaja lainnya. Masih senang bermain, dan senang mengutak-atik handphone. Gaya bicaranya juga seperti remaja lainnya yang belum berumah tangga. Dia begitu akrab dengan iparnya yang masih sebaya dirinya.

Nasi sudah menjadi bubur. Di usianya yang masih remaja, SN menjalankan bahtera rumah tangga sebagai seorang istri.  Ada keinginannya untuk melanjutkan sekolah. Tapi SN tidak tahu, apakah remaja yang sudah menikah bisa melanjutkan pendidikan. Ketika saya menginformasikan bahwa ada program Paket B, dan bisa lanjut ke program Paket C, mata SN berbinar. Dia tersenyum dan menanyakan bagaimana caranya mendaftar.

“Sebenarnya ada teman saya yang lain yang ingin juga sekolah,’’ kata SN. Setelah mendapat kabar baik bahwa dia masih bisa melanjutkan sekolah, SN pun makin terbuka dan menceritakan banyak kasus serupa di desanya.

Dari penuturan SN terungkap jika dia bukan satu-satunya remaja yang menikah muda. Dari seluruh teman SD nya, SN menyebutkan tiga orang sudah menikah. Dirinya, FH dan RA. SN mengaku lebih beruntung jika dibandingka dua rekannya itu.

“ Mereka sudah janda,’’ kata SN.

SN  menuturkan proses pernikahan sahabatnya itu. Mereka merariq  di usia 15 atau 16 tahun, dan tidak ada pilihan selain harus dinikahkan.  SN pernah bertemu mereka. Sambil curhat, terlontarlah keinginan mereka untuk melanjutkan sekolah.

“FH malahan lagi sekolah dibawa merarik,’’ kata SN.

Bersama aktivis perempuan Baiq Zulhiatina kami menggelar diskusi dengan para remaja dan tokoh masyarakat di empat dusun terpencil di Sekotong Timur mengatakan. Kasus pernikahan dini di Sekotong Timur memang mengkhawatirkan. Kasus yang ditemukan timnya hanya sebagian kecil. Ketika proses menelusuri kasus pernikahan dini, banyak yang mengaku usianya mereka sudah dewasa. Tapi ketika ditelusuri lebih dalam, mereka sebenarnya masih berusia anak-anak. Mereka tidak melanjutkan SMP, atau mereka sedang sekolah di SMP, diajak merariq, mereka mengiyakan. Sayangnya orang tua juga menyetujui.

pernikahan dini, pernikahan anak, merariq,merarik, lombok
diskusi bersama para tokoh masyarakat tentang pernikahan dini

“Kami bertemu dengan salah seorang orang tua yang anaknya menikah muda. Hanya tiga bulan merariq lalu diceraikan. Orang tua itu bilang, lelaki itu hanya mencicipi putri mereka,’’ kata Zulhiatina menyebutkan kampung tempat perempuan yang menjadi korban merariq itu.

Aktivis perempuan ini menyebut mereka sebagai korban lantaran sering kali para perempuan tidak memiliki pilihan. Budaya merariq, ketika seorang perempuan dibawa ke rumah keluarga laki-laki, maka harus dinikahkan. Tidak peduli berapa usia perempuan itu. Sering kali perempuan yang dibawa merariq dibawah tekanan.

Faktor kemiskinan juga menjadi salah satu faktor pemicu pernikahan dini. Zulhiatina menyebutkan salah satu korban. Gadis itu masih berusia 14 tahun. Masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Dia diajak merariq oleh pemuda yang usianya terpaut jauh. Pemuda itu pengangguran. Zulhiatina sempat mendampingi dan bisa mencegah remaja itu merariq. Tapi belakangan dia mendengar kabar, remaja itu sudah merariq kembali.

“Orang tua miskin , tidak punya pilihan dan menganggap dengan putri mereka menikah maka beban ekonomi berkurang,’’ katanya.

Pada pertemuan dengan para tokoh masyarakat Sabtu malam (8/7) dan Minggu pagi (9/7), para orang tua dalam diskusi itu mengatakan jika para perempuan sudah wajar menikah muda. Mereka tidak ada kegiatan di rumah.Apalagi yang tidak bersekolah, dan belum tentu bisa membantu orang tua di ladang. Akhirnya menikah menjadi pilihan. Menurut salah satu tokoh masyarakat, usia 15 tahun sudah termasuk dewasa. Apalagi jika melihat SN yang sudah bongsor. Kerap kali, layak tidak layaknya perempuan dinikahkan dilihat dari ukuran fisik. Bukan melihat usia, apalagi kesiapan psikis mereka.

“Ketimbang momot, ara’an merariq (ketimbang menganggur, lebih baik menikah),’’ kata salah seorang tokoh masyarakat.

Budaya merariq yang masih bertahan, keluarga miskin, dan pandangan yang keliru tentang pernikahan memicu angka pernikahan dini. Selain harus mengintervensi para remaja, para tokoh masyarakat dan orang tua perlu diberikan pemamahan tentang pernikahan itu. Kini Zulhiatina dengan beberapa remaja perempuan, sebagian mahasiswi, lewat program Yes I Do, mendorong untuk pencegahan pernikahan dini. Dia sadar proses ini tidak mudah membalik telapak tangan.

“Sebagai perempuan sakit hati mendengar seorang remaja hanya dicicipi beberapa bulan lalu ditinggalkan begitu saja,’’ katanya. (*)


pernikahan dini, pernikahan anak, merariq,merarik, lombok
SN mengenang masa SD nya. Jika sekolah saat ini dia akan naik kelas 2 SMA


Jumat, 07 Juli 2017

Berangkat Tanpa Paspor, Pulang Tanpa Kaki



buruh migran, cacat,tki,tenaga kerja indonesia

Jon Mariyono harus menerima kenyataan pahit. Kaki kanannya diamputasi hingga paha. Kecelakaan kerja di Malaysia tahun 2000 silam mengubah jalan hidupnya. Dia berharap kaki palsu.Dia yakin jika memakai kaki palsu, bisa mengubah kondisi ekonomi keluarganya.


Potongan rambut model terbaru, yang diwarnai coklat disisir rapi. Kaos obolong yang sudah berlubang di bagian leher, berpadu dengan sarung ungu tua motif bunga. Tak lupa kalung rantai perak yang warnanya pudar, seperti warna kaos putih yang tak lagi putih. Senin pagi (1/5), Jon Mariyono siap berangkat kerja.

Tidak ada hari libur bagi pria 35 tahun tersebut. Walaupun 1 Mei diperingati sebagai hari buruh, libur nasional, Jon tetap bekerja. Justru saat hari libur dia sering mendapat rezeki lebih.

Bunyi meteran listrik tit..tit..tit..tit nyaring terdengar hingga halaman rumah.  Jon memeriksa angka di meteran listrik itu. Lampu yang terpasang sehemat mungkin sepertinya bukan penyelamat bunyi meteran listrik itu. TV tua, satu-satunya benda berharga di dalam rumah itu, sangat jarang dinyalakan. Bunyi meteran listrik itu meminta diisi.

“Nanti saya isikan, mudahan hari ini ada rezeki lebih,’’kata Jon pada perempuan tua yang duduk di halaman rumah. Perempuan itu, Sonah, adalah ibu Jon. Perempuan yang tidak tahu usianya itu hanya berharap Jon pulang membawa angka-angka token listrik. Dia tidak ingin malam-malam selanjutnya tidur dalam gelap.

“Saya juga sudah tidak jelas melihat,’’ kata perempuan itu menunjukkan mata kirinya. Sementara mata kanannya buta. Karena usia tua dan tidak jelas melihat itulah yang membuat Sonah tidak bisa jauh kemana-mana.Apalagi mencari kerja.

Jon adalah  tulang punggung keluarga sehari-hari. Sekali dua bulan, atau kadang sekali tiga bulan, kakaknya mengirim uang dari Malaysia.  Di rumah berukuran 4,5 meter X 7 meter itu, Jon tinggal bersama ibunya dan keponakannya Marsya, yang kini duduk ke bangku kelas IV SD. Marsya adalah putri kakak Jon yang kini bekerja di Malaysia. Orang tua Marsya bercerai, dan kini tinggal bersama Jon.

Di rumah batako yang belum diplester itu, belasan tahun Jon menjalani hidup dalam penantian panjang. Sejak tahun 2000, Jon berharap memiliki kaki palsu. Kaki kanannya putus saat bekerja di Malaysia. Sejak tahun 2000 itulah hidup Jon berubah.  Jon hanya bisa menjadi tukang cukur, bekerja untuk orang lain, dan penghasilannya dibagi dua. Membuka usaha cukur di kampung, Desa Bungtiang, Kecamatan Sakra Barat, Kabupaten Lombok Timur, penghasilannya tidak menentu. Kadang sehari hanya membawa pulang uang Rp 10.000.  Angka Rp 25.000 adalah jumlah yang besar.

“Kalau sehari dapat satu orang cukur, hasilnya dibagi dua sama pemilik tempat. Sama-sama Rp 5.000,’’ kata Jon.

buruh migran, cacat,tki,tenaga kerja indonesia

Mencukur adalah salah satu keahlian Jon. Keahlian yang dia pelajari secara otodidak setelah kehilangan kaki kanan. Sebelum itu, Jon adalah pemuda kekar. Buruh pekerja keras. Sisa-sisa kerja kerasnya bisa dilihat dari ototnya. Empat kali dia masuk Malaysia, empat kali dipulangkan paksa. Pulang yang keempat mengubah 180 derajat hidupnya.

Jon adalah saksi hidup carut marutnya buruh migran di Lombok, dan di seluruh Indonesia. Empat kali menjadi buruh migran, empat kali itu juga Jon berangkat secara ilegal. Tak main-main, dia berangkat ke Malaysia tanpa paspor. Masuk melalui jalur tikus, menjadi korban perdagangan orang. Jon tidak menyadari dia dijual sejak usia belia.

Jon hanya tamat Sekolah Dasar (SD). Karena kemiskinan dan tidak ada pilihan pekerjaan, Jon berangkat ke Malaysia. Saat temannya mendaftar masuk SMP, Jon berangkat ke Malaysia. Sesampai di Malaysia, entah karena kasihan terlalu kecil atau mandor takut ditangkap karena mempekerjakan anak kecil, Jon sementara waktu hanya mengamati orang-orang bekerja. Diberangkatkan oleh tekong, Jon “dijual” ke proyek bangunan. Hingga suatau hari, sang mandor merasa Jon sudah siap bekerja.
Tangan mungil Jon mengaduk semen, mengangkut besi, mengangkat bata. Apapun yang disuruh oleh mandor dan pekerja dewasa lainnya, Jon selalu ikuti. Bagi Jon dia harus bekerja keras dan pulang membawa uang. Uang yang diharapkan bisa membantu ekonomi keluarganya.

Hingga suatu hari, Polisi Diraja Malaysia merazia tempat-tempat kerja. Jon ditangkap. Mungkin karena wajahnya yang masih polos dan ditahu usianya masih belia, dia tidak disiksa seperti buruh migran lainnya. Sudah banyak kasus para buruh migran dewasa yang ditangkap karena ilegal, lalu dijebloskan ke penjara. Disiksa, pulang penuh luka, sebagian pulang dengan depresi. Gila.

Pulang ke rumah, Jon menjadi pengangguran. Tak tahan menganggur Jon kembali ke Malaysia. Sama seperti pemberangkatan pertama, tanpa paspor. Seluruh biaya ditanggung tekong, yang sebenarnya biaya tanggungan tekong itu “uang muka” atas praktek human trafficking . Jon hanya tahu dia diberangkatkan gratis dan bekerja di kelapa sawit.

Sehari-hari Jon bergaul dengan para pekerja kelapa sawit. Masa remaja di tengah hutan kepala sawit, jauh dari kota. Di dalam pergaulan itulah Jon mulai ingin menunjukkan eksistensi remajanya. Ketika Slank menjadi idola para remaja, Jon rela leher kirinya dicap logo band yang digandrungi anak muda itu. Logo Slank itu tidak sempurna, kurang huruf N, tapi Jon remaja tetap bangga dengan tato itu. Dia juga membubuhkan tato di lengan kiri, dada, dan lengan kanan. Yang unik di lengan kanannya, Jon membubuhkan tato tulisan Allahu Akbar.

“Sudah saya hilangkan sebagian,’’ kata Jon menunjukkan lengan kiri. Kulit yang terbakar, bekas tato yang disetrika. Belakangan Jon sadar tato itu tidak baik. Dia berjanji pada dirinya akan menghilangkan tato itu satu demi satu.

Polisi Diraja Malaysia kembali melancarkan razia. Masuk ke perkebunan sawit. Jon terjaring operasi. Setelah diinterogasi, petugas tahu usia Jon masih remaja. Dia dipulangkan.

Dua kali ditangkap tidak membuat Jon kapok. Dia kembali berangkat ke Malaysia. Ototnya semakin kuat. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya yang masih remaja. Pada berangkat yang ketiga itu Jon kembali masuk Negeri Jiran itu melalui jalur tikus. Lagi-lagi tanpa paspor. Pengalaman dua kali masuk tanpa selembar dokumen sudah pernah dilakoninya. Jon tidak khawatir berangkat tanpa dokumen. Tapi Jon tidak sadar, jika jaringan yang memberangkatkannya ke Malaysia itu adalah sindikat perdagangan orang. Memberangkatkan buruh migran secara ilegal, dan tidak sedikit yang diberangkatkan masih berusia belia.

Masuk ketiga di Malaysia Jon kembali bekerja sebagai buruh sawit. Dia sudah hafal cara-cara kerja di kebun kelapa sawit. Dia juga hafal jika sewaktu-waktu ada operasi pekerja ilegal dari Polisi Diraja Malaysia. Tapi, tak selamanya Jon bisa bersembunyi. Dia kembali ditangkap. Dipulangkan paksa ke Indonesia.

Kapok ?

Tidak. Jon kembali dia ingin mengadu nasib ke Malaysia. Sudah ada tekong yang siap memberangkatkan. Tanpa selembar dokumen. Jon berangkat ke Malaysia dan akan bekerja di sebuah perusahaan pengolahan sampah. Jon tidak tahu apakah tempatnya bekerja itu perusahaan swasta atau milik pemerintah, seperti Dinas Kebersihan. Jon hanya tahu setiap hari dia mengangkut sampah dari tempat penampungan sementara (TPS) untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Suatu hari bersama para buruh lainnya Jon menjalani rutinitas. Menaikkan sampah di atas truk yang sudah terpasang mesin untuk memadatkan, seperti mesin untuk memadatkan tembakau. Tapi mesin yang terpasang di truk itu bekerja semi otomatis. Begitu sampah dinaikkan ke atas truk, selanjutnya di dalam bak itu ada kotak baja yang akan memadatkan sampah. Nantinya sampah itu sudah dalam bentuk kotak.

Saat proses itulah Jon kecelakaan. Dia terjatuh di dalam bak pemadatan sampah itu. Naas, kaki kananya terperosok. Hanya dalam hitungan detik, kaki kanannya itu hancur, menggumpal bersama tumpukan sampah.

buruh migran, cacat,tki,tenaga kerja indonesia



****************

Ketika siuman Jon sudah berada di rumah sakit. Sendiri. Hanya perawat yang mengganti infus, memberikan obat, dan mengantarkan makanan yang pernah masuk ke ruangan itu. Tak ada sesama pekerja yang datang menjenguk, tak ada bos tempat bekerja yang melihat kondisinya. Mungkin mereka sadar, Jon masuk ke Malaysia tanpa selembar dokumen. Takut jika berurusan dengan polisi.
Jon tidak merasakan kaki kanannya. Tapi dia melihat hanya tinggal tulang, dagingnya hancur. Setiap hari kondisi kaki itu semakin buruk, hingga akhirnya pada suatu malam dokter di rumah sakit memintanya untuk menandantangani berkas : persetujuan amputasi.

“Jam dua malam saya tanda tangan, saya pasrah saat itu,’’ kenang Jon. Ketika siuman dan sadar dari bius operasi, Jon pasrah dengan kaki satu.

Pemulangan Jon ke Indonesia tidak segampang ketika dipulangkan paksa saat ditangkap Polisi Diraja Malaysia. Seorang pemuda dengan kaki buntung dan belum sembuh tentu saja menyulitkan pemulangan.  Jon dibuatkan paspor untuk kepulangan. Itu kali pertama Jon memegang paspor.
Isak tangis pecah ketika Jon sampai di rumahnya. Sonah tak henti-hentinya menangisi kondisi putranya itu. Dia tidak menyangka, putranya itu pulang dalam kondisi kaki teramputasi. Setiap kali dia melihat perban di kaki kanan yang terpotong itu, Sonah tak bisa menahan perasaan sedihnya. Berminggu-minggu, berbulan-bulan. Hingga akhirnya dia sudah terbiasa dengan kondisi putranya itu. Selama masa penyembuhan Jon hanya dirawat di rumah sederhananya. Tidak ada biaya membawa ke rumah sakit.

“Dulu dikasi Rp 3 juta saat dibawa pulang ke rumah,’’ kata Sonah menyebutkan satu-satunya bantuan yang pernah diterima Jon.

Jon tidak mau larut dalam kesedihan. Tuntutan ekonomi keluarga memaksaknya harus bekerja. Dengan kaki buntung, Jon merantau ke Batam. Di Batam dia menjadi tukang cukur. Dia sempat menikah, hingga kemudian cerai. Jon kembali ke kampung halamannya menjadi tukang cukur.
Jon pernah dibawa ke Selong, ibukota Kabupaten Lombok Timur. Jon tidak ingat dia masuk ke kantor apa. Dia hanya ingat saat itu dia didata untuk diberikan bantuan. Bantuan yang tidak kunjung tiba.

“Tongkat ini saja pemberian dari Malaysia, sudah beberapa kali saya ganti alasnya. Sudah rusak,’’ kata Jon menunjukkan tongkat penyangga tubuhnya.

Jon tidak tahu harus kemana meminta bantuan. Dia tidak minta uang. Jon hanya ingin meminta bantuan kaki palsu. Dengan kaki palsu setidaknya Jon bisa melakukan pekerjaan yang lain. Dia ingin merantau ke Batam. Ingin bekerja di restoran, sekadar menjadi tukang cuci piring. Setidaknya dengan kaki palsu, dia bisa lebih gesit berjalan,walaupun akan tetap memakai tongkat penyangga.
“Saya tidak tahu kemana harus minta bantuan, tapi Kadus dan Kades tahu kalau kaki saya buntung. Setiap hari mereka melihat saya jalan,’’ kata Jon.

Dengan kaki buntung, Jon berangkat menyusuri lorong rumah tetangganya. Jalan di jalur utama desa menuju tempatnya bekerja. Hari itu dia berharap ada warga yang memotong rambutnya. Jon ingin pulang membawa 20 angka, kombinasi pulsa listrik. Dia tidak ingin tidur dengan suara tit..tit...tit...titttttttttttt. (*)

x