Selasa, 17 Juli 2018

Menggadai Sawah Memburu Ringgit : Sejarah Migrasi Orang Lombok



buruh migran, sejarah migrasi, TKI, TKW


Mimpi mendapatkan uang besar di negeri rantau, sejumlah pria rela menggadai satu-satunya sumber nafkah mereka. Menjual tanah, menggadai sawah, menjual sapi, tak malu memimjam kas masjid, dan tak sedikit terjerat rentenir. Inilah kisah orang-orang yang membuka jalur migrasi ke Malaysia.



******

Sihun masih ingat, kali pertama berangkat ke Malaysia berharap bisa mengubah kehidupannya. Tinggal di kampung dengan lapangan pekerjaan terbatas, menjadi buruh migran adalah pilihannya. Ditambah dengan urusan asmara yang tak kunjung didapatkan, Sihun mantap berangkat ke Malaysia.  Ongko ke Malaysia saat itu Rp. 100.000. Dia menjual satu ekor induk sapi seharga Rp 150.000.

Dia lupa tahun berapa kali pertama ke Malaysia. Dia mereka-reka sekitar tahun 1980. Dia berangkat bersama dua orang temanya, Mahsun dan Mahnan dari  Dasan Baru, Desa Lendang Nangka. Tanpa mengenyam bangku pendidikan, Sihun menjadi buruh kasar di Negeri Jiran. Selama di Malaysia, Sihun sangat jarang menghubungi keluarga. Saat itu belum ada teknologi HP seperti saaat ini. Sihun hanya ingat, dia kali pertama pulang ke Lombok setelah 12 kali puasa di Malaysia. Artinya dia merantau selama 12 tahun. Waktu yang tidak sedikit. Waktu yang terbuang percuma. Pasalnya, 12 kali puasa merantau ke Malaysia, Sihun tak membawa hasil.

Dua bulan tinggal di rumah, Sihun kembali ke Malaysia. Kali ini dia tidak lama berangkat. Kembali ke Lombok, pulang dengan modal seadanya. Habis untuk dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Hasil Malaysia tak kunjung dapat ditabung. Penghasilan di Malaysia, habis juga untuk kebutuhan selama di Malaysia.

Sihun merasa kecanduan ke Malaysia. Hingga tahun 2000, Sihun mengingat dia sudah tujuh kali ke Malaysia. Pada keberangkatan ketujuh ini Sihun mampu membangun rumah. Rumah sederhana, tanpa perabot mewah.

Karena tak ada tabungan,dan  bingung hendak mengerjakan apa di kampung, dia kembali lagi ke Malaysia. Sihun terakhir  kali pulang tahun 2010, dan saat itu dia menghitung sudah 11 kali ke Malaysia. Dia masih ada keinginan untuk mengadu nasib ke Malaysia, tapi tenaga sudah tidak sekuat dulu lagi. Kini, di usia 66 tahun, Sihun yang hidup sendiri, tak berumah tangga tinggal di Dusun Benteng Selatan, Desa Lendang Nangka Utara. Dia bersyukur di usia senja ada rumah tempat berlindung dari panas dan hujan.

Di Desa Perian, desa nan subur dengan air berlimpah, Mahsun hidup sederhana. Dia menggarap tanah warisan orang tua.Sawah yang terjamin air dan tanah yang subur menjamin para petani di Desa Perian bisa menanam padi sepanjang tahun. Hasil padi memang tak membuat petani kaya, tapi bisa mencukupi kehidupan sehari-hari. Kebutuhan lauk pauk tak perlu dibeli. Mereka menanam aneka sayuran di pematang sawah. Di selokan mereka bisa menangkan ikan dengan mudah.

Hasil sawah itu sebenarnya cukup bagi Mahsun. Tapi Mahsun ingin memiliki rumah yang lebih bagus. Beberapa tetangga yang ekonominya lebih baik mampu membangun rumah batu. Mahsun iri. Tapi dengan hasil sawah, dia tak yakin akan mampu memperbaiki rumah. Hingga suatu hari Mahsun mendapat informasi jika dia bisa mencari penghidupan lebih baik ke Malaysia. Dia mendapat kabar ada seorang tekong (calo) yang mampu memberangkatkan ke Malaysia.

Mahsun tak memiliki uang tabungan. Biaya yang harus disetor ke tekong saat itu Rp 60.000. Karena mimpi mendapatkan ringgit di Malaysia, Mahsun berani melepas satu-satunya harta : sawah. Dia menggadai sawah warisan itu dengan harga Rp 100.000. Saat itu sekitar tahun 1983, uang Rp 100.000 masih sangat berharga.

Karena berangkat tanpa dokumen resmi, proses keberangkatan Mahsun tidak mudah. Rute keberangkatan Mahsun dimulai dari rumah menuju Surabaya. Dari Surabaya Mahsun diberangkatkan ke Bengkalis dengan jarak tempuh kurang lebih tujuh hari delapan malam. Di perbatasan ini, Mahsun ditampung selama hampir 20 hari sebelum diselundupkan ke Malaysia menggunakanperahu pompong atau tongkang menuju Malaysia Barat. 

Di Malaysia,Mahsun bekerja di perkebunan kelapa sawit. Selama di perkebunan, Mahsun tak pernah melihat kota di Malaysia. Selama kurang lebih dua tahun bekerja di Malaysia. Mahsun tidak lupa mengirimkan gaji yang diperolehnya ke keluarganya di Perian untuk membayar utang membayar gadai tanah. Termasuk juga membiayai hidup keluarganya.

Pada tahun 1986, Mahsun kembali ke Indonesia.Selama di kampung halaman, Mahsun hanya menghabiskan uang untuk keperluan hidup sehari-hari.

Hasil sawah yang diharapkan sebagai pemenuhan kebutuhan hidup terasa tidak cukup.Tidak jarang Mahsun meminjam tetangga sebagai biaya penggarapan sawah. Sementara hasil sawah hanya cukup buat makan sehari-hari saja. Setelah 8 bulan sejak kepulangannya,Mahsun kembali masuk Malaysia dengan satu keinginan : memiliki rumah yang lebih layak dan perekonomian yang lebih baik.

Pada tahun 1987, Mahsun kembali mengadu peruntungan ke Malaysia. Dia bekerja di perkebunan kelapa sawit. Keberangkatan kedua ini,  Mahsun belajar dari kegagalan yang pertama. Dia rajin bekerja dan berhemat untuk bisa segera mengumpulkan uang yang banyak. Dia ingin memayar utang dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya. Termasuk cita-cita terbesarnya memangun rumah.

Setelah kurang lebih dua tahun di Malaysia, Mahsun pulang tahun 1989. Kali ini dia punya sedikit tabungan untuk memperbaiki rumah. Namun seperti kepulangan pertamanya, selama di kampung halamannya hanya makan minum dan sesekali keluar-masuk ke ladangnya untuk bercocok tanam.Dengan pendapatan yang tidak jelas, Mahsun tidak betah dan kembali memutuskan untuk kembali ke Malaysia. Begitulah siklus yang dilakoni Mahsun terus menerus sampai akhirnya Mahsun memutuskan pensiun setelah berumur 45 tahun.Tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk mengangkat beratnya buah kelapa sawit. Kini di usia 65 tahun, Mahsun menghabiskan sisa usianya dengan bertani dengan ditemani dua istrinya dan sembari berharap bantuan dari kiriman anak-anaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya selain dari hasil bertani.


buruh migran, sejarah migrasi, TKI, TKW



Desa Pesanggrahan sebelum dimekarkan masih bergabung dengan Desa Montong Betok. Desa ini dikenal karena Otok Kokok Joben, pemandian alami dari kaki Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Desa ini berlimpah air, dan daerah yang subur. Air tak pernah kering sepanjang tahun. Pertanian sambil memelihara ternak adalah pekerjaan utama warga. Seperti Sihun dan Sahnun, Ashabul Husna, salah seorang petani di Desa Pesanggarahan juga ingin memperbaiki perekonomian keluarganya. Dia memutuskan berangkat ke Malaysia. Dari beberapa cerita yang dia dengar, Malaysia menjanjikan ringgit yang berlimpah.Cukup bekerja setahun sudah mampu membangun rumah. Ashabul Husna pun tergoda. Karena tidak punya modal, dia menjual sapi peliharaannya. Hasil penjualan sapi dan pinjaman di kerabat dipakai untuk membiayai keberangkatan dengan biaya Rp 250.000. Di Malaysia dia bekerja di perkebunan kelapa sawit. Karena dia meninggalkan keluarga di rumah, dia mengirim uang hasil bekerja di Malaysia. Bukan melalui bank, tapi dititip di teman atau tekong yang akan pulang kampung.

Sejarah migrasi di desa Jenggik Utara berawal pada tahun 1983. Muhammad Zaenudin dari Embung Jago saat itu baru beranjak 16 tahun, tepatnya setelah tamat madrasyah tsanawiyah. Didorong cita-cita ingin melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, Zaenudin mengutarakan niat. Dia tidak ingin sekolahnya membebani keluarga. Dia ingin mandiri. Karena itu dia ingin membantu ibu dengan berangkat ke Malaysia. Dengan ongkos dari hasil menjual padi yang siap panen di sawah seharga 125.000 berangkatlah Zaenudin bersama seorang teman dari desa tetangga. Melalui perjalanan darat naik bus menuju Surabaya.Dari Surabaya berangkat menuju Bawean. 

Di Bawean mereka sempat ditampung selama 17 hari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Tanjung Pinang. Di Tanjung Pinang mereka ditampung selama kurang lebih 1 bulan. Dari Tanjung Pinang ini kemudian mereka di berangkatkan menuju Malaysia Barat, tepatnya di Johor Baru. Mereka ke Johor Baru memakai perahu kecil yang lazim di sebut pompong atau tongkang. Perjalanan yang panjang dan melelahkan untuk buruh migran tanpa dokumen.

Di Malaysia Zaenudin  bekerja di perkebunan kelapa sawit. Setelah cukup lama di rantuan, kurang lebih 17 tahun, tahun 2010 Zaenudin memutuskan pulang kampung. Dari uang hasil bekerja selama 17 tahun tersebut Zaenudin mampu membeli sebidang tanah dan mampu membangun rumah. 4 bulan di rumah, Zaenudin kembali masuk ke Malaysia dengan niat ingin mencari modal usaha dan tentu untuk membiayai kebutuhan keluarga. Kali ini zaenudin memilih kerja di sektor konstruksi. Setelah merasa cukup tabungan, Zaenudin pulang pada tahun 2013. 

Tapi, setelah sampai di rumah, Zaenudin malah bingung mau membuka usaha apa. Selama dalam proses menunggu,mengamati jenis usaha apa yang akan di geluti, Zaenudin justru banyak menghabiskan uang simpanan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Setelah modal yang mau di pakai usaha  itu sudah habis, bahkan Zaenudin sudah kembali berutang,maka setelah satu tahun di rumah, Zaenudin pun memutuskan kembali masuk pada tahun 2014.Dia pulang pada tahun 2016 setelah berhasil membayar utang dan mampu membeli sepeda motor. Zaenuddin berangkat ke Malaysia menjual hasil panen dan berutang, kembali ke rumah berutang, ke Malaysia untuk melunasi utang. Zaenuddin gali utang tutup utang. Siklus yang juga dilakoni banyak buruh migran lainnya.

Suaidi (39) dari Embung Jago Desa Peria berangkat ke Malaysia tahun 1996.Waktu itu baru berusia 19 tahun. Dia menyelesaikan sekolah menengah atas, bahkan sempat duduk di bangku kuliah selama 1 tahun. Memilih menjadi buruh migran karena terdorong oleh cerita teman dan terdorong keberhasilan teman yang mantan buruh migran membuat Suadi memutuskan berhenti kuliah. Dia ingin memiliki sepeda motor dan ingin membangun rumah sendiri.

Suaidi meberanikan diri berutang seekor sapi ke tetangga sebagai ongkos. Sapi itu dijual dengan harga Rp. 650.000 ribu. Suaidi meyerahkan ongkos sebesar Rp 350.000 ribu, sisanya diberikan ke keluarga yang di tinggalkan.Suaidi berangkat dari rumah menuju Surabaya. Di Surabaya ditampung selama 7 hari, kemudian dari Surabaya diberangkatkan menuju Pekan Baru. Di Pekan Baru ditampung lagi selama kurang lebih 7 hari, baru diberangkatkan lagi menuju Bengkalis. Di Bengkalis, Suaidi ditampung selama 15 hari. Dari Bengkalis dia diberangkatkan menuju Malaysia menuju wilayah Muar (Johor Bahru) memakai tongkang/pompong.

Sesampai di Malaysia Suaidi bekerja di ladang pertanian (kebun sayur).Selama satu tahun itu, Suaidi rajin bekerja dan sangat hidup ekonomis. Dia berhasil membayar utang, dapat beli motor, dapat membiayai diri menikah.

Setelah 2 tahun di rumah, tepatnya tahun 2000, Suaidi kembali  masuk dengan cita-cita mencari modal usaha dan untuk keperluan hidup. Setelah berhasil membangun tempat usaha,Suaidi pulang tahun 2001. Tahun 2008 (setelah 7 tahun di rumah) Suaidi kembali masuk dan kali ini untuk mengumpulkan uang untuk biaya sekolah anak.Kali ini Suaidi tidak lama, hanya 8 bulan.

Pada tahun 2012 Suaidi kembali masuk, tapi kali ini wilayah yg dituju adalah wilayah Malaysia bagian timur, tepatnya bagian Serawak. Dia bekerja di sektor kostruksi. Pada akhir 2013 Suaidi balik, lalu masuk kembali pada awal 2014, pulang pertengahan 2015. Dari hasil kerja dari tahun 2012 tersebut Suaidi mampu membeli mobil pick-up baru dan bisa membeli tanah.






buruh migran, sejarah migrasi, TKI, TKW




Gali Lubang Tutup Utang


Seperti pepatah : gali lubang tutup lubang, seperti itulah kehidupan para buruh migran. Kisah Sihun, Mahsun, Ashabul Husna, Zaenuddin semuanya sama. Mereka adalah para generasi pertama buruh migran ke Malaysia yang berangkat tahun 1980-an dengan mimpi memperbaiki keadaan ekonomi. Mereka sebenarnya bukan keluarga yang sangat miskin, sebab mereka memiliki alat produksi berupa sawah dan ternak. Kehidupan mereka pada umumnya sederhana. Kebutuhan makan diperoleh dari sawah, dan uang hasil panen akan berputar sampai musim panen berikutnya. Hasil panen hari ini, akan habis sampai panen berikutnya. Begitulah siklus.

Dengan pengetahuan dan pengalaman terbatas mengolah sawah, mereka berkeinginan memperbaiki keadaan ekonomi keluarga. Mereka melihat tetangga yang memiliki rumah lebih bagus. Mungkin tetangga mereka itu adalah pedagang, guru, pegawai, atau petani yang lebih sukses. Mereka juga ingin seperti tetangga, memiliki rumah yang lebih bagus. 

Pada saat itu kesuksesan diukur dari rumah. Jika memiliki rumah batu, maka seseorang akan dianggap sukses. Walaupun memiliki sawah luas dan ternak, jika masih rumah bambu belum dianggap sukses. Kesuksesan diukur dari rumah batu, walaupun si empunya rumah batu belum tentu memiliki aset tanah atau ternak. Atau bisa jadi rumah batu, tanpa memiliki barang berharga di dalamnya. Keinginan memiliki rumah adalah cita-cita mereka. Dengan harapan lainnya, ada uang lebih yang bisa ditabung.

Masalahnya, para buruh migran generasi pertama ini tidak terbiasa menyimpan uang. Seluruh hasil panen akan habis. Maka pilihan pertama mereka adalah berutang. Selain berutang mereka juga menjual ternak dan menggadai sawah. Menggadai sawah ini sama saja artinya berutang. Akhirnya, mereka berangkat ke Malaysia membawa dua misi : mencari uang untuk membayar utang dan modal membangun rumah.

Tak selamanya misi itu berhasil. Seperti kisah Sihun yang 11 kali ke Malaysia, dia berhasil mengumpulkan uang membangun rumah setelah keberangkatan ketujuh. Belasan tahun di Malaysia, waktu habis untuk mencari uang membayar utang di kampung, dan biaya hidup sehari-hari. Misi utama membangun rumah permanen terwujud setelah belasan tahun bekerja. 

Hujan emas di negeri tetangga tak seperti impian ketika kali pertama berangkat. Mereka belum siap mengelola uang ketika mendapatkan gaji tetap. Tidak sedikit uang habis untuk makan sehari-hari. Ketika masih kerja di sawah yang penghasilan tidak tetap, mereka berhemat, tapi ketika memperoleh gaji rutin, mereka sudah berhitung agar tidak minus sebelum gaji habis. Tapi dampaknya, mereka membelanjakan gaji untuk kebutuhan konsumtif.


buruh migran, sejarah migrasi, TKI, TKW


Para buruh migran yang dikisahkan di atas memiliki pola yang sama. Gaji habis untuk belanja kebutuhan sehari-hari keluarga yang ditinggalkan, termasuk juga kebutuhan mereka. Istri di rumah tidak bekerja, hanya mengandalkan uang kiriman. Bagi yang sudah memiliki anak, uang kiriman juga habis untuk belanja sehari-hari. Misi utama bekerja di Malaysia agar memiliki uang lebih lalu membangun rumah tak terwujud dengan cepat. Apalagi setelah kembali ke kampung halaman dengan uang lebih, muncul keinginan untuk menunjukkan mereka “beruang”. Menjadi cerita masyarakat jika para buruh migran yang baru pulang dari Malaysia membeli barang-barang mewah : TV, kulkas, pakaian bagus, jam tangan, sepatu, dan barang lainnya. Sayangnya barang itu hanya berumur bulanan. Dijual satu persatu untuk kebutuhan makan. Dan setelah habis kembali lagi berutang untuk modal ke Malaysia. Mereka tidak siap pulang kampung.

Generasi kedua lain lagi kisah mereka. Mereka adalah generasi yang melihat dengan mata kepala sendiri keberhasilan para mantan buruh migran. Keberhasilan itu dilihat dari dua hal : rumah permanen dan sepeda motor. Tapi mereka lupa, rumah dan kendaraan itu bisa diperoleh setelah belasan tahun bekerja di Malaysia. Itu pun, motor cicilan, justru dibayar dengan hasil sawah dan buruh di kampung halaman sendiri. Tapi bagi generasi kedua buruh migran ini,cerita hujan ringgit di negeri tetangga melenakan mereka. 

Jika generasi pertama memiliki misi berangkat ke Malaysia agar bisa mempercepat membangun rumah permanen, generasi kedua dan selanjutnya memiliki misi tambahan : membeli sepeda motor. Motor adalah kategori baru jika seseorang diangap sukses. Memiliki rumah permanen tanpa memiliki motor rasanya tidak lengkap. Dan tentu saja misi utama agar perbaikan taraf ekonomi keluarga tetap menjadi alasan utama.

Siklus generasi pertama berulang, generasi kedua ini juga berangkat dengan beban tambahan : melunasi utang. Mereka berangkat dengan utang, meninggalkan utang bagi keluarga di kampung halaman. Kiriman habis untuk makan sehari-hari dan melunasi utang. Tapi, bagi yang bisa berhemat, seperti kisah Suaidi, mereka meraih kesuksesan dalam waktu tidak terlalu lama. Tak perlu gali lubang tutup utang.(*)


Catatan : Tulisan ini merupakan hasil diskusi, catatan lapangan dari kawan-kawan Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) Lombok Timur yang saya dampingi dalam program yang dibiayai MCAI.