Rabu, 27 Februari 2019

Sanggar Kariro, Pelestari Kesenian Gantao







Modernitas tak menghilangkan kecintaan Abdul Hamid AR pada tradisi warisan leluhur : gantao. Seni beladiri silat tradisional yang dipadu dengan musik ini sudah mengalir di darahnya. Dia mewarisi itu sejak zaman nenek moyangnya.


*************

Hamid makin bergairah ketika warga yang menonton pertunjukannya memberi hadiah tepuk tangan. Pimpinan Sanggar Kariro ini, dengan tenaga sekuatnya, dia memukul gendang kecil itu. Sambil terus memukul gendang, dia beranjak dari tempat duduknya. Gendang tetap ditabuh. Hamid berdiri, lalu meliuk-liukkan badannya. Dia tiba-tiba duduk dengan posisi kaki terangkat. Dia berbaring, dengan posisi gendang masih terangkat dan dipukul. Dia mengangkat tinggi gendang itu, tangan kiri memegang, tangan kanan memukul. Tak ada perubahan nada dan kekuatan pada pukulannya. Walaupun posisinya ketika memukul gendang cukup sulit. Sore itu Hamid menjadi bintang lapangan.

Tabuhan gendang memang cukup dominan pada kelompok kesenian gantao, sebuah seni yang menggabungkan kemampuan beladiri dan musik. Musik yang dimainkan Hamid adalah pengiring dua orang pesilat.






 Kelompok kesenian gantao memang sederhana. Dua orang pemukul gendang, satu orang peniup sarone (suling), gong, dan katongga (gong kecil). Kelompok musik terdiri dari lima orang, pemain gantao dua orang. Tujuh orang ini, sepanjang sore menghibur warga Kota Bima yang memenuhi lapangan Museum Asi Mbojo pada sebuah pertunjukan beberapa waktu lalu.

Hamid lebih memilih menyebut gantao sebagai seni silat, bukan olahraga silat. Sebab, dalam permainan silat gantao saat ini lebih mementingkan keindahan gerakan. Setiap gerakan tangan, kaki, pukulan, tendangan, mengikuti irama musik. Bukan sekadar memukul lawan.

“Kalau dulu memang gantao ini bertarung benaran,’’ kata Hamid.

Penari gantao tidak bisa sembarangan memukul atau menendang lawan. Mereka bermain strategi. Kapan lawan lengah, barulah melancarkan pukulan. Tapi ketika melakukan pukulan, lawan lebih dulu membaca, pemain itu harus menahan pukulannya. Tidak memaksakan benturan pukulan dan tangkisan tangan lawan. Dalam kondisi seperti ini, kerap penonton kaget melihat akan ada benturan keras. Tapi pemain gantao akan menahan pukulan dan tangkisan.

Bagi pemain gantao, keindahan gerak tangan, kaki, badan, dan sorot mata mereka adalah pertarungan itu. Mereka adalah penghibur. Semakin bagus gerakan mereka ketika bermain gantao, penonton akan terhibur. Tapi jika hanya menonjolkan kekerasan silat, tak ada bedanya dengan menyaksikan sebuah olahraga beladiri silat.

“Gantao ini tentang keindahan seni gerak,’’ kata Hamid.

Bagi para pesilat, kesenian gantao ini juga sebagai ajang bagi mereka menunjukkan kebolehan bela diri. Tapi gantao juga sebagai ajang melatih kesabaran. Sebagai sebuah pertunjukan, pesilat bukan dinilai dari kemampuan memukul atau menjatuhkan lawan, tapi bagimana gerakan silat mereka itu indah ditonton. Mereka juga diwanti-wanti tidak menyalahgunakan kemampuan silat mereka untuk kegiatan negatif. Tawuran misalnya.


********



SANGGAR KARIRO adalah salah satu sanggar yang masih aktif melestarikan kesenian gantao. Hamid sendiri sejak kecil sudah ikut kelompok kesenian gantao. Dia memang lebih banyak memegang alat musik gendang.

Begitu juga dengan para pemain musik dan pesilat, mereka bermain gantao sejak kecil. Rata-rata pemain gantao ini mewarisi kesenian ini dari orang tua mereka. Hamid menuturkan, kesenian gantao ini sudah ada sejak zaman nenek moyangnya. Dia tidak tahu sejak kapan keluarganya bermain gantao.

“Kalau tidak ada yang menjaga punah kesenian ini,’’ ujar pria yang tinggal di RT 18/RW 06 Kelurahan Raba Dompu Timur, Kota Bima ini.

Di tengah kemajuan zaman, Hamid merasa, anak-anak muda mulai melupakan tradisi. Bahkan bisa saja, banyak generasi sekarang yang tidak mengenal gantao. Jumlah kelompok kesenian gantao yang masih eksis juga bisa dihitung dengan jari. Sanggar Kariro adalah satu diantara kelompok yang masih eksis.

Di sanggar ini, Hamid juga melatih anak-anak muda berkesenian gantao. Mereka latihan rutin tiap pekan. Melalui latihan itu, Hamid ingin mengenalkan pada generasi muda warisan leluhur mereka. Kesenian gantao harus dikenalkan sejak dini.

“ Tapi harus ada dukungan masyarakat dan pemerintah,’’ katanya.

Bentuk dukungan masyarakat itu bisa dilihat dari undangan mereka pada kelompok kesenian gantao. Jika si empunya hajatan mengundang kesenian gantao, maka dia telah berkontribusi bagi keberlangsungan kesenian gantao. Sebab jika tidak ada lagi masyarakat yang mengundang, pemain gantao akan kehilangan panggung. Dan lambat laun akan mulai dilupakan.

“Pemerintah juga kerap mengundang dalam berbagai acara. Dengan cara ini kesenian gantao tetap eksis,’’ kata Hamid.(*)




0 komentar:

Posting Komentar