Selasa, 04 September 2018

Haryanto, Pemuda yang Menyulap Limbah Jadi Duit





pemuda lombok, pariwisata lombok, pemuda kreatif, industri kreatif

Batok kelapa yang hanya dimanfaatkan untuk bahan bakar bernilai ekonomis tinggi di tangan Haryanto. Bersama para pemuda di desanya, dia menyulap batok kelapa dan serabut kelapa menjadi kerajinan tangan. Dihajatkan sebagai cenderamata saat booming pariwisata.


****
Sore itu, ketika kami mengunjungi sekretariat PINBID Desa Timbanuh, Kecamatan Prianggasela, Lombok Timur, Haryanto, 29 tahun, melinting tali yang dikeluarkan dari kantong bekas bungkus sandal. Dengan telaten dia membersihkan, merapikan, lalu melinting menjadi tali sepanjang 25-30 cm. Dia harus ekstra hati-hati karena bahan tali itu, serabut kelapa, sangat rapuh. Terlalu kuat ditarik bisa putus. Terlalu keras dibersihkan bisa-bisa rontok dan tidak bisa dilinting.

Usai melinting tali dari serabut kelapa itu, Haryanto melanjutkan dengan memasukkan ujung tali di lubang miniatur sandal jepit. Hanya butuh waktu 5 menit, sandal mini yang terbuat dari batok kelapa itu sudah menjadi sandal jepit. Proses akhir sebelum diberikan gantungan, Haryanto menyemportkan dengan cat pilox clear. Tujuannya agar tulisan di sandal mini itu tidak terhapus. Sandal mini yang kini sudah menjadi gantungan kunci itu terlihat lebih mengilap.

Gantungan kunci sebesar dua jari orang dewasa itu dijual Rp 5.000. Jika memesan lebih banyak harganya lebih murah, Rp 4.000. Tapi jika memesan model khusus yang lebih rumit pembuatannya, Haryanto mematok harga lebih tinggi.

“Model sandal ini banyak peminatnya,’’ kata Haryanto.

Gantungan kunci yang dibuat Haryanto umumnya pesanan khusus. Ada permintaan menuliskan nama pemilik. Berapa pun pesanan Haryanto akan melayani. Sebiji pun dia akan tetap membuatkan khusus, tapi tentu saja tidak meminta desain yang rumit. Haryanto harus memperhitungkan waktu dan harga. Jika terlalu rumit dan hanya memesan satu biji, Haryanto rugi waktu. Sementara harga jual tidak bisa terlalu tinggi. Selama ini dia tidak pernah menjual lebih dari Rp 10.000 per biji. Harga Rp 5.000 per biji adalah harga umum yang dipatok.

Pesanan gantungan kunci ini biasanya dipesan oleh para pecinta alam, pramuka, dan organisasi kepemudaan lainnya. Anggota pramuka biasanya memesan gantungan kunci dengan model tunas kelapa, lambang pramuka. Anggota pramuka perempuan memesan bros. Sementara organisasi kepemudaan, pecinta alam memesan model umum seperti sandal. Tapi ada juga yang meminta pesanan model lain.

“Sekitar 10 model sudah kami bikin,’’ ujarnya.

Gantungan kunci seukuran dua jari itu dikerjakan oleh 7 orang anggota kelompok “Bumi Genem”. Mereka bekerjasama untuk menyelesaikan satu model. Ada yang membuat model kasar, menghaluskan, dan merangkai menjadi gantungan kunci. Proses paling lama adalah membentuk model kasar. Kelompok yang berdiri Oktober 2016 ini masih menggunakan alat manual.

Batok kelapa yang sudah kering dipisahkan dari daging kelapa menggunakan parang. Kemudian dipecah menjadi lebih kecil. Proses membuat model kasar dari batok kelapa yang sudah dipotong kecil itu membutuhkan waktu paling lama.Harus menggunakan pisau tajam  dan ekstra hati-hati. Salah sedikit, tangan bisa teriris. Seluruh anggota kelompok ini belajar otodidak. Melihat contoh di internet, lalu mencoba membuat pola. Setelah merasa hasil bagus barulah mereka menjualnya.

“Sudah ratusan biji terjual,’’ kata Haryanto.


pemuda lombok, pariwisata lombok, pemuda kreatif, industri kreatif

Haryanto yang menjadi motor penggerak usaha kerajinan gantungan kunci ini awalnya iseng. Menjadi kebiasaan pemuda di desa, saat ada warga menggelar hajatan mereka datang membantu. Biasanya mengupas kelapa. Haryanto saat itu mengupas kelapa kering. Memisahkan daging kelapa dari batoknya.

Saat memisahkan daging kelapa dari batoknya itu, batok kelapa pecah menjadi kecil. Salah satu pecahannya itu mirip dengan sandal. Tiba-tiba saat itu muncul ide Haryanto. Membuat kerajinan tangan dari batok kelapa. Model sandal itulah yang kali pertama dibuat. Haryanto mencoba sendiri, setelah jadi dia menunjukkan ke teman-temannya. Model pertama gantungan kunci berupa miniatur sandal jepit dari  batok kelapa itu dipuji teman-temannya.

Tali yang dipakai untuk membuat tali sandal awalnya memanfaaatkan bahan tali dari batang pisang yang dikeringkan. Tidak terlalu kuat. Salah seorang pembeli menyarankan menggunakan sabut kelapa. Haryanto mencoba sabut kepala, hasilnya lebih bagus. Tali dari serabut kelapa juga terlihat lebih bagus. Sejak saat itulah Haryanto serius membuat gantungan kunci dari batok kelapa. Dia mengajak rekan-rekannya, dan enam orang ikut bergabung.

Haryanto menjual dari mulut ke mulut. Ada pembeli yang bercerita ke calon pembeli berikutnya. Dia juga memanfaatkan media sosial. Termasuk promosi melalui grup aplikasi Whatsapp. Pesanan juga dilakukan lewat Whatsapp. Pemesan tinggal memilih model yang sudah ada, atau meminta model khusus. Tulisan di gantungan juga dipesan lewat Whatsapp.

Kehadiran komunitas travelling yang piknik ke air terjun Semporonan, di kampung halaman Haryanto juga menambah promosi. Merekalah yang mengenalkan kerajinan gantungan kunci itu ke sesama anggota. Termasuk juga mengenalkan ke komunitas lainnya.

“Kami memang terbantu dengan pariwisata,’’ kata Haryanto.

Ketua Pusat Inkubator Bisnis Desa (PINBID) Timbanuh, Dahri mengatakan, saat ini mereka sedang melobi pemilik lahan tempat parkir menuju air terjun Semporonan. Di lahan parkir itu rencananya PINBIB akan membangun lapak jualan. Salah satu isi jualan itu adalah gantungan kunci produksi Haryanto. Selain itu, lapak itu akan diisi dengan aneka kue buatan para pemuda pemudi Desa Timbanuh.
“Kami ingin ada cenderamata khas Timbanuh,’’ kata Dahri.

Selain gantungan kunci, para pemuda di Timbanuh juga membuat aneka kue kering dan kue basah. Saat ini, kelompok usaha “Semporonan Mulya” yang beranggotan para perempuan membuat keripik pegagan.  Pegagan dalam bahasa Lombok disebut bebele. Selama ini hanya dijadikan makanan ternak. Di sekitar air terjun Semporonan banyak tumbuh liar, termasuk juga di kebun-kebun milik warga.

“Anak-anak suka dengan keripik pegagan ini,’’ kata Dahri.

pemuda lombok, pariwisata lombok, pemuda kreatif, industri kreatif


Bahan-bahan pembuatan gantungan kunci dan keripik  buatan pemuda pemudi Timbanuh itu tersedia di Timbanuh. Gratis. Batok kelapa bisa diminta di warga yang memiliki hajatan pesta. Pegagan bisa dipetik bebas di kebun dan sekitar air terjun. Biaya yang dikeluarkan relatif kecil, sementara keuntungan cukup untuk mengisi dompet mereka.

“Dibandingkan honor, lebih banyak dapat jualan gantungan kunci,’’ kata Haryanto yang sehari-hari menjadi guru honorer di SD-SMP Satu Atap 3 Pringgasela.

Sebagai guru honor olahraga, Haryanto mendapat honor sekali tiga bulan. Jumlahnya Rp 360.000, atau dalam sebulan honornya Rp 120.000. Habis untuk membeli bensin motor perjalanan dari rumah ke sekolah.
“Usaha kreatif ini yang kita harapkan ada dukungan untuk menambah penghasilan warga,’’ timpal Dahri.

Selain mengandalkan keramaian air terjun Semporonan, sebenarnya para pemuda Timbanuh ingin sekali memanfaatkan Pesanggrahan. Pesanggrahan itu adalah kompleks rumah peninggalan zaman Belanda di Timbanuh. Rumah kuno peninggalan Belanda itu memiliki kolam renang. Banyak tumbuhan raksasa menaungi menambah sejuk kawasan itu. Awalnya tempat itu dikelola Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Lombok Timur. Belakangan diambil alih Bagian Umum Setda Lombok Timur dan dijadikan peristirahatan bupati.

“Kalau diberikan mengelola ke desa kami siap kelola,’’ kata Dahri.

Dahri yakin jika pariwisata Timbanuh didukung pemerintah dan diberikan pengelolaan ke anak muda, masyarakat akan merasakan manfaat ekonomis. Kehadiran wisatawan berarti ada retribusi yang masuk melalui parkir, tiket, termasuk jualan makanan dan kerajinan. Tapi sayang, pemerintah Lombok Timur sepertinya lebih senang membiarkan Pesanggrahan itu mubazir. Ratusan juta duit untuk memperbaiki kolam renang dan membuat tembok keliling justru menegaskan bahwa liburan ke tempat indah hanya boleh dinikmati pejabat. (*)